Gelombang Itu, Gelombang Gelora 12

Katarina Ningrum

Ruang tamu disesaki aroma kopi hitam.  Kaget dan tegang sudah menguap digantikan obrolan santai dan canda tawa.  Memang sih, setiap direnungkan lagi, rasanya pemandangan ini terlalu tidak nyata, terutama bagi Prinka.

Ada Norman Halomon dan ayahnya sedang ngobrol gembira di kursi panjang berbantalan lapuk depan jendela berteralis liuk-liuk.  Di luar, langit gelap gulita, angin dingin menggetarkan, namun rasanya ruangan ini justru semarak dan hangat.

Lucu memang.  Begitu membuka pintu dan melihat siapa yang ada di balik pagar, Prinka gelagapan setengah mati.  Norman apalagi.  Tetapi Ayah malah teriak gembira, “Lho! Kamu kan yang waktu itu bantuin Om dorong mobil!”

Norman mengernyit dan mendelik sejurus kemudian. Benar! Om Raya!

Ajaib benar, Om Raya masih ingat padanya.  Secara, seingat Norman, dia tidak memiliki wajah ikonik, dan dia bukan siapa-siapa.  Lagipula waktu itu malam hari, tak mudah menyelidik detail-detail muka orang.  Ah, Norman sepertinya berlebihan tentang ini.  Mungkin dia terlalu lega karena sempat berpikir akan mendapat tamparan om-om.

“Ternyata kamu temenan sama anak saya.  Lucu sekali, saya hampir ngamuk lho tadi.”

Kalimat itu membuat Norman sedikit merinding.  Seandainya dia operasi plastik sebelum mengantar Prinka, dia pasti sudah babak belur.

Dengan fasih, Prinka menerangkan bahwa Norman adalah penyiar radio yang biasa ia dengar setiap hari, dan mereka jadi bertemu karena beberapa acara dan mungkin berkat bantuan semesta.

Om Raya tertawa santai, dan bercerita macam-macam tentang Prinka, tentang dirinya, dan soal sinyal FM yang tidak sampai ke rumah mereka.  Seakan rumah ini kehidupan radionya nggak boleh maju atau gimana.

Tidak lama kemudian, Om Raya malah berniat masuk ke dalam dan tidur.  “Silakan, ngobrol saja berdua, nanti Om malah ngeganggu. “

“Nggaklah, Om,” ujar Norman sungkan.

“Ah, semua tamu juga bakal bilang begitu, tapi sejujurnya keganggu. Udah, sok, Om udah ngantuk.”

Norman dan Prinka pun membisu.  Ayah menghilang dari ruang tamu, tapi sejurus kemudian kembali, “Norman, kamu suka teh atau kopi?”

“Eh? Teh aja.  Eh, jangan repot-repot, Om,” balas Norman.

Lagi-lagi Om Raya menyanggah, “Ah, semua tamu kelakuannya sama! Udahlah, kamu kan tempo hari udah Om repotin, sekarang ngerepotin lagi titip Prinka.  Sekarang kamu ngerepotin Om juga nggak masalah, Norman!”

“Titip aku?” Prinka bergumam.  Ayah pasti berpikir macam-macam!

Norman terkekeh gugup.  Begitu Om Raya benar-benar berpindah, walau akan kembali nampaknya, keheningan menyapu.  Prinka gelisah di tempat duduknya, begitu pula Norman, sampai ia berkali-kali menggaruk kepalanya.

“Ehm, aku bantu Ayah siapin minum ya, Kak?”

Walau dalam benaknya Norman hampir dengan dramatis bilang, “Jangan pergi!”, tapi, tentu saja ia mengangguk sopan.

Prinka hilang.  Norman pun tertinggal sendiri di ruangan yang tema furniturnya mirip radio Gelora—gaya tahun delapan puluh-sembilan puluhan.   Dia melamun sambil mengamati setiap benda kecil yang terletak di sana.  Dekorasinya.  Patung Loro Blonyo, asbak, lampu meja, dan berbagai perintilan lainnya.

Dia tersadar: ya, ini rumah Prinka.

Sementara itu, di dapur, Prinka malah diprotes Om Raya, “Lho, Nak, tamu spesial kamu jangan ditinggalin, dong!”

“Aku mau bantuin Ayah.”

“Iya, tapi nggak sopan kalau tamu dibiarin sendiri.”

“Jadi…”

“Ayo, kamu balik ke ruang tamu, biar Ayah yang bikinin minumnya sendiri.  Ayah mau nyuguhin calon mantu Ayah.”

“HAH? MANTU?” Prinka berteriak keras sampai lupa harusnya dia jaga suara, bisi Norman denger. “Ayah, lebay deh!”

“Soalnya baru sekarang, kan, kamu bawa cowok ke rumah? Berarti dia pacar kamu, kan?”

Prinka melongo, sedangkan air di teko mendidih, dia bersiul seraya mengeluarkan asap.

“Bukan, Yah, masih baru pergi bareng aja dua kali.”

“Ya itu namanya nge-date, Prinka!”

“Ya nggaklah, Yah, perginya kan sebagai teman.”

“Terus ngapain pake dicium segala?”

Membekulah Prinka.  Oh iya, barusan ayahnya keluar tepat di momen paling romantis seumur hidupnya.

“Ehm, itu…”

“Udah, kamu kembali dulu temenin dia, nanti Ayah anterin minum,” kata Ayah sembari mengedipkan sebelah matanya.

 

Prinka kembali menemui Norman di ruang tamu.  Gerakannya jadi serba gugup.  Bahkan duduk pun terasa sulit dan lambat.

“Kak, minumnya ditunggu bentar ya,” ia berujar, gemetaran suaranya.

“Iya, makasih Prinka,” Norman nyengir lebar.  Cengiran yang selalu membuat detak jantung Prinka jadi abnormal.   “Kamu biasanya tidur jam berapa?”

Oh, kakak penyiar radio ini mulai berbasa-basi rupanya.

“Sengantuknya, Kak.  Tapi kalau mau dibilang rata-ratanya, hm, setiap beres siaran Halo-Halo Bandung.”

“Jam sepuluh?”

“Ya.  Kalau lebih malam, bangunnya kesiangan, terus besoknya berangkat sekolah dengan rusuh.”

Norman tertawa lepas.  Berkat tawa ini, obrolan di antara mereka mencair.  Ayah nongol lagi membawakan tiga cangkir teh untuk Norman, Prinka, dan dirinya sendiri.  Semakin malamlah mereka berbincang-bincang senang.

Tahu-tahu jarum jam mendarat di angka sebelas.  Norman terkejut karena menyadari bahwa dia melewati jam beroperasi para angkot.  Lalu dia pulang dengan apa?

Yah, jalan kaki pun jadi deh, kalau harus begitu.

“Om, udah malem, saya pulang dulu mungkin, ya?”

“Ah!” Om Raya terkesima melihat jam dinding.  “Kamu naik apa, Nak? Mau Om antar? Kayaknya kamu nggak bawa apa-apa, motor, mobil?”

“Eh, saya naik angkot, Om…”

“Oalah, ya mana ada angkot jam segini! Udah, Om anterin ya.  Mana kunci mobil?” Ayah menatap Prinka.  Buru-buru anak perempuannya itu bergegas mencomot benda yang dimaksud.  Letaknya dekat dari jangkauan tangan.

“Besok hari Minggu, kamu nggak perlu bangun pagi kan, Prinka? Ikut kita ya.  Kamu bilang Bunda dulu sana.”

“Hah?” Prinka melongo.

 

Tahu-tahu, suasana lucu sudah tercipta lagi di tempat yang berbeda. Mobil Ayah.  Mobil yang dulu sempat ngambek tetapi jalan lagi setelah ketemu Norman Halomon.  Mobil tua beraroma khas yang bunyi mesinnya kocak.

Norman sebenarnya malu, sebagai pihak yang ngapel.  Mana ada, pengapel dianterin pulang sama ayah sang gebetan? Dia merasa tak keruan, namun di sisi lain senang bukan main.

Dari bangku tengah, dapatlah ia simak obrolan konyol ayah-anak di hadapannya.

“Mbak kalah sama Ayah nih.  Masa belum tau tempat tinggalnya Norman? Ayah aja tau!”

“Itu mah Ayah aja kelewat senang, mobilnya jalan, langsung nganter-nganter Kak Norman!”

“Ayah kan tahu balas budi, Ka. Nggak kayak kamu, dari tadi malah celingukan aja, diajak ngomong bingung. Grogi, ya, ada Norman?”

“Ih Ayah!”

Norman menahan tawa.  Manis sekali ekspresi Prinka saat diledek papanya sendiri.   Siluetnya wajahnya tampak artistik terpapar pendar lampu jalanan yang berkelebat.

Sampailah mereka di depan kosan Norman.  Dari depan, Norman langsung tahu bahwa ruang makan masih diisi orang-orang, karena lampunya menyala.  Apa ada acara makan-makan lagi?

“Om, terima kasih ya.  Prinka, makasih.  Lain kali saya mampir lagi,” Norman bersopan-santun.  “Hmm…mau masuk dulu?”

“Nggak usah, kita langsung pulang aja.  Kasian nanti Prinka pingsan kesenengan,” Ayah menukas cepat, bikin Prinka belingsatan—ya, nggak secara fisik mencak-mencak gimana, tapi ekspresinya menunjukkan emosi tersebut.

Lagi-lagi Norman senyum dan mobil di depannya pun melaju pergi.

Di mobil, Prinka diam saja.  Salah tingkah.  Ayahnya terus mengeluarkan suara tawa ganjil yang puas.

“Prinka, kamu udah gede ya.  Bisa bawa cowok ke rumah.”

Sang anak terdiam, bingung, itu pertanyaan, pernyataan, atau sindiran.

“Kamu hati-hati ya, kalau pacaran.  Jangan kebablasan.  Jangan macem-macem.  Tapi, Ayah sih percaya sama Norman.  Anaknya baik, kelihatan dari muka dan tindak-tanduknya.”

“Hm.”

“Mengerti?”

“Ayah, aku sama Kak Norman tuh…”

“Pacaran, kan? Apalagi?”

Susah memang.  Ayah kan muncul dari generasi di mana HTS, TTM, atau PDKT itu tidak diperjelas.  Adanya ya ‘pacaran’.  Sudah.  Tapi di kepala Prinka, nampaknya dia dan Norman Halomon belum bisa dibilang pacaran.

Om Raya terus berkicau menyemangati dan menasihati anak perempuan sulungnya yang mulai terkantuk-kantuk.  Biasalah, seorang papa pasti norak kalau mendapati anak perempuannya punya laki-laki lain di hati.  Antara bahagia karena sang anak ada yang jagain, sekaligus merasa tergantikan.

Terharulah dia.  Padahal Prinka malah lagi sibuk menyusun kalimat yang bisa menguraikan apa yang tengah berlangsung di antara dia dan Norman, yaitu: jatuh cinta, tapi belum jadian.

Yah, biarlah malam semakin berangin, dan biarkan dua ayah-anak ini asyik dengan pikiran sendiri-sendiri.

Puff, Naga Ajaib

Katarina Ningrum

Hai! Ini salah satu karya saya yang diikutkan untuk sebuah lomba yang diadakan salah satu penerbit di Indonesia. Sempat masuk seleksi, tetapi hasil akhirnya saya tidak tahu, karena perlombaannya diadakan di Facebook dan saya sedang tidak ada waktu main Facebook, plus, saya tidak dihubungi. Ya sudah, karena saya puas dengan hasilnya, jadi saya muat di sini saja, semoga menghibur! Saya unggah juga jalur ke lagu pengiring yang menjadi topik di cerpen ini. Selamat menikmati! 😉

Arman tidak percaya mendapati dirinya duduk di salah satu bangku penonton konser musik indie yang absurd. Kenapa dia ada di sana? Entahlah. Dia cuma tahu bahwa dirinya cuma datang untuk bisa bersama sosok yang membuatnya terobsesi. Sebut saja namanya Lai.

Lai tiba-tiba masuk ke toko kaset kuno yang ditunggui Arman hanya karena kasihan. Kasihan? Ya, sebab toko kaset tersebut selalu sepi, sampai-sampai pintu kacanya buram diselimuti debu jalanan.
Dan Lai, dengan wajah polosnya, asal mencetus menanggapi sapaan khas pramuniaga Arman saat itu:

“Selamat datang, cari apa?”

Gadis itu tercenung sejenak sebelum berkilah, “Peter, Paul, and Mary.”

Arman tahu benar, Lai sempat berpikir sebentar. Arman sadar, Lai asal sebut nama grup penyanyi yang ia tahu masih beken pada zaman kaset berjaya. Tetapi ia bersikap profesional. Dicarinya kaset tersebut dan kebetulan pula ditemukan. Saat kaset yang dimaksud sampai ke tangan Lai, baru gadis itu berani mengaku bahwa ia cuma terdorong rasa iba melihat toko melarat tersebut.

Tapi, meski Arman merasa malu dan Lai jadi tak enak hati, mereka toh tetap mendengarkan lagu Puff The Magic Dragon, salah satu lagu terkenal dari grup Peter, Paul, and Mary, bersama-sama, dengan suara kaset yang sudah sayup-sayup agak bergoyang, dan ditemani aroma kayu dan rotan lama, ditambah munculnya percakapan singkat sepanjang lima belas menit.
Sejak itu, Arman tiba-tiba menggemari Peter, Paul, and Mary, setelah sebelumnya hanya sekedar tahu namanya saja. Toko kaset yang selalu ia jaga mendadak berubah cerah. Ia berhasil menggenggam batang kemoceng dan mulai mengusir butir-butir kotor yang membuat deretan kasetnya nampak kusam.

Untuk pertama kalinya, Arman tersenyum sendiri. Entah dalam rangka apa. Dia hanya ingin menarik kedua sudut bibirnya dan membiarkan harinya cerah ceria.

Arman menyetel Puff The Magic Dragon berkali-kali dalam tempo 1 x 24 jam. Setiap mendengarnya, Arman teringat pada wajah tanpa dosa Lai, ketulusan Lai untuk sengaja menghadiri toko kasetnya, suara Lai yang empuk, dan kata-kata terakhir yang sempat ia ucapkan sebelum keluar toko sembari tersenyum tulus, “Kapan-kapan aku mampir lagi ya.”

Ya, Arman yang seumur hidup hanya mengenal rock and roll, sekarang menyimak tembang-tembang manis beriringan lembut. Malah, hobi barunya berlanjut hingga ke dunia maya. Ia mencari berbagai lagu-lagu retro di Youtube, juga mengunduh banyak musik baru untuk menggantikan semua hentakan drum dan permainan gitar serba ekspresif.
Dunia Arman menjadi tenang dan manis, seperti Lai yang datang dan pergi tanpa aba-aba dan tidak meninggalkan jejak apa pun selain Puff si naga teman baru Arman.

Rasa manis itu membuang perasaan ingin merokoknya. Arman bukan perokok berat. Hanya untuk sekedar menghibur diri jika bosan atau galau. Entah sejak hari apa, Arman menghabiskan rokok dan tidak membeli lagi. Ingin pun tidak! Ia memilih duduk diam di dalam toko kaset peliharaannya seraya mengerjakan hal-hal yang menyenangkan di komputer lipatnya.
Saat toko kasetnya tutup hari Sabtu, Arman mendadak berjalan ke kampusnya. Sesudah cuti tiga bulan, ia berniat melanjutkan pendidikan tingginya. Setidaknya satu tugas lagi sampai ia memakai toga. Sudah cukup jenuhnya. Sudah cukup menggerutu karena benci pada para dosen. Ia harus menyelesaikan apa yang telah ia mulai.
Setelah dua minggu kembali kuliah, walau dia tetap tidak dapat menghormati dosen-dosennya, meski ia tak banyak bergaul karena teman-temannya memiliki mental yang payah, Arman menelepon ibunya sesudah tiga bulan tidak saling mengabari.

“Hai, Bu, ini Arman,” ujarnya di telepon.
“Arman! Tiga bulan kamu tidak minta dikirimi uang,” sahut sang ibu, wanita yang memang hanya memusingkan urusan kocek saja jika ingat anaknya. “Kamu masih bisa makan?”
Arman belum memberitahu ibunya bahwa ia magang di toko kaset. Dompetnya tak pernah kosong sama sekali, apalagi sekarang ia berhenti merokok, sehingga pengeluarannya berkurang banyak.
Maka ia menjelaskannya pada si ibu, supaya beliau tidak khawatir anaknya pingsan kelaparan dalam keadaan kurus kering dan bokek pula.
Dan ibunya bahkan tidak cemas ketika Arman menguak kisah cuti kuliahnya. Atau lebih tepatnya, minggat berkedok cuti.
“Kamu baik-baik di sana? Kosan kamu dibersihkan seminggu sekali?”
“Ya,” jawab Arman singkat. “Gimana keadaan di Jakarta, Bu?”
“Biasalah, Man,” kata ibu. “Bisnis, adik kamu, dan tetangga-tetangga aneh.”
Arman, yang saat itu sedang memutar Puff The Magic Dragon lewat komputernya, mendadak sangat rindu pada tempat kelahirannya di ibu kota. Barangkali dipengaruhi lagu yang begitu melankolik sekaligus damai.
“Kapan kamu mau pulang?”
“Kalau ingin, Bu, di sini masih banyak urusan,” Arman berdusta. Sebetulnya ia cuma berkewajiban menjaga toko kaset dan membereskan tugas akhir. Sudah.
Dan lidahnya seperti dikendalikan oleh perasaan bahagia yang baru-baru menempel padanya, “Bu, Arman kangen juga sih sama Jakarta. Sama Ibu, sama adik…”
Ibu terdiam di ujung sana. Arman memang benar-benar tak pernah bermulut manis. Makanya aneh, kalau kata-kata semacam itu terdengar darinya.
“Kamu sih pelit, bayar enam puluh ribu buat travel saja ogah,” ibu Arman berkelit.
Lantas percakapan mereka selesai.

Arman pun duduk di meja kasirnya. Dia menghadapi buku sketsanya. Dan tiba-tiba saja ia membuat coretan. Ilustrasi naga. Pasti gara-gara Puff si naga ajaib yang dikisahkan dalam tembang favoritnya.
Tak disengaja, naga tersebut menjelma menjadi ide untuk tugas akhirnya. Buku cerita anak-anak tentang seekor naga kesepian yang mencari teman, dan dalam perjalanannya menemukan sahabat, ia mempelajari banyak hal baru yang tak pernah ia tahu lantaran dulu selalu hidup sendiri di lautannya. Seperti Arman yang untuk sementara meninggalkan toko kaset dan mengurung diri di kamar kosnya untuk mengulik si naga ciptaannya sebelum keluar lagi melihat dunia luar.
Masih di luar dugaan, tugas akhirnya itu membuahkan keheranan dari para dosen yang dulu meremehkannya. Arman? Mahasiswa paling cuek sedunia? Yang karyanya bagus tetapi tak pernah selesai? Sekarang memproduksi buku bergambar yang begitu indah, menyentuh, dan menghangatkan hati lewat sepuluh halamannya, halaman berisi ilustrasi cat air campur spidol warna-warna mentah?
Setelah sidang, Arman, menunjukkan senyum perdananya di hadapan manusia yang menyidangnya. Dan ia baru tahu: seandainya sejak dulu ia mulai tersenyum, tentu dunia akan terasa lebih ramah. Dosen-dosen itu tidak semurung yang ia pikir!

Arman diwisuda. Ia memeluk ibu dan adik laki-lakinya. Ayah Arman masih di luar negeri dan belum bisa pulang, tapi ia tak keberatan. Ayah memberi selamat lewat telepon. Arman makan-makan di restoran Sunda bersama mereka yang ada di Bandung merayakan kelulusannya.
Dan setelah berbagai pelepasan rindu dengan ibu dan adiknya, Arman kembali duduk manis di toko kasetnya. Telah dua minggu ia menjadi sarjana, dan ia menanti kabar dari salah satu penerbit besar, tempat ia mengajukan buku ceritanya untuk diterbitkan secara nasional. Setiap hari Arman mengisi hari-hari bengongnya di toko kaset dengan mengunduh macam-macam lagu dan menggambar. Bahkan gambar-gambarnya ia muat di dalam blog dan mendapat aneka komentar. Ilustrasi Arman disukai. Mengandung suatu nilai fantasi sekaligus lirih mengungkapkan kedalaman pikirannya, diwakili oleh warna-warna berani tetapi harmonis.
Ia menunggu salah satu pelanggannya yang telah membukakan cakrawala tanpa menimbulkan kehebohan. Lai. Apakah ia benar akan kembali ke sini? Mungkinkah bagi Lai, perjumpaan mereka tidak mengesankan apa-apa kecuali pertemuan biasa antara penjaga toko dengan calon pembeli potensial? Lalu kenapa bagi Arman keberadaan Lai yang cuma sebentar membekas sekali?
Sebelum sempat merasa kecewa, Arman buru-buru memutar lagu-lagu keras. Supaya dia tidak tenggelam dalam patahnya hati. Agar ia lupa bahwa kemungkinan besar ia hanya mengalami fatamorgana.
Meski hampir putus asa, Arman pun menabahkan diri. Diam-diam ia mempromosikan toko kasetnya. Ia menyebut namanya di setiap kirimannya di blog, bersama hasil melukisnya. Siapa tahu itu mendatangkan lebih banyak pelanggan.
Siapa tahu Lai membacanya…
Jerih payah Arman membuahkan hasil. Sebuah panggilan lewat telepon menyatakan bahwa buku cerita naganya akan diterbitkan secara resmi.
Baru kali ini Arman melompat dengan telepon menempel di telinganya. Ia berteriak tertahan.
Sebuah jabat tangan resmi dan tanda tangan kontrak pun terjadi. Arman menyaksikan sendiri buku buatannya dipajang di toko. Ia bahkan membawa beberapa eksemplar untuk dijual di toko kasetnya. Tak peduli betapa tidak larisnya toko, ia toh mesti berjaga-jaga.

Nama Arman pun mulai dikenal. Banyak orang memuji bukunya. Semua surat elektronik dan berbagai sapaan ia balas satu persatu dengan ramah. Tapi di antara segala korespondensi tersebut, Arman tetap hanya menanti Lai muncul kembali.
Dan dalam penantiannya mendapatkan Lai lagi di dunia luas ini, Arman menerima banyak pekerjaan dari macam-macam pasar. Mulai dari komunitas pecinta sepeda yang minta dibuatkan ilustrasi poster acara bersepeda nasional, anak-anak sekolah yang butuh sampul depan memukau bagi buku tahunan mereka, sampai seorang wanita pengusaha kue.
Bulan depan, Arman harus menyerahkan ilustrasi untuk sampul album rekaman sebuah band indie yang musiknya absurd. Arman diberi dua file lagu mereka supaya tahu nuansa yang perlu dihadirkan di depan CD mereka nanti.
Band itu, yang menamakan diri Wimaya, menampilkan bebunyian aneh dalam musik mereka. Kadang muncul xylophone diiringi terompet. Nanti alunan seruling mengisi kekosongan ketika gendang ditabuh. Suara vokalisnya sangat berwarna-warni. Dia sanggup mengambil nada rendah, lalu saat mesti mencapai nada tinggi, suaranya seakan terbang ke awang-awang tanpa tertelan keberisikan instrumen-instrumen yang mengiringi.
Ajaib. Cuma itu yang dapat Arman tangkap dari grup Wimaya.
Arman mencari inspirasi dari kotak kaset-kaset lama di toko. Ia membongkar rak. Ia mengambil banyak kaset hanya untuk dilihat-lihat sampulnya. Setiap hari aktivitasnya demikian. Melihat, mencontoh, dan mencoba mengombinasikannya dengan aura fantastis Wimaya.

Ia tak tahu kenapa ia mengerjakannya seserius mungkin.
Akhirnya, Arman mendapat pencerahan, seperti biasa, sesudah mendengarkan lagu Puff The Magic Dragon. Ia membuat lingkaran kuning jahe di atas zona putih bersih. Lantas diberinya kata Wimaya menggunakan jenis huruf yang meliuk-liuk namun tetap tegas. Ia mengajukannya dan menurut manajernya, Wimaya suka desain simpel tersebut.
Sesudah kesepakatan, Arman diberi data-data tentang Wimaya untuk melanjutkan sampul album. Dia sekarang tahu berapa jumlah personil Wimaya: lima orang. Pantas saja ramai begitu.
Ia melihat namanya satu persatu, siapa tahu ada yang ia kenal.

Mata Arman menumbuk di satu nama: Marusya Lai.
Jantungnya langsung berdebum kencang. Apakah nama Lai pasaran? Tidak. Itu nama unik yang baru sekali saja ia dengar! Mungkinlah Lai punya nama depan Marusya? Mungkinkah Lai memang vokalis Wimaya?
Arman mengerjakan tugasnya dengan perasaan aneh. Ia gembira, namun takut salah. Ia benar-benar ingin bertemu Wimaya secepatnya. Seluruh personilnya. Supaya ia dapat memastikan bahwa vokalis mereka betul-betul Lai yang dulu terpaksa mencari kaset Peter, Paul, and Mary.
Setelah beres menyusun keindahan sampul Wimaya, Arman mengirimkannya melalui surat elektronik. Ia memang tak pernah bertemu dengan Wimaya atau pun manajernya secara langsung. Sekarang Arman sangat menginginkannya.
Dua bulan sesudah proyek album Wimaya, Arman masih memimpikan keberadaan Lai di band tersebut. Ia menyimpan dua lagu berharga karya mereka di komputernya.
Suatu saat, ia mendapat sebuah surat elektronik. Isinya undangan untuk datang ke pertunjukan perdana Wimaya di auditorium pusat kebudayaan Perancis. Tanpa ragu Arman langsung memesan tiket dan datang lebih cepat satu jam dari waktu konser.
Sepanjang penantian, jantungnya terus berdebar-debar. Ia ingin menyaksikan wajah Lai. Tapi belum satu pun muncul tanda-tanda kehadiran Wimaya. Yang ada, ia duduk dengan gugup di antara murid-murid kursus dan seorang bapak-bapak yang berbicara dalam Bahasa Perancis.

Beberapa pemuda tampak sibuk mempersiapkan atribut konser. Kabel-kabel dan beberapa alat musik didorong masuk ke ruang auditorium.
Alangkah histerisnya Arman waktu melihat beberapa manusia yang tampak berbaju unik. Di antara mereka ada satu perempuan bergaun toska, memakai stoking putih dan sepatu hitam. Rambut panjangnya tergerai dan ia mengenakan topi unik yang dipakainya miring.
Lai! Benar, itu Lai si Puff The Magic Dragon!
Saat Arman menatapnya, Lai balik melihat padanya. Luar biasa. Lagu tentang naga itu langsung mengalun di kepalanya. Semakin kencang sesudah Lai tersenyum. Senyum yang polos, lembut, seperti waktu itu.
“Sudah kuduga. Memang kamu yang membuat desain sampul album kita,” Lai mendekat dan berbicara.
Arman nyaris tak sanggup bersuara saking gembiranya. Ia mengangguk.
“Dan memang kamu yang bikin buku cerita tentang naga yang terkenal itu,” lanjut Lai.
“Kenapa kamu tahu? Banyak orang yang namanya Arman di Bandung.”
“Tapi Arman yang jaga toko kaset kuno dan punya imajinasi tinggi cuma kamu. Aku tahu. Pokoknya tahu saja.”
“Jadi, kapan kamu main ke toko kaset lagi?”
“Secepatnya,” Lai menyahut. “ Cari kaset lain yang bisa kita dengar sama-sama kayak waktu itu.”
Arman nyengir. Tak disangka, naga bernama Puff sukses membawanya kembali ke kampus, membuka cakrawala pikirannya, menggiringnya kepada ketenaran dan produktivitas, malahan sekarang menghantarkannya kembali menjumpai Lai, sumber segala kisah ini! Puff memang naga ajaib!

Gelombang Itu, Gelombang Gelora 11

 

Katarina Ningrum

 

Minggu pagi.  Pemuda itu beranjak keluar dari kamar kosnya dengan langkah penuh keyakinan.  Sembari sedikit menggosok mata yang belum sepenuhnya segar, ia menuju wastafel untuk membanjur wajah supaya terbangun.  Tapi perjalanannya kurang sukses.  Lututnya terjeduk sebuah buffet dekat jendela lalu meringis kesakitan.

“Lemari nakal!” Norman memukul sudut benda itu dan mengaduh lagi karena sekarang telapak tangannya ikutan ngilu.  Maka berlanjutlah kunjungannya ke wastafel.  Ia berpapasan dengan salah satu teman kos yang tampak begitu kuyu.  Mereka bicara sedikit sebelum temannya itu masuk kamar lagi.

Seusai mencuci muka, Norman menuju lantai satu.  Perutnya lapar.  Kemarin dia sudah menyimpan beberapa bungkus makanan dilematis yang enak tetapi kurang sehat kalau keseringan—yakni mi instan—di dalam lemari dapur.

“Norman!” sebuah suara menyapanya di ujung tangga terbawah.  Tampak putra Ibu Kos sudah berpakaian rapi.

“Hei, Kemal, udah bangun?”

“Iya, jam setengah tujuh, man, dan gue udah bangun.  Keren ya.”

“Mau pergi?”

Kemal menjawab, “Betul.  Bentar lagi si Dion sama ceweknya jemput nih.  Rencananya sih ke Lembang, ngadem sedikitlah mumpung bisa ngumpul.  Dion juga kan baru balik dari Kanada, banyak obrolan banget.”

“Iya ya.”

“Lo mau ke mana hari ini? Ikut yuk ke Lembang!”

“Nggak bisa, Mal, sori, entar siang siaran, terus sorean ada janji.  Thank you lho.”

Kemal menepuk pundak Norman.  “Sip, nggak apa.  Janji sama siapa nih?”

“Temen,” sahut Norman sembari tertawa kecil.

“Dilihat dari ekspresinya, bukan sekedar temen sih.  Sori gue sotoy.  Hoho.”

Norman pun hanya terkekeh.  Mereka sama-sama menuju dapur, dan saat Norman memasak mi instannya, Kemal duduk dan ngomong ini itu.  Heran.  Mereka baru pertama kali mengobrol kemarin malam, tapi tiba-tiba saja keasingan satu sama lain di antara mereka mencair.

Barulah ia sadar betapa jarangnya ia ada di tempat kos ini selama tinggal di Bandung.

Waktu Norman menikmati sarapan dan Kemal mengudap sejumput kacang tanah yang nampaknya direbus oleh ibu kos kemarin malam, pintu depan diketuk.  Kemal beranjak ke sana, kemudian kembali bersama Dion yang mimiknya terlihat lesu, berlawanan dari hari di mana Kemal mengadakan makan malam.

“Udah, makan kacang aja lo, daripada sumpek sendiri,” ujar Kemal pada Dion.

Dion duduk di seberang Norman, lantas menyunggingkan senyum penuh paksaan.

“Hei, Penyiar Radio Retro!”

“Hei, apa kabar?” balas yang dimaksud.

Dan lawan bicaranya itu menggeleng miris.  “Nggak baik.”

“Lo kenapa sih, Yon? Ada hubungannya sama lo dateng sendiri nggak bawa temen lo itu?”

Norman bukan tipe yang senang mendengar curhat orang—kecuali kalau suatu saat ia harus jadi penyiar siaran khusus curhat—tetapi entah kenapa dia menunggu orang yang baru dikenalnya ini untuk bercerita.

Dan benar saja.  Dion menyeroscos lancar seperti keran bocor.  Topiknya mengenai teman perempuan yang ia bawa kemarin dulu, yang ternyata adalah teman SMAnya dulu.   Intinya, mereka dulu punya hubungan istimewa, tapi akibat isu kerusuhan di tahun sembilan puluh delapan, Dion pindah ke Kanada dan menetap sampai lulus high school.   Mereka tidak banyak berkontak lagi.  Apalagi waktu itu internet masih mahal, dan telepon interlokal luar biasa sekali ongkosnya.   Jika Dion kembali ke Indonesia, yang terjadi dua kali selama lima tahun, mereka sulit sekali berjumpa, karena kesibukan.

Terakhir Dion pulang ini, dia menyusul ke rumah anak itu, dan berhasil mengadakan reuni privat berdua.  Di depan warung bakmi.  Dan obrolan mereka rupanya mengalir.  Alhasil, Dion menjadi optimis dan dia mengajaknya pergi, ke sana, sini, hingga ke rumah kos Norman ini untuk merayakan Kemal.

“Dan kemarin malem dia akhirnya bilang, nggak bisa sama gue lagi,” Dion bertutur sedih.  “Kangennya dia beda sama kangennya gue.”

“Lah, terus?”

“Ya udah.  Gue nyerah.  Yang penting puas udah ketemu dia, ngobrol, denger suara dia, memastikan dia masih ajaib kayak dulu.”

Norman yang merasa asing diam saja tetapi merasa iba pada Dion.

“Jangan-jangan dia emang udah punya pacar, Yon,” ujar Kemal.

Maybe.”

“Relain deh,” Kemal menukas enteng.  “Udah nih, makan kacang.  Kalo udah kita cabut aja!”

Dion tertawa.  “Jahat lo.  Gue lagi patah hati, dikasih kacang.  Oiya, Norman, gue pingin denger radio lo, dan gue pingin iseng nelepon, enaknya di acara apa ya? Ada siaran khusus cerita-cerita gitu nggak sih?”

“Siaran Gelora yang paling interaktif cuma Halo-Halo Bandung, setiap malem.  Sisanya request­an lagu doang, sama titip-titipan salam.”

“Lo siaran Halo-Halo Bandung nggak entar malem?”

“Kagak.  Gue ada janji, sekalian ngeliput acara musik keroncong, jadi penyiar hari ini si Bapak Pimpinannya.”

“Hari ini siaran lo apa?”

“Tembang delapan-puluhan.  Jam sebelas entar.”

“Ada tembang sembilan-puluhan, nggak?”

Kemal terbahak.  “Kenangan lo sama dia semuanya di tahun sembilan puluh sekian, ya?”

“Emang,” Dion tampak putus asa.  “Gimana, Man?”

“Cobain aja lo request.  Siapa tau lagu yang lo pesen ada.  Titip salam juga boleh,” Norman berpromosi.  “Kadang tembang delapan-puluhan emang agak kecampur sama sembilan-puluhan awal, sih.”

“Tapi lagu kenangan gue kayaknya beken di tahun sembilan-puluhan pertengahan.”

“Udah sih, cobain dulu aja!” Kemal protes.  “Nanti siang pokoknya lo telepon si Norman pas lagi siaran.  Coba ajuin request.”

“Iya, ditunggu request-nya,” kata Norman ramah.

“Makasih, Bro.”

Sembari menunggu waktunya pergi, Norman menghabiskan kacang rebus bersama Kemal dan Dion.  Menjelang siang, mereka semua berangkat ke tempat tujuan masing-masing.

 

Prinka berupaya konsentrasi pada PR-nya.  PR ini dijadikan syarat ikut ulangan Matematika besok.  Jadi, ia harus mengerjakannya.  Mau tak mau.  Suka nggak suka.

Tetapi pikirannya beralih terus ke seulas senyum yang pemiliknya begitu manis.  Norman Halomon namanya.   Dalam hitungan jam, ia akan segera berjumpa dengan senyum itu.  Dia semakin tidak sabar waktu menyetel radio Gelora dan kebetulan pujaan hatinya tersebut sedang siaran siang.

Berkumandang lagu-lagu manis tahun delapan puluhan, diselingi ocehan Norman, “Nah, itulah tadi sebuah persembahan dari James dengan Sit Down-nya! Oke, sekarang waktunya membaca SMS yang masuk, atau mungkin ada yang mau telepon langsung ke nomor kita, kosong-dua-dua, tujuh-kosong-tiga-tujuh-empat-tujuh-delapan? Ditunggu juga request delapan puluhannya, yuk, boleh, boleh!”

Prinka senyum sendiri.  Dia tidak hafal lagu delapan puluhan, jadi dia enggan me-request apapun.  Hanya saja ia sudah kurang sabar ingin ngobrol sama Norman.

Sekonyong-konyong seseorang menelepon ke radio Gelora.  Prinka cukup hafal siapa saja yang biasanya menelepon di siaran ini.  Kalau bukan seorang kakak perempuan bernama Tracy, yang doyan banget sama Michael Jackson, pasti Usep Jallaudin, yang memang selalu eksis di semua siaran.

Tapi rupanya bukan.  Prinka terkejut.  Ajaib sekali radio Gelora punya pendengar baru! Masih muda, pula, kalau dianalisis suaranya!

“Halo, Tembang Delapan Puluhan Gelora, dengan siapa?” sapa Norman ramah.

Serangkai suara laki-laki yang lembut menyahut, “Siang, my  retro friend, Norman.”

Prinka mengernyit.  Siapa gerangan orang ini? Asal sebut saja Norman temannya.  Sok Inggris pula!

“Wah, ada pendengar baru rupanya! Coba, siapa namanya, mau lagu apa, titip salam sama siapa?”

“Saya Dion, di Lembang, mau titip salam dan kirim lagu buat seseorang yang begitu istimewa, tapi nggak bisa didapatkan.”

Prinka melongo.  Kenapa pendengar baru ini malah curhat dadakan?

“Oke, disampaikan ya salamnya, siapa tahu dia lagi nyimak Gelora, Minggu siang, mumpung libur, dan siapa tahu berubah pikiran, eits, siapa tahu, ya?” Norman menghibur.  “Baiklah, Dion, mau kasih lagu apa nih buat doinya?”

“Mau minta lagu yang cocok sama suasana hati sekarang, Bro, sekalian mau menyampaikan sesuatu buat orang itu, boleh?”

“Boleh banget! Ayo, disusun dulu naskah proklamasinya, eh, salah, ya? Ya, silakan, Bang Dion di Lembang, sampaikan suara hatinya kepada sang pujaan.”

Terdengar Bang Dion yang tak dikenal itu mendeham.  Lantas dengan lesu ia berpuisi, “Untuk Kriya.  Ternyata, setelah tahun-tahun berlalu, perasaan bisa berubah ya.  Kamu berubah.  Saya berubah.  Tapi saya mencoba untuk meluruskan lagi hal di antara kita, yang rupanya tergerus oleh waktu.  Kamu bergerak, saya rupanya terjebak. “

Lalu tertangkap suara kresek-kresek kertas.  Kayaknya Bang Dion betulan nulis naskah, deh!

“Saya tahu kamu geli kalau denger saya bikin puisi.  Saya bukan penyair.  PR puisi Bahasa Indonesia aja saya malah minjem lirik lagu kamu.  Inget nggak?  Terus gurunya percaya, dibilang bagus.  Kamu ketawa, saya gembira banget lihat kamu senyum.”

Sepi sebentar.  Terus, berlanjut.  “Krisan, mungkin memang begini jalannya.  Semoga kamu bahagia bersama siapapun yang berhasil mencuri tawa kamu.  Terima kasih untuk masa-masa keren yang pernah kita bagi di tahun sembilan puluhan.   Inget, kalau kamu sedih, butuh pegangan, dan putus asa, kamu masih bisa datengin saya, ya.”

Prinka tidak tahu mesti getek atau terharu.  Norman pun sepertinya terpekur hingga radio tidak bersuara selama dua belas detik.

“Sudah, pesannya, Bang Dion?” si penyiar memecah keheningan.

“Sudah, makasih ya, Norman! Tolong dipilihkan lagu yang cocok aja!”

“Siap, Bang Dion! Selamat mendinginkan kepala di Lembang, ya!”

Telepon ditutup.  Norman menghela nafas.  “Nah itu barusan curhatnya Bang Dion di Lembang, yang rupanya baru hancur hatinya oleh satu perempuan.  Yah, namanya juga hidup ya, ada sakit-sakitnya sedikit, ya, nggak apa-apa, yuk, tetap melangkah maju!”

Prinka terkikik.

“Kayaknya saya nemu nih, lagu yang cocok buat Bang Dion.  Liriknya kena banget!  Berikut saya akan putarkan sebuah tembang dari Cyndi Lauper, Time to Time!”

Petikan gitar elektrik diiringi ketukan drum sederhana pun berkoar.  Prinka memanfaatkan momen itu untuk mengerjakan setidaknya satu saja soal Matematika.  Tetapi nyanyian Cyndi Lauper mengganggunya.   Terutama bagian reffrainnya yang catchy.

If you’re lost you can look and you will find me

Time after time

If you fall I will catch you I’ll be waiting

Time after time

 

Prinka menggeleng-geleng cepat.  Matanya sampai lelah mengulang-ngulang deretan soal Matematika yang sedari tadi menantangnya.  Dia malah asyik bersenandung mengikuti lagu.  Fokusnya bubar jalan begitu saja begitu sebuah SMS masuk.

 

Halo, Prinka! Nanti jadi mau nonton Keroncong? 😀 Ketemu sore aja yuk, mau di mana?

 

Berbekal segelintir gengsi sebagai cewek, Prinka menyahut singkat:

 

Boleh, jam berapa kak? BIP aja ya.

 

Norman membalas lagi:

 

Sip, sekalian makan dulu deh.  BIP jam 4 ya.  Keburu?

 

Seketika, Prinka melompat dari ranjangnya, membiarkan kertas-kertas Matematika tercecer kekurangan kasih sayang, kemudian memilih baju untuk malam itu sembari menelepon Joan.

 

 

Siapa sangka, angkot ngetem menyebabkan Norman Halomon yang biasanya asyik-asyik saja jadi cemberut?  Dia terus menerus melirik ke arloji.  Senewen.  Sudah jam empat lebih sepuluh.   Kalau Prinka menunggu terlalu lama bagaimana?

Dia lalu mencari akal.  BIP.  Kira-kira lima menit lagi tercapai, seandainya si angkot bergerak.   Tapi kenyataannya  dia masih terdiam di depan sebuah gang di jalan Taman Sari.  Angkot ini sungguh tidak bertenggang rasa.

Untuk menenangkan diri, ia memberitahu Prinka bahwa ia agak terlambat.  Tetapi tidak dibalas. Gawat.  Mungkin anak itu marah.

Gelisahnya bertambah-tambah karena belum ada penumpang lain lagi masuk.  Semakin sepi, semakin lama saja periode ngetem angkot bertambah.

Tapi, syukurlah, sesudah stagnan sepuluh menit berikutnya, angkot pun berjalan.  Supirnya nyerah.  Melajulah mobil dan Norman langsung ngacleng di depan BIP, nyaris salto karena kurang waspada memerhatikan jalan.

Sekarang masalah kedua.  Prinka di mana, ya?

Norman cepat-cepat mengangkat hapenya.  Memencet beberapa nomor dan menempelkan speaker ke telinganya.  Menjawab di sana seorang perempuan, berkata sopan:

“Maaf, pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan. Silakan isi ulang pulsa Anda.”

Kalau Norman hilang kendali, kayaknya dia bakal teriak-teriak kesal.  Sudah panik karena terlambat, sekarang habis pulsa! Lalu bagaimana caranya menemukan Prinka di tengah-tengah manusia yang tengah berlalu lalang?

Manusia zaman sekarang memang terlalu tergantung pada telepon genggam.  Bukannya dari tadi janjian ketemu di mana, kek.

Ide cemerlang mendadak muncul.  Food court! Mereka kan mau makan.  Berarti kemungkinan Prinka menanti di food court.

Norman mendaki tangga berjalan.  Begitu tiba di lantai teratas Bandung Indah Plaza, ia segera celingukan di daerah tempat makan dan, sayangnya, belum beruntung.

Masa dia harus mengubek-ubek seluruh BIP!

Norman berkeliling kota.  Naik turun tangga.  Mengintip semua etalase, sampai tahu-tahu sudah setengah lima lebih sepuluh.

Rasanya ingin punya…astaga, pulsa.  Kenapa dia tidak beli pulsa saja? Di sini kan ada gerainya!

Ia menepuk keningnya.  Menertawakan diri sendiri.  Dasar manusia panik, jadi idiot sejenak!

Segera ia mendatangi gerai pulsa dan mendaftarkan nomornya untuk diisikan secara elektrik.  Dia menunggu sembari mengetuk-ngetukkan kaki ke ubin sambil tetap menengok ke sana kemari.  Siapa tahu terlihat sosok yang dicarinya.

Dan berita tak mengenakkan belum habis.  Penjual pulsa memanggilnya dan berkata, “Maaf, Mas, lagi gangguan, pulsanya nggak bisa masuk.”

“Hah! Yah, ya udah.  Nggak bisa diusahain ya?”

“Nggak bisa, Mas, habis ini sinyalnya mungkin lagi jelek.”

Norman berpindah dari gerai pulsa tersebut ke ATM.  Tetapi karena dia pemilik akun bank swasta terkemuka, ATM itu ditutupi antrian panjang.  Beginilah hari Minggu, mal ramai!  Sementara itu, jam tangan makin memburunya, dan hapenya tidak menerima pesan apapun dari Prinka.

Berbagai kekhawatiran berkecamuk.  Apakah Prinka datang, dan pulang lagi karena mereka gagal berjumpa? Apa Prinka pun kehabisan pulsa? Atau Prinka kenapa-napa di jalan?

Dalam gelisahnya, ia meninggalkan antrian dan berminat keluar BIP untuk cari tukang pulsa pinggir jalan atau di warung rokok.   Saking cepatnya dia bergerak, tanpa sadar tas selempang kulit sintetis model tukang posnya tersangkut dan dia tak bisa maju.

Dia menoleh untuk membereskan persangkutpautan aneh ini dan alangkah leganya saat mendapati seorang anak perempuan melongo dengan tampang kusut.

“Kak Norman!” ia berbunyi.

“Prinka! Akhirnya ketemu juga! Maaf ya, saya habis pulsa, jadi mau nelepon pun bingung, mana tadi beli pulsa malah ada gangguan sinyal, terus sekarang mau ngisi di ATM antrinya panjang banget…”

Dia menelan ludah sendiri.  Bicaranya nyeroscos tak keruan.  Benar-benar penyiar radio sejati! Dia sampai malu sendiri.

“Kak Norman, maaf ya, aku telat banget, tadi angkotnya ngetem…”

“Lah, justru saya kira saya yang terlambat.  Soalnya angkot saya ngetem banget barusan!”

Mereka tertawa bersama sembari membereskan tas yang tersangkut.  Tas Prinka bernuansa kulit sintetis berpadu kain tenun, dan salah satu tali serutnya entah bagaimana terkait di gesper kantong depan tas Norman.

“Sama-sama karena angkot ngetem, ya…”

“Dan aku abis pulsa, Kak,” jelas Prinka.  Jelas dia bergerak setengah lari dari tadi.  Nafasnya memburu.  “Jadi tadi keliling BIP aja nyariin, untung-untungan ketemu.”

“Ternyata untung ya, kita ketemu,” Norman nyengir lebar sampai Prinka merasa terhipnotis sejenak dan kepalanya kosong.  “Kayaknya kita sama-sama capek ngider di BIP, langsung makan aja, yuk?”

Prinka manggut-manggut terharu.  Barusan dia masih panik berat, sekarang begitu lega hatinya.

“Mau makan apa?” seusai melepas kedua tas yang tersambung, Norman bertanya.

“Nggak tau, Kak, kentang goreng mungkin…”

“Kamu doyan kentang goreng, ya? Kok selalu kentang goreng?”

“Bingung sih, Kak, soalnya food courtnya rame banget, jadi mau milih-milih pun males.”

Norman pun mendapat ide.  “Makan di Olala aja, yuk, di situ lebih tenang.  Saya traktir, dan kamu nggak boleh nolak.”

“Lho, kok gitu?”

“Iya, rezeki kan harus diterima baik-baik.  Yuk!”

Mereka pun ke lantai satu.  Di sana ada sebuah kafe yang harga makanannya cukup tinggi, tapi entah bagaimana tempatnya memang jauh lebih tenang dibandingkan food court.

Karena sungkan, Prinka memesan teh tawar dan nasi goreng, yang merupakan menu termurah di sana.  Tetapi Norman bilang, sebaiknya ia pesan minuman yang lebih bergizi.  Jadi Prinka memilih jus jeruk.

Saat menunggu pesanan, Prinka membuka obrolan.  “Tadi ada pendengar baru, ya, Kak? Yang malah curhat panjang itu.  Pas siaran delapan puluhan.”

“Hahaha, kamu denger rupanya.  Iya, sebetulnya saya kenal orangnya.”

Maka kisah rumah kos Norman pun bergulir.  Sampai ke cerita Kemal dan Dionnya.  Prinka tersenyum saja.

“Kasihan sih Dion itu.  Dia baru balik dari Kanada dan dengan sejuta harapan nyamperin gebetannya, eh, nggak sukses ngegaet lagi.”

“Memangnya Bang Dion sengaja balik dari Kanada cuma buat dia?”

“Nggak juga, banyak urusan lain, termasuk ketemu Kemal ini.  Tapi prioritasnya ya untuk balikan.”

Lalu minuman mereka tiba di atas meja.  Prinka menyedot jus jeruknya sedikit.  Sungguh menyegarkan jika dicicip sesudah pencarian melelahkan.

“Gimana persiapan buat ujian nasional, Prinka?”

Sebelum jawab, Prinka tergelak dulu.  “Malu-maluin ah, Kak.  Memang saya bukan pelajar teladan.  Yang ada, tiap kali mau belajar, beberapa lama kemudian tutup buku, setel radio, terus ya tidur-tiduran sambil dengerin Gelora.”

“Wih, kamu memang pendengar setia Gelora ya!”

“Iya dong, kan…” Prinka membungkam.  Dia hampir saja mengutarakan isi hatinya: Karena aku pingin selalu dengerin suara Kak Norman!  Untung dia masih eling.

“Kan apa, Prinka?”

“Nggak, kan saya anaknya unik, jadi dengerinnya juga mesti radio yang antik.  Hehe.”

Norman pun tersenyum.  Dan saat mata mereka bertatapan sekilas, rasanya seakan ada sengatan listrik menyerang dan keduanya menahan nafas.

“Nanti keroncongnya jam berapa, Kak?”

“Jam tujuh.  Kalau bisa kita udah jalan jam enam ya, supaya kebagian duduk.  Tapi nggak tahu juga sih kalau ternyata sepi.”

“Kak Norman harus ngeliput, ya?”

“Iya, tapi sudah ada kru lain di sana yang khusus merekam.  Saya sih meliput acaranya, sekalian dapet tontonan, kan, lumayan.  Soalnya radio Gelora kasih sponsor juga sih.”

“Oh, disponsorin Gelora? Pantesan.”

Mereka bercakap-cakap banyak selama makan, kemudian, pukul enam, mereka bergerak keluar dari BIP membawa perut kenyang.

Langit sudah sedikit redup, tetapi karena hari itu cerah, masih ada sisa-sisa mentari yang mengintip dari balik gerombolan awan merah jambu.   Dua insan berjalan santai dan mencegat angkot bersama.

Sampailah mereka di depan Graha Wanita dan masuk.  Tampak banyak orang-orang usia lanjut dengan baju-baju cantik di sana.  Prinka serta Norman merasa muda sekali!  Sesudah lolos dari meja undangan (Norman membawa name tag radio Gelora, rupanya), mereka masuk ke dalam.

Di atas kursi lipat bermerek Chitose duduklah keduanya berdampingan.  Selama dua jam berikutnya, berbagai tembang Keroncong mengalun, dibawakan oleh kawula muda dan tua secara bergantian.

Prinka cukup heran karena dia bisa menikmati seluruh pertunjukan.  Dia benar-benar terpikir bakal tertidur jika mendengar lebih dari tiga lagu keroncong, tetapi justru ia melek dan terpesona.

Dia juga mengamati anggota orkes keroncongnya:  kakek tua pemain biola, klarinet, dan lainnya.  Mereka tampak asyik sekali!

Belum pula kegembiraan yang ia rasakan saat Keroncong Kemayoran ditampilkan.  Ini lagu kenangan waktu dia berkunjung ke Gelora dan berduaan dengan Norman di ruang siaran.

Seusai pagelaran, judul itu masih awet berputar di kepala Norman dan Prinka.  Mungkin karena ada kenangannya.  Mereka menyusuri jalan Riau sebentar sembari mencari jajanan hangat karena angin cukup dingin.

Sampailah mereka di sebuah restoran fast food dan memesan jagung rebus.  Lalu mereka keluar sembari menggerogoti  sebongkah jagung hangat.  Norman akan menemaninya di angkot, seperti biasa, sampai ke jalan masuk kompleknya.

Angkot tiba, waktu jagung mereka masih setengah ompong.  Lalu perjalanan yang tak terlalu banyak diisi perbincangan lantaran sibuk mengerat tanpa terasa berlalu.  Norman dan Prinka tiba di gerbang masuk perumahan tempat Prinka tinggal.

Mereka menyanyikan lagu yang sama, dengan suara tak berteknik.  Tetapi kekompakan itu membuat keduanya terkikik geli.

“Lucu ya, lagunya,” komentar Prinka.

“Iya, isinya kan pantun,” Norman menjawab.

“Angkatan lima puluhan dulu kerjaannya berbalas pantun, ya, Kak.”

Norman bilang, “Kita juga bisa berbalas pantun.  Sampe sekarang pelajaran Bahasa Indonesia masih ngebahas pantun, kan?”

“Betul.  Delapan sampai dua belas suku kata per baris, dua sampiran, dua isi.  Hehe.”

“Bahkan versi Bahasa Sunda juga ada, kan?”

“Memang.”

Mereka tiba di depan rumah Prinka.  Rasanya malas sekali mengucapkan salam perpisahan.  Jadi mereka masih berupaya mencari topik baru.

Dan Prinka pun mawas diri.  Sudah malam dan besok hari Senin.  Dia mesti bangun pagi, tidak boleh berlama-lama.

“Kak, aku masuk dulu ya,” Prinka berkata dengan berat hati.

“Oh iya, Prinka, oke! Makasih ya.”

“Mestinya aku yang bilang makasih,” balas Prinka.

“Ya udah, sama-samalah,” Norman tertawa kecil.  Begitu pula Prinka.  Seperti biasa, mata mereka tak berhasil saling melepas.  Padahal Prinka sudah memegangi segel pagar.

Sejurus kemudian, entah kerasukan apa, Norman maju dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Prinka.  Dan anak ini membeku.  Wajahnya terasa panas dan riang di hatinya menjadi-jadi.

Bersamaan dengan itu, pintu rumah malah menjeblak terbuka.  Terdengar suara Ayah, “Prinka, kamu udah pulang?”

Prinka, Norman, dan si Ayah terkejut tingkat dewa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gelombang Itu, Gelombang Gelora 10

Di Ruang Siaran

Katarina Ningrum

“Ka, tolong ambilin saputangan Bunda di kamar, dong! Gading, matiin lampu dapur ya.  Ayah mana sih, belum beres juga minumnya?”

Bunda rusuh.  Iya, malam ini, Prinka sekeluarga mau menghadiri undangan pernikahan salah satu saudara jauh mereka.  Mempelai wanitanya nanti adalah anak adik kakak ipar Ayah.  Tetapi hubungan dia dan Prinka lumayan dekat.  Bahkan lebih dekat daripada relasi Prinka dengan sepupunya sendiri.

Setelah semua orang siap, ayah dan bunda masuk ke mobil duluan, sedangkan anak-anak menutup pintu serta pagar.  Lantas melajulah mesin mobil.

Minggu siang.   Tabiat matahari agak aneh.  Ceria tetapi nyumput malu-malu di balik awan.  Fenomena inilah yang disebut ‘cedem’.  Cerah-cerah adem.   Warna langit yang biru-kuning-kelabu aneh membuat Prinka menatap keluar jendela mobil dengan melankolis.

Diamatinya gerak-gerik lalu lintas.  Orang-orang yang lewat.  Jalan yang dilindas.  Semua.  Sampai akhirnya Gading menowel-nowel pundaknya.  “Mbak Prinka! Kita udah sampe! Ayo!”

“Oh, udah sampe?” tanya Prinka linglung.  Gading menggeleng-geleng.  Kebiasaan melamun kakaknya ini sudah keterlaluan deh.

Mereka turun.  Ayah dan Bunda bergandengan masuk gedung resepsi.  Lantunan gamelan Sunda menyambut.  Langgam musik demikian membikin Prinka geregetan.  Ingin mendengar siaran siang Norman.

Kemudian isenglah dia mengirim SMS kepada si penyiar:

 

Kak, saya lagi dengerin degung Sunda lho! Tapi bukan via siaran siang Gelora. 😦

 

Sembari menanti datangnya balasan, Prinka dan Gading masuk untuk memberi selamat kepada dua pengantin yang berbahagia.  Juga bersilaturahmi dengan banyak orang dan menerima kata-kata paling standar dari kumpulan om-om dan tante-tante: “Wah, ini anaknya? Sudah besar ya! Kelas berapa?”

Walau bosan, Prinka dan Gading senyam-senyum saja.  Lantas mereka makan bersama seraya memerhatikan para tamu undangan.  Siapa tahu ada kecengan lumayan.  Gading menemukan beberapa gadis remaja sebayanya yang agak cantik.  Lalu Prinka menggodanya.

Kemudian Prinka melihat cowok-cowok muda yang ganteng, Gading lantas meledeknya.

“Eh, Mbak kan udah sama si Bang Norman!”

“Udah apa?”

“Udah…udah ngeceng!”

Prinka jadi teringat pada ponselnya.  Ia pun mengecek layar.  Belum ada balasan. Pasti masih sibuk siaran.

“Gimana, Mbak? Kapan nih kencan pertamanya? Yang tanpa Gading. Pas di BIP mah nggak dihitung kencan ya, kan bertiga.”

“Apa sih, Ding!?” Tepat saat Prinka menyanggah, hape-nya bergetar.  Ia membuka pesan yang rupanya dari Norman.

 

Wah, nggak setia sama Gelora! Ayo pasang radionya dulu.  :p Denger degung Sunda di mana kamu?

 

“Pasti SMS dari Bang Norman,” seloroh Gading.

“Kamu tau dari mana?” Prinka keheranan.

“Tuh, Mbak senyum-senyum sendiri abisnya.”

“Nggak,” jawab Prinka sembari menahan cengiran.

Gading ngakak.  “Udah, percuma ditutupin! Mukanya jadi jelek!”

Bunda dan Ayah muncul tiba-tiba.  Mereka mengajak dua anaknya memberi salam pada mempelai di pelaminan.  Sesudah salam-salaman dan berpelukan, Prinka dan Gading berjumpa adik si mempelai wanita, yang masih sepupu jauh mereka.

“Mbak Prinka!” ia memeluk Prinka.  Usia mereka berbeda setahun saja, tetapi Sitta, nama anak ini, selalu memanggil Prinka dengan sopan.

“Hei, Ta,” Prinka balas merangkulnya.  “Kita udah lama nggak main, ya!”

“Iya nih!”

Mereka bercakap-cakap seru.  Sekonyong-konyong berkibarlah satu pertanyaan fatal dari Sitta: “Mbak Prinka udah punya pacar?”

“Be…belum,” Prinka agak heran kenapa mesti tergagap-gagap menjawab.  Ia tidak berbohong atau apa kok.

Sitta berkedip-kedip ceria.  “Kalau gebetan punya, kan?”

“Ada! Penyiar radio!” Gading menyambar tak sopan.  Prinka mencubit lapisan lemak di perut bagian samping adiknya.  Tetapi si adik masih saja  keukeuh mewartakan hubungan asmara (?) sang kakak dan abang penyiar.  “Beneran lho! Tadi masih SMS-an. Kangen satu sama lain.”

“Aaah, so sweet!” Sitta tampak antusias.

“Kamu sendiri emang punya gebetan?” Prinka membelokkan inti pembicaraan.

Dengan santai melengang Sitta berkata, “Aku sih udah punya pacar, Mbak.  Dari kelas satu.  Anaknya lucu banget.”

“Hah?” refleks Prinka melongo.  “Selamat ya!”

“Iya, Mbak.  Kapan dong Mbak Prinka nyusul?”

Kalimat terakhir itu membuat Prinka tercenung.  Dia pun tak tahu kapan waktunya menyusul.  Dan kenapa dia harus menyusul.  Tetapi urusan perjodohan membuatnya ingat lagi pada Norman Halomon.

 

Siang itu terik menyengat.  Prinka dan Joan sedang berkumpul di kelas tambahan Akuntansi seperti biasa, dan mereka lebih banyak ngobrol daripada menyimak pelajaran.  Kasak kusuk nonstop mereka seakan sudah membuat sang guru pasrah sampai-sampai menegur pun enggan.

Tapi percakapan mereka hari ini edisi khusus.  Mereka membicarakan pelajaran!

“Nyoy, kamu laporan keuangan yang tanggal dua belas Maret berapa? Kok yang aku debet-kreditnya beda, ya?”

Prinka menengok.  Tatapannya penuh keputusasaan.  Tanpa perlu penjelasan, Joan berkata, “Yang kamu juga beda.”

Mengangguklah Prinka.

“Kita memang sehati, Nyoy,” ujar Joan.  Kemudian ia mengulang dari awal perhitungan buku besar toko kelontong Nyonya Ida (demikian nama tokoh soal ceritanya).

Seusai tambahan, Prinka dan Joan berjalan ke luar gerbang sekolah dan sekonyong-konyong mendambakan makanan atau minuman dingin.  Kebetulan, seorang penjaja es potong melintas.  Mereka pun kalap dan langsung melakukan transaksi rasa alpukat dan kacang hijau.

Asyik melahap es krim (ya, dilahap, bukan dijilat!), mereka jalan sepanjang trotoar menuju pangkalan angkot terdekat.  Mereka tertawa-tawa tiada henti sampai-sampai orang di sekitar mereka khawatir keduanya akan tersedak es potong.

“Nyoy, pokoknya beres UAN kita main sepuasnya, ya!”

“Pasti!”

“Dan kamu udah mesti jadian sama si Kak Norman, ya!”

“Hah!?”

“Mana dia? Kok nggak ada follow up?”

Prinka merasa déjà vu.  Lagi-lagi diingatkan soal ini! Tapi mesti diakui, ia pikirannya memang didominasi oleh Norman Halomon.  Sementara di sisi lain ia tak tahu harus melakukan apa.

“Menurut teori, ya, Nyoy, sekarang adalah saat-saat di mana si Kak Norman bakal ngajak kamu jalan!”

“Teori? Mana bisa beginian dibikinin teori.  Tiap manusia kan beda.”

“Ah, kamu filosofis amat.  Kalau percintaan sih, di mana-mana sama tahapannya kok.”

“Masa sih?” sahut Prinka polos.

Joan memegang pundak sobatnya.  “Dia SMS kamu nggak?”

“SMS sih, tapi…”

“Tapi…?” mata Joan membelalak.

“Ya gitu doang SMS ngomongin radio Gelora.”

“Dia nggak ngasih kode-kode,  Nyoy?”

“Kode apa?”

“Ya, mengungkit-ungkit hubungan kalian, gitu, misalnya.”

Prinka menggeleng.  Joan semakin melotot.  “Kok dia gitu, sih?”

“Lho, kok jadi nyalahin?”

“Bukan, kenapa dia nggak melanjutkan…”

Prinka lama-lama jenuh sendiri.  Dia pun diam saja, menghabiskan es krimnya.  Di lubuk hatinya ia sedikit penasaran.  Masa sih harus pihak perempuan yang mancing?

 

Engsel kursi berkeriut.  Tak ada suara-suara ribut lain di luar kicauan burung yang secara bergerombol berpindah tempat.  Keheningan khas siang jelang sore memang tak tergantikan.   Norman Halomon baru beres siaran degung Sunda dan mengubah moda pikirannya ke Bahasa Indonesia kembali.  Satu jam bicara Bahasa Sunda total lumayan bikin lidah kebal dari bahasa lain.

Sebetulnya, Norman sedang berpikir.  Menimbang-nimbang.  Sembari ia lempar-tangkap telepon genggamnya yang sudah bocel sana-sini.  Dia sangat siap untuk mulai mengirimi Prinka SMS yang agak basi tapi entah bagaimana ampuh turun temurun membuat pendekatan antara dua insan berlanjut, yakni pesan singkat ‘hei, lagi apa?’.

Tetapi dia rasa, Prinka bukan bocah sembarangan.   Dia cerdas, pengetahuannya luas, bahkan cenderung random.   Anak macam ini bukan tipe yang bisa didekati dengan template standar.  Setidaknya sejauh itulah Si Penyiar Radio menyimpulkan.

Apa harus ia menyelenggarakan kuis tiket Pagelaran Bambu lagi dan dengan sengaja  membuat Prinka menang kemudian mereka pergi bersama?

Lantas Norman mengecek kalender dinding radio Gelora.  Di situ sudah ditandai beberapa acara penting yang akan diliput.  Tidak ada yang ke-Prinka-Prinka-an!  Kecuali Prinka mau diajak ke acara musik keroncong…

Norman menelan ludah.  Keroncong.  Kalau dia suka hal-hal tradisional dan yang retro, seperti radio Gelora ini, mungkin, keroncong juga?

Setelah terdiam sesaat, Norman pun meraih hapenya.

Halo, Prinka! Kamu suka lagu keroncong? 😀

Sejam kemudian, Prinka baru membalas.  Mungkin setelah renungan panjang dan kepanikan khas anak perempuan.

Cuma tau Bengawan Solo sih, Kak.  Kenapa?

Menghela nafaslah Norman.  Kalau ditanya alasannya, rasanya jadi canggung sendiri!

Ya, barangkali tertarik nonton bareng acara keroncong di Graha Wanita Riau Minggu besok J

Sudahlah, bohong terlalu lama juga tak baik.

Sekian jam kemudian, bahkan seusai siaran Halo-Halo Bandung, Prinka masih juga bungkam.  Norman pun pulang ke kosnya dengan gontai.   Berbagai pikiran mengusiknya.  Mungkin Prinka jadi malas.  Barangkali Prinka kehabisan pulsa.  Atau, dia sedang fokus belajar untuk ujian nasional?

Saat tiba di depan pintu kos, Norman disambut oleh sang ibu pemilik rumah.  “Malam, Bu,” sapanya.

“Nah ini nih, ditunggu sedari tadi! Ayo, ke dapur, ada makan-makan, Nak,” Ibu Kos berceloteh cepat dan semangat.  Tampak dirinya mengenakan pakaian rapi, meski di dalam rumah.

“Makan-makan? Jam segini?” tukas Norman spontan.

“Iya, anak-anak lain belum pulang, kamu yang pertama, yuk, langsung saja! Ada syukuran kecil, anak saya keterima kerja di Yogyakarta!”

Norman melotot.  Yogyakarta? Kerja? Anak Ibu Kos? Oh, laki-laki, yang brewokan itu? Norman yang jarang ada di tempat mengernyit.

“Siap, Bu, ada makanan apa?” Norman pun nyengir.  Senang sih, makan gratis!

Dia pun digiring Ibu Kos menyeruak ke ruang makan sebelum sempat meletakkan tasnya di kamar.   Rupanya, banyak laki-laki muda berkumpul di sana.  Di atas meja terhidang aneka makanan hebat: tumis ceciwis dalam porsi raksasa, gurame goreng garing, lalapan berupa sayuran segar, tiga macam sambal, sayur asem, dan beberapa gelas sirup warna hijau.

Sudah lama Norman tidak makan mewah…

“Hei,” sapa anak Ibu Kos, kalau tidak salah namanya Radit, atau Adit, atau malah bukan sama sekali.  Untung saja si belum-jelas-namanya ini bertanya pada Norman.  “Nama?”

“Norman.”

“Kemal.”

Oh iya, Kemal!

“Sering pulang malem ya? Jarang ketemu kita.”

“Iya, Kak, siaran di radio soalnya, siarannya sampai malem.”

“Wuih keren, penyiar dia!” sahut salah satu teman Kemal yang wajahnya mirip Andy Lau.  “Radio mana?”

Agak-agak malu, Norman menyebutkan nama radionya yang norak, “Radio Gelora, delapan puluh delapan MW.”

“Radio AM?”

“Iya, AM, yah, MW, sama aja kan?”

“Emang masih ada yang dengerin?”

“Ada, anak SMA aja ada yang rajin SMS.” Norman merasa tak keruan.

By the way, gue Dion.  Ehm, radio Gelora itu, isinya apa?”

“Isinya ruang siaran, lah, Yon!” Kemal bergurau.

Dalam kecanggungan, Norman pun menerangkan bobot siaran radio Gelora, mulai dari degung Sunda, musik klasik, sesi konsultasi, sesi tanya-jawab kesehatan, dangdut (yang untungnya bukan tanggung jawab dirinya), lagu-lagu lawas, hingga yang paling waras: Halo-Halo Bandung.

“Lucu ya,” Dion berucap.  “Kenapa lo bisa kecemplung ke radio retro gitu?”

“Gara-gara iseng aja ngajuin lamaran, eh, taunya emang cuma gue kayaknya yang melamar ke sana.”

Mereka pun terbahak semua, bersama tiga orang lain di sana, termasuk satu-satunya perempuan di sebelah Dion yang dari tadi begitu kalem.  Mungkin pacarnya.

Norman pun celingukan sebentar.  Ia tidak melihat Ibu Kos.  Mungkin ada urusan lain dan tidak mau mengganggu anak-anak muda berkumpul.

“Makan, Norman, ini syukuran, saya minggu depan pindah Yogyakarta.  Sudah dapet kerja di pabrik coklat,” tukas Kemal.

“Pabrik coklat? Sebagai apa?”

Product developer crew.  Jurusan saya food-technology.  Yah, saya juga iseng kok ngirim lamaran ke sana, rupanya mereka memang lagi cari anggota tim pengembangan produk.  Biar nggak stuck kan jenis coklatnya.  Saya sih berbekal ilmu teknologi, ya, bukan tim kreatif, tapi setidaknya saya bisa mewujudkan apa yang diusulin sama yang punya ide, kira-kira begitu kerjaannya.”

Norman manggut-manggut.  Coklat.  Dia langsung membayangkan tempat kos ini akan dikirimi coklat lezat setiap bulan.

“Asyik ya, coklat,” Dion nyeletuk.  “Oiya, Norman, kan? Udah berapa lama kos di sini?”

“Satu setengah tahun, sempat sekolah broadcasting dulu, terus nunggu-nunggu jawaban lamaran sebulan, baru deh kerja beneran.”

“Wah seru!”

“Heran kan, Yon? Dia di sini segitu lama, gua di sini setahun ya, habis lulus, tapi gue jarang ketemu sama si Norman ini!” Kemal bicara.

“Iya, lo anak durhaka ya, jarang di rumah!” Dion mengejek Kemal.

Obrolan mereka bertahan sampai tengah malam, sampai piring-piring kosong, sampai Norman kenal semua orang di ruangan, hingga perut penuhnya tak keruan.   Ibu Kos sempat muncul sebentar memunguti piring-piring bekas yang sudah tak efektif, ngomong sedikit, lalu berlalu dan hilang.

Saat waktunya berpisah tiba, Dion bersama teman pendiamnya, serta dua teman Kemal lainnya berpamitan.  Dion tampak begitu heboh, bahkan terhadap Norman yang baru ia kenal pun dia sangat heboh, sampai minta nomor hotline radio Gelora segala.

“Gue dukung deh radio retro lo itu!” ujarnya.  “Yuk ah, dadah!”

“Makasih, lho!”

Kemal terbahak-bahak.  “Temen kosan lo yang lain mana sih? Pulangnya semalem ini?”

Norman teringat pada empat orang lain penghuni kamar kos.  Tetangga-tetangganya.  “Yang satu sih, setahu gue, emang kerjanya sampe malem di kedai kopi gitu, nah, tiga yang lain itu masih baru, gue belum kenal amat, soalnya gue kan pergi pagi pulang malem juga.”

“Oh, gitu?”

Arah obrolan makin tidak penting, maka Norman naik ke kamarnya di lantai dua, dan Kemal menemui ibunya di ruang keluarga mereka.  Mereka memang tinggal berdua saja.  Bapaknya kerja di luar pulau, pulang dua bulan sekali.

Di kamar, Norman baru ingat bahwa sedari tadi ia belum mengecek ponselnya.  Alangkah kagetnya dia mendapati tiga pesan dari Prinka:

Saya nggak suka keroncong sih, Kak, tapi, boleh deh nonton bareng.  Paling juga saya ketiduran kalau memang bosen banget.  J

Pesan kedua:

Kalau habis nonton ditraktir es potong, semakin nggak keberatan, Kak! 😀

Dan pesan ketiga, yang benar-benar terlihat panik:

KAK NORMAN, HP SAYA DIBAJAK TEMEN.  YANG TADI ITU BUKAN SAYA, TAPI DIA! Ehm, tapi asik-asik aja kayaknya nonton keroncong. 

Norman tergelak.  Bahagia.  Geli.  Prinka cerita apa pula ke temannya? Teman yang di angkot waktu itu?  Yang cerewet? Sepertinya iya.

 

Di kamar Prinka, dua cewek cekikikan.  “Tuh kan, kataku juga apa, Nyoy!”

“Ehm,” Prinka masih menahan kegembiraannya.  “Joan.  GIMANA INI!?”

“Diajak kencan kok malah panik?!”

“Ya iyalah panik! Kamu juga sih, malah ngebajak hapeku.”

“Kan tadi kamu bilang sendiri, kamu kalau bosen sama keroncong, ketiduran.  Ketidurannya di pundak Kak Norman.  Hahaha!”

“Tapi kan itu rahasia pribadi, nggak buat diumbar-umbar juga, kali!”

“Udah, tenang, aku kan nggak ngebahas urusan bersandar di pundaknya.  Tenang, Nyoy.  Sekarang, yuk, kita susun skenario kencan kamu lusa!”

“Kencan pakai skenario?”

“Iyalah, Nyoy!”

“Ngapain, biar ngalir aja deh.”

“Yah, setidaknya, tentuin mau pakai baju apa.”

“Gimana mood entar aja, deh.”

Joan pun tersenyum.  “Bangga deh punya temen kayak kamu, Nyoy.  Udah yuk, tidur, kalau kamu berhasil tidur.  Aku ngantuk!”

Mereka pun merebahkan kepala di atas bantal, di antara kertas-kertas dan buku tulis yang tergeletak.  Senin depan mereka akan menjalani try out ujian nasional.  Tetapi di kepala mereka malah urusan kencan yang berjalan-jalan.  Sepertinya bahan pelajaran yang dari tadi mereka usahakan untuk dibaca, malah sudah tertimpa dan lenyap…

Acara keroncong yang dinanti, sudah hadir duluan di dalam mimpi Prinka.

Gelombang Itu, Gelombang Gelora 9

Katarina Ningrum

lebirthdaycake

 

Lobi depan radio Gelora lengang.  Sementara itu, Norman sudah basah kuyup.  Setiap langkah kakinya becek, bahkan meskipun sudah ditransfer  ke keset WELCOME di depan pintu barusan.  Dua puluh menit lagi siaran berikutnya, dan untunglah ia sudah di sini.

Dia cepat-cepat mengambil minum, dan melihat sebuah gelas setengah penuh di meja makan bersama dekat sofa.  Juga tampak seonggok kotak karton di samping gelas.  Ia mengernyit.  Tidak biasanya ada benda asing di sini.  Dan dus apakah itu sebenarnya?

Sebentar, Norman duduk di atas sofa buluk.  Menikmati airnya.  Lama kelamaan ia mulai curiga akan keheningan tak wajar ini.  Biasanya kantor radio Gelora memang agak sepi, tapi kok sekarang rasanya berlebihan, ya?

Penasaran, ia bangkit berdiri, bergerak menuju dapur yang tersambung ke ruang Bapak Pimpinan.

Norman melangkah ekstrapelan, hingga tak sedikit pun terdengar suara, dan…

“SELAMAT ULANG TAHUN!”

Teriakan itu menggema di dapur Gelora yang mungil tetapi hangat.  Norman terpana melihat sebatang lilin menyala di atas kue kecil berornamen warna-warni.  Lagu ‘Panjang Umurnya’ dinyanyikan oleh segerombol manusia.  Tetapi bagian terbaiknya adalah, orang yang membawakan kue.  Prinka, yang pipinya merona merah, tersenyum, dan tampak sangat manis.

Norman terpaku dan lidahnya kelu.

Mimpi apa dia semalam?  Bagaimana ceritanya seorang Prinka hadir di radio Gelora bukan untuk mengambil hadiah tiket?

“Ayo, ditiup lilinnya,” ucapan Bapak Pimpinan membuyarkan ketakjuban Norman.

“Oh, iya, Pak, siap,” Norman berkata canggung.  Ia tak dapat melepaskan tatapannya dari kedua mata Prinka yang juga sama stagnannya.

“Dia nih yang bawakan kue buat kamu,” Bapak Pimpinan melirik Prinka.

Wajah Norman sumringah tak tertahankan.  Senyumnya kian melebar.

“Cepat ditiup! Nanti lilinnya habis!” sekali lagi Bapak Pimpinan memperingatkan.

“Oke, Pak!”

Norman meniup lilin.  Kemudian barulah ia memandang sekeliling.  Selain Prinka dan Bapak Pimpinan, ada pula teman Prinka sesama anak SMA, serta ibu produser.

“Terima kasih, ya,” Norman menggaruk rambutnya.  Salah tingkah.

“Dimakan, Kak,” akhirnya suara Prinka terdengar.  Norman menoleh dan lagi-lagi membeku.  Suasana kikuk merebak di antara kedua orang ini.

“Boleh nih? Makasih ya, Prinka!” jurus penyiar ceria Norman dikeluarkan.  Ia berusaha terlihat santai.   Kue yang lezat tapi sayang ukurannya kurang ramah sekitar karena kekecilan itu pun dibagi-bagikan.  Secuil demi secuil.  Norman begitu gembira, begitu pun Prinka. Meski nyengir saja ia tak berani.

Karena masih ada waktu sepuluh menit sebelum siaran berikutnya, Norman mengambil waktu sesaat untuk mengajak Prinka bicara.  Dia mengundang Prinka ke ruang siaran.  Tanpa banyak bicara, sebetulnya, karena Joan sudah berkomat-kamit terus, “Tuh, Nyoy, kamu ‘kan katanya penasaran pingin lihat ruang siaran Kak Norman, sana tuh tengok!”

Entah kenapa Norman tersugesti oleh omongan teman Prinka yang blak-blakan itu.  Ia pun bilang, “Yuk, Prinka, hari ini lagu pertama siaranku, kamu yang pilih.”

Dan berjalanlah mereka ke ruang siaran.  Baunya apek, tetapi hidung Norman sudah kebal.  Di situ ada sebuah komputer, dan satu rak berisi kaset.  KASET.  Radio ini memang agak nyangkut di tahun sembilan puluhan.

“Ya, ini dia tempat ngoceh tiap harinya,” ujar Norman seperti pemandu wisata.  Prinka tersenyum malu-malu.

Karena melihat Prinka masih diam, Norman pun mengisi atmosfer lagi, “Nah, jadi, pingin lagu apa, nih?”

“Beneran boleh milih, nih?” Prinka tak percaya.

Norman mengangguk.  Biasanya  dia mengangguk ceria.  Tapi entah kenapa kali ini ia mengangguk seperti seorang ayah mengiyakan permohonan anaknya.  Atau apa deh.  Anggukannya serius dan berwibawa.  Sembari matanya menatap Prinka.

“Uuumm,” Prinka kebingungan.  Ia celingukan.  Menatap deretan kaset yang sebagian tak ia kenal namanya.  Lalu mengintip daftar putar di komputer.  Kemudian ia memandang Norman yang tingginya kira-kira sepuluh sentimeter di atasnya.

“Ya?” tagih Norman.

“Lagu kesukaan Kakak apa?”

“Aku? Banyak.  Tapi paling suka keroncong sih.  Karena tinggal sama kakek, jadi dengernya yang begituan.”

Prinka membelalak.  Keroncong? Wah, Prinka tidak mengerti keroncong.  Tetapi ia menikmatinya.  “Oke, aku mau lagu keroncong.  Hari ini kan ulang tahun Kak Norman. Harus dirayain dengan sentimental. ”

Norman mengerjap.   Gadis ini memang sangat antik.  Ia pun tanpa sadar sudah mengusap rambut Prinka.  Padahal bertemu pun hanya berapa kali.  Tapi sepertinya ia terpikat pada Prinka begitu jauh seakan mereka berjumpa setiap hari.   Ya, mungkin memang setiap hari, tetapi via siaran radio.

“Terima kasih ya, Prinka.  Kamu kok rajin banget sampe pergi ke sini demi bawa kue?” kata Norman lembut.

Sementara itu Prinka terpaku.  Debar jantungnya tak tertahankan.  Lidah menjadi kelu.

“Keroncong Kemayoran.  Tau lagunya? Enak dan ceria.  Karena kamu yang pilih, silakan diam di sini sebentar supaya bisa denger satu lagu pembuka hasil request pendengar setia radio Gelora, bersama penyiarnya langsung!” Norman berceloteh seru.

Ia menyodorkan kursi pada Prinka.  Dan mendekatkan diri ke mikrofon.  Memasang headphone.  Entah menekan tombol apa, kemudian jingle radio Gelora terdengar.  Prinka menyenandungkannya dalam hati.  Hafal luar kepala.

Norman nyengir padanya.  “Siang semuanya! Hari ini saya kedatangan tamu istimewa di sini.  Bukan, bukan dokter terkenal.  Bukan ahli psikologi.  Bukan wirausahawan.  Seorang siswa SMA yang inspiratif, yang minta saya memutarkan satu lagu keroncong untuk kita semua sebagai pembuka sore yang spesial ini!”

Dan sore itu memang menjadi sangat istimewa.  Prinka sampai mesti menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan untuk menutupi cengiran yang tidak mau berkompromi menunggu kalau Norman sudah tidak memandanginya.  Ya, memandanginya dengan penuh gelombang cinta, ah, walau geli, katakanlah begitu!

Sementara itu, Keroncong Kemayoran mengalun.

La la la la la la la oiii…

Janganlah lupa, janganlah lupa suara saya…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gelombang Itu, Gelombang Gelora 8

Katarina Ningrum

 

Entah kenapa segalanya terasa berbeda hari ini.

Prinka bangkit dari tempat tidurnya tanpa banyak berkonfrontasi dengan kemalasan.  Hembusan angin pagi yang biasanya mendorong dia masuk ke dalam selimut, sekarang malah membangunkannya.

Setelah melompat, Prinka langsung bersiap-siap pergi ke sekolah.  Dia menemui orang tuanya sudah ngetem di meja makan, menyantap roti selai kacang, sedangkan Gading si adik tampaknya sedang mandi.

“Pagi, Bunda.”

“Pagi, Ka.”

Ayah dan Bunda terkejut karena anak perempuannya tidak tampak heboh atau jutek seperti biasanya.  Sebaliknya, Prinka seperti baru mendapat pencerahan dari langit.

“Sarapan, Ka,” tukas Bunda kikuk.

“Iya.”

Prinka duduk manis di hadapan setangkup roti.  Lalu ia makan tanpa bersuara.

“Kamu sehat-sehat?” tanya ayah blak-blakan.

Mulut Prinka menganga.  “Hah? Sehat kok, Yah.”

“Terus kenapa…anteng banget?”

“Nggak apa-apa…”

Setelah sesi sarapan selesai, Prinka pun berangkat.  Begitu memastikan tak ada siapapun yang mengawasi, ia tersenyum sendiri.  Rasanya sambil berjalan, ia bisa terbang melayang.  Sungguh, hatinya terlalu ringan untuk dijelaskan.

Ia sudah tidak sabar ingin bercerita pada Joan apa yang terjadi kemarin malam bersama siaran Halo-Halo Bandung.  Masih terngiang di telinganya cara Norman Halomon berbicara, sedikit tergesa-gesa tapi melambat di akhirnya, bahasanya campur aduk, luwes dan tulus.

“Ya, sebelum kita dengar lagu terakhir kita, saya ucapkan selamat malam, sadayana.  Kritik dan saran, boleh dikirim lewat handphone masing-masing, atau telepon langsung, boleeh.  Tetap mencintai Bandung, dan jangan lupa jaga kesehatan jiwa raga selalu!

Oh iya, saya ada pesan nih, buat Prinka, pendengar kita yang rajin ngasih berita dan request lagu.  Ternyata anak aslinya memang asyik diajak ngobrol lho! Saya aja sampe lupa siaran nih tadi.  Makasih payungnya, ya, Prinka.  Nggak jadi rusak gara-gara saya kan? Tadinya saya hampir lupa bawa payung itu, lho. Untung payungnya kebawa.  Eh, malah hape saya ketinggalan di meja studio.  Yaah, namanya salah tingkah ya, pendengar semuanya. Hahaha! Prinka, kapan-kapan hang out bareng yuk! Tapi harus siang bolong, karena sore sampai malem saya siaran.  Kira-kira kamu mau, nggak?

Oke deh, sekian saja dari saya.  Pada marah nanti nggak dikasih-kasih lagu.  Sampai jumpa, Bandung!”

Prinka menahan nafas saat mendengar ucapan itu.  Dia baru berjumpa dengan Norman sorenya, dan lelah berdebar menatap mata dan senyum sang penyiar.  Sekarang dia diberi pesan spesial lewat radio…alangkah kombonya.

Kalau sistem imunnya lebih lemah sedikit, dia pasti sudah pingsan dan kena pilek parah.  Atau asma.  Ah, tapi amit-amit.

Sampai saat ini ia masih sangat gembira.  Rasanya ada letupan-letupan besar keluar dari batinnya, menyemprotkan bunga-bunga untuk menemaninya berjalan.

***

Radio Gelora pagi itu dikejutkan oleh naiknya rating pendengar mereka disertai munculnya permohonan pasang iklan tambahan.  Tak ada yang tahu asal muasal fenomena ini.  Bahkan Bapak Pimpinan pun hanya dapat memandangi sejumlah kecil penyiar tetapnya serta seluruh kru lain, dengan ekspresi sumringah.

“Kerjasama yang baik, anak-anak,” beliau hanya mengucapkan sepatah kata optimis tersebut, lalu membuka setoples kue kering keju dan menawarkannya ke seluruh anggota Radio Gelora.  “Sebagai perayaan, silakan makan sepuasnya.”

“Terima kasih, Pak!”

Semua orang bergembira dan menggayem kaastengels tersebut.

“Norman,” tiba-tiba si bapak memanggil satu nama.  “Coba ceritakan bagaimana situasi pendengar kita belakangan ini?”

“Oke Pak,” Norman menelan dulu kuenya, baru melanjutkan. “Di siaran degung, dapat dijumpai sekitar lima sampai tujuh pendengar baru yang mulai mengontak lewat telepon dan SMS.  Kebanyakan mengajukan request lagu, dan sebagian hanya tanya-tanya tentang degung.  Saya rasa sekali-kali kita harus undang tamu musisi tradisional Sunda, Pak, supaya format acaranya lebih edukatif.”

“Ide yang bagus,” puji Bapak Pimpinan seraya mencatatnya di buku kecil.  “Lalu?”

“Tajuk lagu-lagu retro, Tembang Kenangan, cukup sukses belakangan.  Variasi lagu yang diputar lebih beragam, dan request yang masuk bertambah. Program musik klasik pun lebih berkembang.  Karena saya rasa Kota Bandung kini punya kemauan mendengar musik klasik.  Mungkin nanti kita butuh utusan untuk meliput konser-konser musik klasik yang sekarang lumayan banyak.”

“Bagaimana dengan Halo-Halo Bandung?”

“Sangat beken,” tukas produser tiba-tiba.

“Iya, Pak, Halo-Halo Bandung lebih banyak didengarkan.  Dan pendengar setia pun tidak berpindah ke mana-mana.  Belakangan, SMS dan telepon yang mengirim informasi bertambah banyak.  Mungkin sudah saatnya menambah perbendaharaan lagu untuk mengisi siaran ini.”

Bapak Pimpinan cengar-cengir, dengan kumisnya yang menggemaskan.

“Saya rasa, Radio Gelora semakin menggelora sekarang.”

“Kita jadi lebih kuat,” produser menukas.  “Berkat penyiar baru ini.”  Ia menepuk lengan Norman keras-keras.  Memang, dia jadi termuda di antara semua bapak-bapak dan ibu-ibu di sini.  Entah bagaimana nasib mereka tanpa kemunculannya.

Orang-orang di sana pun tersenyum tulus.  Heran.  Norman pikir dunia kerja akan sedikit kejam dan sikut menyikut.  Lantas kenapa Jalan Kedondong nomer delapan berisi manusia-manusia semurni dan sebaik ini? Apa karena statusnya radio tua? Atau Norman saja beruntung mendapat kerja di sini?

***

“Itu pernyataan cinta, Nyoy,” Joan berujar tanpa tedeng aling-aling.  Seakan apa yang diucapkannya eksak.

Kontan pipi Prinka menghangat.  Dia ingin senyum, tapi kesannya norak.  Mau murung, kok nggak kepingin…

“Udahlah, kalian pasti jadi.  Malem Minggu ini pasti jalan ke mana terus dia nembak kamu.”

“Malem Minggu dia siaran.  Setiap malem juga dia harus ada di Gelora.”

“Ya Malem Minggu kan berlaku dari pagi sampai pukul nol-nol nol-nol.  Kamu kencan sama si cowok radio siang bolong, pun, termasuk Malem Mingguan.”

“Joan…”

“Nggak usah ngeles, ah, Nyoy.”

“Bukan, aku nggak berencana ngeles! Aku nge-blank.”

“Nge-blank kok masih bisa ngomong? Mestinya iler kamu udah netes-netes, kayak si Patrick.”

Prinka tidak bereaksi.  Tatapannya lurus ke papan tulis yang ada coret-coretan iseng.  Tidak, dia tidak membaca coretan tersebut.  Buat apa juga.  Otaknya berkelana ke Jalan Kedondong, di mana sebuah rumah art deco menggalang nama Gelora dan menjadi tempat berlabuh seorang lelaki bernama Norman Halomon…

Hari ini akan terasa sangat panjang.

“Jadi dia udah SMS kamu?”

“Belum, Joan.” Prinka kemudian membelalakkan matanya sendiri.  Kenapa dia jawab ‘belum’? Kentara sekali dia berharap.

“Kamu nungguin ya?” Joan semakin jahil.  Ia pun merangkul sobatnya.  Cekikikan.

Dia tahu, saat seperti ini akan datang.  Waktu di mana Prinka atau dia akan mulai diikat oleh keberadaan seorang cowok.  Waktu ketika harus berbagi sahabat dengan seorang sosok yang sangat penting.   Joan tercenung cukup lama.

Tidak semudah itu juga, menghadapi fase baru dalam hidup.  Bahkan bagi seorang Joan yang fluktuatif.

***

Langkah kaki meramaikan orkestra rintik-rintik hujan dan decakan genangan air di jalanan.  Norman masih senyum-senyum sendiri sesudah dipuji bertubi-tubi oleh semua staf Gelora MW.  Dia tidak pernah menyangka, pekerjaan yang aneh ini bisa membuatnya senang.

Sebelum tiba di kosan, Norman membeli pisang goreng hangat dan saat melihat kantungnya penuh berisi lima buah gorengan, ia merindukan kakeknya.  Sesekali ia harusnya menyempatkan diri pulang ke Bogor! Tapi sekarang dia praktis tak punya hari libur sama sekali.

Bahkan hari Minggu pun tidak ada istirahatnya.  Kecuali dia bisa pulang super buru-buru dari pagi sampai siang lalu pulang sebelum persiapan siaran Halo­-Halo Bandung.

Norman pun menggaruk-garuk rambutnya dan bingung.  Dia langsung mencapai kosan, kemudian menelepon kakeknya.

“Hai, Opa. Lagi apa?”

“Eh kamu! Gimana kerjaan hari ini? Sudah pulang?”

“Udah, Opa. Ini aku beli pisang goreng banyak, Opa mau?”

Opa Norman tergelak.  “Gimana caranya? Kirim lewat pesawat telepon?”

“Hahaha! Iya, Opa.  Mungkin bisa.”

Kakek Norman memang orang yang suka bercanda.  Mereka sering sekali berbalas guyonan sampai sakit perut akibat ngakak-ngakak.   Tapi beda dengan mala mini.  Mendadak saja Opa membicarakan hal serius:

“Norman, kamu mau nerusin kerja jadi penyiar dari radio yang sekarang? Kata kamu nggak ada harapannya.”

Lantas sang cucu menelan ludah.  Dia memang pernah curhat pada Opa tentang kesuraman radio Gelora, yang seakan nyaris punah. Sekarang tiba-tiba ia merasa sangat betah bisa bercokol bersama Gelora.

“Sekarang keadaannya jadi beda, Opa.”

“Beda gimana? Berubah saluran ke FM?”

“Nggak sih, Opa.  Tapi…”

Norman lantas menceritakan perihal rapat tadi siang.  Dia bicara sambil senyam-senyum bangga.  Dia tahu Opanya selalu mendukung cita-cita Norman menjadi penyiar radio.  Memang Opanya juga yang mengenalkan Norman kepada radio.  Waktu kecil, setiap siang, Opa mendengarkan radio nasional dan Norman sering duduk di pangkuannya, menelan apa saja yang berkumandang dari sana.  Seiring pertumbuhannya, Norman ketagihan dengan radio.  Dia baru bisa tidur kalau diiringi siaran radio, bahkan meskipun tajuknya cerita misteri.  Dia senang jika terjadi obrolan antara penyiar dengan pendengarnya.  Dia suka saat jingle radio dikumandangkan. Dia menyenangi semua hal yang bertautan dengan radio.

“Opa, jangan tidur kemaleman, ya,” setelah bertutur panjang, Norman hanya berkata begitu pada sang Opa.  Kemudian ia juga berbaring di atas kasurnya yang nyaman.  Menatap langit-langit dan lampu yang tak terlalu terang.

Diganyemnya pisang goreng hangat dengan santai, dan tiba-tiba ia teringat akan telepon selulernya.  Ia mengambilnya dan mengecek apakah ada gejala-gejala komunikasi di sana.

Beberapa pesan sudah masuk dan ia cepat-cepat membalas semua yang harus ditanggapi. Ada pesan dari temannya, saudaranya, sampai SMS promosi operator.  Lalu ia teringat akan Prinka.  Sesaat, ia sempat lupa soal kehidupan pribadinya lantaran hidung terbang mendapat compliment dari staf Gelora.  Dan begitu gelombang Prinka datang, ia terduduk tegak dan terngiang-ngiang tentang ucapan nekatnya sendiri.

Skrip  yang sudah penuh coretan itu bahkan masih ia simpan di atas meja, di depan matanya. Memang malunya setengah mati. Tapi sekarang timbul kebanggaan aneh di hatinya. Selangkah menuju sukses.  Tak ada kepastian apakah Prinka sepakat, tetapi keraguan tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah.

Maka Norman bersiap-siap membuat pesan teks baru.  Tetapi bukannya mengetik apapun, ia terdiam dan keberaniannya surut.  Idenya hilang.  Apa yang harus dia tulis? Pertanyaan garing soal kegiatan sehari-hari? Dia rasa Prinka bukan tipe yang seperti itu!

Ia membatalkan SMS. Daripada mengundang kecurigaan, lebih baik dia diam dulu sebentar.

***

“Kamu tahu ‘asertif’, Joan?”

“Hah?”

“Iya, jadi itu semacam versi ringannya agresif.”

Joan melongo memandangi sobatnya yang tampak risau.  Apakah Prinka sudah mau membuat pergerakan gerilya mengejar sang penyiar radio? Atau dia justru menyerah? Atau apa?

“Kenapa?” Joan bertanya.

“Hari ini Kak Norman ulang tahun,” Prinka berkata lirih.  “Aku mau bersikap asertif dengan  menulis pesan yang panjang dan istimewa. Yaelah, bahasaku kenapa jadi gini?”

Benar.  Baru saja kemarin malam ia menyimak siaran Halo-Halo Bandung spesial pakai pesan pribadi khusus untuk Prinka, tadi pagi salah satu penyiar senior radio Gelora berkata bahwa hari ini, satu hari di bulan Desember, Norman Halomon sang pemuda yang fasih berbahasa Sunda lemes, sedang merayakan ulang tahunnya yang kedua puluh tiga.

Belasan SMS langsung bertaburan mengucapkan selamat.  Prinka ingin ikutan, tapi dia pikir lebih baik mengirim pesannya langsung saat Norman siaran, siang nanti, dalam Bahasa Sunda.

“Huh, cuma ngirim SMS doang sih nggak berkesan, Nyoy!” komentar Joan pedas.

“Ya emang mesti gimana? Beli kue tart, pergi ke radio Gelora, pasang lilin, nyanyi? Terus seluruh umat di sana ngegosipin aku?”

“Kamu terlalu banyak takut, Nyoy.  Gini ya. Cowok itu kalau dikasih sinyal, harus agak mentereng, biar dia ngeh.  Yang penting jangan berlebihan dan berkesan mengekang aja.  Kalau kamu memang pingin bawa kue buat dia, menurutku itu ide yang bagus banget, Nyoy.  Belum pernah seorang Nyoy Nyoy punya ide spektakuler gitu.”

Melihat Prinka masih cengo, Joan terus meleter, “Nih ya, ngembaliin payung kamu aja dia rela.  Nganterin kamu pulang naik angkot aja dia mau. Dan dia udah ngasih tanda-tanda duluan lewat siaran kemarin, ‘kan? Udahlah, kamu harus bales secepatnya sebelum dia nyerah, Nyoy.  Apalagi kemarin kamu nggak ngerespon sama sekali.  Nanti dia galau, lho.”

Dan Prinka tetap bingung.  Dipikirkannya dua skenario.

Skenario pertama adalah mengirim pesan yang bagus dan superspesial, mendapat respon ramah khas penyiar radio, syukur-syukur diberi ucapan khusus lagi, mungkin kali ini dalam Bahasa Sunda, dan Norman akan membalasnya lewat SMS berikutnya, dan selanjutnya saling balas pesan sampai malam.

Skenario kedua, beli kue kecil dan sebatang lilin plus korek api, nongol di Jalan Kedondong, membuat Norman terkejut, sekaligus staf radio lainnya tersenyum gosip.  Sebetulnya perasaan Prinka kuat sekali soal rencana ini, karena dia pikir ini akan sangat membahagiakan seseorang yang sudah membuatnya gembira ria setiap kali.

“Bingung, Joaaan!”

“Halah, jangan dong. Udah, aku temenin beli kue, aku temenin ke radionya, tapi nanti pas dia nongol, aku ngumpet.”

Melihat sorot mata Joan yang penuh kepercayaan, Prinka ingin mengangguk, namun ia menunda-nunda keputusan sampai siaran Sunda siang terlewat karena dia harus ikut pelajaran tambahan Akuntansi.

Sekeluarnya dari kelas, Prinka pun akhirnya menguatkan iman serta mengumpulkan keberanian.  “Ya, baiklah, Joan, kita ke toko kue.”

Joan mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi.  Semangat.  “Yes! Prinka rules! Prinka jaya! Prinka bergelora!”

Mereka pun segera ke toko kue kecil yang terletak dekat pangkalan angkot menuju daerah tempat radio Gelora berpijak.  Prinka, karena lupa bawa uang lebih, terpaksa mengajak Joan patungan membeli sebuah cupcake rasa coklat dengan titik-titik krim di sekeliling permukaan atasnya, dan bagian tengahnya kosong tanpa hiasan, supaya mudah menancapkan lilinnya.

Dalam dus karton, kue itu tampak nyaman dipeluk Prinka dan diawasi Joan.  Mereka berdua, seperti biasa, naik angkot.  Langit mulai mendung, sehingga Prinka merasa gelisah.  Kalau sampai hujan, kue ini akan basah kuyup.  Rembeslah kartonnya.

Saat mereka berjalan masuk Jalan Kedondong yang sepi, disertai angin dingin jelang hujan, jantung Prinka berdegup-degup tak keruan.  Rasanya seperti akan masuk ruang praktek dokter gigi.  Ngeri.  Walaupun dia tahu akan indah pada akhirnya, tetapi tetap saja tegang.

“Sebetulnya kita ngapain, sih?” dia mulai bimbang.

“Dih!” Joan meninju lengan Prinka.  “Jangan mulai, deh.  Kamu udah sampe sini, masa iya balik lagi?”

“Bentar lagi ujan, Joan,” Prinka menemukan alasan bodoh.

“Nggak! Maju terus!”

Ingin rasanya Prinka kembali ke masa kecil, jongkok sambil menangis kalau tak mau mandi.  Atau kabur saja dari dokter gigi.  Ia ingat pernah lari dari dokter gigi sampai beberapa orang sekitar tempat praktek harus mengejar dan membujuknya habis-habisan.

Tapi toh, akhirnya, Prinka tetap menjalankan ritual periksa giginya.  Apa boleh buat.

Sekarang pun, ia mesti mengerjakan proyeknya.  Apa boleh buat pula.

Bulu kuduknya merinding begitu tampak plang bertulisan Radio Gelora, nomor 80A di dekat situ, dan gelombang hawa ke-Norman-Halomon-an yang terasa kuat sekali.  Lho, kenapa jadi mistis, ya?

Langkah Prinka kecil-kecil.  Membuat suara pun ia tak berani.  Pintu depan terbuka.  Ia jadi terkenang masa ketika ia mengambil tiket Pagelaran Bambu tiga bulan lalu.  Momen pertama saat dua mata mereka bertemu malu-malu…

“Cari siapa, Dek?” sebuah suara menyapa.  Terlihat bapak-bapak setengah baya, berkumis rapi, memakai polo shirt abu-abu dan celana panjang serta sepatu keds, tersenyum ramah.   Suasana manusia itu sangat retro.  Di mata Prinka demikian.  Dia sampai berpikir jangan-jangan bapak ini punyanya walkie talkie, bukan handphone.

“Kak Normannya ada, Pak?” tanpa tedeng aling-aling, Joan menjadi juru bicara bagi Prinka.

Si bapak di hadapan mereka tetap tersenyum, namun sebuah ucapan membuat Prinka serasa dijitak.  “Normannya lagi keluar sebentar.  Tapi nanti sore dia balik, karena ada siaran. Mau tunggu sebentar? Ini dengan siapanya? Adiknya?”

Prinka nyaris mengaku-aku sebagai adiknya sebelum Joan menimpali, “Bukan, Pak, ini temen saya pendengar setia radio Gelora.  Dia mau ngasih kado buat Norman.”

Ya ampun, pakai filter kenapa sih, Joan!?  Prinka menjerit tertahan dalam hati.  Mukanya sudah semburat merah sempurna akibat malu.

“Kalau gitu masuk dulu aja, radio ini sudah seperti rumah saya, jadi saya persilakan kalian.  Yuk, duduk di sini.” Bapak itu menunjuk sebuah sofa buluk yang aromanya aneh.  Joan dan Prinka duduk anteng di situ.  Prinka terus menunduk menatap kuenya.

“Minumnya ambil sendiri dari dispenser ya.  Itu ada gelasnya. Bebas pilih yang mana.  Om masuk ke dalam dulu, coba telepon Norman ya, biar cepat kembali?”

“Nggak usah repot-repot, Om, kita kan mau bikin kejutan,” Joan semakin asyik mengarang bebas.

“Nggak, lebih baik Norman diminta cepat ke sini, karena sebentar lagi hujan.”

Baru saja si bapak baik hati itu bicara, si hujan sudah turun, mungkin merasa dipanggil.  Dia turun berduyun-duyun sampai pemandangan dua meter jadi keruh karena terhalangi pasukannya.  Dan Prinka jadi lemas.  Dia teringat bahwa kemungkinan besar  bahwa Kakak Penyiar Ganteng Norman Halomon lagi-lagi tidak membawa payung.  Bagaimana caranya ia kembali? Sampai jam berapa Prinka harus menunggu?  Ah, seandainya payung Prinka masih ada di tangan Norman, tentu tidak akan sulit!

Joan menepuk-nepuk pundak Prinka.  “Tenang aja ya, Nyoy, ini ujan pasti bentar lagi udahan, kok.”

Di radio Gelora, seorang gadis menunggu.  Di sudut kota yang lain, sepertinya seorang pemuda kelimpungan membutuhkan payung, sedang hatinya sangat gelisah merasa ingin cepat-cepat berada di radio Gelora lagi.

 

Halo-Halo Bandung

 

 

 

 

 

 

Gelombang Itu, Gelombang Gelora 7

Katarina Ningrum

(Kali ini versi tidak berwarna, karena dunia keduanya sudah mulai terhubung.  Dicoba saja, apa anda tetap bisa membedakan mana dunia Prinka, mana dunia Norman? :))

Rumah Prinka sedang berantakan.  Sekumpulan ibu-ibu teman-teman Bunda dari sekolah, berkumpul untuk rapat perayaan Natal dan tahun baru.  Smart Sprouts, seperti Bunda, sangat suka perayaan.  Hampir seluruh hari raya di Indonesia, ada peringatannya di sekolah, baik melalui perlombaan kecil, nyanyi bersama, makan-makan, atau apapun.

Dan sebelum hari-H, pasti rumah Prinka penuh ibu-ibu rekan sejawat si Bunda.  Kali ini mereka membawa banyak barang karena sekalian  mau mengerjakan dekorasi.

Huh! Kenapa tidak di sekolah saja?

“Supaya nggak jenuh, Prin,” jelas Bunda menanggapi protes anak sulungnya.

Karena sama-sama jengah saking berisiknya teman-teman Bunda, Prinka dan Gading kabur untuk jalan-jalan.  Mereka pun menyusuri daerah perumahan sampai bosan, kemudian akhirnya masuk ke salah satu angkot dan pergi begitu saja mencari penghiburan.

Kakak beradik itu pun mencapai salah satu mal Bandung yang asyik buat nongkrong dan cuci mata.  Walaupun cuci mata kadang bisa bersambung ke sesi cuci dompet…

Mereka berjalan-jalan di dalam gedung, sembari ngeceng sana-sini.  Kadang Prinka masuk ke toko aksesoris.  Atau nanti Gading menengok ke dalam distro favoritnya.  Sesudah lelah berputar-putar, mereka pun menuju pusat makanan alias food court dan mulai mengganyem.

Prinka memakan kentang goreng bumbu, sedangkan Gading malah kayak orang diet, cuma pesan jus melon nggak pakai gula dan es batu.  Lain kakak, lain adik!

Mereka lumayan anteng saat mengunyah, dan mulai berisik lagi sesudah makanan mulai habis.

“Kira-kira di rumah masih heboh nggak ya, Ding?”

“Emboh, Mbak, ngebayanginnya serem,” tukas Gading.

“Habis ini kita ke mana dong?”

Gading memutar matanya.  Cari akal.  Dia juga tak tahu.  Yang penting bisa menghindari populasi ibu-ibu ceriwis dulu.  Syukur-syukur kakaknya Prinka pun sejurusan dengannya!

“Perut kenyang, asyiknya cari lapangan olahraga ya,” akhirnya Gading berkata.

Prinka langsung melorot di kursinya.  Males banget, olahraga!

“Ding, barangkali temen-temen Bunda udah pulang,” Prinka cari alasan. “Kita balik yuk?”

“Mbak, biasanya juga mereka pulangnya malem! Kita mesti kelayapan setidaknya sampe jam tujuh.”

Si kakak melotot.  Ternyata alergi Gading lebih parah.  Tapi sudahlah, Prinka akan menemaninya.  Toh ini mendingan daripada diajak tanding catur.  Soalnya Prinka selalu kalah telak.

“Sekarang jam berapa Ding?”

“Jam tiga.”

Lantas Prinka jadi gelisah.  Dia sudah melewatkan siaran degung Sunda yang dibawakan Norman!  Dan empat jam lagi cowok itu nanti akan kembali, meramaikan tajuk tembang kenangan masa ayah-ibu Prinka dan Gading masih muda.  Kemudian, Halo-Halo Bandung.

Ah, dia terancam akan melewatkan sehari tanpa radio Gelora.  Tanpa suara Norman.

Tapi sepertinya ada harapan untuk Halo-Halo Bandung.

Prinka pun merindukan radio di kamarnya.   Hatinya menyendu.

Melihat kakaknya galau, Gading tiba-tiba nyeletuk, “Kakak pasti kangen sama radio, ya?”

Norman sakit perut.  Dia menghela nafas panjang dalam penderitaan kecil yang sebetulnya biasa saja, tapi begitu mengganggu.  Sambil berputar-putar di kursi ruang siaran, diiringi keriat-keriut engsel kuno, Norman terpaksa menahannya seraya mengoceh panjang untuk segelintir pendengar.

Sebetulnya, ia baru saja meluncurkan sebuah SMS untuk Prinka.  Isinya:

 

Saya mau balikin payung, gimana caranya ya?  J

Lantas ia malah merasa bersalah.  Setelah mengklik tanda ‘kirim’, perutnya langsung mulas.  Apakah Prinka akan membalas? Apa Prinka akan langsung merespon? Apakah dia malah akan takut karena Norman terkesan agresif? Aah, serba salah!

Maka dia siaran dalam keadaan risau tadi.  Untung semuanya berjalan lancar, dan ia bisa segera keluar membuat teh hangat untuk menenangkan diri.  Dilihatnya cuaca cerah, dan tampaknya ia punya kesempatan jalan-jalan sedikit sebelum siaran berikutnya.

Seraya menyesap teh hangat, Norman merenung sendiri menatap rendengan awan berkejaran di angkasa.  Dan lamunannya buyar seketika saat telepon genggamnya bergetar di kantung celana.

Ia lekas membukanya:

Siapa ini?

 

Pesan datang dari Prinka, dan isinya sungguh mengecewakan! Dia dilupakan! Tapi kenapa juga ia mesti kecewa karena dilupakan? Wajarlah.  Prinka hanya pendengar setia radio Gelora…

Norman Halomon.  Waktu itu kan payung kamu saya pinjem, Prinka. 😀

 

Masih sanggup ia meletakkan emotikon lucu, padahal hatinya kocar-kacir.

Oh, iya, maaf lupa, Kak! =)) Bawa aja payungnya, gapapa.

 

Norman menghembuskan nafas.  Ia langsung mengirim SMS pamungkasnya:

Nggak, saya mau balikin.  Lagian warnanya pink.  😛  Ada di mana?  Saya lagi senggang, bisa ngembaliin payung kamu nih! 😀

 

Ia menutup matanya.  Pasrah.  Apapun jawaban Prinka…pokoknya sekarang dia sudah mulas lagi! Penyiar macam apa ini, malah menjalin korespondensi malu-malu dengan pendengar setianya!?

Prinka membekap mulutnya tak percaya.  Bunga-bunga seperti bermekaran di lingkupnya, dan semua ini hanya karena urusan payung yang dipinjamkan kepada Norman Halomon!  Dia jadi mencurigai payungnya adalah benda keramat.

Apakah ia akan menjawab jujur, mengatakan bahwa ia sedang di BIP, menanti para nyonya rusuh pergi? Lalu akankah Norman menyusulnya dengan sebatang payung dalam genggaman? Cukup lama Prinka merenung sampai akhirnya Gading menyenggol tangannya tidak sabar melihat kakaknya bengong hingga tanpa sengaja tombol ‘kirim’ terpencet walau tadinya pesan balasan Prinka masih mau diedit.

Aku di BIP. Mau ke sini, kak? J

 

Meneriaki Gading pun ia tak sanggup.  Wajahnya berubah merah-putih saking paniknya.  Ini namanya dia mengundang Norman ke BIP, pakai smiley pula! AAARGH! Kenapa ia tidak menyensor bagian ‘mau ke sini’-nya?

SEMUA GARA-GARA GADING!

Bukan sih, itu salahnya sendiri menyerahkan payung itu.

Dan sejujurnya, semua rasa kalut ini hanya timbul untuk menutupi perasaan gembira-ria-riang-tak-terkiranya.  Supaya tidak terkesan tergila-gila saja.

Prinka langsung menutup mukanya sendiri, tak berani baca jawaban Norman yang datang secepat kilat.  Tetapi toh ia mesti membacanya…

Oke! Kamu di mananya? Saya deket banget kalo ke BIP, lima menit nyampe kayaknya. 😀

 

Buru-buru Prinka mengetik:

Food court.

 

GILA.  Ini gila. Harus bilang apa dia ke Gading? Terima kasih?

Lima kali enam puluh detik.  Dan Norman melangkah maju sembari berkali-kali mengecek tasnya.  Salah-salah dia malah lupa bawa payungnya, kan bodoh banget.  Ia masuk ke salah satu angkot yang lewat, dan dalam sekejap sudah berada di depan gedung Bandung Indah Plaza.  Puluhan makhluk belia berlalu lalang keluar masuk.

Norman berfokus ke food court.  Jalannya mulus.  Tak ada macet escalator.  Satu-satunya rintangan yang ia alami adalah debuman jantung yang seakan membuatnya sulit bergerak.  Caranya maju mirip robot.  Kaku.

Waktu terhidang pemandangan berhias meja kursi dan konter-konter beraneka aroma, perut Norman dingin.  Seperti baru makan keripik setan superpedas merek ‘Rama’ sebungkus sendiri.  Jualnya di depan BIP, sayap kiri.

“Nah,” Norman bergumam sendiri.  “Sekarang apa?”

Ia pun mengaduk tasnya mencari ponsel.  Dia rasa lebih keren kalau bertanya saja di mana Prinka berkecimpung, daripada menuruti niatnya langsung mengobrak-abrik food court demi menemukan gadis itu.

Norman kebingungan karena dia tidak menemukan apa yang dicari.  Apakah ia meninggalkan benda tersebut? Atau di saku? Tak ada.  Kantung celana? Nihil.

Astaga! HP-nya tak mungkin jatuh di jalan kan?

Tidak.  Karena ia ingat sekali tasnya selalu diretsleting.  Tas ransel yang jinak, warna biru, bahan parasut.  Payung merah jambu saja ada di situ, kenapa perangkat elektronik pentingnya tidak ada?

Walau agak cemas, ia pun menggeleng dan mengeluarkan payungnya.  Biar kata  tiada peranti penghubung, ia tetap harus menemukan Prinka di sini! Tak akan seberapa susah, kan? Dia ingat bentuknya seperti apa.

Maka Norman maju terus.  Kepalanya celingukan.  Dicarinya gadis berponi yang wajahnya agak galak.  Di bayangan Norman, Prinka pasti bersama seorang teman cewek, sedang ketawa-ketawa seperti waktu di angkot.  Di hari serah-terima payung dan sesudah nama Radio Gelora dipelencengkan jadi Radio Ceria.

Di tengah-tengah wilayah, Norman akhirnya menyaksikan sendiri Prinka sedang menjitak kepala anak laki-laki bermuka familiar.  Mengernyitlah Norman.  Kenapa familiar, ya?

Sekonyong-konyong, Prinka menengok ke kanan dan langsung membeku.  Meski kulit wajahnya kecoklatan, rona merah di pipi yang muncul perlahan tak bisa disembunyikan.

“Halo,” Norman berusaha mencairkan suasana walau dia sangat tegang.

“Ya,” jawab Prinka sedikit tak padu.

Gading di antara keduanya, cuma berpindah-pindah pandangan dari Norman ke Prinka.  Merasa jadi kambing congek.

“Halo,” entah kenapa Norman pun mengulang kata-kata yang sama.  “Apa kabar?”

“Baik.”

Sejujurnya, mereka sama-sama menjadi kelu dan tidak berdaya.  Lutut rasanya lemas.  Hati tak keruan.  Kepala kosong.  Pipi merah.

Gading semakin melongo.  Ada apa sih di antara kakaknya dan pria tak dikenal ini? Pacar? Gebetan? Kenapa nggak yang cowok, nggak yang cewek, sama-sama tampak dungu begitu? Huf.  Gading sih kalau ketemu kecengan nggak bakal mau tampil grogi.

Dan ia pun dengan enteng menyapa Norman, “Temennya Mbak Prinka, ya? Mau duduk?”

Prinka melotot.  Norman menarik satu kursi di segi yang memisahkan Prinka dengan sang adik, kemudian duduk.  Dia memang sangat butuh duduk.  Deg-degan menyerap banyak energi.

“Terima kasih ya,” ucapnya pada Gading.

“Ehm, ini adik aku,” Prinka akhirnya mampu bicara.

“Gading,” dengan percaya diri si adik mengulurkan sebuah jabat tangan antarlelaki.

“Norman,” balas si penyiar radio, yang semakin merasa wajah Gading sangat familiar.  Tetapi ia langsung mengalihkan fokus ke Prinka.  Ia mengulurkan payung yang menjadi penghubung mereka itu.  “Prinka, ini payung kamu.  Terima kasih banyak ya.”

“Oh, eh, iya, sama-sama.  Padahal nggak apa-apa kok…”

“Jangan dong.  Nanti kalau kamu keujanan gara-gara payungnya ada di saya, kan…Radio Gelora bisa dituntut.  Penyiarnya dianggap pencuri payung.  Haha!”

Gading asal sembur, “Oh, Bang Norman kerja di radio?”

“Iya, aku penyiar.”

Prinka menatap tajam ke Gading.

“Berarti…,” Gading menengok ke kakaknya.  Dia tahu ada hawa mementung yang muncul dari kakaknya.  Kalau Gading bicara lebih asal lagi…dia pasti habis.  Tapi maksud Gading kan baik! Dia hanya ingin mencairkan kegugupan dua orang ini.  Dia tambah gemas melihat Prinka mbaknya tersayang duduk dengan gelisah, goyang ke depan dan belakang sambil memandangi tangan Norman.

“…berarti Bang Norman pinter bicara, ya?” sambung Gading akhirnya. Walau dalam hati sesungguhnya ia ingin bertanya: ‘Bang Norman yang ditaksir Mbak itu ya?’.

“Hahahaha, biasa aja, kok.  Yang penting jangan malu-malu.  Kamu mau jadi penyiar? Eh, kamu kelas berapa?” balas Norman.

Prinka tertegun menonton Norman dan Gading malah ngobrol.  Seharusnya ini jadi momen di mana dia dan Norman berbicara dan barangkali membuat janji berikutnya…

“Adik kamu penuh semangat ya,” Norman mendadak menoleh padanya.

“Dia memang kayak petasan.  Meletup-letup,” komentar Prinka seraya menghunjamkan pandangan kesal pada adiknya.

“Kalian udah lama di sini?”

“Lama.  Dari siang,” jawab Prinka.

“Nggak betah di rumah.  Lagi banyak temen si Bunda, ibu-ibu ceriwis,” Gading menimpali.

Norman nyengir, membuat hati Prinka meleleh.  Dia mendesah keras sampai ketahuan.

“Mbak Prinka capek amat sih,” cetus Gading.

Dan akibatnya, Norman semakin tersenyum, Prinka bertambah melayang, oke, cukup.  Untuk membuat situasi lebih baik, Prinka menawarkan kentang gorengnya yang masih lumayan menumpuk kepada Norman.

Si penyiar berterima kasih dan mencomot satu batang.

Hening lagi.  Gading tak kuasa menahan kehebohannya. “Siaran Bang Norman udah beres?”

“Nanti masih ada lagi, jam tujuh.”

Prinka nyeletuk, “Siaran lagu retro sama Halo-Halo Bandung, ya?”

“Betul! Wah, kamu memang pendengar teladan, Prinka.”

Gading angkat bicara. “Mbak Prinka ini paling akrab sama radionya.  Sehari nggak denger radio, udah deh, uring-uringan!”

“Jangan khawatir, sekarang kan penyiar radionya udah di depan mata,” Norman mulai menggombal. “Jadi, mau pesen siaran apa sekarang?”

“Siaran konsultasi,” ujar Gading.

“Konsultasi apaan?” Prinka merengut. “Kamu aneh-aneh aja, Ding.”

Norman hanya tertawa renyah.  “Ngomong-ngomong kalian masih ada adik atau kakak lagi atau duaan doang?”

“Cukup berdua aja.  Ini pun udah rusuh.”

“Terus, ayah, ibu, kerjanya apa?”

“Si Ayah mah wiraswasta, bikin sepatu kulit sintesis. Boots cowok. Nebeng jual di distro gitu, biasanya.  Tiap hari kerjaannya paling ngawasin pegawai di tempat bikinnya,” terang Gading komplit.

“Kayaknya sintetis, deh, Ding, bukan sintesis,” Prinka mengoreksi.  “Memangnya taneman, fotosintesis?”

Dari kritik itu, Norman menebak bahwa Prinka adalah siswa yang baik di sekolah.  Setidaknya waktu SD, ketika konsep fotosintetis, eh, fotosintesis diajarkan.

“Memang tempat bikinnya di mana?”

“Sekitar Jalan Nanas situ, ya, Mbak? Lupa.”

“Bukan, Ding, Jalan Sabang!”

“Oh iya.  Pabrik rumahan gitu, Bang. Kongsian sama temennya.”

“Mahal nggak, jual sepatunya?”

“Mahal dong.  Jumlahnya terbatas!”

Prinka lalu memotong percakapan, “Kalau Bunda, kepala sekolah SD Internasional Smart Sprouts.  Makanya tadi di rumah riweuh ada ibu-ibu mau dekor buat Natalan.”

“Waktu itu Lebaran juga segala macem guru Smart Sprouts ke rumah, ya, Mbak.  Kesannya rumah kita markas utama.”

“Rumah penuh kertas krep, kain, dan berisik.”

“Sekarang pasti masih kayak gitu.”

“Fuuuh…Gimana nasib Ayah, ya?”

Entah kenapa Norman sangat menikmati obrolan ceria dengan dua anak ini.  Mereka punya sifat berlawanan, tapi sangat klik.  Keluarga mereka terdengar hangat dan cerdas.  Apalagi ibunya kepala sekolah pula.

“Bang Norman sendiri gimana?” tanya Gading penasaran.

“Apanya yang gimana?”

“Hidupnya gimana?”

Norman terkekeh.  “Ya hidupnya begini.”

“Maksudnya, tinggal di mana, Bang?”

“Ngekos di Tamansari.”

“Sendirian? Orang tuanya di mana, Kak?” sahut Prinka.

“Bogor.  Tapi di Bogor saya lebih sering ditemenin kakek.  Soalnya orang tua saya kerja di luar kota.”

“Wah, sepi dong. Terus sekarang kakeknya ditinggal, Bang?”

“Iya.  Tapi nggak apa-apa kok.  Kakek saya orangnya aktif.  Banyak temennya.”

“Kirain sendiri sepi gitu.  Kasian kan, orang udah tua.”

Tanpa disadari, percakapan pendekatan relasi itu memakan cukup banyak tempo. Tahu-tahu, arloji Norman sudah menunjukkan pukul setengah enam, dan dia rasa ada baiknya bergerak ke Jalan Kedondong lagi.  Walau dia tidak rela meninggalkan Prinka, sejujurnya.

“Saya mesti balik ke Gelora, nih, Prinka, Gading.  Kalian naik apa ke sini? Rumah di Cigadung, kan?”

“Kok Abang tau?”

“Pernah nganterin Mbak Prinka abis Pagelaran Bambu. Dua bulan lalu.  Atau lebih ya?” Norman melempar senyum kepada Prinka.

Otomatis Prinka melotot. Malu, tapi gembira Norman masih mengingat saat itu.  Malam ultragugup beraroma bambu bersuara angklung yang tak terlupakan.

“Nganterin? Naik mobil?”

“Iya. Mobil angkot.”

“Itu sih namanya nemenin, Bang.”

Norman tergelak.  Dia memang sengaja menemani Prinka karena, satu, dia khawatir melepas anak perempuan kelayapan jam sembilan malam seorang diri.  Dua, dia masih ingin mendekati Prinka.

“Sukses siarannya ya, Kak. Kayaknya yang kekejar hari ini cuma Halo-Halo Bandung. Yah, mungkin Tembang Kenangan masih kebagian sedikit,” ceroscos Prinka.

“Nggak apa-apa kok, Prinka,” kata Norman lembut.

Mendadak atmosfer menjadi romantis.  Kedua orang itu hanya hanyut, tidak menyadari betapa Gading langsung merasa gerah.  Tapi apa boleh buat.  Tadinya ia pikir ia akan cemburu kalau kakaknya punya gandengan.  Namun keadaan berubah, karena nampaknya, si cowok potensial ini orang baik dan bisa dijadikan abang.

Sore melaju.  Norman berangkat ke Jalan Kedondong, sedangkan Prinka dan Gading akhirnya memutuskan bergerak pulang.

Norman tidak memikirkan apa-apa.  Dia terdiam.  Melamun dan di kepalanya berngiang suara Prinka yang jarang-jarang dikeluarkan, juga matanya yang berbinar.  Norman bisa menangkap betapa groginya Prinka, tetapi upayanya untuk tetap tenang pun sangat manis. Ketika Prinka bersikap galak pada Gading juga, tampak lucu bagi Norman. Lagipula, Gading tampak familiar.  Oh iya, itu satu misteri yang masih harus dipecahkan!

Tapi setelah ini, apa ya? Masa dia menulis SMS gombal yang isinya hanya pertanyaan basa-basi ‘udah makan belum?’ atau ‘lagi apa?’. Tidak! Prinka terlalu cerdas untuk diperlakukan seperti itu.  Lagipula Norman juga malas membayangkan isi SMS garing tersebut.

Akibat lamunannya, Norman nyaris lupa turun dari angkot.

“Ding, makasih ya udah ngebantu Mbak ngobrol sama Kak Norman.”

“Tumben omongannya nggak sentimen!” saking terkejutnya, Gading malah memprotes ucapan Prinka yang tulus.

“Aku udah mau pingsan tadi,” Prinka semakin blak-blakan.

“Heh? Lebay amat sih, orang jatuh cinta!”

“Kamu nggak tau siiih.”

Gading tiba-tiba menyadari betapa anehnya sang kakak mengaku jatuh cinta tanpa ragu begini.  Ini peristiwa langka!

“Mbak Prinka beneran suka ya sama si Bang Norman?”

Prinka menoleh. Mendadak ia merasa malu.  Tapi di sisi lain, ia harus berbicara jujur pada seseorang, setidaknya, selain Joan.

“Memang kamu nggak pernah naksir cewek, apa, Ding?”

“Pernah, tapi nggak seheboh Mbak Prinka tuh naksirnya.  Meni langsung diem nggak bisa bicara.  Bang Norman tuh sama aja, pula!”

Prinka tersenyum menatap langit. Sepanjang sisa perjalanan, mereka tidak terlalu banyak bersuara.  Tahu-tahu mereka sudah di rumah, di mana tersisa beberapa ibu-ibu, tapi tidak seribut tadi pagi.

Segera Prinka masuk ke kamar setelah menyapa Bunda plus rekan-rekannya dan Ayah yang lagi serius baca koran di dapur.

Dia langsung menyetel radio.

Prinka tak tahu, bahwa di dalam ruang siaran, ketika Halo-Halo Bandung siap diperdengarkan, Norman sedang mencorat-coret kertas skripnya. Dia ingin mengucapkan sesuatu untuk Prinka.  Peduli amat pendengar-pendengar lain ngeledek.  Toh orangnya itu-itu lagi.  Hasil kotretannya sangat berantakan:

 

 

Dan Norman tak berani membayangkan reaksi Prinka nanti.  Meskipun begitu, ia benar-benar bertekad akan mengucapkannya sesudah memastikan Prinka mendengar siaran Halo-Halo Bandung hari ini, meski risikonya banyak. Suaranya pasti bergetar, dan susunan kalimatnya absurd!

Ah, asmara.

Ketika Kupikir Aku Sakit

Katarina Ningrum
Kisah ini sebetulnya saya buat untuk lomba cerpen Penerbit SahabatKata. Tetapi tidak menang. Temanya adalah Cinta Pertama. Menurut Anda sekalian, apakah ini mengandung unsur cinta pertama? 🙂

Sore itu aku gelisah setengah mati. Diam tak bisa, bergerak pun gugup. Jantungku berdebar terus dan nafasku sesak. Ditambah pula wajahku seperti ditarik-tarik.

Rasanya tadi pagi aku masih begitu sehat dan normal. Aku lincah bergerak ke sekolah menggunakan sepeda listrik, tersenyum senang seperti kukang diberi pisang. Memang, aku minum kopi saat sarapan—kopi pekat yang harum—supaya tidak terkantuk-kantuk di kelas. Pasalnya, akan diadakan ulangan Matematika, yang dapat diterjemahkan sebagai ajang tidur siang bagiku.

Untuk mengurangi risiko iler berlumuran di atas kertas tes atau dapat nilai jeblok, aku mengonsumsi kafein agar lebih segar dan senantiasa terjaga. Tapi kudengar kafein dapat meningkatkan denyut jantung! Benarkah itu? Apakah itu salah satu penyebab debaran jantungku yang tidak hiperbola ini?

Kurunut lagi seluruh kegiatanku setelah tiba di sekolah. Tiga jam pertama sebelum istirahat kesatu, aku masih merasa mengantuk. Sepertinya si kopi belum berfungsi. Konon, kopi memang baru mengeluarkan efeknya dua jam setelah dikonsumsi. Untung saja ulangan Matematika tidak diadakan pagi hari. Kalau tidak, tentu kopinya tidak berguna sama sekali dan aku tetap ketiduran saking pusingnya membaca angka-angka serta simbol!

Aku menyukseskan proses belajar sampai jam istirahat. Dalam waktu tiga puluh menit bebas belajar, aku berkumpul bersama beberapa teman dan makan di kantin. Aku memilih jus buah segar tanpa es batu, menyeruputnya dan menikmati rasa manis asam yang ditimbulkan. Seingatku, sakit anehku belum kumat saat itu.

Sesudah perut terisi, kami melanjutkan hidup dalam kurungan ruang kelas. Nah, di tengah-tengah sesi tersebut, ulangan Matematika dilangsungkan. Kopiku telah menunjukkan khasiatnya. Mataku melek. Membaca angka pun masih kuat. Aku dapat berdiri tegak dan mengulik satu-dua soal yang mudah, membuat rumus sendiri untuk kasus-kasus yang tak kumengerti, dan kadang mengarang jawaban jika kepalaku sama sekali kosong!

Aku bukannya benci Matematika. Memang aku dan Matematika seperti tidak ditakdirkan menjadi kawan. Kami terlalu berlawanan. Matematika menuntutku untuk selalu patuh, sedangkan aku tak pernah menuruti apa pun perkataannya.

Ulangan Matematika selesai. Apapun hasilnya, aku pasrah saja. Yang jelas, dalam launching nilai nanti, aku mesti menyertakan nama kopi sebagai salah satu benda berjasa penolong penyelenggaraan ulanganku.

Pelajaran dilanjutkan dengan Bahasa Inggris. Masih oke. Tetapi perlahan, kopi tidak membangunkanku lagi. Aku sudah bertopang dagu untuk menahan kantuk yang perlahan menyusup. Meski bertahan sekuat tenaga, aku tetap ada di ambang dunia mimpi.

Lantas, teman-temanku menepuk-nepuk aku supaya terbangun. Mereka sudah tahu kebiasaanku tidur di kelas.

Kesuksesan mereka menyadarkanku biasanya bertahan untuk dua pelajaran berikutnya. Lewat dari itu, mereka harus memukul-mukul lenganku supaya tidak ketiduran.

Jeda kali kedua, aku memutuskan untuk mengisi perut dengan sesuatu yang lebih padat. Misalnya, nasi dan tumisan sayur mayur. Di kantin, aku masih bersama gerombolan yang sama seperti istirahat sebelumnya. Dan aku tetap merasa segar kembali.

Aku berhenti sejenak. Sampai siang itu pun, aku baik-baik saja. Denyut jantungku normal. Nafasku lega.
Apa yang terjadi di tengah-tengah hariku?

Seusai perjuangan menahan kantuk hasrat tidur babak terakhir, aku membereskan tasku. Lega rasanya, sekolah hari ini berhasil dijalani tanpa menumpahkan air liur ke atas buku catatan. Aku pun tertawa bersama teman-teman, sembari berjalan ke tempat nongkrong pulang sekolah kami, bebatuan bawah pohon angsana nan rimbun. Kami suka duduk-duduk di sana untuk mengobrol sepuasnya.

Tentu saja, acara satu ini tak menyebabkan aku ngantuk sama sekali! Kami dapat berbincang-bincang campur guyon selama dua jam lebih. Hingga lupa pulang ke rumah, kalau perlu. Kadang diselingi jajan-jajan kecil secara bergilir, nanti ada orang lain bergabung, guru yang lewat dan kami sapa, cowok ganteng penarik perhatian…macam-macam!

Oh, itu dia. Beberapa menit sesudah kami ngobrol tentang masa depan, seorang anak melintas di sana dan tersenyum kepada kami.

Matanya sangat jernih, senyumnya tulus, dan badannya tidak terlalu besar untuk ukuran anak laki-laki belasan tahun.

“Radit! Hei, Radit! Cari Tyas, ya?” teman-temanku menodongnya seraya mengguncang-guncang tubuhku. Aku cuma cengar-cengir tak jelas.

Radit adalah satu dari puluhan cowok lain di sekolah yang memutuskan untuk menjadi vegetarian. Ia satu-satunya pahlawan kebersihan paling konsisten di mataku. Tak pernah takut ia memarahi siapa pun yang membuang sampah sembarangan atau merusak tanaman. Ia tidak naik motor atau mobil mewah. Radit selalu membawa sepeda. Kebetulan, rumahnya pun dekat.

Jika Radit adalah kota, aku pasti memberiI ia penghargaan Kota Ramah Lingkungan Nomor Satu! Aku mendapat banyak inspirasi darinya. Sayang, ia belum berhasil menyembuhkan penyakit kantukku.

Dan Radit berdiri tegak di hadapan kami, cewek-cewek berisik pembela kebenaran berbaju seragam putih-abu. Ia memandang lurus ke hadapanku, namun berbicara untuk semuanya: “Siapa yang pakai motor listrik kuning? Parkirnya ngehalangin sepeda saya.”

Hei, itu kendaraanku yang ia sebut-sebut!

Aku mengacungkan jari. “Itu sepeda, bukan motor. Cuma bedanya, nggak mesti digowes-gowes amat karena sudah ada tenaga listriknya.”

“Ya samalah, sama motor listrik,” ujar Radit. “Bisa tolong sebentar ? Saya mau pulang, nih.”

“Oke,” aku meninggalkan teman-temanku sebentar untuk memindahkan sepedaku.

Kami berjalan bersama ke tempat parkir. Benar adanya, bahwa sepedaku miring hingga sepeda Radit terhalang. Tak ada ruang lowong yang kusisakan. Bahkan untuk mundur sedikit pun sudah sempit!

“Maaf ya, Radit,” kataku sambil menggeser sepedaku.

“Nggak masalah. Tapi kenapa kamu parkir miring begini?”

“Soalnya tadi kesiangan, tempat parkirnya keburu penuh.”

Radit terdiam. Ia naik ke atas sepedanya dan bersiap. Sesaat, ia memanggil namaku dan tersenyum, “Makasih ya, Tyas! Ngomong-ngomong, rumah kamu di mana? Kapan-kapan kita pulang bareng yuk! Mumpung sesama naik sepeda.”

Entah kenapa, jawabanku terbata-bata. “Eh, boleh. Tapi nanti kamu pasti kesusul. Sepeda listrik ‘kan jalannya cepat.”

“Kalau begitu jangan isi baterainya.”

“Yey! Itu sih terlalu aneh! Ngapain pakai sepeda listrik kalau nggak ada listriknya!”

Tertawalah Radit sepuasnya. Lantas mata kami bertumbukan.

Oh, Tuhan, betul, aku mulai tidak normal sejak itu. Saat kembali ke bawah pohon angsana, perasaanku sudah sangat kacau. Jantung melompat-lompat, kaki gemetar, nafas sulit…dan wajahku tidak mau stop tersenyum.
Benar juga. Radit penyebabnya.

Aku kembali ke sekolah, dan ketika melihat Radit, dan melempar senyum, penyakitku kumat sesudah hilang semalam. Malah ditambahi perut mulas segala! Aku tidak tahu apa ini. Tapi setelah kuceritakan pada teman-teman, mereka berkilah enteng, “Kamu jatuh cinta sama Radit, tuh!”

Hah! Jatuh cinta? Kudengar jatuh cinta itu indah rasanya. Berjuta-juta pula. Lalu kenapa aku malah merasa tak sehat begini? Dan mengapa aku menjadi insomnia? Aku tak mengantuk sama sekali, tanpa kopi!

Perlukah aku pergi ke dokter?

Jawab temanku, “Pergi saja ketemu Radit, pasti langsung sembuh.”

Dia benar-benar salah! Semakin jarakku dekat dengan Radit, bertambah parah pula keabnormalanku! Jika jatuh cinta segini tidak nyamannya, mestinya aku tidak perlu mengalaminya!

Dan Radit, yang tidak tahu apa-apa, datang menghampiriku untuk sekedar mengajakku pulang bersama naik sepeda masing-masing. Aku hanya bengong tetapi mengiyakan.

Rencana itu pun terealisir. Kami pulang bersama, menyusuri jalan-jalan nan tenang dirimbuni pepohonan dan banyak berdiskusi tentang lingkungan hidup. Lama kelamaan, kekacauan sistem tubuhku memudar. Mulai normal, bahkan berganti menjadi suatu kedamaian yang lebih intens.

Aku pun menyadari, bahwa penyakit baruku ini sebetulnya tidak sakit sama sekali. Cuma sekedar melelahkan, tetapi ada rasa bahagia aneh yang merekah dalam hati. Mungkin, karena inilah kali pertama aku jatuh cinta.
Seperti anak yang pertama kali disuntik, mungkin, rasanya sangat sakit, tapi di imunisasi-imunisasi berikutnya, ia tak akan merasa terlalu sakit!

Apa Radit bisa menggantikan kopi? Kalau ya, aku pasti semakin memujanya dan ingin lebih banyak pulang bersamanya.

Gelombang Itu, Gelombang Gelora 6

Katarina Ningrum

Kertas putih yang sedang dibagikan oleh bu guru benar-benar bukan kesukaan Prinka.  Begitu benda tersebut mendarat di mejanya, ia menghela nafas kencang dan menghembuskannya putus asa. 

Angket masa depan.  Angket yang mengharuskan siswa kelas dua belas mengisinya dengan proyeksi zaman mendatang.  Akan jadi apa?  Kuliah atau kerja atau cuti belajar atau menikah?  Sekolah tinggi mana yang dituju? Kenapa ingin menikah?  Kerja sebagai apa?

Aargh! Prinka benci harus mengisinya.  Dia tidak tahu harus menulis apa di atas garis putus-putus kosong yang seakan mengintimidasinya. Kuliah? Apa jurusannya? Menikah? Sama siapa? Kerja? Di mana?

Kepalanya langsung mumet sendiri.  Enam bulan mendatang ia akan dihempaskan ke dunia luar, ke masyarakat, tanpa genggaman guru-guru atau institusi sekolah menengah, dan dia merasa ada jurang tinggi yang akan menelannya—sebab ia tidak tahu tempat penampungan berikutnya.

Ia pun melirik kepada teman sebangku supersetianya, Joan Similikiti. Tiada gadis yang lebih lincah darinya, pula tak ada yang lebih menyayangi Prinka dibandingkan dia—setidak-tidaknya di seantero kelas.

Prinka melihat angket Joan penuh dan tulisannya tebal-tebal penuh keyakinan. 

 

Aktivitas selepas SMA? Kursus presenter.

(jika kuliah/ kursus keterampilan) Lokasi: Sekolah broadcasting Jalan Cisangkuy.  Heidy Yunus punya.

Alasan: Biar beken dan menyalurkan kebawelan.

 

Ia sirik pada Joan yang tahu mau berbuat apa.  Menyadari kebingungan sobatnya, Joan langsung serbu, “Kenapa, Nyoy?”

“Nggak tahu harus isi apa.”

“Hah? Masa? Kamu kan udah jelas…”

“Jelas apanya?”

“Menikah sama si cowok radio itu.”

Prinka menusuk-nusuk rusuk Joan dengan jarinya yang agak gemuk tapi lentik.  Salah tingkah, malu, mukanya merah.  “Jangan sompral ah!”

“Kenapa? Takut kejadian betulan yaa?” alis Joan naik turun menggoda.

“Ah, Joan, aku betul-betul nggak ngerti gimana ngisinya, nih.”

“Kalau gitu jawab jujur aja.  Lebih baik terus terang daripada terusan Gibraltar, eh, daripada dusta penuh nista.  Jawaban kamu di angket ini mesti dipertanggung jawabkan soalnya.”

“Tapi kalau aku tulis nggak tahu, nanti pasti diomelin guru BP.”

“Lah, ya daripada kamu asal bilang mau kawin, entar dilacak lagi siapa pacarnya.”

“Joaaan!” Prinka merintih.  “Aku nggak punya masa depan.”

“Punya, cuma kamu belum tahu.  Ya nggak masalah kan? Kadang-kadang keputusan besar memang bisa datang tiba-tiba.”

“Sehari sebelum kelulusan, misalnya?”

“Yoi.”

Prinka tersenyum.  Ia pun menulis di angketnya:

 

Aktivitas selepas SMA: Tetap hidup dan menjadi orang yang benar, belum tahu akan kuliah atau kursus atau menikah. 

(jika kuliah/ kursus keterampilan) Lokasi: Planet Bumi

Alasan: Mungkin karena belum cukup dewasa untuk memutuskan langkah selanjutnya.

 

Ia tertawa puas bersama Joan dan menyerahkan angket tersebut tanpa beban lagi. 

Rupanya siang itu juga guru BP benar-benar memanggil Prinka.  Tanpa ampun dikeluhkannya jawaban angketnya yang nyeleneh. 

“Kamu gimana mau lulus SMA kalau kayak begini?”

Dan seterusnya, dan seterusnya.  Kemudian beliau berusaha melancarkan aksi motivasi siswanya.  Ia mengeluarkan daftar nilai Prinka dan berkata, “Dengan nilai seperti ini, mungkin kamu dapat masuk universitas terkemuka…”

Guru BP tersebut diam di tempat menatap daftar nilai Prinka.  Semuanya nilai rata-rata, mepet, atau paling bagusnya lumayan tapi tidak istimewa—itu pun di bidang-bidang studi sampingan, misalnya: Bahasa Daerah, Olahraga, Agama, Bahasa Inggris.  Dia tidak tahu harus menyebut nama universitas apa!

Dan sejujurnya baru hari itu juga guru BP tersebut ingat lagi bahwa di sekolahnya ada murid bernama Prinka.  Murid satu ini benar-benar tak kasatmata, sekaligus mengkhawatirkan karena begitu flegmatis.

“Kamu punya pacar?”

“Ya pinginnya sih punya, Bu, tapi belum juga,” jawab Prinka panjang.

“Tertarik ikut kursus lain, misalnya…keterampilan kewirausahaan?”

“Eeeh, kedengarannya wirausaha itu ribet ya, Bu.”

“Hobi kamu apa?”

Prinka memutar biji matanya, mencari-cari kegiatannya dalam sehari yang pantas diberi gelar ‘hobi’.  Dan tidak ada! Maka ia asal ceplos saja, “Mendengarkan radio, Bu.”

“Kamu suka acara apa?”

“Apa saja. Berita, degung Sunda, hits delapan puluhan, lagu-lagu yang lagi beken, yah selama radionya nggak keresek-keresek, saya dengerin, Bu.”

“Kenapa kamu suka?”

“Karena saya lebih nggak suka nonton tivi, Bu, terlalu bising dan silau.  Kalau radio kan bisa sambil melakukan hal lain, misalnya…bikin PR, belajar, kalau bosen bisa SMS dulu request lagu.”

“Hmm.  Kamu paling suka stasiun radio yang mana, Prinka?”

“Ada Bu, radio Gelora delapan puluh delapan MW,” ujar Prinka komplit pakai logat Norman Halomon kalau mengiklankan radionya.  “Agak kuno gitu sih, Bu, tapi asyik.”

Guru BP Prinka hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Joan, di samping jendela ruangan tempat mereka berdiskusi, menahan tawa mendengar tanggapan-tanggapan Prinka yang lugas dan apa adanya. 

 

Wilujeng siang, sadayana, kumaha damang? Ieu abdi Norman deui, satabuh ka hareup bakal aya tembang-tembang nu ngeunah ti Tatar Sunda, yeuh, ieu nu kahiji judulna sesuai jeung kaayaan ayeuna:”Ujan’, mangga…

Lagu berinstrumen gamelan yang nuansanya persis seperti hujan besar di luar yang sedang mengguyur kota, mengalir lancar.  Musim air memang telah tiba.  Nyaris setiap hari langit menangis. Huh, dasar awan-awan cengeng!

Norman sedang berpikir bagaimana caranya pulang jika hujan masih deras juga nanti.  Ia tidak membawa payung—selalu terlupa!

Seusai siaran degung Sunda, Norman memandang langit, ah, sudah lumayan mereda.  Dia ingin mencari makan siang dan beristirahat di kosnya sebelum kembali lagi ke Jalan Kedondong untuk menunaikan siaran Halo-Halo Bandung malam nanti.

Dicarinya bapak pimpinan untuk pamit dulu, dan ia menemukan beliau di dalam ruang tempat menyimpan koran-koran harian.

“Pak, saya pulang dulu ya, nanti malam saya balik sini.”

Bapak pimpinan tersenyum pada Norman dan mengiyakan.  “Hati-hati ya, Nak.”

“Oke, terima kasih, Pak,” tukas Norman sopan, kemudian ia mengambil tasnya dan keluar menunggu angkutan kota.  Mendadak dalam kepalanya muncul ide untuk mengunjungi sebentar tempat salah satu sepupunya yang sedang berulang tahun, di Dago Pakar.  Ia menengok arloji, memperkirakan kecukupan waktu untuk ke sana dulu setelah makan siang di dekat kosannya. 

Norman mengangguk.  Maka ia mengambil kendaraan menuju kosannya, menikmati makan siang di warteg terdekat, dan bersiap melaju ke Dago Pakar.  Ia berjalan keluar dari Jalan Tamansari, lantas ia mencegat salah satu angkot yang melintas. 

 Saat itu hujan mulai berderai lagi, sehingga Norman buru-buru menjebloskan diri ke dalam kendaraan umum berwarna hijau oranye.  Duduklah ia di bagian kanan samping dua anak berseragam SMA yang asyik cekikikan tak jelas.  Ketika angkot mulai bergerak lagi, Norman duduk tegak agak melengkung dan tanpa sengaja menguping percakapan duo remaja ajaib sebelahnya. 

Terdengarlah demikian:

“Kamu yakin kita bakal ngerjain tugas? Kayaknya kita malah bakal main…”

“Tenang aja, kamu kan nginep sampai dua hari.  Jadi kita bisa main sepuasnya plus bikin tugas sejadinya.  Nggak ada batas waktu.”

“Oh iya ya.”

“Ngomong-ngomong ini Malam Minggu ya.”

“Dan seperti biasa kita nggak ada pacar.”

“Hihihi!”

“Oh, kamu mah ada!”

“Siapa?”

“Ada pacar kamu, tapi berupa suara di radio.”

“Ah, nggak gitu juga kali…”

“Tapi seneng kan?”

“Ya iya sih.  Setidaknya suaranya juga udah menghibur.”

“Kamu SMS dong ke radionya, bilang kamu kesepian, kasih sinyal.”

“Ih, norak bener!”

“Eh, cowok tuh harus dikasih sinyal.”

“Joan, aku cuma ketemu dia satu kali, nonton Pagelaran Bambu, ditemenin pulang, gitu doang. Selesai.  Entah tamat, entah bersambung jika Yang Kuasa berkenan memberiku sedikit rona masa remaja yang indah.”

Temannya ngakak berantakan.  “Bahasa kamu tuh, Nyoy, tiada duanya! Mestinya kamu pakai buat ngerayu Si Akang Norman Radio Ceria itu, kek!”

Norman membelalakkan matanya, tercengang. 

“Radionya namanya Gelora, bukan Ceria.”

“Miriplah.”

Tengkuk Norman rasanya dingin.  Eh, panas.  Eh, entah, suam-suam kuku, barangkali. Dia digosipi! Dan tentu saja, dia kenal suara si anak yang agak lebih kalem tapi tata bahasanya dramatis!

Dengan segenap debaran jantung campuran bangga dan gugup, Norman sengaja menoleh ke gadis yang tepat ada di sisi kirinya.  Lantas matanya tertumbuk begitu saja seperti tak mau lepas saking bahagianya. 

Si anak yang heboh, di sudut paling belakang angkot, menyadari tingkah Norman dan langsung nyeplos, “Nyoy, kayaknya kita berisik banget…”

Prinka menoleh ke entah siapa di sebelahnya secara spontan. 

Dua sosok yang saling merindukan itu melotot sama-sama, bertatapan lurus, dan yang perempuan melongo sebesar black hole. 

Untuk mengademkan suasana, Norman menyapanya senormal mungkin, “Hai, Prinka.”

Tentu saja Prinka tak sanggup mengeluarkan suara apapun, kecuali mungkin mengembik atau yang lain.  Dia hanya mengerjapkan matanya tak percaya.  Mata Joan bergantian melihat Norman dan Prinka. Sebagai pakar asmara, ia mampu menyimpulkan siapa lelaki itu—tanpa perlu banyak pencerahan.

Norman nyengir.  Prinka tersenyum malu-malu.

“Baru pulang sekolah ya?” Norman berbasa-basi lagi.

“Iya,” jawab Prinka bervolume ekstraminimal.

“Apa kabar?”

Norman merasa ingin menggelitik dirinya sendiri karena mengajukan pertanyaan garing paling tak penting.  Secara dia memang baru berjumpa dengan Prinka satu kali saja.

“Eee…baik, Kak.”

“Hujan ya.”

Norman mengutuk dirinya sendiri dungu.

“Dari tadi,” sambung Prinka.  Ia tak mau melepaskan pandangannya ke arah dua mata besar berbinar, mulut yang senyumnya lebar, dan rambut rancung-rancung alami itu.  Ia tidak rela.  Tapi ia juga bingung.  Selama mata bertautan, harus ada pembicaraan.

Joan ketawa sendiri.  Ia menerawang ke jendela, pura-pura memerhatikan lalu lalang jalanan seraya menguping obrolan kawannya dengan sang gebetan yang terhormat.

Listrik di kepala Prinka pun mengalir kembali. Ia berhasil bersuara lebih tegas, “Kak Norman nggak lagi siaran?”

“Kan kalau lagi siaran kamu pasti lagi nyimak, Nyoy,” Joan mencetus.  Lantas ia malu sendiri karena ketahuan nguping.

Norman tersenyum lebar.  Membuat Prinka ‘klepek-klepek’.  “Ini nunggu jam Halo-Halo Bandung, mau ke rumah sepupu dulu.”

“Oh, di mana?”

“Dago Pakar.”

Prinka mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada sepupu Norman yang memilih hidup di Dago Pakar sehingga pada detik serba kebetulan tapi mungkin saja takdir ini, dia dapat bertemu wajah yang dikangeninya.

Beruntung pula karena lalu lintas agak macet akibat hujan.  Sehingga masih cukup banyak waktu sebelum ia mesti turun ganti angkot ke Cigadung.

Tapi belum apa-apa, ia sudah habis topik rasanya…

Syukurlah Norman sang penyiar pandai mencari cerita.  Ia bertanya kepada Prinka, “Ngomong-ngomong udah lama nggak SMS ke Gelora.”

“Iya…,” Prinka berhenti.  Sejujurnya ia selalu berusaha mengirim SMS, tapi belakangan ia semakin merasa kikuk, karena pinginnya sih langsung kirim pesan ke nomor Norman Halomon, tanpa perantara radio.  Ia punya impian tersendiri yang ditutup-tutupi dengan kalimat pamungkas, “Lagi nggak punya pulsa.”

“Selama seminggu nggak punya pulsa?”

Buset! Ini orang pakai ngitung segala! Norman memang menanti Prinka dengan setia.  Ah, manisnya.

Pipi Prinka terasa hangat karena ada yang sejeli itu mengharapkan SMS-nya, sampai tahu periode hiatusnya.  Dan kebetulan pelakunya Norman.  Nafas Prinka menyesak dan ia ingin melompat, tertawa, terbang ke langit ketujuh, lalu jatuh ke dalam pelukan…oh, belum saatnya, Neng!

Melihat Prinka diam saja dengan pipi merona merah, Norman menelan ludah.  Sekarang dia benar-benar salah tingkah.  Kedua paket jemarinya mulai menggaruk-garuk bagian lutut celana jinsnya.  Giginya kering akibat mengawetkan cengiran.

Prinka meremas-remas payung lipat mungilnya yang ia persiapkan untuk jalan sedikit masuk komplek rumahnya nanti.  Dampaknya, ia jadi memikirkan apakah Norman membawa payung.  Beberapa saat lagi ia harus turun.  Tapi perjalanan Norman masih lebih jauh, dan nampaknya jarang ada laki-laki membawa payung.

Apakah hari ini ia ingin menjadi malaikat payung untuk Norman? Apakah ia boleh menawarkan peminjaman payung tanpa batas waktu dan gratis pula?

Tahu-tahu saja sudah saatnya berganti angkot. Tanpa mengindahkan kekalutannya, Prinka berbicara ngebut, “Kak Norman bawa payung nggak?”

Perut Norman langsung mulas mendengar pertanyaan tersebut.  Bukan karena tertangkap basah malas menjinjing payung, melainkan karena Prinka tampak begitu baik hati dan manis.   Norman menggeleng polos.  Dia sudah biasa kehujanan…

“Ini,” Prinka menyodorkan payungnya.

“Lho, jangan, nanti kamu pakai apa?”

Supir angkot berseru, “Neng, cepet, Neng!”

“Bawa aja,” Prinka ngotot.  Cepat ditaruhnya batang payung di kedua tangan Norman yang sedang menunjukkan gerak penolakan.  Dibuatnya dua tangan itu menggenggam payung.  Prinka histeris dalam hatinya sendiri.  Tangan Norman Halomon!

Kemudian terbirit-biritlah Prinka keluar dan rupanya Joan sudah menanti di luar, dengan payungnya dan telah membayar angkot.

“Makasih ya, Prinka,” ujar Norman.  “Hati-hati!”

Prinka tersenyum sekilas dan angkot berlari.  Debaran jantung Norman sepertinya membahana hingga orang-orang memandanginya.  Bahkan seorang kakek tua tersenyum jahil.  Norman sulit mengembalikan mukanya ke asal.  Senyumnya tak mau menyingkir.  Di tangannya terpegang payung serta mungil dan dinginnya tangan Prinka.  Gadis itu kedinginan.  Kecil.  Unik.

Kepala Norman kosong sesaat, sampai ia sempat lupa sebetulnya ia mau ke mana.

Prinka dan Joan melanjutkan cekikikan mereka.  Tak habis-habis rasanya kesenangan sekejap barusan.  Prinka mengingat-ingat raut dan deretan gigi Norman Halomon.  Juga tangannya yang begitu besar, kokoh, seperti orangutan…oh, bukan, seperti seorang pria!

Tak ketinggalan suara penyiar tersebut yang rasanya menyalurkan getaran ajaib di telinganya.

Siaran Halo-Halo Bandung malam itu benar-benar istimewa.  Norman bicara lebih lincah karena jiwanya masih seriang tadi siang.  Siang yang mendung bin lembap tapi sebetulnya menyimpan pelangi di dalam angkot Kalapa-Dago berplat nomor…mana dia ingat?

Terlebih lagi, Prinka mengirim SMS!

Hai, Kak Norman.  🙂 Seharian ini Bandung hujan, tapi semua orang tetap kelihatan cerah.  Semoga warga Kota Bandung bersemangat menghadapi hari-harinya. 

Saya pingin lagu apa aja yang kira-kira cocok buat nemenin bikin tugas Bahasa Inggris.  Makasih, Kak Norman. 

Ucapan Norman berikutnya sesudah membacakan SMS tersebut didengarkan oleh sekian banyak pendengar lain, membuat mereka penasaran, ada apa di antara Prinka dan Norman:

“Halo, Prinka! Terima kasih ya! Berkat payung kamu saya nggak kehujanan dan bisa langsung balik ke radio untuk siaran Halo-Halo Bandung.  Tinggal mikirin cara mengembalikannya.  Pakai pos merpati mungkin nggak ya? Hehehe.  Oke, untuk tugas Bahasa Inggris kamu, saya kasih iringan lagu in English yang bikin malam berasa siang hujan jadi cerah, ya…ini dia ‘Sunrise’ dari Norah Jones, khusus buat Prinka!”

Dan lagu pun mengalun, mengajak Joan dan Prinka benar-benar mantengin tugas mereka, bukannya jatuh tertidur atau sekedar ngobrol ngalor ngidul.

 

Ujan-Ujan Tetep Cerah

Gelombang Itu, Gelombang Gelora 5

Katarina Ningrum

 

“Bun, Mbak Prinka aneh,” lapor Gading khawatir. 

Bagaimana tidak? Begitu pulang sekolah kesorean kemarin, Prinka tampak begitu bungah—bangga atau bahagia atau apapun yang tidak Gading pahami.  Senyum Prinka seperti menempel permanen di bawah hidungnya, dan matanya berbinar-binar bak permukaan empang terkena sinar mentari. 

Dan anehnya, setelah 2×24 jam, Prinka masih terlihat sesegar kemarin.  Karena itulah, di petang yang ajaib, Gading mengadu pada wanita yang melahirkan dirinya dan sang kakak. 

Lucunya, reaksi Bunda benar-benar sederhana, “Kakakmu lagi jatuh cinta.”

Gading melotot.  Dia geleng-geleng kepala, “Nggak mungkin, Bunda, memang kapan Mbak Prinka ketemu cowok?”

“Ya di sekolahnya kan pasti ada cowok!”

“Setahu Gading…”

Bunda menatap anak lelaki bungsunya.  Ditepuknya kepala sang putra dan sembari tersenyum geli, Bunda melengang meninggalkan ruang keluarga menuju dapur.  “Udah, daripada kamu mencemaskan kakakmu, mending kamu ngerjain PR atau apa kek.”

Gading pun berniat mengurung diri di dalam kamar, membaca buku Trik Menjadi Grandmaster yang dibelikan Ayah kemarin.  Sebelum membuka pintu kamarnya, Gading mengintip sedikit celah pintu ruang tidur kakaknya. 

Tampak kakaknya sedang asyik memandangi radio tuanya, dilengkapi senyum sejuta kilowatt dan telepon genggam di tangan.  Gading pun menyadari keberadaan tumpukan PR di samping siku kakaknya.

Walau rasa penasarannya tinggi, entah mengapa ia tidak ingin mengganggu ritual kakaknya kali itu.  Tidak dengan alasan apapun, karena Prinka tampak khusyuk sekali mendengarkan radio. Lantas di kepala Gading terlintas sesuatu. 

 

Kursi itu berputar, berkeriat-keriut bersamaan dengan ketukan musik yang mengalun pelan-pelan dari headphone yang tidak dipasang di kepala.  Itu lagu terakhir di siaran malam Halo-Halo Bandung.  Sang penyiar sedang bersiap-siap pulang, mengambil hape dan dompet yang ada di meja, menenggak segelas teh manis hangat, dan merapikan kemejanya. 

Segera sesudah lagu berakhir, ia keluar dari ‘akuarium’ siarannya. 

Norman menyapa seluruh tiga kru yang bertugas bersamanya barusan, lantas ia berjalan keluar Jalan Kedondong dan bermaksud menunggu angkot di tepi jalan raya.  Tetapi tiba-tiba keinginannya menemui angkutan kota terkikis saat melihat seorang pria berkemeja biru garis-garis sedang membungkuk di hadapan kap mobil sedan abu-abu yang terbuka, persis di ujung Jalan Kedondong. 

Instingnya langsung berkata bahwa bapak itu dalam masalah, dan saat itu tak ada pejalan kaki lain kecuali Norman.  Maka didekatinya bapak tersebut dan dengan santun ia bertanya, “Permisi, Pak, ada masalah?”

Bapak di hadapannya berhidung mancung, pipinya agak gemuk, dan dagunya bundar.  Terlihat klimis tanpa kumis atau janggut.   Mukanya tampak cukup tenang meski kentara sekali sedang agak panik.

“Ini tadi saya baru jalan berapa meter, tiba-tiba berhenti!”

“Wah, kenapa ya Pak? Masalah akinya, atau bensin?”

“Bensin masih penuh kok, baru saya isi.”

Norman mencubit-cubit dagunya, mencari solusi.  “Gimana kalau saya bantu dorong, Pak?”

Pria itu mengangguk, nampak optimis.  Segera ia masuk ke mobil dan menyalakan mesin yang tersengal-sengal.  Berkali-kali ia berupaya, tetapi mesinnya tetap kekurangan nafas.  Lalu si bapak mencondongkan kepala keluar jendela, “Coba dorong saja, Nak!”

“Oke, Pak,” Norman tersenyum lebar dan menggerakan mobil sebisanya.  Maju sedikit, tetapi mesinnya lemah. 

Sang pria kembali memulai aksi mesin, dan kali ini tidak terlalu terbata-bata.  Norman kembali mendorongnya, berulang kali, dan akhirnya seakan mogok yang tadi hanya basa-basi, mobilnya berjalan begitu saja! Lancar sulancar mantap suratap sehat walafiat!

Norman dan sang bapak tercengang-cengang bahagia.  Segera Norman mengusap keringat yang mulai bermunculan di keningnya.  Bapak tadi berkata, “Makasih ya Dik! Ayo, sekarang kamu mau ke mana? Saya antar!”

“Hah? Jangan, Pak, nanti merepotkan.  Saya naik angkot aja Pak.”

“Ah, nggak.  Cuma dengan cara ini saya bisa membalas bantuan kamu.”

Tawa Norman berderai, “Aduh, Pak, saya mah ikhlas, nggak minta apa-apa.”

“Saya nih yang nggak ikhlas,” sahut sang pria dari balik jendela mobilnya.  “Masa ditolong tapi nggak ngasih apa-apa?”

Norman terdiam dan dengan muka tetap tersenyum menatap mata si bapak, yang secara misterius membuat ia teringat akan hal-hal indah dan membahagiakan—mungkin karena keoptimisannya.  “Ayo, kamu mau ke mana?”

“Ya sudah Pak, terima kasih lho, Pak,” balas Norman tanpa menjawab pertanyaan si bapak.

Detik berikutnya, Norman sudah berada di dalam mobil sedan yang barusan ngadat itu.  Dia telah menyebutkan alamat tempat kosnya dan sekarang menuju ke sana.  Sepanjang perjalanan yang akan memakan tempo kira-kira sepuluh menit jika tak macet, bapak tersebut banyak bertanya:

“Nama kamu siapa?”

“Norman, Pak.”

“Panggil saya Om Raya.  Biar nggak terlalu formal,” ucap lawan bicaranya sambil tersenyum cerah.  “Kamu dari mana tadi, Norman?”

Norman pun menjelaskan keberadaan radio tua Gelora di penghujung Jalan Kedondong.  Tentu saja Om Raya terkejut, karena ia tak pernah sadar di sana ada sebuah stasiun radio.  Padahal ia sering ke sana untuk menemui salah satu rekan baiknya.

“Pantas ada parabolanya.  Tapi kok nggak ada petunjuknya?”

“Oh, tulisannya di papan kayu yang udah agak lumutan, Om.” Norman tersenyum getir. 

Om Raya memutar bola matanya.  “Maaf nih, tapi saya ingin tahu.  Radio yang salurannya cuma di MW dan sudah tua begitu, apa masih ada pendengarnya?”

“Ada juga sih, Pak, walaupun orangnya sama-sama lagi, dan yang jelas lebih banyak orang tua daripada anak muda.  Tapi ada satu anak SMA yang setiap hari bisa kirim SMS request lagu atau sekedar ngasih info buat acara berita Bandung,” tanpa dapat ditahan Norman menceritakan antusiasmenya terhadap Prinka.

“Lho, kok lucu, ada anak SMA masih dengar radio kuno gitu?”

Norman menelan ludah.  Benar juga.  Kalau dipikir-pikir, si Prinka itu nyentrik banget ya?

“Ya…barangkali dia memang agak unik,” tukas Norman naïf.  “Kalau Om Raya tinggal di mana?”

“Saya di Cigadung, lewat dari Pasar Simpang Dago, naik lagi, ada belokan, terus…nah, di situ.  Jauh sih, tapi tenang tempatnya.”

Norman yang hafal posisi Pasar Simpang Dago terbelalak.  Betapa jauhnya! Kini ia harus memutar untuk mengantarkan Norman ke kosan yang terletak di sekitar Taman Sari… Langsung saja rasa tak enak menggembungkan perut Norman.

“Om, kan jauh kalau ke tempat saya dulu, saya naik angkot aja ya?”

“Nggak  boleh!” desak Om Raya.  “Saya nggak enak dong kalau nurunin orang di tengah jalan.  Lagian, sedikit lagi sampai kok, kalau sudah malam kan nggak macet.”

Norman tak dapat melawan.  Tapi memang dalam waktu singkat dia sudah berada di depan tempat kosnya.  Ia mengucapkan terima kasih beberapa kali supaya afdol rasanya, kemudian ia tersenyum lebar dan melambaikan tangan kepada Om Raya. 

Sejurus kemudian mendadak Norman menyadari bahwa wajah Om Raya agak mirip dengan Prinka.

 

Pintu rumah itu menjeblak terbuka, dan terlihat wajah-wajah cemas yang seketika berubah menjadi senyum kelegaan. 

“Ayah! Telat amat sih pulangnya!”

“Ayah, ada apa?”

“Ayah baik-baik aja, kan?”

Tiga orang tercinta, istri dan dua anak, memeluknya bersamaan.

Lantas Ayah Prinka dan Gading menceritakan kisahnya di meja makan, sembari diasupi cemilan kacang tanah rebus karya Bunda—yang menempel ke lengan Ayah dengan bahagia.

“Ayah ke rumah teman di Jalan Kedondong, ngobrolnya kelamaan, jadi agak telat.  Ayah pulang buru-buru, tadinya mau telepon Bunda supaya nggak khawatir, tapi kelupaan gara-gara mendadak mobilnya mogok.  Nggak mau jalan.  Ayah periksa sampai buka kap segala, sayangnya gelap, nggak kelihatan apa-apa.  Nah, untungnya tiba-tiba ada anak laki di situ, ngebantuin Ayah sampai mobilnya bisa jalan lagi.  Ternyata cuma harus didorong beberapa kali.  Kasian dia kan capek dan harus naik angkot pulang ke Taman Sari, jadi Ayah antar dia dulu ke tempat kos.”

Bunda menepuk punggung tangan Ayah.  “Contoh tuh ayahmu, baik hati!”

“Ya habisnya kasian dia, Bunda, masa udah capek dorong-dorong sedan harus naik angkot lagi, jalan kaki, segala macem,” terang Ayah.

“Ayah beruntung banget,” komentar Prinka.  “Jalan Kedondong kan agak sepi.” Ia pun langsung teringat akan radio Gelora yang gundah gulana keadaannya.

“Itu dia yang lucu.  Ternyata di Kedondong ada stasiun radio!”

Bunda ngakak.  “Masa sih? Ayah bohong!”

“Lha, yang tadi bantuin Ayah tuh penyiar radio, masih muda tapi kerjanya di radio MW tua, nama radionya apa ya? Ayah lupa, kesannya sih agak norak…”

Jantung Prinka berjoged seru.  Ya ampun.  Penyiar muda radio tua di Jalan Kedondong benar-benar mendeskripsikan seorang Norman Halomon, yang baru saja ia kirimi SMS tentang penumpukan sampah di Jalan Sukajadi yang tidak tertangani sekaligus memesan lagu.  

 “Orangnya kayak apa, Yah?” Prinka mulai menginterogasi.

“Umm…agak tinggi, pakai kacamata, senyumnya lebaar!” Ayah sebisa mungkin menirukan kenampakan pemuda barusan.

“Kenalan nggak, Yah?” Gading menimpali.

“Iya, sedikitlah.  Dia namanya Norman.  Hm, anak yang baik.  Kelihatan dari mukanya dia bukan orang licik…”

Prinka merasa akan meletus.  Meletus dan terbang ke lapisan langit ketujuh, mungkin memakai kostum dewa-dewi ala Cina, dan bertransformasi menjadi Putri Kaguya…oh, entahlah, imajinasinya benar-benar surealis.

Mau tak mau ia tersenyum manis merekah, membuat orang-orang curiga.  Tapi ia bungkam, dan baru esoknya ia benar-benar melepaskan kegilaannya ke Joan, sahabat tercintanya.

Dari gerbang sekolah, Prinka sudah berlari kencang.  Begitu melihat Joan di kelas, ia langsung menyergapnya sambil ketawaketiwi mencurigakan.  Alis Joan menyon, ditekuk.

“Kenapa sih, Nyoy? Kayak kesurupan badut!”

“Badut aja nggak selincah ini,” balas Prinka santai.

“Jadi, ada apa? Pasti penting banget, sampai kamu berubah kepribadian gini,” Joan meletakkan Blackberrynya di atas meja.

Prinka mengatur nafasnya dulu supaya dapat menuturkan kisah spektakuler yang baru saja melibatkan Ayah dalam kegilaannya.  “Kemarin papaku ketemu Norman.”

“Hah? Lamaran?”

Pipi Prinka menghangat dan merona merah sekejap.  “Bukan, Dodol! Gini ceritanya…”

Serpihan kisah mobil ngadat Ayah dan munculnya Super-Norman pun menggugah batin Joan. Dia langsung berkesimpulan, “Kamu sama presenter radio itu jodoh, Nyoy.”

Tak tahan akan rasa gembiranya sendiri, Prinka menggigit bibir bawahnya sembari mengepalkan telapak tangan.  Dia tidak berkata apa-apa, tapi jelas dia bahagia karena disumpahi demikian oleh sobatnya.

“Jadi?”

“Jadi apa?”

“Sekarang gimana?”

Prinka pun melongo dungu.  Dia juga tidak tahu. Pada dasarnya pertemuan ajaib kemarin tidak mengubah apa-apa dalam kehidupannya, melainkan sekedar memberi rasa manis tambahan untuk jiwanya.  Joan memandanginya penuh tanda tanya, lantas menghela nafas. 

“Kamu udah bikin PR Mat belum?” ia mengganti topik, takut temannya keterusan bengong.

Tangan Prinka merogoh ransel dan membuka buku tulis Matematikanya.  Ia baru mengerjakan tiga soal dari sepuluh.  Konsentrasinya kemarin berkurang karena seisi rumah cemas akibat Ayah pulang telat.   Walau sudah lega sesudah Ayah pulang, konsentrasinya tetap buyar gara-gara malah muncul nama Norman. 

 

“Selamat malam, pendengar setia radio Gelora yang cantik-cantik, cakep-cakep, dan pastinya lagi happy, ya kan? Tentu dong, soalnya ini kan Malam Senin! Setelah satu hari libur, bolehlah, istirahat sejenak buat mempersiapkan hari esok.  Asal jangan terus-terusan ngeluh ‘I hate Monday’ aja ya.  Nggak baik! Mending bikin kata-kata motivasi sendiri, misalnya nih: ‘No more mourning Monday’ atau apa deh, pakai bahasa Jerman kek, bahasa Sansekerta, boleeh!”

Presenter radio memang harus pandai bicara, berceloteh, dan menghitung nafas.  Begitu pun Norman yang lama-lama bicara sebanyak itu pun tak terasa berat—mungkin karena sudah punya sifat cerewet sejak lahir.   Dia lebih cerewet dari kakeknya yang suka ia bilang bawel.  Dia lebih cerewet dari bebek…

Dan kali ini, sambil menggumamkan aneka kata informatif dan menghibur, ia memilih-miilh lagu untuk menyegarkan suasana,  walau di dalam studio kecilnya ini tak ada kaset lagu populer yang lebih baru, melainkan tembang-tembang lama anak muda tahun 1990-an hingga setidaknya tahun 2008.  Mungkin sejak tahun 2008 radio ini tidak lagi terurus…

Ia pun iseng mengoprek koleksi lagu tahun sembilan puluhan, zaman ketika ia masih kanak-kanak dan sering bertingkah bodoh. Dilihatnya beberapa nama band yang pernah beken di masanya, atau yang masih tenar sampai sekarang.  

“Oke, sekarang supaya Malam Seninnya lebih semarak, saya kasih lagu deh! Jangan lupa, kita menerima request juga, jangan malu-malu!”

Norman pun memutarkan satu lagu pilihannya yang bernuansa cerah ceria, sembari memandangi layar komputer, menunggu pesan-pesan masuk.  Seperti biasanya, muncul SMS dari Usep Jallaudin yang memberitahukan bahwa Bandung Selatan dilanda banjir akibat hujan besar tadi siang, sekaligus minta lagu apa saja yang dinyanyikan oleh Agnes Monica. 

Sambil menanti lagu pertama habis ditambahi jeda pariwara, Norman mencarikan trek yang dimohon oleh Usep.  Bip! Layar berkedip.  Dengan cepat Norman memutar kursi dan membaca serangkai pesan dari pendengar-baru-eksisnya: Rizki.  Dia ingin diputarkan Kla Project yang Yogyakarta, yang didedikasikan kepada kekasihnya yang berasal dari Kota Pelajar tersebut. 

Norman tersenyum geli.  DIa bertanya-tanya apakah kekasih si Rizki ini juga mendengarkan radio Gelora yang langka. 

Selepas tiga puluh menit pertama siaran Halo-Halo Bandung kali itu, Norman jadi gelisah karena tak ada SMS dari Prinka.  Mungkin terdengar berlebihan, tapi begitulah kenyataannya.  

 

“Ding, main catur yuk!”

Mata Gading membelalak.  Benar kan.  Kakaknya terbentur sesuatu.  Sejak kapan ia mengajaknya main catur duluan?  Ia mengeluarkan papan catur dan dengan ragu-ragu membukanya. 

“Mau main di luar?” tanya Prinka lagi.

“Oke, Mbak,” Gading mematuhinya.

Mereka mengambil tempat di teras depan, bersila di atas lantai dan Prinka membawa radionya.  Sejujurnya, ia hanya kabur dari tumpukan PR dan tugas sekolahnya tapi terlalu berenergi untuk hanya tiduran mendengar siaran Norman Halomon.

“Mbak Prinka mau yang putih.”

“Iya, Mbak,” Gading pasrah. 

Diam-diam dia juga menguping lagu yang berkumandang dan sesudah itu muncul suara Norman berkicau memberitakan kejadian-kejadian di Bandung hari ini dan memetik pelajaran dari situ. Gading tiba-tiba mendapat ilham. 

“Mbak selalu denger radio ini ya tiap malem?”

Prinka mengangguk sambil menggeser pionnya.

“Emang rame?”

“Ya rame aja, wong presenternya ngomong terus.”

“Presenternya siapa sih?”

“Namanya Norman.”

“Oh.”

Gading diam sebentar, berkonsentrasi menimbang apakah ia harus mengeluarkan benteng atau menteri, dan tiba-tiba melejit di ingatannya suatu memori, “Kok sama kayak yang nolongin Ayah ya?  Nama Norman pasaran!”

“Bukan gitu, Ding, memang dia yang nolongin Ayah kemarin.”

“HAH!” Gading bereaksi heboh.

Prinka mengangguk sambil memakan kuda Gading. 

“Tunggu, kok Mbak tahu?”

“Soalnya nih radio stasiunnya di Jalan Kedondong, Ding.”

“Ih bodor,” Gading tersenyum kecut melihat tumpukan pion hitam di dekat kaki kakaknya.  Kok tanpa latihan rutin, jago begitu?

Prinka menatap Gading sekilas.  “Mbak pernah ketemu lho sama orangnya.”

“Kok bisa? Jumpa fans? Atau dia ngemsi?”

Entah mengapa Prinka mulai nyeroscos mereka ulang kemenangannya atas sebuah tiket Festival Bambu dan pertemuan serba gugupnya dengan si penyiar lucu berhati baik tersebut. Dia tidak tahu kenapa ia mau membocorkannya ke Gading—mungkin jengah karena di rumah tak ada teman curhat.

Dan Gading pun jadi mengerti akar kejanggalan tingkah kakaknya belakangan.  Firasatnya tidak terlalu salah, rupanya, kakaknya punya hubungan khusus dengan radio kesayangannya! Dan tak lama, seakan mendapat panggilan alam, terdengar Norman berkata dalam siaran Halo-Halo Bandung:

“Ngomong-ngomong, mana nih teman kita Prinka yang selalu rajin ngasih berita dan peduli banget sama Bandung? Lagi sibuk sekolah ya? Ya, pokoknya, sukses buat sekolahnya besok ya, Prinka, ditunggu kemunculannya kembali! Lagu terakhir ini khusus buat Prinka deh, dari Naif, judulnya ‘Mobil Balap’!  Oke semuanya, jangan lupa stay tune terus di Halo-Halo Bandung bersama saya Norman, hanya di Radio Gelora, delapan puluh delapan MW Bandung!”

 

Halo-Halo Bandung gaya lama beriringan orkestra dilayangkan, dan merekahkan dua senyum di tempat yang berbeda, keduanya ditambahi semburat semarak yang tak dapat dijelaskan.  Malu sekaligus merasa luar biasa!