Gelombang Itu, Gelombang Gelora 18

Kalau biasanya orang merayakan April Mop sehingga mereka antusias menyambut bulan April, bagi anak-anak kelas dua belas di tahun dua ribu sepuluh, April ini seperti mencekam. Kenapa? Karena sejak pekan terakhir Maret, Ujian Nasional dan Ujian Sekolah serta Ujian Praktek akan berderet-deret datang menyusup ke jadwal kehidupan.

Di hari-hari terakhir menjelang UN, anak-anak yang ikut bimbingan belajar makin heboh dengan buku-buku tebal mereka, sedangkan yang tidak bertambah pusing dengan kumpulan soal dari sekolah yang terasa tak cukup untuk memantapkan rasa percaya diri.

Berhubung otaknya sudah penuh urusan ujian, Prinka bahkan kadang lupa mendengarkan Radio Gelora di siang dan sore hari. Kalau Halo-Halo Bandung, dia rutin menyimaknya. Suara Kak Norman tidak boleh terlewatkan—walau kadang mereka teleponan sekalipun.

Minggu malam, beberapa jam sebelum UN berlangsung, Prinka agak sulit tidur. Dia sudah mandeg di kasur sejak jam delapan kurang sepuluh, tetapi lantaran gelisah, dia tak kunjung terlelap. Radio dinyalakan tidak terlalu lantang, namun tak membantunya mengantuk sekalipun.

Alhasil, ketika Halo-Halo Bandung mengudara, Prinka terduduk lagi.

“Selamat malam, pendengar setia Gelora yang dijamin good-looking semua, ihiw! Hari yang panjang ya. Sebelum saya masuk ke segmen berita-berita, gimana kalau saya kasih satu lagu istimewa buat menemani malam Senin kita semua? Kebetulan ini Kang Usep sudah request bahkan sebelum siarannya mulai. Canggih, euy.”

Tak lama kemudian, sebuah lagu pop tujuh-puluhan berdendang. Karena nuansa lagunya mellow, Prinka makin gundah. Dia tidak lagi menahannya dan mengangkat ponsel.

Hanya dengan jeda sedetik, orang yang ia hubungi sudah menyahut, “AKU NGGAK BISA TIDUR.”

“SAMA, JOAN.”

“GIMANA DONG?”

“NGGAK TAHU!” teriakan Prinka membahana. “Aku malah dengerin radio…”

“Oh, da kamu mah punya Akang Norman, ya, Nyoy,” goda Joan.

“Kamu udah belajar?”

“Sampe eneg. Kamu?”

“Sampe bukunya ketelen.”

“Kita harus ngapain sih sekarang? Tidur? Susah. Belajar lagi? Tak kuasa!”

“Mungkin berdoa…”

“Atau, ah, Nyoy, aku tahu. Masak Indomie kuah pake telor dan sawi!”

Air liur Prinka menitik. Benar juga. Itulah sumber masalahnya. Dia kelaparan—ah, sebetulnya tidak, cuma, untuk menggerus kecemasan, perlulah mengunyah-ngunyah sesuatu yang lezat. Dan Indomie adalah jawaban yang tepat!

“Kamu pinter, Joan. Yuk, Indomie dulu.”

“Yuk, yuk! Udah dulu ya. Selamat makan…”

Prinka bergegas menggelinding ke bawah. Ruangan-ruangan sudah gelap—tandanya, Bunda dan Ayah pun terlelap. Gading apalagi.   Dia sih kebo.

Melesat Prinka ke dapur. Dan dia membuka lemari dapur. Dia yakin di situ berbaris rapi kantung-kantung mi instan berbagai varian. Ketika terkuak…jreng, tidak ada satu bungkus pun Indomie. Hanya sekotak biskuit kalengan merek Monde. Biru tua dan bergambar prajurit Inggris khas.

Prinka melotot. Tanpa sengaja hatinya berpuisi, Wahai Indomie, mengapa saat ku butuh kamu, raiblah engkau?

Iklan
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s