Gelombang Itu, Gelombang Gelora 17

Langit menguning. Tandanya sudah agak sore tetapi belum sore-sore amat.

Mereka sudah kembali ke stasiun awal. Rumah Prinka. Ketika tiba di depan pagar, Gading nyaris menerjang dengan sepedanya. “Eh! Kakak-Kakak! Bawa oleh-oleh, kan? Mari, silakan masuk,” sapanya tidak wajar.

“Makasih, Gading,” Norman membalas kalem.   Padahal Prinka sudah pingin menjitak adiknya itu. “Oleh-olehnya, ini aja,” tangan Norman terulur. “Salaman yuk.”

Gading tertawa senang, “Si kakak bisa aja! Haha!”

“Haha,” Prinka memarodikan tawa Gading yang cablak. Lalu dia mengajak Kak Norman masuk. Norman duduk manis di ruang tamu sedangkan Prinka ke kamarnya. Lho? Ditinggal? Nggak, lah! Sesuai perjanjian, Prinka akan mengambil materi pelajaran untuk try out-nya besok dan belajar bersama Kak Norman. Siapa tahu membantu.

Mereka sudah mampir ke UNPAD. Tapi ternyata Tata Usahanya tutup berhubung ini Sabtu! Ugh, perjalanan yang cukup panjang menjadi sia-sia. Mereka lantas makan siang di sebuah kafe kecil di Jalan Progo, dan membuat kesepakatan tentang bimbingan belajar dadakan ini. Berkat senyum dan keluwesan Norman berkomunikasi, Prinka pun terhasut.

Sempat-sempatnya Prinka bercermin dulu sebelum turun lagi. Siapa tahu wajahnya berubah jadi Kamen Rider, kan mana tahu. Tapi rupanya tidak. Berbekal setumpuk kertas soal Matematika, dia berderap ke bawah.

Tahunya, di ruang tamu, Norman sudah ditemani oleh Bunda. Suara cekakakannya membahana di sekujur rumah. Prinka baru ngeh, sifat Bunda dan Kak Norman memang agak mirip—santai, suka ketawa, cengengesan.

“Eh, Prin, Bunda ajak ngobrol Kak Normannya nggak apa-apa, ya.”

“Iya, iya, nggak masalah, Bun,” Prinka menyeringai.

Hari ini terasa panjang. Tetapi mengasyikkan. Dan tentu saja romantis dalam artian tidak sebenarnya. Prinka sukses menyelesaikan dua bundel soal-soal latihan Matematika diiringi suara merdu Kak Norman yang terus saja berkelakar bikin ngakak walau kadang sungguh-sungguh mencerahkan.

“Kak, ini metode belajar baru, ya? Nggak dikasih contekan rumus, nggak diajarin satu persatu, tapi ngerjainnya lancar. Soalnya dibikin ketawa dan happy terus,” ungkap Prinka jujur karena terkesima melihat seluruh lembaran penuh isian. Biasanya pasti kosong-kosong putus asa.

“Hah? Nggak, kebetulan, saya agak lupa-lupa rumus Matematikanya juga, sih,” kata Norman tak kalah terus terang.

Alhasil mereka cuma tertawa bersama. Menerima kekonyolan masing-masing.

Ketika langit berubah jingga, barulah Norman pamit pulang.

“Makasih buat sepanjang hari ini, Kak.”

“Nanti saya telepon deh, biar tetep sesuai naskah.”

“Halah, naskah?” Prinka terkikik. “Oke, jam berapa, Kak?”

“Sebelum Halo-Halo Bandung,” kata Norman sok pede. Lalu mereka saling melambaikan tangan dengan lucunya. Hingga Bunda sama Gading kompak berbalas cekikik di balik jendela. Dih, kok mereka ngintip, sih?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s