Gelombang Itu, Gelombang Gelora 16

Aroma ruangan ini sangat kuno. Tapi tak sejentik pun debu tampak mengganggu pemandangan. Warna-warna furnitur coklat gelap. Namun tidak membuat suasana suram.

“Lain kali jangan hilang tanpa jejak gitu, dong! Bikin pusing satu stasiun. Ck, ck. Kamu harus sadar, pekerja di sini udah pada uzur. Rentan jantungan dan panik!” seorang wanita tengah baya mengomel dengan muka senang (aneh ih!). Sasarannya tentu Norman, yang sekedar cengengesan.

“Iya, maaf ya, Mbak Ria. Kemarin urgent.”

“Sekarang mending kamu siap-siap sana. Lima menit lagi on air! Bye!”

Norman melirik Prinka, menyunggingkan senyum ekstra lebar khasnya. Dia lalu beranjak ke kanan, mengarah pada ruang siaran. Mbak Ria tadi rupanya ibu produser berumur enam puluhan, dan dia tampak sibuk, gradak-gruduk, tetapi ramah. Logat Yogyakartanya sangat kental, tapi, kalau mau diadu Bahasa Sunda, juga fasih!

“Sabar nunggunya ya, Dek. Kalau kamu haus, itu ada air sama gelas, tinggal ambil saja.”

“Ya Bu, makasih.”

Tahu-tahu ruangan pun sepi sempurna. Prinka menjejaki satu persatu hal menarik di sana. Jam dinding berbandul emas dengan hiasan dua rusa di puncaknya. Meja bertaplak kusam. Tudung saji rotan di atasnya. Rak-rak berisi buku, kaset, dan aneka pajangan ada di berbagai sisi.

Dia beralih ke luar. Kebunnya penuh rumput liar sekaligus bunga-bunga cantik. Kupu-kupu asyik bermain menikmati siang.

Oh! Harusnya ia menelepon Joan!

“Halo?” sobatnya mengangkat—suaranya parau, dijamin baru bangun. “Kenapa, Nyoy?”

“Tebak aku lagi di mana.”

“Di mana? Rumah? Planet Mars?”

“Salah, salah.”

Joan terdiam, berdeham, bahkan terdengar menguap. “Nyawaku belum ngumpul, nih. Tolong kasih petunjuk.”

“Hmm, petunjuknya…kita pernah ke sini bareng.”

“BIP? Sekolah?”

“Bukan, bukan!”

Makin gemaslah Joan. “Duh. Nggak tau, Nyoy. Taman Hutan Raya Juanda, meureun?”

“Kok kamu bisa mikir sampe sana, Joan? Dasar ngantuk. Aku di Radio Gelora.”

Sekonyong-konyong Joan memekik histeris. “Nggak ngajak-ngajak!”

“Kalau ngajak kamu nggak romantis jadinya,” ujar Prinka jahil.

“WOW!” Joan menggila. “Kamu lagi kencan ya sama si Kak Norman?”

Perasaan kocak mendera di hati Prinka. Kencan. Di satu sisi nggak nyata, tapi toh dia benar-benar sedang di situ, untuk sebuah acara berdua dengan Kak Norman.   Bukannya menanggapi komentar Joan, dia malah cengengesan sendiri. Ada perasaan membuncah yang sulit dikendalikan.

“Nyoy. Kok diem?”

“Eh, sori, sori. Terlalu bahagia nih.”

“Cieee, so sweet bener nih anak satu! Turut berbahagia ya! Selamat menempuh hidup baru, Nyoy! Semoga langgeng selalu.”

“Ini baru kencan, Joan. Jangan ke mana-mana dulu mikirnya.”

“Ah, bentar lagi juga jadian. Barangkali terus dilamar. Hihihi! Udah. Konsentrasi sama Kak Norman sana. Nanti orangnya ngerasa dicuekkin, lho.”

“Kak Normannya lagi siaran, Joan. Aku menanti di sini, sendiri, sepi.”

“Oh, gitu. Nggak diajak ke dalem ruang siaran? Ya udah. Kronologinya gimana, Nyoy? Kamu diajak pergi tiba-tiba, gitu?”

Setelah berdeham kece, Prinka menutur panjang soal janji telepon Kak Norman hingga munculnya sesosok vespa misterius di depan pintu rumah. Iya, lengkap bergaya reporter dia bercerita. Cuma minus lagu latar doang.

“Idiiiih!” Joan kesenengan. “Keren abis! Udahlah! Kamu bakal ditembak. Dor. Nggak berkutik. Selesai. Masa depan cerah.”

“Terima kasih doanya, Joan, tapi kok feeling aku nggak sampe segitunya ya?”

“Kamu mah terlalu datar, ah. Pikirin yang heboh-heboh dong sesekali.”

Pas asyik cuap-cuap, muncul pula seorang bapak berkumis yang seingat Prinka, adalah direktur radio—yang bantu bikin pesta kejutan buat Kak Norman dulu. Beliau menyeringai ramah, mengingatkan Prinka pada Kolonel Sanders yang doyan ngebumbu-tepungi daging ayam itu…

“Siang, Pak,” dia menyapa, setelah menghentikan perteleponan dengan Joan. Padahal, Joan terdengar ingin mengumumkan sesuatu ketika disela.

“Siang, Nak. Sedang apa? Menunggu Norman?”

Prinka tersipu, “Iya, Pak.”

Bapak Pimpinan mengambil tempat di sofa seberang lokasi duduk Prinka. “Kamu suka dengerin radio Gelora ya, Nak? Kok unik sih? Sebelum Norman tiba-tiba ngedaftarin diri, saya udah rencana nutup radio ini. Tapi, iseng-iseng berhadiah, saya bikin iklan lowongan kerja di koran. Eh, rupanya bersambut.”

“Berarti, Kak Norman seperti pembawa keberuntungan buat radio ini ya, Pak?”

“Betul, betul. Saya sampai terharu. Saya jadi ingin mengembangkan radio Gelora lagi. Tapi, untuk sekarang, mungkin harus pindah saluran ke FM, ya? Menurut Nak Prinka, bagaimana?”

“Pindah saluran? Entar saya nggak bisa dengerin, Pak. Radio rumah saya cuma bisa nangkep channel AM. Lagipula, memangnya radio bisa pindah-pindah jalur gitu, Pak?”

Bapak Pimpinan mengetuk-ngetuk pegangan kursi. “Seharusnya bisa, walau prosedurnya rumit. Perlu pasang tiang pemancar baru, bangunan juga perlu renovasi nampaknya.” Beliau memandang berkeliling. “Dan siarannya harus diperbarui…”

“Tapi, radio Gelora justru unik karena vintage, Pak,” ungkap Prinka jujur. “Kalau diubah konsepnya…”

Mendadak ia terdiam karena mendapat ide. “…kenapa nggak sekalian dibuat radio yang mengusung masa lalu? Semacem band Naif atau White Shoes and The Couples Company, kan justru berkibar karena bergaya jadul, Pak?”

Mata Bapak Pimpinan berkelap-kelip tanda antusias, walau kurang paham siapa itu Naif dan satu lagi. “Kenapa kamu cerdas ya, Nak? Saya yakin kamu akan jadi orang sukses. Lucu juga kalau bisa melestarikan budaya retro.”

“Bapak bisa sampaikan ide ini ke Kak Norman.”

“Lebih baik kita diskusi bersama, sebentar. Ada pemilik, penyiar, dan pendengar! Komplit semuanya, Nak. Nah, sembari menunggu Norman, saya buat teh dulu untuk kita semua ya. Suka teh manis?”

Prinka bengong. Dia tidak menyangka urusannya dengan Gelora kian serius. Soal hati, soal nasib radio sendiri. Lucu!

Kencan mereka agak tertunda. Tetapi, rapat singkat dua puluh menit bersama Bapak Pimpinan setelah Norman beres siaran, rupanya mencerahkan. Keluar dari kantor Gelora, Norman senyam-senyum banyak ide.

Waktu keluar dari Jalan Kedondong, mereka terus saja diskusi tentang masa depan Gelora. Sampai-sampai, sesaat mereka lupa rencana jalan, dan setibanya di penghujung Kedondong, baik Norman maupun Prinka sama-sama bengong.

“Oh, iya, kita mau ke mana, Kak?”

“Ehm,” Norman berdeham, mengerjap supaya otaknya balik ke realita. “UNPAD, kan? Kamu laper, nggak? Mau makan es krim?”

Kebetulan melintas penjaja es krim lengkap dengan alunan jingle khasnya. Karena itulah Norman berusul. Prinka setuju. Alhasil, mereka mandeg di akhir Jalan Kedondong, menikmati makanan manis itu.

Sehabisnya sang kudapan, mereka berdua sama-sama terbengong-bengong pula. Di tengah kekikukan, telepon genggam Prinka berdering. Dia mengernyit melihat nama di layar. Joan lagi? Belum puas, apa?

“Apa?” tanya Prinka cuek.

Dengan suara lantang bak rangkaian rantang berjatuhan ke ubin, Joan berteriak, “Jangan lupa besok try out UN, Nyoy! Gimana sih? Malah lupa? Minta ajarin Kak Norman sana!”

“Ha?” pipi Prinka terasa merah. Satu, karena dia memang melupakan hari esok secara total, dua, lantaran dia sadar bahwa suara ponselnya ini bocor. Jadi omongan Joan pasti kedengaran oleh, ugh, Kak Norman!

Dan di situlah Prinka melirik takut-takut ke sebelahnya, dan mendapati Kak Norman sedang pura-pura batuk tapi tersipu-sipu. Grr! Dasar Joan mulut ember! Cepat-cepat Prinka berdesis, “Ssst, ah. Kamu udah belajar belum? Aku mah jelas tidak berminat.”

“Tapi besok Matematika lho, Nyoy.”

“Biarin, yang penting bisa ngitung uang kembalian tukang bakmi.”

Joan ngakak besar-besaran. “Terserah kamu deh! Belajar bareng aja sama Kakak Tersayang-mu itu, Nyoy.”

Muka Prinka tambah panas saja. Diamatinya Kak Norman mondar-mandir menunduk sembari bersenandung. Duh, moga-moga dia tak menyimak celetukan-celetukan Joan yang membombardir!

Diiringi tawa salah tingkah, Prinka mengucapkan salam penutup untuk Joan. Dan akhirnya mereka berhenti bercakap. Saat Norman mendongak, Prinka langsung berucap, “Kak, maaf, itu temen aku…”

“Besok kamu ada try out?”

“Eh?”

“Iya, besok ada try out?” ulang Norman lembut. “Kamu harus belajar?”

Prinka mengangguk tabah. “Tapi, nggak mesti buru-buru, kok. Belajarnya entar malem juga bisa.”

Norman terkekeh, “Katanya belajar sebelum tidur itu paling efektif, karena pas bobo, otak kita menyerap memori dengan baik.”

“Nah, kan,” Prinka menjentikkan jari.

“Nah,” Norman membeo. “Sayangnya, kita berhadapan dengan materi kelas sepuluh sampai dua belas sekaligus. Jadi, kamu harus agak berusaha lebih.”

“Jangan, Kak, kita ke UNPAD dulu, nanti sorean baru waktunya belajar.”

Norman menghela nafas, “Saya merasa bertanggung jawab sama pelajar generasi penerus bangsa, ah, Prinka. Apalagi asuhan kurikulum sekarang. Oke, kita bisa ke Dipatiukur, setelat-telatnya sampe jam dua, habis gitu, saya anter pulang. Kalau perlu saya jagain kamu biar belajar, nggak mangkir!”

Mendengar itu, hati Prinka melambung sekaligus menciut. Oke, kencan mereka memang selalu aneh—dari nonton musik tradisional, cari-carian di BIP, sampai yang melibatkan pelajaran sekolah! Terserahlah.

“Sepakat, Kak.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s