Gelombang Itu, Gelombang Gelora 15

Trek, trek, trek.

“Ada orang?” Gading merengut, bicara pada ayahnya. Mereka sedang membaca katalog distro tempat Ayah menitipkan produk sepatunya. Sontak keduanya menoleh ke arah luar tanpa menggerakkan kaki.

“Temennya Bunda apa? Gawat. Bunda belum bangun,” gerutu Ayah.

Euleuh, gimana ya, Yah?”

“Mending kamu intip dulu, gih. Siapa yang bertamu pagi-pagi gini!”

Saat itu pukul sepuluh lebih dua. Gading berjalan malas-malasan ke pintu depan. Eh, tahu-tahu, sudah ada sesosok makhluk halus yang melesat ngebut merebut pegangan pintu. Setelah Gading mengucek-ngucek matanya, dia baru ngeh bahwa itu bukan makhluk halus tapi remaja SMA bersuara sayup-sayup alias kakaknya sendiri.

“Mbak Prinka ngagetin aja.”

“Aku juga kaget, Ding,” jawab sang kakak tergesa-gesa. Gading makin serius nyureng. Kenapa kok tumben, kakaknya bersukarela menyambut tamu? Matanya pun mengikuti ketika pintu berayun dan memperlihatkan keberadaan sebuah motor klasik yang kalau tidak salah namanya vespa.   Lalu ada pemuda tegap bersweter kuning dan helm.

“Ya ampun itu…!” Gading tiba-tiba mendapat pencerahan.

“Ssst!” Prinka ngomel. “Nggak usah norak!”

Keduanya bercekcok kecil di ambang pintu hingga si tamu spesial malah terbengkalai. Prinka, sambil cengengesan, maju ke depan meninggalkan Gading.

Norman Bervespa

Di situlah Norman, berdiri dengan muka rada-rada kusut tapi senyum tetap seratus persen. Seratus persen bikin Prinka mau pingsan. “Kalian lucu amat,” dia malah komentar soal kakak adik akur-tak-akur di depannya.

“Kak Norman kenapa ada di sini?” belum juga Prinka bersuara saking kaget, Gading telah menyambar. “Mau ngapel ya?”

Prinka memejamkan mata. Malunya ampun-ampunan.

“Ehm, Prinka, saya ganggu nggak, jam segini seenaknya bertandang?”

“Ng…”

Sehampar suara ngebas lagi-lagi menimpa niat baik Prinka memberi ucapan wilujeng sumping yang elegan. “Sama sekali nggak, Nak! Ayo masuk dulu!”

Tanpa tertahan lagi, Norman benar-benar terbahak-bahak. Sumpah. Prinka ini kayak salah spesies. Keluarganya kok cablak semua gini ya?

Karena bingung, Prinka pun turut tergelak. Sembari membukakan pagar dan membiarkan Norman menaruh vespanya di dekat pot bunga, dia terus berupaya menghentikan tawa, tapi gagal melulu. Apalagi, Norman juga masih cekikikan.

“Kamu lagi ngapain?” tanya Norman agak gemetaran. “Bahagia gini ya, pagi-pagi udah dibikin ngakak.”

“Apa yang diketawain sih, Kak?”

“Ayah kamu sama Gading lucu.”

“Hah? Lucu? Berisik yang ada…”

Ayah dan Gading menclok di undakan. “Maafin Prinka, ya, dia agak sinis,” kata Ayah. “Nak Norman mau minum apa? Teh atau kopi?”

“Jangan repot, Om…”

“Ya udah, kalau nggak mau saya repot, buat sendiri ya di dapur. Jangan sungkan.”

Norman menggaruk-garuk kepalanya. Bukannya mengintervensi dapur orang asing malah lebih ribet ya? Sungguh kocak keluarga ini. Norman menebak-nebak, sosok ibu Prinka seperti apa pula.

Mereka semua merangsek masuk kemudian, atas ajakan Ayah. Norman dibiarkan duduk di ruang tamu, dan Gading menahan Prinka supaya nggak nurut mereka ke dalam. “Sana ngobrol berdua aja!”

“Hush, kamu nggak sopan!” omel Ayah.

“Oh, iya Yah. Kalau gitu, koreksi: silakan kakak-kakak berdiskusi secara privat di sini. Kita buatin minuman dulu.”

“Jangan pake cabe ya minumannya,” gurau Norman.

“Paling cengek doang, Nak,” balas Ayah.

Prinka menunduk malu. Luar biasa sekali sambutan kedua laki-laki di rumahnya ini. Dia tidak tahu harus bilang apa pada Kak Norman. Untungnya, Norman justru menikmati kehangatan lucu itu. Dan tanpa banyak basa-basi, dia langsung melantunkan permohonan maaf.

“Maafin, kemarin sebetulnya betul-betul mau telepon. Tapi, mendadak harus ke Bogor…”

“Bogor?”

“Iya, tiba-tiba.”

“Terus ini Kakak dari Bogor?”

“Oh, iya, dari Bogor nih. Sekalian bawa vespa…”

“Dan langsung ke sini?”

Norman mengangguk serius. Menyebabkan Prinka melongo. Dari Bogor ke Cigadung? Berapa jam? Naik vespa? Sendirian? Demi menemui dirinya?

“Prinka? Kenapa kamu cengo? Terlalu aneh ya cerita saya?”

“B…bukan gitu, Kak, eh, entahlah,” Prinka salah tingkah. “Nggak capek naik motor sejauh itu?”

“Ah, nggak sama sekali. Yang capek mesin motornya, bukan saya.”

Prinka berdeham untuk menetralkan suasana. “Memang ada apa, Kak? Kok ujug-ujug mesti ke Bogor?”

Dengan sabar bercampur keki Norman menuturkan dongeng Opa yang pingsan cuma gara-gara artikel yang memuat wajah si cucu. Muka Prinka berubah-ubah dari terbelalak, datar, hingga akhirnya tak kuat menutupi tawa.

Di tengah sesi, Gading nongol lagi membawakan dua gelas teh manis dingin serta dua toples kue kering. Dia sempat menghunjamkan pandangan ngeledek pada kakaknya sebelum ngacir.

“Jadi, maaf, ya, saya batal nelepon,” sesudah berdua kembali, Norman lanjut. “Karena merasa bersalah, saya samperin kamu deh.”

“Nggak apa-apalah, Kak,” Prinka menelan bulat-bulat kekesalan yang sempat menghampirinya semalam—karena berpikir bahwa Norman ingkar janji. Atau barangkali ketiduran, lupa, dan sebagainya. Dia sampai kehilangan dua jam waktu tidur lantaran menerka-nerka seribu satu skenario soal tak datangnya telepon itu.

Kemudian masih jelas syoknya waktu melihat Kak Norman dari jendela kamarnya.

“Gimana? Beneran mau masuk Sastra Sunda?”

“Iya, pingin, Kak. Pasti dikit peminatnya, ya?”

“Mending datengin kampusnya langsung,” kata Norman bijak. “Supaya bisa tanya-tanya rinciannya.”

“Gitu ya, Kak?”

“Dapet jawaban langsung kan lebih enak.”

Melihat Prinka sedikit manyun—mungkin grogi membayangkan dirinya ke UNPAD sendirian dan celingukan bego—Norman spontan menawarkan, “Saya anterin deh ke sana. Mau?”

Prinka mendongak tak percaya. “Sekarang?”

“Sekarang?” Norman malah balik nanya.

“Oh, Kakak mesti siaran ya?” Prinka melihat jam. Dua jam lagi siaran degung Sunda siang.

Norman mengerjap. Bagaimana pun, ini Sabtu. Lucu pasti kalau bisa jalan-jalan bersama Prinka dengan vespa kesayangan. Macam malam Mingguan bernuansa delapan puluhan.

“Apa kamu mau…mampir Jalan Kedondong dulu?”

“Lalu nunggu Kakak siaran, habis gitu ke UNPAD?” Prinka spontan menyahut.

“Tapi satu jam setengah kira-kira siarannya. Kamu bakal bosen nggak?”

Prinka menggeleng. Dia tidak keberatan selama Kak Norman yang membiarkannya menanti. “Aku bawa novel. Selama nunggu aku bisa baca.”

Mereka saling tatap cukup lama dan akhirnya sepakat. Prinka beranjak ke dalam untuk bersiap-siap, tapi dia malah tertarik oleh keramaian yang terdengar dari dapur. Dia melongok curiga.

“Nah ini orangnya!”

“Bunda udah bangun?”

Dengan mata berbinar-binar Bunda menarik Prinka masuk dapur. “Mana cowok kamu, Ka?”

“Cowok aku?” Prinka mencicit. “Belum jadi cowok aku, Bun. Jalan bareng aja baru berapa kali…”

“Siapa namanya? Penyiar radio ya kata Ayah? Sini, Bunda mau kenalan!”

“Bunda yakin mau kenalan sekarang?”

Bunda berjengit. “Iya. Memang kenapa Bunda harus ragu-ragu?”

“Bunda masih pake piyama…”

Seluruh isi dapur, alias satu keluarga itu doang, terbahak-bahak sampai bergaung. Bunda mesem-mesem. Di depan sana, Norman menyimak sayup-sayup keributan tersebut. Dan dia cuma bisa tersipu-sipu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s