Gelombang Itu, Gelombang Gelora 14

Cikampek begitu gelap gulita. Norman pasrah mendapati hapenya kehabisan baterai, dan hanya berbekal minum serta dompet. Dia menuju Bogor dengan gelisah.

Tepat jelang selesai siaran Halo-Halo Bandung barusan, ayahnya menelepon, mengatakan bahwa kakeknya pingsan mendadak, di rumah. Dia langsung datang ke pangkalan travel terdekat dan berangkat.

Beberapa jam perjalanan sudah ditempuh dan dia membuka mata pelan-pelan, menyadari aroma kampung halamannya telah mengusik indera. Dalam gelap gulita, ia keluar dari mobil yang tepat mengantarnya ke depan rumah keluarga.

Tampak lampu masih menyala. Dia memperkirakan pasti seisi rumah masih bangun.

Norman merangsek masuk tanpa permisi. “Papa, Mama! Mana Opa?”

Tiada jawaban. “Pa? Opa?”

Sepi. Jantung Norman berdegup-degup cemas. Dia mulai membuka semua pintu kamar, dapur, dan segalanya. Ke mana semua orang? Apa mereka melarikan Opa ke klinik?

Ah, klinik! Norman memastikan rumah kosong melompong, dan mencari cara untuk ngacir ke tempat praktek dokter langganan Opa, yang lebih akrab dipanggil Klinik Dokter Leo. Nama dokter sahabat Opa, ya, Leo.

Lokasinya sekitar lima belas menit jalan kaki dari rumah Norman. Tetapi beruntung, Norman melihat vespa kesayangannya masih tersimpan rapi di garasi. Kendaraan retro warna kuning itu pun diambil dan dinyalakan.

Wus! Vespa melesat.

Angin malam menerpa hidungnya hingga terasa beku. Dia tiba di depan klinik Dokter Leo—tampak jip tua keluarganya. Ah. Sekarang sudah jelas Opa bertandang kemari. Norman cepat melesat masuk.

Tembok-tembok putih yang digantungi sejumlah poster sugesti kesehatan menyambutnya. Kalau kata orang Sunda, suasana klinik itu keueung (baca: ke-eng), kosong dan hampa. Tak lupa dilengkapi rasa takut yang menjalar, dan bayang-bayang soal jarum suntik dan perawatan rumit. Norman merinding sendiri seraya memasuki ruang praktek.

“Hei, Norman!”

Ia berjengit tak keruan dan mengumpat dalam bahasa Sunda. Dilihatnya sosok ayah, mukanya memberengut—tiada jejak kesedihan di sana sewajar kalau orang-orang mendapati lansia semaput. Malah, wajahnya lebih menampakkan kekesalan.

“Papa? Opa kenapa?”

“Opamu itu kelakuannya…duh, bikin keuheul[1]!” beliau mengetuk-ngetuk meja lobi.

“Hah? Kunaon si Opa téh, Pa?”

Papa Norman memberi isyarat untuk masuk ke ruang rawat. Orang pertama yang dilihat Norman adalah Dokter Leo, berjanggut putih, panjang, seperti guru-guru silat. Parasnya berseri-seri—seakan baru beres ketawa.

Lah, ini kenapa orang-orang ekspresinya nggak keruan, sih? gerutu Norman dalam hati.

“Eh, Norman, apa kabar? Nih, Opa kamu baru sadar.”

Barulah Norman menyaksikan Opa duduk di atas ranjang putih, cengar-cengir sendiri. Di dekatnya ada Mama Norman, mimiknya menyerupai sang suami—jengkel. “Norman! Tanggung jawab sama Opa kamu!”

“Ap…apa…kenapa memangnya, Ma?”

“Normaaan!” Opa memekik parau. “Kamu masuk majalah Manglé ya!”

Lutut Norman lemas. Benar, sebulan lalu sempat ada tim redaksi majalah Sunda tersebut datang ke Radio Gelora—sebagai salah satu stasiun yang masih rutin menyiarkan benih kebudayaan Sunda dan selalu mendukung acara-acara lokal. Dan, kebetulan, Norman sedang siaran siang dan dia diwawancara. Sebagai apa? Sebagai penyiar termuda di radio terkuno, plus dia memimpin acara paling klasik pula!

Oh, dan dia difoto—memamerkan cengirannya yang lebar memukau.

“Dan Opa pingsan karena kamu nggak ngasihtau dulu, eh, tiba-tiba ngirim majalah dari Bandung! Jangan lupa dong, Opa sudah tua, rentan dengan kejutan!” semprot Mama. “Mama sih bangga. Papa juga. Tapi Opa bangganya keblinger.”

Walau kasihan, Norman tak kuasa menahan tawanya. Dia pun duduk di sebelah Opa dan merangkul tetua tersayangnya yang spontan dan kacau itu. Opa menepuk-nepuk lutut cucunya. “Padahal kamu pas awal-awal di radio, suka curhat sedih sama Opa, ngadu kalau radionya lawas banget, kamu nggak kuat sama bau mic-nya, teu boga babaturan deui. Duh, di jero haté Opa téh karunya, tapi da kudu kitu lamun rek sukses. Tah, ayeuna pan aya buktinya.” [2]

“Nanti Opa kliping bagian majalah yang ada Norman-nya ya,” sahut si cucu, sumringah sendiri. Mereka berpelukan. Dokter Leo juga ikutan—kurang kasih sayang soalnya.

Malam makin larut. Sebentar lagi pagi. Norman terjaga, dan dia menyeruput teh hangat sambil berkeliling di rumahnya sendiri. Sebaran pigura-pigura foto mengajaknya bernostalgia. Dia melihat dirinya di masa kecil, Opa yang awet muda, Papa, Mama, handai taulan, hingga beberapa teman masa bocahnya.

Dia ingat betapa cerewetnya dia sejak kecil. Dia juga ingat masa-masa pertama belajar menyetir vespa (nggak nyambung sama topik sebelumnya, hihi)—di mana dia malah kecebur selokan dan Opa malah ngakak sambil memotretnya.

“Anakku Sayang,” selaksa suara mengusik. “Nggak tidur?”

“Mama, kok bangun?” Norman terkejut.

“Udah nggak bisa pules,” jawab Mama Norman sembari tersenyum lembut. “Eh, kamu nggak mau bawa vespa kamu ke Bandung? Biar lebih gampang pergi-pergi…”

“Ah, aku ke mana-mana juga sendiri,” sejenak dia tersentak. Sendirian? Sekarang sih iya. Kalau kemalaman, angkot masih bisa dicari. Tapi kok rasanya ada yang mengganjal ya?

“Di sini malah harus setrum aki melulu, tuh. Kasihan si vespa.”

Mungkin, vespa bisa digunakan untuk antar jemput seseorang yang istimewa. Karena menemani naik angkot sungguh tak ada poinnya. Ah, namun Bandung sudah penuh oleh kendaraan bermotor!

“Ma, menurut Mama, apa satu buah vespa akan menambah kemacetan kota?”

Mama Norman mendengus. “Pertanyaan macam apa itu? Ya jelas menambah! Tapi, kalau kamu nyetirnya tertib, nggak sih. Masalahnya kan motor jalannya sembarangan.”

Sang anak mengangguk-angguk sepakat. “Nanti, aku pikirin dulu, Ma.”

“Kalau soal ongkos bensin, yaaa…kamu tanggung sendiri deh. Atur-atur.”

“Seenggaknya, vespa bisa ditebengin…”

Mata Mama Norman menyipit jahil. “Ah, ada yang mulai buka jasa antar-jemput bonus peluk dari belakang nih.”

Pipi Norman terasa panas. Omongan ibunya terlalu gamblang sampai-sampai dia malu sendiri. “Mama mah ngelantur ah! Udah, tidur lagi, Ma.”

“Kamu sana yang tidur! Besok kerja, nggak?”

Norman menepuk keningnya. Gila! Dia belum mengabari Radio Gelora dan…ya ampun, dia kan berjanji mau telepon Prinka…

Kepalanya terasa pening. Sepertinya di Bandung banyak yang menanti.

Dia harus cepat-cepat memesan jatah travel!

Begitu mentari mekar secara resmi, Norman menelepon agen-agen travel terdekat. Dan seakan membencinya, semuanya ter-booking penuh. Tak ada tempat untuk Norman.

“Kamu pulang besok aja,” saran Papa.

“Nggak keburu, Pa, aku harus siaran jam…buset, jam dua belas.”

“Enam jam lagi?”

“Batere handphone habis, nggak bisa kasih kabar lewat telepon.”

“Lho, handphone kamu apa? Charger mah pinjem Papa aja!”

Norman mengerjap. Benar. Dia tidak memikirkan hal itu. “Tapi, tunggu, Pa. Emangnya mereknya cocok?”

“Ini hape Papa. Hape kamu apa?” Papa menunjukkan telepon selulernya.

Kupret. Nggak cocok, beda zaman, dan sudah jelas beda charger.

“Percuma, Pa. Gimana pun, aku harus balik Bandung.”

Tiba-tiba Opa keluar dari kamarnya dan seakan sudah mengerti isi pembicaraan sebelum menyimak apapun, beliau berteriak, “Incu! Ke Bandung naik vespa masa nggak kuat, sih?”

Meski semua orang melongo bersama, tapi seluruh umat sepakat—ide Opa cemerlang.

1 kesal

[2] Di lubuk hati, Opa kasihan, tapi harus gitu kalau mau sukses. Nah, sekarang kan ada buktinya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s