Gelombang Itu, Gelombang Gelora 13

Seperti remaja pada umumnya, Prinka memang doyan main hape. Tapi hari ini, dia benar-benar keranjingan pada benda itu. Matanya selalu fokus ke sana. Tidak tahan ditinggal bengong, Joan mengguncang-guncang pundak Prinka di hari yang terik.

“Nyoy! Asyik amat sih! Pasti SMS-an sama Kak Norman, ya?”

Prinka gelagapan. Pipinya langsung merah jambu. Untung rambutnya nggak ikutan bermimikri. Dia senyam-senyum lucu.   Joan segera tahu isi pikiran sobatnya.

“Jadi udah maju selangkah nih? Udah deket? Bentar lagi jadian?”

“Hihihi,” Prinka malah cekikikan aneh dan kembali ke layar ponsel.

Sudah dua minggu terakhir, akhirnya Norman dan Prinka nggak cuma ngobrol dengan alibi acara radio Gelora. Norman yang memulai, karena dia pikir, seperti radio tua tersebut, hubungan juga perlu perkembangan.   Jadi, sembari memikirkan hal-hal apa yang bisa dia lakukan untuk memajukan radio Gelora, dia pun melangsungkan kehidupan cintanya. CInta? Ya, kalau nggak geli untuk disebut begitu, memang ini namanya jatuh cinta, kan?

“SMS-an apa, sih?” Joan makin kepo.

“Ini, ngomongin lagu keroncong.”

Joan termangu. “Bukan kamu-makan-apa gitu?”

“Oh, ya kadang-kadang doang, Joan.”

“Kadang-kadang?” ulang Joan histeris. “Kalian kok santai bener?”

“Lho, harusnya gimana?”

“Nyoy, yang namanya pedekate, SMS perhatian tuh harus setiap hari! Ya, latihan kalau jadian nanti, gitu. Tapi, aku tau kamu memang unik. Kak Norman calonmu juga nyentrik. Jadi kalian memang nggak akan nyambung sama kaidah-kaidah yang berlaku.”

“Gitu ya?” Prinka masih cengar-cengir. Joan tersenyum senang. Akhirnya, Prinka yang lempeung bakal punya kekasih! Kira-kira, apa traktirannya kalau dia jadian, ya? Eh, Joan berpikir kejauhan!

Mereka sedang leyeh-leyeh di kamar Prinka. Barusan mereka pulang pagi, karena hanya menjalani try out ujian nasional. Daripada buang waktu, mereka memutuskan belajar bareng…yang tentu saja ujung-ujungnya cuma ngerumpi.

Tepat pukul dua belas, Prinka menyalakan radionya. Tak salah lagi, langsung terdengar celetukan-celetukan Bahasa Sunda yang diiringi dentuman gamelan.

Kabogoh si Prinkaaa…,” Joan bersenandung norak. “…keur siaran make basa Sunda, yeuh! Pasti duanana geus bilang tadi di SMS: ‘aku siaran dulu ya’!”

“Lagu kamu ancur banget,” komentar Prinka sembari ngakak.

“Biarin, yang penting tulus, Nyoy.”

Prinka diam-diam terharu oleh kebesaran hati seorang Joan.   Mereka pun menyimak Kang Norman bercuap-cuap. Kesannya memang nggak nyambung dengan usia mereka. Tapi, peduli amat! Lestarikan budaya Sunda!

“Joan,” tiba-tiba Prinka berkata lantang. “Aku punya ide untuk masa depanku.”

“Hah? Apa?” Joan yang setengah tidur di atas bantal dengan buku pelajaran menjeblak terbuka di sebelah kepalanya, menyahut malas-malasan.

“Aku pingin kuliah…Sastra Sunda,” kata Prinka penuh keyakinan. Matanya berbinar-binar.

Joan menegakkan tubuhnya. Terlalu terkejut. “Sastra Sunda? Emangnya ada?”

 

“Selamat malam, para pendengar setia Radio Gelora! Kita berjumpa lagi dalam acara Halo-Halo Bandung, masih bersama saya, Norman Halomon yang makin ganteng aja—kata monyet di kebun binatang sana. Hihihi. Maaf, saya malah ngegaring. Yuk, sebelum kita dengar berita-berita paling hip sepanjang hari, saya putar dulu satu lagu dari Elton John, yaitu Can You Feel The Love Tonight! Biar nuansa tetap ceria meski mungkin sudah pada ngantuk, betul?”

Lagu berkumandang. Prinka menggerak-gerakkan kepalanya mengikuti irama. Di hadapannya lagi-lagi kumpulan soal percobaan Ujian Nasional. Sekolah mulai menggempur para murid dengan bahan ujian—di samping kepastian masa depan.

Diperdengarkan suara Norman, rasanya bagai ditemani membereskan PR.

“Nah, berita pertama yang datang hari ini, yaitu…”

Kuping Prinka otomatis dipertajam. Berbagai info masuk. Mulai dari macet di Dago, pencopet tertangkap di Pasar Baru, sampai peristiwa konyol seperti seorang anak tersandung kelereng dan jatuh hingga benjol. Kak Norman sungguh kacau kadang—memasukkan berita kecil tak berbobot! Tapi, Prinka tetap tertawa. Secara subyektif, tentu.

 

“Nah, sekarang, siapa yang punya berita, mangga atuh disampaikan ke saya, siapa tahu ada pendengar lain butuh cerita lain, jangan saya melulu. Ditunggu telepon dan SMS-nya, ya! Ke nol dua dua, tujuh satu tujuh satu…”

Prinka meraih HP. Cepat ia ketik pesan:

 

Hai Kak! XD Hahaha. Mau tanya-tanya ke orang seBandung, di mana ya ada kuliah Sastra Sunda? 😀

 

Tak lama berselang, Norman bercuap, “Nah, ini ada pertanyaan dari Neng Prinka yang emang bawel, dikit-dikit SMS ke Radio Gelora. Atau ke saya ya sebenernya? Hehehe. Apa ada di antara pendengar sekalian yang tahu kuliah Sastra Sunda di mana? UNPAD meureun, nya? Atau di tempat lain? Tolong bantuannya ya, pendengar sekalian nu kasep, nu bagja.”

Sambil bilang begitu, Norman membalas pesan Prinka secara pribadi:

 

Akhirnya kamu nemu tujuan hidup, ya? :p Beres siaran saya telepon kamu ya. Boleh?

 

Prinka mau meledak rasanya. Tentu saja boleh!

Dia langsung menghabiskan soal-soal yang harus diisi dan tepat pukul sepuluh, setelah beberapa orang bilang UNPAD ada jurusan Sastra Sunda-nya tapi harus dicek lagi, Prinka sudah khusyuk menanti teleponnya berdering.

Dadanya berdebar-debar tak keruan. Telepon! Naik setingkat dari SMS doang. Ah, hidup terasa menyenangkan sekali.

Sepuluh lebih dua.

Sepuluh lebih tiga.

Sepuluh dua pula. Apa Kak Norman pulang dulu, baru menelepon?

Sebelas. Dan Prinka terlalu mengantuk untuk menunggu. Dia bahkan sudah mendaratkan lagi pesan pertanyaan jadi atau tidaknya.

Ke mana gerangan Kak Norman?

Iklan
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s