Gelombang Itu, Gelombang Gelora 12

Katarina Ningrum

Ruang tamu disesaki aroma kopi hitam.  Kaget dan tegang sudah menguap digantikan obrolan santai dan canda tawa.  Memang sih, setiap direnungkan lagi, rasanya pemandangan ini terlalu tidak nyata, terutama bagi Prinka.

Ada Norman Halomon dan ayahnya sedang ngobrol gembira di kursi panjang berbantalan lapuk depan jendela berteralis liuk-liuk.  Di luar, langit gelap gulita, angin dingin menggetarkan, namun rasanya ruangan ini justru semarak dan hangat.

Lucu memang.  Begitu membuka pintu dan melihat siapa yang ada di balik pagar, Prinka gelagapan setengah mati.  Norman apalagi.  Tetapi Ayah malah teriak gembira, “Lho! Kamu kan yang waktu itu bantuin Om dorong mobil!”

Norman mengernyit dan mendelik sejurus kemudian. Benar! Om Raya!

Ajaib benar, Om Raya masih ingat padanya.  Secara, seingat Norman, dia tidak memiliki wajah ikonik, dan dia bukan siapa-siapa.  Lagipula waktu itu malam hari, tak mudah menyelidik detail-detail muka orang.  Ah, Norman sepertinya berlebihan tentang ini.  Mungkin dia terlalu lega karena sempat berpikir akan mendapat tamparan om-om.

“Ternyata kamu temenan sama anak saya.  Lucu sekali, saya hampir ngamuk lho tadi.”

Kalimat itu membuat Norman sedikit merinding.  Seandainya dia operasi plastik sebelum mengantar Prinka, dia pasti sudah babak belur.

Dengan fasih, Prinka menerangkan bahwa Norman adalah penyiar radio yang biasa ia dengar setiap hari, dan mereka jadi bertemu karena beberapa acara dan mungkin berkat bantuan semesta.

Om Raya tertawa santai, dan bercerita macam-macam tentang Prinka, tentang dirinya, dan soal sinyal FM yang tidak sampai ke rumah mereka.  Seakan rumah ini kehidupan radionya nggak boleh maju atau gimana.

Tidak lama kemudian, Om Raya malah berniat masuk ke dalam dan tidur.  “Silakan, ngobrol saja berdua, nanti Om malah ngeganggu. “

“Nggaklah, Om,” ujar Norman sungkan.

“Ah, semua tamu juga bakal bilang begitu, tapi sejujurnya keganggu. Udah, sok, Om udah ngantuk.”

Norman dan Prinka pun membisu.  Ayah menghilang dari ruang tamu, tapi sejurus kemudian kembali, “Norman, kamu suka teh atau kopi?”

“Eh? Teh aja.  Eh, jangan repot-repot, Om,” balas Norman.

Lagi-lagi Om Raya menyanggah, “Ah, semua tamu kelakuannya sama! Udahlah, kamu kan tempo hari udah Om repotin, sekarang ngerepotin lagi titip Prinka.  Sekarang kamu ngerepotin Om juga nggak masalah, Norman!”

“Titip aku?” Prinka bergumam.  Ayah pasti berpikir macam-macam!

Norman terkekeh gugup.  Begitu Om Raya benar-benar berpindah, walau akan kembali nampaknya, keheningan menyapu.  Prinka gelisah di tempat duduknya, begitu pula Norman, sampai ia berkali-kali menggaruk kepalanya.

“Ehm, aku bantu Ayah siapin minum ya, Kak?”

Walau dalam benaknya Norman hampir dengan dramatis bilang, “Jangan pergi!”, tapi, tentu saja ia mengangguk sopan.

Prinka hilang.  Norman pun tertinggal sendiri di ruangan yang tema furniturnya mirip radio Gelora—gaya tahun delapan puluh-sembilan puluhan.   Dia melamun sambil mengamati setiap benda kecil yang terletak di sana.  Dekorasinya.  Patung Loro Blonyo, asbak, lampu meja, dan berbagai perintilan lainnya.

Dia tersadar: ya, ini rumah Prinka.

Sementara itu, di dapur, Prinka malah diprotes Om Raya, “Lho, Nak, tamu spesial kamu jangan ditinggalin, dong!”

“Aku mau bantuin Ayah.”

“Iya, tapi nggak sopan kalau tamu dibiarin sendiri.”

“Jadi…”

“Ayo, kamu balik ke ruang tamu, biar Ayah yang bikinin minumnya sendiri.  Ayah mau nyuguhin calon mantu Ayah.”

“HAH? MANTU?” Prinka berteriak keras sampai lupa harusnya dia jaga suara, bisi Norman denger. “Ayah, lebay deh!”

“Soalnya baru sekarang, kan, kamu bawa cowok ke rumah? Berarti dia pacar kamu, kan?”

Prinka melongo, sedangkan air di teko mendidih, dia bersiul seraya mengeluarkan asap.

“Bukan, Yah, masih baru pergi bareng aja dua kali.”

“Ya itu namanya nge-date, Prinka!”

“Ya nggaklah, Yah, perginya kan sebagai teman.”

“Terus ngapain pake dicium segala?”

Membekulah Prinka.  Oh iya, barusan ayahnya keluar tepat di momen paling romantis seumur hidupnya.

“Ehm, itu…”

“Udah, kamu kembali dulu temenin dia, nanti Ayah anterin minum,” kata Ayah sembari mengedipkan sebelah matanya.

 

Prinka kembali menemui Norman di ruang tamu.  Gerakannya jadi serba gugup.  Bahkan duduk pun terasa sulit dan lambat.

“Kak, minumnya ditunggu bentar ya,” ia berujar, gemetaran suaranya.

“Iya, makasih Prinka,” Norman nyengir lebar.  Cengiran yang selalu membuat detak jantung Prinka jadi abnormal.   “Kamu biasanya tidur jam berapa?”

Oh, kakak penyiar radio ini mulai berbasa-basi rupanya.

“Sengantuknya, Kak.  Tapi kalau mau dibilang rata-ratanya, hm, setiap beres siaran Halo-Halo Bandung.”

“Jam sepuluh?”

“Ya.  Kalau lebih malam, bangunnya kesiangan, terus besoknya berangkat sekolah dengan rusuh.”

Norman tertawa lepas.  Berkat tawa ini, obrolan di antara mereka mencair.  Ayah nongol lagi membawakan tiga cangkir teh untuk Norman, Prinka, dan dirinya sendiri.  Semakin malamlah mereka berbincang-bincang senang.

Tahu-tahu jarum jam mendarat di angka sebelas.  Norman terkejut karena menyadari bahwa dia melewati jam beroperasi para angkot.  Lalu dia pulang dengan apa?

Yah, jalan kaki pun jadi deh, kalau harus begitu.

“Om, udah malem, saya pulang dulu mungkin, ya?”

“Ah!” Om Raya terkesima melihat jam dinding.  “Kamu naik apa, Nak? Mau Om antar? Kayaknya kamu nggak bawa apa-apa, motor, mobil?”

“Eh, saya naik angkot, Om…”

“Oalah, ya mana ada angkot jam segini! Udah, Om anterin ya.  Mana kunci mobil?” Ayah menatap Prinka.  Buru-buru anak perempuannya itu bergegas mencomot benda yang dimaksud.  Letaknya dekat dari jangkauan tangan.

“Besok hari Minggu, kamu nggak perlu bangun pagi kan, Prinka? Ikut kita ya.  Kamu bilang Bunda dulu sana.”

“Hah?” Prinka melongo.

 

Tahu-tahu, suasana lucu sudah tercipta lagi di tempat yang berbeda. Mobil Ayah.  Mobil yang dulu sempat ngambek tetapi jalan lagi setelah ketemu Norman Halomon.  Mobil tua beraroma khas yang bunyi mesinnya kocak.

Norman sebenarnya malu, sebagai pihak yang ngapel.  Mana ada, pengapel dianterin pulang sama ayah sang gebetan? Dia merasa tak keruan, namun di sisi lain senang bukan main.

Dari bangku tengah, dapatlah ia simak obrolan konyol ayah-anak di hadapannya.

“Mbak kalah sama Ayah nih.  Masa belum tau tempat tinggalnya Norman? Ayah aja tau!”

“Itu mah Ayah aja kelewat senang, mobilnya jalan, langsung nganter-nganter Kak Norman!”

“Ayah kan tahu balas budi, Ka. Nggak kayak kamu, dari tadi malah celingukan aja, diajak ngomong bingung. Grogi, ya, ada Norman?”

“Ih Ayah!”

Norman menahan tawa.  Manis sekali ekspresi Prinka saat diledek papanya sendiri.   Siluetnya wajahnya tampak artistik terpapar pendar lampu jalanan yang berkelebat.

Sampailah mereka di depan kosan Norman.  Dari depan, Norman langsung tahu bahwa ruang makan masih diisi orang-orang, karena lampunya menyala.  Apa ada acara makan-makan lagi?

“Om, terima kasih ya.  Prinka, makasih.  Lain kali saya mampir lagi,” Norman bersopan-santun.  “Hmm…mau masuk dulu?”

“Nggak usah, kita langsung pulang aja.  Kasian nanti Prinka pingsan kesenengan,” Ayah menukas cepat, bikin Prinka belingsatan—ya, nggak secara fisik mencak-mencak gimana, tapi ekspresinya menunjukkan emosi tersebut.

Lagi-lagi Norman senyum dan mobil di depannya pun melaju pergi.

Di mobil, Prinka diam saja.  Salah tingkah.  Ayahnya terus mengeluarkan suara tawa ganjil yang puas.

“Prinka, kamu udah gede ya.  Bisa bawa cowok ke rumah.”

Sang anak terdiam, bingung, itu pertanyaan, pernyataan, atau sindiran.

“Kamu hati-hati ya, kalau pacaran.  Jangan kebablasan.  Jangan macem-macem.  Tapi, Ayah sih percaya sama Norman.  Anaknya baik, kelihatan dari muka dan tindak-tanduknya.”

“Hm.”

“Mengerti?”

“Ayah, aku sama Kak Norman tuh…”

“Pacaran, kan? Apalagi?”

Susah memang.  Ayah kan muncul dari generasi di mana HTS, TTM, atau PDKT itu tidak diperjelas.  Adanya ya ‘pacaran’.  Sudah.  Tapi di kepala Prinka, nampaknya dia dan Norman Halomon belum bisa dibilang pacaran.

Om Raya terus berkicau menyemangati dan menasihati anak perempuan sulungnya yang mulai terkantuk-kantuk.  Biasalah, seorang papa pasti norak kalau mendapati anak perempuannya punya laki-laki lain di hati.  Antara bahagia karena sang anak ada yang jagain, sekaligus merasa tergantikan.

Terharulah dia.  Padahal Prinka malah lagi sibuk menyusun kalimat yang bisa menguraikan apa yang tengah berlangsung di antara dia dan Norman, yaitu: jatuh cinta, tapi belum jadian.

Yah, biarlah malam semakin berangin, dan biarkan dua ayah-anak ini asyik dengan pikiran sendiri-sendiri.

Iklan

2 thoughts on “Gelombang Itu, Gelombang Gelora 12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s