Puff, Naga Ajaib

Katarina Ningrum

Hai! Ini salah satu karya saya yang diikutkan untuk sebuah lomba yang diadakan salah satu penerbit di Indonesia. Sempat masuk seleksi, tetapi hasil akhirnya saya tidak tahu, karena perlombaannya diadakan di Facebook dan saya sedang tidak ada waktu main Facebook, plus, saya tidak dihubungi. Ya sudah, karena saya puas dengan hasilnya, jadi saya muat di sini saja, semoga menghibur! Saya unggah juga jalur ke lagu pengiring yang menjadi topik di cerpen ini. Selamat menikmati! 😉

Arman tidak percaya mendapati dirinya duduk di salah satu bangku penonton konser musik indie yang absurd. Kenapa dia ada di sana? Entahlah. Dia cuma tahu bahwa dirinya cuma datang untuk bisa bersama sosok yang membuatnya terobsesi. Sebut saja namanya Lai.

Lai tiba-tiba masuk ke toko kaset kuno yang ditunggui Arman hanya karena kasihan. Kasihan? Ya, sebab toko kaset tersebut selalu sepi, sampai-sampai pintu kacanya buram diselimuti debu jalanan.
Dan Lai, dengan wajah polosnya, asal mencetus menanggapi sapaan khas pramuniaga Arman saat itu:

“Selamat datang, cari apa?”

Gadis itu tercenung sejenak sebelum berkilah, “Peter, Paul, and Mary.”

Arman tahu benar, Lai sempat berpikir sebentar. Arman sadar, Lai asal sebut nama grup penyanyi yang ia tahu masih beken pada zaman kaset berjaya. Tetapi ia bersikap profesional. Dicarinya kaset tersebut dan kebetulan pula ditemukan. Saat kaset yang dimaksud sampai ke tangan Lai, baru gadis itu berani mengaku bahwa ia cuma terdorong rasa iba melihat toko melarat tersebut.

Tapi, meski Arman merasa malu dan Lai jadi tak enak hati, mereka toh tetap mendengarkan lagu Puff The Magic Dragon, salah satu lagu terkenal dari grup Peter, Paul, and Mary, bersama-sama, dengan suara kaset yang sudah sayup-sayup agak bergoyang, dan ditemani aroma kayu dan rotan lama, ditambah munculnya percakapan singkat sepanjang lima belas menit.
Sejak itu, Arman tiba-tiba menggemari Peter, Paul, and Mary, setelah sebelumnya hanya sekedar tahu namanya saja. Toko kaset yang selalu ia jaga mendadak berubah cerah. Ia berhasil menggenggam batang kemoceng dan mulai mengusir butir-butir kotor yang membuat deretan kasetnya nampak kusam.

Untuk pertama kalinya, Arman tersenyum sendiri. Entah dalam rangka apa. Dia hanya ingin menarik kedua sudut bibirnya dan membiarkan harinya cerah ceria.

Arman menyetel Puff The Magic Dragon berkali-kali dalam tempo 1 x 24 jam. Setiap mendengarnya, Arman teringat pada wajah tanpa dosa Lai, ketulusan Lai untuk sengaja menghadiri toko kasetnya, suara Lai yang empuk, dan kata-kata terakhir yang sempat ia ucapkan sebelum keluar toko sembari tersenyum tulus, “Kapan-kapan aku mampir lagi ya.”

Ya, Arman yang seumur hidup hanya mengenal rock and roll, sekarang menyimak tembang-tembang manis beriringan lembut. Malah, hobi barunya berlanjut hingga ke dunia maya. Ia mencari berbagai lagu-lagu retro di Youtube, juga mengunduh banyak musik baru untuk menggantikan semua hentakan drum dan permainan gitar serba ekspresif.
Dunia Arman menjadi tenang dan manis, seperti Lai yang datang dan pergi tanpa aba-aba dan tidak meninggalkan jejak apa pun selain Puff si naga teman baru Arman.

Rasa manis itu membuang perasaan ingin merokoknya. Arman bukan perokok berat. Hanya untuk sekedar menghibur diri jika bosan atau galau. Entah sejak hari apa, Arman menghabiskan rokok dan tidak membeli lagi. Ingin pun tidak! Ia memilih duduk diam di dalam toko kaset peliharaannya seraya mengerjakan hal-hal yang menyenangkan di komputer lipatnya.
Saat toko kasetnya tutup hari Sabtu, Arman mendadak berjalan ke kampusnya. Sesudah cuti tiga bulan, ia berniat melanjutkan pendidikan tingginya. Setidaknya satu tugas lagi sampai ia memakai toga. Sudah cukup jenuhnya. Sudah cukup menggerutu karena benci pada para dosen. Ia harus menyelesaikan apa yang telah ia mulai.
Setelah dua minggu kembali kuliah, walau dia tetap tidak dapat menghormati dosen-dosennya, meski ia tak banyak bergaul karena teman-temannya memiliki mental yang payah, Arman menelepon ibunya sesudah tiga bulan tidak saling mengabari.

“Hai, Bu, ini Arman,” ujarnya di telepon.
“Arman! Tiga bulan kamu tidak minta dikirimi uang,” sahut sang ibu, wanita yang memang hanya memusingkan urusan kocek saja jika ingat anaknya. “Kamu masih bisa makan?”
Arman belum memberitahu ibunya bahwa ia magang di toko kaset. Dompetnya tak pernah kosong sama sekali, apalagi sekarang ia berhenti merokok, sehingga pengeluarannya berkurang banyak.
Maka ia menjelaskannya pada si ibu, supaya beliau tidak khawatir anaknya pingsan kelaparan dalam keadaan kurus kering dan bokek pula.
Dan ibunya bahkan tidak cemas ketika Arman menguak kisah cuti kuliahnya. Atau lebih tepatnya, minggat berkedok cuti.
“Kamu baik-baik di sana? Kosan kamu dibersihkan seminggu sekali?”
“Ya,” jawab Arman singkat. “Gimana keadaan di Jakarta, Bu?”
“Biasalah, Man,” kata ibu. “Bisnis, adik kamu, dan tetangga-tetangga aneh.”
Arman, yang saat itu sedang memutar Puff The Magic Dragon lewat komputernya, mendadak sangat rindu pada tempat kelahirannya di ibu kota. Barangkali dipengaruhi lagu yang begitu melankolik sekaligus damai.
“Kapan kamu mau pulang?”
“Kalau ingin, Bu, di sini masih banyak urusan,” Arman berdusta. Sebetulnya ia cuma berkewajiban menjaga toko kaset dan membereskan tugas akhir. Sudah.
Dan lidahnya seperti dikendalikan oleh perasaan bahagia yang baru-baru menempel padanya, “Bu, Arman kangen juga sih sama Jakarta. Sama Ibu, sama adik…”
Ibu terdiam di ujung sana. Arman memang benar-benar tak pernah bermulut manis. Makanya aneh, kalau kata-kata semacam itu terdengar darinya.
“Kamu sih pelit, bayar enam puluh ribu buat travel saja ogah,” ibu Arman berkelit.
Lantas percakapan mereka selesai.

Arman pun duduk di meja kasirnya. Dia menghadapi buku sketsanya. Dan tiba-tiba saja ia membuat coretan. Ilustrasi naga. Pasti gara-gara Puff si naga ajaib yang dikisahkan dalam tembang favoritnya.
Tak disengaja, naga tersebut menjelma menjadi ide untuk tugas akhirnya. Buku cerita anak-anak tentang seekor naga kesepian yang mencari teman, dan dalam perjalanannya menemukan sahabat, ia mempelajari banyak hal baru yang tak pernah ia tahu lantaran dulu selalu hidup sendiri di lautannya. Seperti Arman yang untuk sementara meninggalkan toko kaset dan mengurung diri di kamar kosnya untuk mengulik si naga ciptaannya sebelum keluar lagi melihat dunia luar.
Masih di luar dugaan, tugas akhirnya itu membuahkan keheranan dari para dosen yang dulu meremehkannya. Arman? Mahasiswa paling cuek sedunia? Yang karyanya bagus tetapi tak pernah selesai? Sekarang memproduksi buku bergambar yang begitu indah, menyentuh, dan menghangatkan hati lewat sepuluh halamannya, halaman berisi ilustrasi cat air campur spidol warna-warna mentah?
Setelah sidang, Arman, menunjukkan senyum perdananya di hadapan manusia yang menyidangnya. Dan ia baru tahu: seandainya sejak dulu ia mulai tersenyum, tentu dunia akan terasa lebih ramah. Dosen-dosen itu tidak semurung yang ia pikir!

Arman diwisuda. Ia memeluk ibu dan adik laki-lakinya. Ayah Arman masih di luar negeri dan belum bisa pulang, tapi ia tak keberatan. Ayah memberi selamat lewat telepon. Arman makan-makan di restoran Sunda bersama mereka yang ada di Bandung merayakan kelulusannya.
Dan setelah berbagai pelepasan rindu dengan ibu dan adiknya, Arman kembali duduk manis di toko kasetnya. Telah dua minggu ia menjadi sarjana, dan ia menanti kabar dari salah satu penerbit besar, tempat ia mengajukan buku ceritanya untuk diterbitkan secara nasional. Setiap hari Arman mengisi hari-hari bengongnya di toko kaset dengan mengunduh macam-macam lagu dan menggambar. Bahkan gambar-gambarnya ia muat di dalam blog dan mendapat aneka komentar. Ilustrasi Arman disukai. Mengandung suatu nilai fantasi sekaligus lirih mengungkapkan kedalaman pikirannya, diwakili oleh warna-warna berani tetapi harmonis.
Ia menunggu salah satu pelanggannya yang telah membukakan cakrawala tanpa menimbulkan kehebohan. Lai. Apakah ia benar akan kembali ke sini? Mungkinkah bagi Lai, perjumpaan mereka tidak mengesankan apa-apa kecuali pertemuan biasa antara penjaga toko dengan calon pembeli potensial? Lalu kenapa bagi Arman keberadaan Lai yang cuma sebentar membekas sekali?
Sebelum sempat merasa kecewa, Arman buru-buru memutar lagu-lagu keras. Supaya dia tidak tenggelam dalam patahnya hati. Agar ia lupa bahwa kemungkinan besar ia hanya mengalami fatamorgana.
Meski hampir putus asa, Arman pun menabahkan diri. Diam-diam ia mempromosikan toko kasetnya. Ia menyebut namanya di setiap kirimannya di blog, bersama hasil melukisnya. Siapa tahu itu mendatangkan lebih banyak pelanggan.
Siapa tahu Lai membacanya…
Jerih payah Arman membuahkan hasil. Sebuah panggilan lewat telepon menyatakan bahwa buku cerita naganya akan diterbitkan secara resmi.
Baru kali ini Arman melompat dengan telepon menempel di telinganya. Ia berteriak tertahan.
Sebuah jabat tangan resmi dan tanda tangan kontrak pun terjadi. Arman menyaksikan sendiri buku buatannya dipajang di toko. Ia bahkan membawa beberapa eksemplar untuk dijual di toko kasetnya. Tak peduli betapa tidak larisnya toko, ia toh mesti berjaga-jaga.

Nama Arman pun mulai dikenal. Banyak orang memuji bukunya. Semua surat elektronik dan berbagai sapaan ia balas satu persatu dengan ramah. Tapi di antara segala korespondensi tersebut, Arman tetap hanya menanti Lai muncul kembali.
Dan dalam penantiannya mendapatkan Lai lagi di dunia luas ini, Arman menerima banyak pekerjaan dari macam-macam pasar. Mulai dari komunitas pecinta sepeda yang minta dibuatkan ilustrasi poster acara bersepeda nasional, anak-anak sekolah yang butuh sampul depan memukau bagi buku tahunan mereka, sampai seorang wanita pengusaha kue.
Bulan depan, Arman harus menyerahkan ilustrasi untuk sampul album rekaman sebuah band indie yang musiknya absurd. Arman diberi dua file lagu mereka supaya tahu nuansa yang perlu dihadirkan di depan CD mereka nanti.
Band itu, yang menamakan diri Wimaya, menampilkan bebunyian aneh dalam musik mereka. Kadang muncul xylophone diiringi terompet. Nanti alunan seruling mengisi kekosongan ketika gendang ditabuh. Suara vokalisnya sangat berwarna-warni. Dia sanggup mengambil nada rendah, lalu saat mesti mencapai nada tinggi, suaranya seakan terbang ke awang-awang tanpa tertelan keberisikan instrumen-instrumen yang mengiringi.
Ajaib. Cuma itu yang dapat Arman tangkap dari grup Wimaya.
Arman mencari inspirasi dari kotak kaset-kaset lama di toko. Ia membongkar rak. Ia mengambil banyak kaset hanya untuk dilihat-lihat sampulnya. Setiap hari aktivitasnya demikian. Melihat, mencontoh, dan mencoba mengombinasikannya dengan aura fantastis Wimaya.

Ia tak tahu kenapa ia mengerjakannya seserius mungkin.
Akhirnya, Arman mendapat pencerahan, seperti biasa, sesudah mendengarkan lagu Puff The Magic Dragon. Ia membuat lingkaran kuning jahe di atas zona putih bersih. Lantas diberinya kata Wimaya menggunakan jenis huruf yang meliuk-liuk namun tetap tegas. Ia mengajukannya dan menurut manajernya, Wimaya suka desain simpel tersebut.
Sesudah kesepakatan, Arman diberi data-data tentang Wimaya untuk melanjutkan sampul album. Dia sekarang tahu berapa jumlah personil Wimaya: lima orang. Pantas saja ramai begitu.
Ia melihat namanya satu persatu, siapa tahu ada yang ia kenal.

Mata Arman menumbuk di satu nama: Marusya Lai.
Jantungnya langsung berdebum kencang. Apakah nama Lai pasaran? Tidak. Itu nama unik yang baru sekali saja ia dengar! Mungkinlah Lai punya nama depan Marusya? Mungkinkah Lai memang vokalis Wimaya?
Arman mengerjakan tugasnya dengan perasaan aneh. Ia gembira, namun takut salah. Ia benar-benar ingin bertemu Wimaya secepatnya. Seluruh personilnya. Supaya ia dapat memastikan bahwa vokalis mereka betul-betul Lai yang dulu terpaksa mencari kaset Peter, Paul, and Mary.
Setelah beres menyusun keindahan sampul Wimaya, Arman mengirimkannya melalui surat elektronik. Ia memang tak pernah bertemu dengan Wimaya atau pun manajernya secara langsung. Sekarang Arman sangat menginginkannya.
Dua bulan sesudah proyek album Wimaya, Arman masih memimpikan keberadaan Lai di band tersebut. Ia menyimpan dua lagu berharga karya mereka di komputernya.
Suatu saat, ia mendapat sebuah surat elektronik. Isinya undangan untuk datang ke pertunjukan perdana Wimaya di auditorium pusat kebudayaan Perancis. Tanpa ragu Arman langsung memesan tiket dan datang lebih cepat satu jam dari waktu konser.
Sepanjang penantian, jantungnya terus berdebar-debar. Ia ingin menyaksikan wajah Lai. Tapi belum satu pun muncul tanda-tanda kehadiran Wimaya. Yang ada, ia duduk dengan gugup di antara murid-murid kursus dan seorang bapak-bapak yang berbicara dalam Bahasa Perancis.

Beberapa pemuda tampak sibuk mempersiapkan atribut konser. Kabel-kabel dan beberapa alat musik didorong masuk ke ruang auditorium.
Alangkah histerisnya Arman waktu melihat beberapa manusia yang tampak berbaju unik. Di antara mereka ada satu perempuan bergaun toska, memakai stoking putih dan sepatu hitam. Rambut panjangnya tergerai dan ia mengenakan topi unik yang dipakainya miring.
Lai! Benar, itu Lai si Puff The Magic Dragon!
Saat Arman menatapnya, Lai balik melihat padanya. Luar biasa. Lagu tentang naga itu langsung mengalun di kepalanya. Semakin kencang sesudah Lai tersenyum. Senyum yang polos, lembut, seperti waktu itu.
“Sudah kuduga. Memang kamu yang membuat desain sampul album kita,” Lai mendekat dan berbicara.
Arman nyaris tak sanggup bersuara saking gembiranya. Ia mengangguk.
“Dan memang kamu yang bikin buku cerita tentang naga yang terkenal itu,” lanjut Lai.
“Kenapa kamu tahu? Banyak orang yang namanya Arman di Bandung.”
“Tapi Arman yang jaga toko kaset kuno dan punya imajinasi tinggi cuma kamu. Aku tahu. Pokoknya tahu saja.”
“Jadi, kapan kamu main ke toko kaset lagi?”
“Secepatnya,” Lai menyahut. “ Cari kaset lain yang bisa kita dengar sama-sama kayak waktu itu.”
Arman nyengir. Tak disangka, naga bernama Puff sukses membawanya kembali ke kampus, membuka cakrawala pikirannya, menggiringnya kepada ketenaran dan produktivitas, malahan sekarang menghantarkannya kembali menjumpai Lai, sumber segala kisah ini! Puff memang naga ajaib!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s