Gelombang Itu, Gelombang Gelora 11

 

Katarina Ningrum

 

Minggu pagi.  Pemuda itu beranjak keluar dari kamar kosnya dengan langkah penuh keyakinan.  Sembari sedikit menggosok mata yang belum sepenuhnya segar, ia menuju wastafel untuk membanjur wajah supaya terbangun.  Tapi perjalanannya kurang sukses.  Lututnya terjeduk sebuah buffet dekat jendela lalu meringis kesakitan.

“Lemari nakal!” Norman memukul sudut benda itu dan mengaduh lagi karena sekarang telapak tangannya ikutan ngilu.  Maka berlanjutlah kunjungannya ke wastafel.  Ia berpapasan dengan salah satu teman kos yang tampak begitu kuyu.  Mereka bicara sedikit sebelum temannya itu masuk kamar lagi.

Seusai mencuci muka, Norman menuju lantai satu.  Perutnya lapar.  Kemarin dia sudah menyimpan beberapa bungkus makanan dilematis yang enak tetapi kurang sehat kalau keseringan—yakni mi instan—di dalam lemari dapur.

“Norman!” sebuah suara menyapanya di ujung tangga terbawah.  Tampak putra Ibu Kos sudah berpakaian rapi.

“Hei, Kemal, udah bangun?”

“Iya, jam setengah tujuh, man, dan gue udah bangun.  Keren ya.”

“Mau pergi?”

Kemal menjawab, “Betul.  Bentar lagi si Dion sama ceweknya jemput nih.  Rencananya sih ke Lembang, ngadem sedikitlah mumpung bisa ngumpul.  Dion juga kan baru balik dari Kanada, banyak obrolan banget.”

“Iya ya.”

“Lo mau ke mana hari ini? Ikut yuk ke Lembang!”

“Nggak bisa, Mal, sori, entar siang siaran, terus sorean ada janji.  Thank you lho.”

Kemal menepuk pundak Norman.  “Sip, nggak apa.  Janji sama siapa nih?”

“Temen,” sahut Norman sembari tertawa kecil.

“Dilihat dari ekspresinya, bukan sekedar temen sih.  Sori gue sotoy.  Hoho.”

Norman pun hanya terkekeh.  Mereka sama-sama menuju dapur, dan saat Norman memasak mi instannya, Kemal duduk dan ngomong ini itu.  Heran.  Mereka baru pertama kali mengobrol kemarin malam, tapi tiba-tiba saja keasingan satu sama lain di antara mereka mencair.

Barulah ia sadar betapa jarangnya ia ada di tempat kos ini selama tinggal di Bandung.

Waktu Norman menikmati sarapan dan Kemal mengudap sejumput kacang tanah yang nampaknya direbus oleh ibu kos kemarin malam, pintu depan diketuk.  Kemal beranjak ke sana, kemudian kembali bersama Dion yang mimiknya terlihat lesu, berlawanan dari hari di mana Kemal mengadakan makan malam.

“Udah, makan kacang aja lo, daripada sumpek sendiri,” ujar Kemal pada Dion.

Dion duduk di seberang Norman, lantas menyunggingkan senyum penuh paksaan.

“Hei, Penyiar Radio Retro!”

“Hei, apa kabar?” balas yang dimaksud.

Dan lawan bicaranya itu menggeleng miris.  “Nggak baik.”

“Lo kenapa sih, Yon? Ada hubungannya sama lo dateng sendiri nggak bawa temen lo itu?”

Norman bukan tipe yang senang mendengar curhat orang—kecuali kalau suatu saat ia harus jadi penyiar siaran khusus curhat—tetapi entah kenapa dia menunggu orang yang baru dikenalnya ini untuk bercerita.

Dan benar saja.  Dion menyeroscos lancar seperti keran bocor.  Topiknya mengenai teman perempuan yang ia bawa kemarin dulu, yang ternyata adalah teman SMAnya dulu.   Intinya, mereka dulu punya hubungan istimewa, tapi akibat isu kerusuhan di tahun sembilan puluh delapan, Dion pindah ke Kanada dan menetap sampai lulus high school.   Mereka tidak banyak berkontak lagi.  Apalagi waktu itu internet masih mahal, dan telepon interlokal luar biasa sekali ongkosnya.   Jika Dion kembali ke Indonesia, yang terjadi dua kali selama lima tahun, mereka sulit sekali berjumpa, karena kesibukan.

Terakhir Dion pulang ini, dia menyusul ke rumah anak itu, dan berhasil mengadakan reuni privat berdua.  Di depan warung bakmi.  Dan obrolan mereka rupanya mengalir.  Alhasil, Dion menjadi optimis dan dia mengajaknya pergi, ke sana, sini, hingga ke rumah kos Norman ini untuk merayakan Kemal.

“Dan kemarin malem dia akhirnya bilang, nggak bisa sama gue lagi,” Dion bertutur sedih.  “Kangennya dia beda sama kangennya gue.”

“Lah, terus?”

“Ya udah.  Gue nyerah.  Yang penting puas udah ketemu dia, ngobrol, denger suara dia, memastikan dia masih ajaib kayak dulu.”

Norman yang merasa asing diam saja tetapi merasa iba pada Dion.

“Jangan-jangan dia emang udah punya pacar, Yon,” ujar Kemal.

Maybe.”

“Relain deh,” Kemal menukas enteng.  “Udah nih, makan kacang.  Kalo udah kita cabut aja!”

Dion tertawa.  “Jahat lo.  Gue lagi patah hati, dikasih kacang.  Oiya, Norman, gue pingin denger radio lo, dan gue pingin iseng nelepon, enaknya di acara apa ya? Ada siaran khusus cerita-cerita gitu nggak sih?”

“Siaran Gelora yang paling interaktif cuma Halo-Halo Bandung, setiap malem.  Sisanya request­an lagu doang, sama titip-titipan salam.”

“Lo siaran Halo-Halo Bandung nggak entar malem?”

“Kagak.  Gue ada janji, sekalian ngeliput acara musik keroncong, jadi penyiar hari ini si Bapak Pimpinannya.”

“Hari ini siaran lo apa?”

“Tembang delapan-puluhan.  Jam sebelas entar.”

“Ada tembang sembilan-puluhan, nggak?”

Kemal terbahak.  “Kenangan lo sama dia semuanya di tahun sembilan puluh sekian, ya?”

“Emang,” Dion tampak putus asa.  “Gimana, Man?”

“Cobain aja lo request.  Siapa tau lagu yang lo pesen ada.  Titip salam juga boleh,” Norman berpromosi.  “Kadang tembang delapan-puluhan emang agak kecampur sama sembilan-puluhan awal, sih.”

“Tapi lagu kenangan gue kayaknya beken di tahun sembilan-puluhan pertengahan.”

“Udah sih, cobain dulu aja!” Kemal protes.  “Nanti siang pokoknya lo telepon si Norman pas lagi siaran.  Coba ajuin request.”

“Iya, ditunggu request-nya,” kata Norman ramah.

“Makasih, Bro.”

Sembari menunggu waktunya pergi, Norman menghabiskan kacang rebus bersama Kemal dan Dion.  Menjelang siang, mereka semua berangkat ke tempat tujuan masing-masing.

 

Prinka berupaya konsentrasi pada PR-nya.  PR ini dijadikan syarat ikut ulangan Matematika besok.  Jadi, ia harus mengerjakannya.  Mau tak mau.  Suka nggak suka.

Tetapi pikirannya beralih terus ke seulas senyum yang pemiliknya begitu manis.  Norman Halomon namanya.   Dalam hitungan jam, ia akan segera berjumpa dengan senyum itu.  Dia semakin tidak sabar waktu menyetel radio Gelora dan kebetulan pujaan hatinya tersebut sedang siaran siang.

Berkumandang lagu-lagu manis tahun delapan puluhan, diselingi ocehan Norman, “Nah, itulah tadi sebuah persembahan dari James dengan Sit Down-nya! Oke, sekarang waktunya membaca SMS yang masuk, atau mungkin ada yang mau telepon langsung ke nomor kita, kosong-dua-dua, tujuh-kosong-tiga-tujuh-empat-tujuh-delapan? Ditunggu juga request delapan puluhannya, yuk, boleh, boleh!”

Prinka senyum sendiri.  Dia tidak hafal lagu delapan puluhan, jadi dia enggan me-request apapun.  Hanya saja ia sudah kurang sabar ingin ngobrol sama Norman.

Sekonyong-konyong seseorang menelepon ke radio Gelora.  Prinka cukup hafal siapa saja yang biasanya menelepon di siaran ini.  Kalau bukan seorang kakak perempuan bernama Tracy, yang doyan banget sama Michael Jackson, pasti Usep Jallaudin, yang memang selalu eksis di semua siaran.

Tapi rupanya bukan.  Prinka terkejut.  Ajaib sekali radio Gelora punya pendengar baru! Masih muda, pula, kalau dianalisis suaranya!

“Halo, Tembang Delapan Puluhan Gelora, dengan siapa?” sapa Norman ramah.

Serangkai suara laki-laki yang lembut menyahut, “Siang, my  retro friend, Norman.”

Prinka mengernyit.  Siapa gerangan orang ini? Asal sebut saja Norman temannya.  Sok Inggris pula!

“Wah, ada pendengar baru rupanya! Coba, siapa namanya, mau lagu apa, titip salam sama siapa?”

“Saya Dion, di Lembang, mau titip salam dan kirim lagu buat seseorang yang begitu istimewa, tapi nggak bisa didapatkan.”

Prinka melongo.  Kenapa pendengar baru ini malah curhat dadakan?

“Oke, disampaikan ya salamnya, siapa tahu dia lagi nyimak Gelora, Minggu siang, mumpung libur, dan siapa tahu berubah pikiran, eits, siapa tahu, ya?” Norman menghibur.  “Baiklah, Dion, mau kasih lagu apa nih buat doinya?”

“Mau minta lagu yang cocok sama suasana hati sekarang, Bro, sekalian mau menyampaikan sesuatu buat orang itu, boleh?”

“Boleh banget! Ayo, disusun dulu naskah proklamasinya, eh, salah, ya? Ya, silakan, Bang Dion di Lembang, sampaikan suara hatinya kepada sang pujaan.”

Terdengar Bang Dion yang tak dikenal itu mendeham.  Lantas dengan lesu ia berpuisi, “Untuk Kriya.  Ternyata, setelah tahun-tahun berlalu, perasaan bisa berubah ya.  Kamu berubah.  Saya berubah.  Tapi saya mencoba untuk meluruskan lagi hal di antara kita, yang rupanya tergerus oleh waktu.  Kamu bergerak, saya rupanya terjebak. “

Lalu tertangkap suara kresek-kresek kertas.  Kayaknya Bang Dion betulan nulis naskah, deh!

“Saya tahu kamu geli kalau denger saya bikin puisi.  Saya bukan penyair.  PR puisi Bahasa Indonesia aja saya malah minjem lirik lagu kamu.  Inget nggak?  Terus gurunya percaya, dibilang bagus.  Kamu ketawa, saya gembira banget lihat kamu senyum.”

Sepi sebentar.  Terus, berlanjut.  “Krisan, mungkin memang begini jalannya.  Semoga kamu bahagia bersama siapapun yang berhasil mencuri tawa kamu.  Terima kasih untuk masa-masa keren yang pernah kita bagi di tahun sembilan puluhan.   Inget, kalau kamu sedih, butuh pegangan, dan putus asa, kamu masih bisa datengin saya, ya.”

Prinka tidak tahu mesti getek atau terharu.  Norman pun sepertinya terpekur hingga radio tidak bersuara selama dua belas detik.

“Sudah, pesannya, Bang Dion?” si penyiar memecah keheningan.

“Sudah, makasih ya, Norman! Tolong dipilihkan lagu yang cocok aja!”

“Siap, Bang Dion! Selamat mendinginkan kepala di Lembang, ya!”

Telepon ditutup.  Norman menghela nafas.  “Nah itu barusan curhatnya Bang Dion di Lembang, yang rupanya baru hancur hatinya oleh satu perempuan.  Yah, namanya juga hidup ya, ada sakit-sakitnya sedikit, ya, nggak apa-apa, yuk, tetap melangkah maju!”

Prinka terkikik.

“Kayaknya saya nemu nih, lagu yang cocok buat Bang Dion.  Liriknya kena banget!  Berikut saya akan putarkan sebuah tembang dari Cyndi Lauper, Time to Time!”

Petikan gitar elektrik diiringi ketukan drum sederhana pun berkoar.  Prinka memanfaatkan momen itu untuk mengerjakan setidaknya satu saja soal Matematika.  Tetapi nyanyian Cyndi Lauper mengganggunya.   Terutama bagian reffrainnya yang catchy.

If you’re lost you can look and you will find me

Time after time

If you fall I will catch you I’ll be waiting

Time after time

 

Prinka menggeleng-geleng cepat.  Matanya sampai lelah mengulang-ngulang deretan soal Matematika yang sedari tadi menantangnya.  Dia malah asyik bersenandung mengikuti lagu.  Fokusnya bubar jalan begitu saja begitu sebuah SMS masuk.

 

Halo, Prinka! Nanti jadi mau nonton Keroncong? 😀 Ketemu sore aja yuk, mau di mana?

 

Berbekal segelintir gengsi sebagai cewek, Prinka menyahut singkat:

 

Boleh, jam berapa kak? BIP aja ya.

 

Norman membalas lagi:

 

Sip, sekalian makan dulu deh.  BIP jam 4 ya.  Keburu?

 

Seketika, Prinka melompat dari ranjangnya, membiarkan kertas-kertas Matematika tercecer kekurangan kasih sayang, kemudian memilih baju untuk malam itu sembari menelepon Joan.

 

 

Siapa sangka, angkot ngetem menyebabkan Norman Halomon yang biasanya asyik-asyik saja jadi cemberut?  Dia terus menerus melirik ke arloji.  Senewen.  Sudah jam empat lebih sepuluh.   Kalau Prinka menunggu terlalu lama bagaimana?

Dia lalu mencari akal.  BIP.  Kira-kira lima menit lagi tercapai, seandainya si angkot bergerak.   Tapi kenyataannya  dia masih terdiam di depan sebuah gang di jalan Taman Sari.  Angkot ini sungguh tidak bertenggang rasa.

Untuk menenangkan diri, ia memberitahu Prinka bahwa ia agak terlambat.  Tetapi tidak dibalas. Gawat.  Mungkin anak itu marah.

Gelisahnya bertambah-tambah karena belum ada penumpang lain lagi masuk.  Semakin sepi, semakin lama saja periode ngetem angkot bertambah.

Tapi, syukurlah, sesudah stagnan sepuluh menit berikutnya, angkot pun berjalan.  Supirnya nyerah.  Melajulah mobil dan Norman langsung ngacleng di depan BIP, nyaris salto karena kurang waspada memerhatikan jalan.

Sekarang masalah kedua.  Prinka di mana, ya?

Norman cepat-cepat mengangkat hapenya.  Memencet beberapa nomor dan menempelkan speaker ke telinganya.  Menjawab di sana seorang perempuan, berkata sopan:

“Maaf, pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan. Silakan isi ulang pulsa Anda.”

Kalau Norman hilang kendali, kayaknya dia bakal teriak-teriak kesal.  Sudah panik karena terlambat, sekarang habis pulsa! Lalu bagaimana caranya menemukan Prinka di tengah-tengah manusia yang tengah berlalu lalang?

Manusia zaman sekarang memang terlalu tergantung pada telepon genggam.  Bukannya dari tadi janjian ketemu di mana, kek.

Ide cemerlang mendadak muncul.  Food court! Mereka kan mau makan.  Berarti kemungkinan Prinka menanti di food court.

Norman mendaki tangga berjalan.  Begitu tiba di lantai teratas Bandung Indah Plaza, ia segera celingukan di daerah tempat makan dan, sayangnya, belum beruntung.

Masa dia harus mengubek-ubek seluruh BIP!

Norman berkeliling kota.  Naik turun tangga.  Mengintip semua etalase, sampai tahu-tahu sudah setengah lima lebih sepuluh.

Rasanya ingin punya…astaga, pulsa.  Kenapa dia tidak beli pulsa saja? Di sini kan ada gerainya!

Ia menepuk keningnya.  Menertawakan diri sendiri.  Dasar manusia panik, jadi idiot sejenak!

Segera ia mendatangi gerai pulsa dan mendaftarkan nomornya untuk diisikan secara elektrik.  Dia menunggu sembari mengetuk-ngetukkan kaki ke ubin sambil tetap menengok ke sana kemari.  Siapa tahu terlihat sosok yang dicarinya.

Dan berita tak mengenakkan belum habis.  Penjual pulsa memanggilnya dan berkata, “Maaf, Mas, lagi gangguan, pulsanya nggak bisa masuk.”

“Hah! Yah, ya udah.  Nggak bisa diusahain ya?”

“Nggak bisa, Mas, habis ini sinyalnya mungkin lagi jelek.”

Norman berpindah dari gerai pulsa tersebut ke ATM.  Tetapi karena dia pemilik akun bank swasta terkemuka, ATM itu ditutupi antrian panjang.  Beginilah hari Minggu, mal ramai!  Sementara itu, jam tangan makin memburunya, dan hapenya tidak menerima pesan apapun dari Prinka.

Berbagai kekhawatiran berkecamuk.  Apakah Prinka datang, dan pulang lagi karena mereka gagal berjumpa? Apa Prinka pun kehabisan pulsa? Atau Prinka kenapa-napa di jalan?

Dalam gelisahnya, ia meninggalkan antrian dan berminat keluar BIP untuk cari tukang pulsa pinggir jalan atau di warung rokok.   Saking cepatnya dia bergerak, tanpa sadar tas selempang kulit sintetis model tukang posnya tersangkut dan dia tak bisa maju.

Dia menoleh untuk membereskan persangkutpautan aneh ini dan alangkah leganya saat mendapati seorang anak perempuan melongo dengan tampang kusut.

“Kak Norman!” ia berbunyi.

“Prinka! Akhirnya ketemu juga! Maaf ya, saya habis pulsa, jadi mau nelepon pun bingung, mana tadi beli pulsa malah ada gangguan sinyal, terus sekarang mau ngisi di ATM antrinya panjang banget…”

Dia menelan ludah sendiri.  Bicaranya nyeroscos tak keruan.  Benar-benar penyiar radio sejati! Dia sampai malu sendiri.

“Kak Norman, maaf ya, aku telat banget, tadi angkotnya ngetem…”

“Lah, justru saya kira saya yang terlambat.  Soalnya angkot saya ngetem banget barusan!”

Mereka tertawa bersama sembari membereskan tas yang tersangkut.  Tas Prinka bernuansa kulit sintetis berpadu kain tenun, dan salah satu tali serutnya entah bagaimana terkait di gesper kantong depan tas Norman.

“Sama-sama karena angkot ngetem, ya…”

“Dan aku abis pulsa, Kak,” jelas Prinka.  Jelas dia bergerak setengah lari dari tadi.  Nafasnya memburu.  “Jadi tadi keliling BIP aja nyariin, untung-untungan ketemu.”

“Ternyata untung ya, kita ketemu,” Norman nyengir lebar sampai Prinka merasa terhipnotis sejenak dan kepalanya kosong.  “Kayaknya kita sama-sama capek ngider di BIP, langsung makan aja, yuk?”

Prinka manggut-manggut terharu.  Barusan dia masih panik berat, sekarang begitu lega hatinya.

“Mau makan apa?” seusai melepas kedua tas yang tersambung, Norman bertanya.

“Nggak tau, Kak, kentang goreng mungkin…”

“Kamu doyan kentang goreng, ya? Kok selalu kentang goreng?”

“Bingung sih, Kak, soalnya food courtnya rame banget, jadi mau milih-milih pun males.”

Norman pun mendapat ide.  “Makan di Olala aja, yuk, di situ lebih tenang.  Saya traktir, dan kamu nggak boleh nolak.”

“Lho, kok gitu?”

“Iya, rezeki kan harus diterima baik-baik.  Yuk!”

Mereka pun ke lantai satu.  Di sana ada sebuah kafe yang harga makanannya cukup tinggi, tapi entah bagaimana tempatnya memang jauh lebih tenang dibandingkan food court.

Karena sungkan, Prinka memesan teh tawar dan nasi goreng, yang merupakan menu termurah di sana.  Tetapi Norman bilang, sebaiknya ia pesan minuman yang lebih bergizi.  Jadi Prinka memilih jus jeruk.

Saat menunggu pesanan, Prinka membuka obrolan.  “Tadi ada pendengar baru, ya, Kak? Yang malah curhat panjang itu.  Pas siaran delapan puluhan.”

“Hahaha, kamu denger rupanya.  Iya, sebetulnya saya kenal orangnya.”

Maka kisah rumah kos Norman pun bergulir.  Sampai ke cerita Kemal dan Dionnya.  Prinka tersenyum saja.

“Kasihan sih Dion itu.  Dia baru balik dari Kanada dan dengan sejuta harapan nyamperin gebetannya, eh, nggak sukses ngegaet lagi.”

“Memangnya Bang Dion sengaja balik dari Kanada cuma buat dia?”

“Nggak juga, banyak urusan lain, termasuk ketemu Kemal ini.  Tapi prioritasnya ya untuk balikan.”

Lalu minuman mereka tiba di atas meja.  Prinka menyedot jus jeruknya sedikit.  Sungguh menyegarkan jika dicicip sesudah pencarian melelahkan.

“Gimana persiapan buat ujian nasional, Prinka?”

Sebelum jawab, Prinka tergelak dulu.  “Malu-maluin ah, Kak.  Memang saya bukan pelajar teladan.  Yang ada, tiap kali mau belajar, beberapa lama kemudian tutup buku, setel radio, terus ya tidur-tiduran sambil dengerin Gelora.”

“Wih, kamu memang pendengar setia Gelora ya!”

“Iya dong, kan…” Prinka membungkam.  Dia hampir saja mengutarakan isi hatinya: Karena aku pingin selalu dengerin suara Kak Norman!  Untung dia masih eling.

“Kan apa, Prinka?”

“Nggak, kan saya anaknya unik, jadi dengerinnya juga mesti radio yang antik.  Hehe.”

Norman pun tersenyum.  Dan saat mata mereka bertatapan sekilas, rasanya seakan ada sengatan listrik menyerang dan keduanya menahan nafas.

“Nanti keroncongnya jam berapa, Kak?”

“Jam tujuh.  Kalau bisa kita udah jalan jam enam ya, supaya kebagian duduk.  Tapi nggak tahu juga sih kalau ternyata sepi.”

“Kak Norman harus ngeliput, ya?”

“Iya, tapi sudah ada kru lain di sana yang khusus merekam.  Saya sih meliput acaranya, sekalian dapet tontonan, kan, lumayan.  Soalnya radio Gelora kasih sponsor juga sih.”

“Oh, disponsorin Gelora? Pantesan.”

Mereka bercakap-cakap banyak selama makan, kemudian, pukul enam, mereka bergerak keluar dari BIP membawa perut kenyang.

Langit sudah sedikit redup, tetapi karena hari itu cerah, masih ada sisa-sisa mentari yang mengintip dari balik gerombolan awan merah jambu.   Dua insan berjalan santai dan mencegat angkot bersama.

Sampailah mereka di depan Graha Wanita dan masuk.  Tampak banyak orang-orang usia lanjut dengan baju-baju cantik di sana.  Prinka serta Norman merasa muda sekali!  Sesudah lolos dari meja undangan (Norman membawa name tag radio Gelora, rupanya), mereka masuk ke dalam.

Di atas kursi lipat bermerek Chitose duduklah keduanya berdampingan.  Selama dua jam berikutnya, berbagai tembang Keroncong mengalun, dibawakan oleh kawula muda dan tua secara bergantian.

Prinka cukup heran karena dia bisa menikmati seluruh pertunjukan.  Dia benar-benar terpikir bakal tertidur jika mendengar lebih dari tiga lagu keroncong, tetapi justru ia melek dan terpesona.

Dia juga mengamati anggota orkes keroncongnya:  kakek tua pemain biola, klarinet, dan lainnya.  Mereka tampak asyik sekali!

Belum pula kegembiraan yang ia rasakan saat Keroncong Kemayoran ditampilkan.  Ini lagu kenangan waktu dia berkunjung ke Gelora dan berduaan dengan Norman di ruang siaran.

Seusai pagelaran, judul itu masih awet berputar di kepala Norman dan Prinka.  Mungkin karena ada kenangannya.  Mereka menyusuri jalan Riau sebentar sembari mencari jajanan hangat karena angin cukup dingin.

Sampailah mereka di sebuah restoran fast food dan memesan jagung rebus.  Lalu mereka keluar sembari menggerogoti  sebongkah jagung hangat.  Norman akan menemaninya di angkot, seperti biasa, sampai ke jalan masuk kompleknya.

Angkot tiba, waktu jagung mereka masih setengah ompong.  Lalu perjalanan yang tak terlalu banyak diisi perbincangan lantaran sibuk mengerat tanpa terasa berlalu.  Norman dan Prinka tiba di gerbang masuk perumahan tempat Prinka tinggal.

Mereka menyanyikan lagu yang sama, dengan suara tak berteknik.  Tetapi kekompakan itu membuat keduanya terkikik geli.

“Lucu ya, lagunya,” komentar Prinka.

“Iya, isinya kan pantun,” Norman menjawab.

“Angkatan lima puluhan dulu kerjaannya berbalas pantun, ya, Kak.”

Norman bilang, “Kita juga bisa berbalas pantun.  Sampe sekarang pelajaran Bahasa Indonesia masih ngebahas pantun, kan?”

“Betul.  Delapan sampai dua belas suku kata per baris, dua sampiran, dua isi.  Hehe.”

“Bahkan versi Bahasa Sunda juga ada, kan?”

“Memang.”

Mereka tiba di depan rumah Prinka.  Rasanya malas sekali mengucapkan salam perpisahan.  Jadi mereka masih berupaya mencari topik baru.

Dan Prinka pun mawas diri.  Sudah malam dan besok hari Senin.  Dia mesti bangun pagi, tidak boleh berlama-lama.

“Kak, aku masuk dulu ya,” Prinka berkata dengan berat hati.

“Oh iya, Prinka, oke! Makasih ya.”

“Mestinya aku yang bilang makasih,” balas Prinka.

“Ya udah, sama-samalah,” Norman tertawa kecil.  Begitu pula Prinka.  Seperti biasa, mata mereka tak berhasil saling melepas.  Padahal Prinka sudah memegangi segel pagar.

Sejurus kemudian, entah kerasukan apa, Norman maju dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Prinka.  Dan anak ini membeku.  Wajahnya terasa panas dan riang di hatinya menjadi-jadi.

Bersamaan dengan itu, pintu rumah malah menjeblak terbuka.  Terdengar suara Ayah, “Prinka, kamu udah pulang?”

Prinka, Norman, dan si Ayah terkejut tingkat dewa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s