Gelombang Itu, Gelombang Gelora 10

Di Ruang Siaran

Katarina Ningrum

“Ka, tolong ambilin saputangan Bunda di kamar, dong! Gading, matiin lampu dapur ya.  Ayah mana sih, belum beres juga minumnya?”

Bunda rusuh.  Iya, malam ini, Prinka sekeluarga mau menghadiri undangan pernikahan salah satu saudara jauh mereka.  Mempelai wanitanya nanti adalah anak adik kakak ipar Ayah.  Tetapi hubungan dia dan Prinka lumayan dekat.  Bahkan lebih dekat daripada relasi Prinka dengan sepupunya sendiri.

Setelah semua orang siap, ayah dan bunda masuk ke mobil duluan, sedangkan anak-anak menutup pintu serta pagar.  Lantas melajulah mesin mobil.

Minggu siang.   Tabiat matahari agak aneh.  Ceria tetapi nyumput malu-malu di balik awan.  Fenomena inilah yang disebut ‘cedem’.  Cerah-cerah adem.   Warna langit yang biru-kuning-kelabu aneh membuat Prinka menatap keluar jendela mobil dengan melankolis.

Diamatinya gerak-gerik lalu lintas.  Orang-orang yang lewat.  Jalan yang dilindas.  Semua.  Sampai akhirnya Gading menowel-nowel pundaknya.  “Mbak Prinka! Kita udah sampe! Ayo!”

“Oh, udah sampe?” tanya Prinka linglung.  Gading menggeleng-geleng.  Kebiasaan melamun kakaknya ini sudah keterlaluan deh.

Mereka turun.  Ayah dan Bunda bergandengan masuk gedung resepsi.  Lantunan gamelan Sunda menyambut.  Langgam musik demikian membikin Prinka geregetan.  Ingin mendengar siaran siang Norman.

Kemudian isenglah dia mengirim SMS kepada si penyiar:

 

Kak, saya lagi dengerin degung Sunda lho! Tapi bukan via siaran siang Gelora. 😦

 

Sembari menanti datangnya balasan, Prinka dan Gading masuk untuk memberi selamat kepada dua pengantin yang berbahagia.  Juga bersilaturahmi dengan banyak orang dan menerima kata-kata paling standar dari kumpulan om-om dan tante-tante: “Wah, ini anaknya? Sudah besar ya! Kelas berapa?”

Walau bosan, Prinka dan Gading senyam-senyum saja.  Lantas mereka makan bersama seraya memerhatikan para tamu undangan.  Siapa tahu ada kecengan lumayan.  Gading menemukan beberapa gadis remaja sebayanya yang agak cantik.  Lalu Prinka menggodanya.

Kemudian Prinka melihat cowok-cowok muda yang ganteng, Gading lantas meledeknya.

“Eh, Mbak kan udah sama si Bang Norman!”

“Udah apa?”

“Udah…udah ngeceng!”

Prinka jadi teringat pada ponselnya.  Ia pun mengecek layar.  Belum ada balasan. Pasti masih sibuk siaran.

“Gimana, Mbak? Kapan nih kencan pertamanya? Yang tanpa Gading. Pas di BIP mah nggak dihitung kencan ya, kan bertiga.”

“Apa sih, Ding!?” Tepat saat Prinka menyanggah, hape-nya bergetar.  Ia membuka pesan yang rupanya dari Norman.

 

Wah, nggak setia sama Gelora! Ayo pasang radionya dulu.  :p Denger degung Sunda di mana kamu?

 

“Pasti SMS dari Bang Norman,” seloroh Gading.

“Kamu tau dari mana?” Prinka keheranan.

“Tuh, Mbak senyum-senyum sendiri abisnya.”

“Nggak,” jawab Prinka sembari menahan cengiran.

Gading ngakak.  “Udah, percuma ditutupin! Mukanya jadi jelek!”

Bunda dan Ayah muncul tiba-tiba.  Mereka mengajak dua anaknya memberi salam pada mempelai di pelaminan.  Sesudah salam-salaman dan berpelukan, Prinka dan Gading berjumpa adik si mempelai wanita, yang masih sepupu jauh mereka.

“Mbak Prinka!” ia memeluk Prinka.  Usia mereka berbeda setahun saja, tetapi Sitta, nama anak ini, selalu memanggil Prinka dengan sopan.

“Hei, Ta,” Prinka balas merangkulnya.  “Kita udah lama nggak main, ya!”

“Iya nih!”

Mereka bercakap-cakap seru.  Sekonyong-konyong berkibarlah satu pertanyaan fatal dari Sitta: “Mbak Prinka udah punya pacar?”

“Be…belum,” Prinka agak heran kenapa mesti tergagap-gagap menjawab.  Ia tidak berbohong atau apa kok.

Sitta berkedip-kedip ceria.  “Kalau gebetan punya, kan?”

“Ada! Penyiar radio!” Gading menyambar tak sopan.  Prinka mencubit lapisan lemak di perut bagian samping adiknya.  Tetapi si adik masih saja  keukeuh mewartakan hubungan asmara (?) sang kakak dan abang penyiar.  “Beneran lho! Tadi masih SMS-an. Kangen satu sama lain.”

“Aaah, so sweet!” Sitta tampak antusias.

“Kamu sendiri emang punya gebetan?” Prinka membelokkan inti pembicaraan.

Dengan santai melengang Sitta berkata, “Aku sih udah punya pacar, Mbak.  Dari kelas satu.  Anaknya lucu banget.”

“Hah?” refleks Prinka melongo.  “Selamat ya!”

“Iya, Mbak.  Kapan dong Mbak Prinka nyusul?”

Kalimat terakhir itu membuat Prinka tercenung.  Dia pun tak tahu kapan waktunya menyusul.  Dan kenapa dia harus menyusul.  Tetapi urusan perjodohan membuatnya ingat lagi pada Norman Halomon.

 

Siang itu terik menyengat.  Prinka dan Joan sedang berkumpul di kelas tambahan Akuntansi seperti biasa, dan mereka lebih banyak ngobrol daripada menyimak pelajaran.  Kasak kusuk nonstop mereka seakan sudah membuat sang guru pasrah sampai-sampai menegur pun enggan.

Tapi percakapan mereka hari ini edisi khusus.  Mereka membicarakan pelajaran!

“Nyoy, kamu laporan keuangan yang tanggal dua belas Maret berapa? Kok yang aku debet-kreditnya beda, ya?”

Prinka menengok.  Tatapannya penuh keputusasaan.  Tanpa perlu penjelasan, Joan berkata, “Yang kamu juga beda.”

Mengangguklah Prinka.

“Kita memang sehati, Nyoy,” ujar Joan.  Kemudian ia mengulang dari awal perhitungan buku besar toko kelontong Nyonya Ida (demikian nama tokoh soal ceritanya).

Seusai tambahan, Prinka dan Joan berjalan ke luar gerbang sekolah dan sekonyong-konyong mendambakan makanan atau minuman dingin.  Kebetulan, seorang penjaja es potong melintas.  Mereka pun kalap dan langsung melakukan transaksi rasa alpukat dan kacang hijau.

Asyik melahap es krim (ya, dilahap, bukan dijilat!), mereka jalan sepanjang trotoar menuju pangkalan angkot terdekat.  Mereka tertawa-tawa tiada henti sampai-sampai orang di sekitar mereka khawatir keduanya akan tersedak es potong.

“Nyoy, pokoknya beres UAN kita main sepuasnya, ya!”

“Pasti!”

“Dan kamu udah mesti jadian sama si Kak Norman, ya!”

“Hah!?”

“Mana dia? Kok nggak ada follow up?”

Prinka merasa déjà vu.  Lagi-lagi diingatkan soal ini! Tapi mesti diakui, ia pikirannya memang didominasi oleh Norman Halomon.  Sementara di sisi lain ia tak tahu harus melakukan apa.

“Menurut teori, ya, Nyoy, sekarang adalah saat-saat di mana si Kak Norman bakal ngajak kamu jalan!”

“Teori? Mana bisa beginian dibikinin teori.  Tiap manusia kan beda.”

“Ah, kamu filosofis amat.  Kalau percintaan sih, di mana-mana sama tahapannya kok.”

“Masa sih?” sahut Prinka polos.

Joan memegang pundak sobatnya.  “Dia SMS kamu nggak?”

“SMS sih, tapi…”

“Tapi…?” mata Joan membelalak.

“Ya gitu doang SMS ngomongin radio Gelora.”

“Dia nggak ngasih kode-kode,  Nyoy?”

“Kode apa?”

“Ya, mengungkit-ungkit hubungan kalian, gitu, misalnya.”

Prinka menggeleng.  Joan semakin melotot.  “Kok dia gitu, sih?”

“Lho, kok jadi nyalahin?”

“Bukan, kenapa dia nggak melanjutkan…”

Prinka lama-lama jenuh sendiri.  Dia pun diam saja, menghabiskan es krimnya.  Di lubuk hatinya ia sedikit penasaran.  Masa sih harus pihak perempuan yang mancing?

 

Engsel kursi berkeriut.  Tak ada suara-suara ribut lain di luar kicauan burung yang secara bergerombol berpindah tempat.  Keheningan khas siang jelang sore memang tak tergantikan.   Norman Halomon baru beres siaran degung Sunda dan mengubah moda pikirannya ke Bahasa Indonesia kembali.  Satu jam bicara Bahasa Sunda total lumayan bikin lidah kebal dari bahasa lain.

Sebetulnya, Norman sedang berpikir.  Menimbang-nimbang.  Sembari ia lempar-tangkap telepon genggamnya yang sudah bocel sana-sini.  Dia sangat siap untuk mulai mengirimi Prinka SMS yang agak basi tapi entah bagaimana ampuh turun temurun membuat pendekatan antara dua insan berlanjut, yakni pesan singkat ‘hei, lagi apa?’.

Tetapi dia rasa, Prinka bukan bocah sembarangan.   Dia cerdas, pengetahuannya luas, bahkan cenderung random.   Anak macam ini bukan tipe yang bisa didekati dengan template standar.  Setidaknya sejauh itulah Si Penyiar Radio menyimpulkan.

Apa harus ia menyelenggarakan kuis tiket Pagelaran Bambu lagi dan dengan sengaja  membuat Prinka menang kemudian mereka pergi bersama?

Lantas Norman mengecek kalender dinding radio Gelora.  Di situ sudah ditandai beberapa acara penting yang akan diliput.  Tidak ada yang ke-Prinka-Prinka-an!  Kecuali Prinka mau diajak ke acara musik keroncong…

Norman menelan ludah.  Keroncong.  Kalau dia suka hal-hal tradisional dan yang retro, seperti radio Gelora ini, mungkin, keroncong juga?

Setelah terdiam sesaat, Norman pun meraih hapenya.

Halo, Prinka! Kamu suka lagu keroncong? 😀

Sejam kemudian, Prinka baru membalas.  Mungkin setelah renungan panjang dan kepanikan khas anak perempuan.

Cuma tau Bengawan Solo sih, Kak.  Kenapa?

Menghela nafaslah Norman.  Kalau ditanya alasannya, rasanya jadi canggung sendiri!

Ya, barangkali tertarik nonton bareng acara keroncong di Graha Wanita Riau Minggu besok J

Sudahlah, bohong terlalu lama juga tak baik.

Sekian jam kemudian, bahkan seusai siaran Halo-Halo Bandung, Prinka masih juga bungkam.  Norman pun pulang ke kosnya dengan gontai.   Berbagai pikiran mengusiknya.  Mungkin Prinka jadi malas.  Barangkali Prinka kehabisan pulsa.  Atau, dia sedang fokus belajar untuk ujian nasional?

Saat tiba di depan pintu kos, Norman disambut oleh sang ibu pemilik rumah.  “Malam, Bu,” sapanya.

“Nah ini nih, ditunggu sedari tadi! Ayo, ke dapur, ada makan-makan, Nak,” Ibu Kos berceloteh cepat dan semangat.  Tampak dirinya mengenakan pakaian rapi, meski di dalam rumah.

“Makan-makan? Jam segini?” tukas Norman spontan.

“Iya, anak-anak lain belum pulang, kamu yang pertama, yuk, langsung saja! Ada syukuran kecil, anak saya keterima kerja di Yogyakarta!”

Norman melotot.  Yogyakarta? Kerja? Anak Ibu Kos? Oh, laki-laki, yang brewokan itu? Norman yang jarang ada di tempat mengernyit.

“Siap, Bu, ada makanan apa?” Norman pun nyengir.  Senang sih, makan gratis!

Dia pun digiring Ibu Kos menyeruak ke ruang makan sebelum sempat meletakkan tasnya di kamar.   Rupanya, banyak laki-laki muda berkumpul di sana.  Di atas meja terhidang aneka makanan hebat: tumis ceciwis dalam porsi raksasa, gurame goreng garing, lalapan berupa sayuran segar, tiga macam sambal, sayur asem, dan beberapa gelas sirup warna hijau.

Sudah lama Norman tidak makan mewah…

“Hei,” sapa anak Ibu Kos, kalau tidak salah namanya Radit, atau Adit, atau malah bukan sama sekali.  Untung saja si belum-jelas-namanya ini bertanya pada Norman.  “Nama?”

“Norman.”

“Kemal.”

Oh iya, Kemal!

“Sering pulang malem ya? Jarang ketemu kita.”

“Iya, Kak, siaran di radio soalnya, siarannya sampai malem.”

“Wuih keren, penyiar dia!” sahut salah satu teman Kemal yang wajahnya mirip Andy Lau.  “Radio mana?”

Agak-agak malu, Norman menyebutkan nama radionya yang norak, “Radio Gelora, delapan puluh delapan MW.”

“Radio AM?”

“Iya, AM, yah, MW, sama aja kan?”

“Emang masih ada yang dengerin?”

“Ada, anak SMA aja ada yang rajin SMS.” Norman merasa tak keruan.

By the way, gue Dion.  Ehm, radio Gelora itu, isinya apa?”

“Isinya ruang siaran, lah, Yon!” Kemal bergurau.

Dalam kecanggungan, Norman pun menerangkan bobot siaran radio Gelora, mulai dari degung Sunda, musik klasik, sesi konsultasi, sesi tanya-jawab kesehatan, dangdut (yang untungnya bukan tanggung jawab dirinya), lagu-lagu lawas, hingga yang paling waras: Halo-Halo Bandung.

“Lucu ya,” Dion berucap.  “Kenapa lo bisa kecemplung ke radio retro gitu?”

“Gara-gara iseng aja ngajuin lamaran, eh, taunya emang cuma gue kayaknya yang melamar ke sana.”

Mereka pun terbahak semua, bersama tiga orang lain di sana, termasuk satu-satunya perempuan di sebelah Dion yang dari tadi begitu kalem.  Mungkin pacarnya.

Norman pun celingukan sebentar.  Ia tidak melihat Ibu Kos.  Mungkin ada urusan lain dan tidak mau mengganggu anak-anak muda berkumpul.

“Makan, Norman, ini syukuran, saya minggu depan pindah Yogyakarta.  Sudah dapet kerja di pabrik coklat,” tukas Kemal.

“Pabrik coklat? Sebagai apa?”

Product developer crew.  Jurusan saya food-technology.  Yah, saya juga iseng kok ngirim lamaran ke sana, rupanya mereka memang lagi cari anggota tim pengembangan produk.  Biar nggak stuck kan jenis coklatnya.  Saya sih berbekal ilmu teknologi, ya, bukan tim kreatif, tapi setidaknya saya bisa mewujudkan apa yang diusulin sama yang punya ide, kira-kira begitu kerjaannya.”

Norman manggut-manggut.  Coklat.  Dia langsung membayangkan tempat kos ini akan dikirimi coklat lezat setiap bulan.

“Asyik ya, coklat,” Dion nyeletuk.  “Oiya, Norman, kan? Udah berapa lama kos di sini?”

“Satu setengah tahun, sempat sekolah broadcasting dulu, terus nunggu-nunggu jawaban lamaran sebulan, baru deh kerja beneran.”

“Wah seru!”

“Heran kan, Yon? Dia di sini segitu lama, gua di sini setahun ya, habis lulus, tapi gue jarang ketemu sama si Norman ini!” Kemal bicara.

“Iya, lo anak durhaka ya, jarang di rumah!” Dion mengejek Kemal.

Obrolan mereka bertahan sampai tengah malam, sampai piring-piring kosong, sampai Norman kenal semua orang di ruangan, hingga perut penuhnya tak keruan.   Ibu Kos sempat muncul sebentar memunguti piring-piring bekas yang sudah tak efektif, ngomong sedikit, lalu berlalu dan hilang.

Saat waktunya berpisah tiba, Dion bersama teman pendiamnya, serta dua teman Kemal lainnya berpamitan.  Dion tampak begitu heboh, bahkan terhadap Norman yang baru ia kenal pun dia sangat heboh, sampai minta nomor hotline radio Gelora segala.

“Gue dukung deh radio retro lo itu!” ujarnya.  “Yuk ah, dadah!”

“Makasih, lho!”

Kemal terbahak-bahak.  “Temen kosan lo yang lain mana sih? Pulangnya semalem ini?”

Norman teringat pada empat orang lain penghuni kamar kos.  Tetangga-tetangganya.  “Yang satu sih, setahu gue, emang kerjanya sampe malem di kedai kopi gitu, nah, tiga yang lain itu masih baru, gue belum kenal amat, soalnya gue kan pergi pagi pulang malem juga.”

“Oh, gitu?”

Arah obrolan makin tidak penting, maka Norman naik ke kamarnya di lantai dua, dan Kemal menemui ibunya di ruang keluarga mereka.  Mereka memang tinggal berdua saja.  Bapaknya kerja di luar pulau, pulang dua bulan sekali.

Di kamar, Norman baru ingat bahwa sedari tadi ia belum mengecek ponselnya.  Alangkah kagetnya dia mendapati tiga pesan dari Prinka:

Saya nggak suka keroncong sih, Kak, tapi, boleh deh nonton bareng.  Paling juga saya ketiduran kalau memang bosen banget.  J

Pesan kedua:

Kalau habis nonton ditraktir es potong, semakin nggak keberatan, Kak! 😀

Dan pesan ketiga, yang benar-benar terlihat panik:

KAK NORMAN, HP SAYA DIBAJAK TEMEN.  YANG TADI ITU BUKAN SAYA, TAPI DIA! Ehm, tapi asik-asik aja kayaknya nonton keroncong. 

Norman tergelak.  Bahagia.  Geli.  Prinka cerita apa pula ke temannya? Teman yang di angkot waktu itu?  Yang cerewet? Sepertinya iya.

 

Di kamar Prinka, dua cewek cekikikan.  “Tuh kan, kataku juga apa, Nyoy!”

“Ehm,” Prinka masih menahan kegembiraannya.  “Joan.  GIMANA INI!?”

“Diajak kencan kok malah panik?!”

“Ya iyalah panik! Kamu juga sih, malah ngebajak hapeku.”

“Kan tadi kamu bilang sendiri, kamu kalau bosen sama keroncong, ketiduran.  Ketidurannya di pundak Kak Norman.  Hahaha!”

“Tapi kan itu rahasia pribadi, nggak buat diumbar-umbar juga, kali!”

“Udah, tenang, aku kan nggak ngebahas urusan bersandar di pundaknya.  Tenang, Nyoy.  Sekarang, yuk, kita susun skenario kencan kamu lusa!”

“Kencan pakai skenario?”

“Iyalah, Nyoy!”

“Ngapain, biar ngalir aja deh.”

“Yah, setidaknya, tentuin mau pakai baju apa.”

“Gimana mood entar aja, deh.”

Joan pun tersenyum.  “Bangga deh punya temen kayak kamu, Nyoy.  Udah yuk, tidur, kalau kamu berhasil tidur.  Aku ngantuk!”

Mereka pun merebahkan kepala di atas bantal, di antara kertas-kertas dan buku tulis yang tergeletak.  Senin depan mereka akan menjalani try out ujian nasional.  Tetapi di kepala mereka malah urusan kencan yang berjalan-jalan.  Sepertinya bahan pelajaran yang dari tadi mereka usahakan untuk dibaca, malah sudah tertimpa dan lenyap…

Acara keroncong yang dinanti, sudah hadir duluan di dalam mimpi Prinka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s