Gelombang Itu, Gelombang Gelora 9

Katarina Ningrum

lebirthdaycake

 

Lobi depan radio Gelora lengang.  Sementara itu, Norman sudah basah kuyup.  Setiap langkah kakinya becek, bahkan meskipun sudah ditransfer  ke keset WELCOME di depan pintu barusan.  Dua puluh menit lagi siaran berikutnya, dan untunglah ia sudah di sini.

Dia cepat-cepat mengambil minum, dan melihat sebuah gelas setengah penuh di meja makan bersama dekat sofa.  Juga tampak seonggok kotak karton di samping gelas.  Ia mengernyit.  Tidak biasanya ada benda asing di sini.  Dan dus apakah itu sebenarnya?

Sebentar, Norman duduk di atas sofa buluk.  Menikmati airnya.  Lama kelamaan ia mulai curiga akan keheningan tak wajar ini.  Biasanya kantor radio Gelora memang agak sepi, tapi kok sekarang rasanya berlebihan, ya?

Penasaran, ia bangkit berdiri, bergerak menuju dapur yang tersambung ke ruang Bapak Pimpinan.

Norman melangkah ekstrapelan, hingga tak sedikit pun terdengar suara, dan…

“SELAMAT ULANG TAHUN!”

Teriakan itu menggema di dapur Gelora yang mungil tetapi hangat.  Norman terpana melihat sebatang lilin menyala di atas kue kecil berornamen warna-warni.  Lagu ‘Panjang Umurnya’ dinyanyikan oleh segerombol manusia.  Tetapi bagian terbaiknya adalah, orang yang membawakan kue.  Prinka, yang pipinya merona merah, tersenyum, dan tampak sangat manis.

Norman terpaku dan lidahnya kelu.

Mimpi apa dia semalam?  Bagaimana ceritanya seorang Prinka hadir di radio Gelora bukan untuk mengambil hadiah tiket?

“Ayo, ditiup lilinnya,” ucapan Bapak Pimpinan membuyarkan ketakjuban Norman.

“Oh, iya, Pak, siap,” Norman berkata canggung.  Ia tak dapat melepaskan tatapannya dari kedua mata Prinka yang juga sama stagnannya.

“Dia nih yang bawakan kue buat kamu,” Bapak Pimpinan melirik Prinka.

Wajah Norman sumringah tak tertahankan.  Senyumnya kian melebar.

“Cepat ditiup! Nanti lilinnya habis!” sekali lagi Bapak Pimpinan memperingatkan.

“Oke, Pak!”

Norman meniup lilin.  Kemudian barulah ia memandang sekeliling.  Selain Prinka dan Bapak Pimpinan, ada pula teman Prinka sesama anak SMA, serta ibu produser.

“Terima kasih, ya,” Norman menggaruk rambutnya.  Salah tingkah.

“Dimakan, Kak,” akhirnya suara Prinka terdengar.  Norman menoleh dan lagi-lagi membeku.  Suasana kikuk merebak di antara kedua orang ini.

“Boleh nih? Makasih ya, Prinka!” jurus penyiar ceria Norman dikeluarkan.  Ia berusaha terlihat santai.   Kue yang lezat tapi sayang ukurannya kurang ramah sekitar karena kekecilan itu pun dibagi-bagikan.  Secuil demi secuil.  Norman begitu gembira, begitu pun Prinka. Meski nyengir saja ia tak berani.

Karena masih ada waktu sepuluh menit sebelum siaran berikutnya, Norman mengambil waktu sesaat untuk mengajak Prinka bicara.  Dia mengundang Prinka ke ruang siaran.  Tanpa banyak bicara, sebetulnya, karena Joan sudah berkomat-kamit terus, “Tuh, Nyoy, kamu ‘kan katanya penasaran pingin lihat ruang siaran Kak Norman, sana tuh tengok!”

Entah kenapa Norman tersugesti oleh omongan teman Prinka yang blak-blakan itu.  Ia pun bilang, “Yuk, Prinka, hari ini lagu pertama siaranku, kamu yang pilih.”

Dan berjalanlah mereka ke ruang siaran.  Baunya apek, tetapi hidung Norman sudah kebal.  Di situ ada sebuah komputer, dan satu rak berisi kaset.  KASET.  Radio ini memang agak nyangkut di tahun sembilan puluhan.

“Ya, ini dia tempat ngoceh tiap harinya,” ujar Norman seperti pemandu wisata.  Prinka tersenyum malu-malu.

Karena melihat Prinka masih diam, Norman pun mengisi atmosfer lagi, “Nah, jadi, pingin lagu apa, nih?”

“Beneran boleh milih, nih?” Prinka tak percaya.

Norman mengangguk.  Biasanya  dia mengangguk ceria.  Tapi entah kenapa kali ini ia mengangguk seperti seorang ayah mengiyakan permohonan anaknya.  Atau apa deh.  Anggukannya serius dan berwibawa.  Sembari matanya menatap Prinka.

“Uuumm,” Prinka kebingungan.  Ia celingukan.  Menatap deretan kaset yang sebagian tak ia kenal namanya.  Lalu mengintip daftar putar di komputer.  Kemudian ia memandang Norman yang tingginya kira-kira sepuluh sentimeter di atasnya.

“Ya?” tagih Norman.

“Lagu kesukaan Kakak apa?”

“Aku? Banyak.  Tapi paling suka keroncong sih.  Karena tinggal sama kakek, jadi dengernya yang begituan.”

Prinka membelalak.  Keroncong? Wah, Prinka tidak mengerti keroncong.  Tetapi ia menikmatinya.  “Oke, aku mau lagu keroncong.  Hari ini kan ulang tahun Kak Norman. Harus dirayain dengan sentimental. ”

Norman mengerjap.   Gadis ini memang sangat antik.  Ia pun tanpa sadar sudah mengusap rambut Prinka.  Padahal bertemu pun hanya berapa kali.  Tapi sepertinya ia terpikat pada Prinka begitu jauh seakan mereka berjumpa setiap hari.   Ya, mungkin memang setiap hari, tetapi via siaran radio.

“Terima kasih ya, Prinka.  Kamu kok rajin banget sampe pergi ke sini demi bawa kue?” kata Norman lembut.

Sementara itu Prinka terpaku.  Debar jantungnya tak tertahankan.  Lidah menjadi kelu.

“Keroncong Kemayoran.  Tau lagunya? Enak dan ceria.  Karena kamu yang pilih, silakan diam di sini sebentar supaya bisa denger satu lagu pembuka hasil request pendengar setia radio Gelora, bersama penyiarnya langsung!” Norman berceloteh seru.

Ia menyodorkan kursi pada Prinka.  Dan mendekatkan diri ke mikrofon.  Memasang headphone.  Entah menekan tombol apa, kemudian jingle radio Gelora terdengar.  Prinka menyenandungkannya dalam hati.  Hafal luar kepala.

Norman nyengir padanya.  “Siang semuanya! Hari ini saya kedatangan tamu istimewa di sini.  Bukan, bukan dokter terkenal.  Bukan ahli psikologi.  Bukan wirausahawan.  Seorang siswa SMA yang inspiratif, yang minta saya memutarkan satu lagu keroncong untuk kita semua sebagai pembuka sore yang spesial ini!”

Dan sore itu memang menjadi sangat istimewa.  Prinka sampai mesti menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan untuk menutupi cengiran yang tidak mau berkompromi menunggu kalau Norman sudah tidak memandanginya.  Ya, memandanginya dengan penuh gelombang cinta, ah, walau geli, katakanlah begitu!

Sementara itu, Keroncong Kemayoran mengalun.

La la la la la la la oiii…

Janganlah lupa, janganlah lupa suara saya…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s