Gelombang Itu, Gelombang Gelora 8

Katarina Ningrum

 

Entah kenapa segalanya terasa berbeda hari ini.

Prinka bangkit dari tempat tidurnya tanpa banyak berkonfrontasi dengan kemalasan.  Hembusan angin pagi yang biasanya mendorong dia masuk ke dalam selimut, sekarang malah membangunkannya.

Setelah melompat, Prinka langsung bersiap-siap pergi ke sekolah.  Dia menemui orang tuanya sudah ngetem di meja makan, menyantap roti selai kacang, sedangkan Gading si adik tampaknya sedang mandi.

“Pagi, Bunda.”

“Pagi, Ka.”

Ayah dan Bunda terkejut karena anak perempuannya tidak tampak heboh atau jutek seperti biasanya.  Sebaliknya, Prinka seperti baru mendapat pencerahan dari langit.

“Sarapan, Ka,” tukas Bunda kikuk.

“Iya.”

Prinka duduk manis di hadapan setangkup roti.  Lalu ia makan tanpa bersuara.

“Kamu sehat-sehat?” tanya ayah blak-blakan.

Mulut Prinka menganga.  “Hah? Sehat kok, Yah.”

“Terus kenapa…anteng banget?”

“Nggak apa-apa…”

Setelah sesi sarapan selesai, Prinka pun berangkat.  Begitu memastikan tak ada siapapun yang mengawasi, ia tersenyum sendiri.  Rasanya sambil berjalan, ia bisa terbang melayang.  Sungguh, hatinya terlalu ringan untuk dijelaskan.

Ia sudah tidak sabar ingin bercerita pada Joan apa yang terjadi kemarin malam bersama siaran Halo-Halo Bandung.  Masih terngiang di telinganya cara Norman Halomon berbicara, sedikit tergesa-gesa tapi melambat di akhirnya, bahasanya campur aduk, luwes dan tulus.

“Ya, sebelum kita dengar lagu terakhir kita, saya ucapkan selamat malam, sadayana.  Kritik dan saran, boleh dikirim lewat handphone masing-masing, atau telepon langsung, boleeh.  Tetap mencintai Bandung, dan jangan lupa jaga kesehatan jiwa raga selalu!

Oh iya, saya ada pesan nih, buat Prinka, pendengar kita yang rajin ngasih berita dan request lagu.  Ternyata anak aslinya memang asyik diajak ngobrol lho! Saya aja sampe lupa siaran nih tadi.  Makasih payungnya, ya, Prinka.  Nggak jadi rusak gara-gara saya kan? Tadinya saya hampir lupa bawa payung itu, lho. Untung payungnya kebawa.  Eh, malah hape saya ketinggalan di meja studio.  Yaah, namanya salah tingkah ya, pendengar semuanya. Hahaha! Prinka, kapan-kapan hang out bareng yuk! Tapi harus siang bolong, karena sore sampai malem saya siaran.  Kira-kira kamu mau, nggak?

Oke deh, sekian saja dari saya.  Pada marah nanti nggak dikasih-kasih lagu.  Sampai jumpa, Bandung!”

Prinka menahan nafas saat mendengar ucapan itu.  Dia baru berjumpa dengan Norman sorenya, dan lelah berdebar menatap mata dan senyum sang penyiar.  Sekarang dia diberi pesan spesial lewat radio…alangkah kombonya.

Kalau sistem imunnya lebih lemah sedikit, dia pasti sudah pingsan dan kena pilek parah.  Atau asma.  Ah, tapi amit-amit.

Sampai saat ini ia masih sangat gembira.  Rasanya ada letupan-letupan besar keluar dari batinnya, menyemprotkan bunga-bunga untuk menemaninya berjalan.

***

Radio Gelora pagi itu dikejutkan oleh naiknya rating pendengar mereka disertai munculnya permohonan pasang iklan tambahan.  Tak ada yang tahu asal muasal fenomena ini.  Bahkan Bapak Pimpinan pun hanya dapat memandangi sejumlah kecil penyiar tetapnya serta seluruh kru lain, dengan ekspresi sumringah.

“Kerjasama yang baik, anak-anak,” beliau hanya mengucapkan sepatah kata optimis tersebut, lalu membuka setoples kue kering keju dan menawarkannya ke seluruh anggota Radio Gelora.  “Sebagai perayaan, silakan makan sepuasnya.”

“Terima kasih, Pak!”

Semua orang bergembira dan menggayem kaastengels tersebut.

“Norman,” tiba-tiba si bapak memanggil satu nama.  “Coba ceritakan bagaimana situasi pendengar kita belakangan ini?”

“Oke Pak,” Norman menelan dulu kuenya, baru melanjutkan. “Di siaran degung, dapat dijumpai sekitar lima sampai tujuh pendengar baru yang mulai mengontak lewat telepon dan SMS.  Kebanyakan mengajukan request lagu, dan sebagian hanya tanya-tanya tentang degung.  Saya rasa sekali-kali kita harus undang tamu musisi tradisional Sunda, Pak, supaya format acaranya lebih edukatif.”

“Ide yang bagus,” puji Bapak Pimpinan seraya mencatatnya di buku kecil.  “Lalu?”

“Tajuk lagu-lagu retro, Tembang Kenangan, cukup sukses belakangan.  Variasi lagu yang diputar lebih beragam, dan request yang masuk bertambah. Program musik klasik pun lebih berkembang.  Karena saya rasa Kota Bandung kini punya kemauan mendengar musik klasik.  Mungkin nanti kita butuh utusan untuk meliput konser-konser musik klasik yang sekarang lumayan banyak.”

“Bagaimana dengan Halo-Halo Bandung?”

“Sangat beken,” tukas produser tiba-tiba.

“Iya, Pak, Halo-Halo Bandung lebih banyak didengarkan.  Dan pendengar setia pun tidak berpindah ke mana-mana.  Belakangan, SMS dan telepon yang mengirim informasi bertambah banyak.  Mungkin sudah saatnya menambah perbendaharaan lagu untuk mengisi siaran ini.”

Bapak Pimpinan cengar-cengir, dengan kumisnya yang menggemaskan.

“Saya rasa, Radio Gelora semakin menggelora sekarang.”

“Kita jadi lebih kuat,” produser menukas.  “Berkat penyiar baru ini.”  Ia menepuk lengan Norman keras-keras.  Memang, dia jadi termuda di antara semua bapak-bapak dan ibu-ibu di sini.  Entah bagaimana nasib mereka tanpa kemunculannya.

Orang-orang di sana pun tersenyum tulus.  Heran.  Norman pikir dunia kerja akan sedikit kejam dan sikut menyikut.  Lantas kenapa Jalan Kedondong nomer delapan berisi manusia-manusia semurni dan sebaik ini? Apa karena statusnya radio tua? Atau Norman saja beruntung mendapat kerja di sini?

***

“Itu pernyataan cinta, Nyoy,” Joan berujar tanpa tedeng aling-aling.  Seakan apa yang diucapkannya eksak.

Kontan pipi Prinka menghangat.  Dia ingin senyum, tapi kesannya norak.  Mau murung, kok nggak kepingin…

“Udahlah, kalian pasti jadi.  Malem Minggu ini pasti jalan ke mana terus dia nembak kamu.”

“Malem Minggu dia siaran.  Setiap malem juga dia harus ada di Gelora.”

“Ya Malem Minggu kan berlaku dari pagi sampai pukul nol-nol nol-nol.  Kamu kencan sama si cowok radio siang bolong, pun, termasuk Malem Mingguan.”

“Joan…”

“Nggak usah ngeles, ah, Nyoy.”

“Bukan, aku nggak berencana ngeles! Aku nge-blank.”

“Nge-blank kok masih bisa ngomong? Mestinya iler kamu udah netes-netes, kayak si Patrick.”

Prinka tidak bereaksi.  Tatapannya lurus ke papan tulis yang ada coret-coretan iseng.  Tidak, dia tidak membaca coretan tersebut.  Buat apa juga.  Otaknya berkelana ke Jalan Kedondong, di mana sebuah rumah art deco menggalang nama Gelora dan menjadi tempat berlabuh seorang lelaki bernama Norman Halomon…

Hari ini akan terasa sangat panjang.

“Jadi dia udah SMS kamu?”

“Belum, Joan.” Prinka kemudian membelalakkan matanya sendiri.  Kenapa dia jawab ‘belum’? Kentara sekali dia berharap.

“Kamu nungguin ya?” Joan semakin jahil.  Ia pun merangkul sobatnya.  Cekikikan.

Dia tahu, saat seperti ini akan datang.  Waktu di mana Prinka atau dia akan mulai diikat oleh keberadaan seorang cowok.  Waktu ketika harus berbagi sahabat dengan seorang sosok yang sangat penting.   Joan tercenung cukup lama.

Tidak semudah itu juga, menghadapi fase baru dalam hidup.  Bahkan bagi seorang Joan yang fluktuatif.

***

Langkah kaki meramaikan orkestra rintik-rintik hujan dan decakan genangan air di jalanan.  Norman masih senyum-senyum sendiri sesudah dipuji bertubi-tubi oleh semua staf Gelora MW.  Dia tidak pernah menyangka, pekerjaan yang aneh ini bisa membuatnya senang.

Sebelum tiba di kosan, Norman membeli pisang goreng hangat dan saat melihat kantungnya penuh berisi lima buah gorengan, ia merindukan kakeknya.  Sesekali ia harusnya menyempatkan diri pulang ke Bogor! Tapi sekarang dia praktis tak punya hari libur sama sekali.

Bahkan hari Minggu pun tidak ada istirahatnya.  Kecuali dia bisa pulang super buru-buru dari pagi sampai siang lalu pulang sebelum persiapan siaran Halo­-Halo Bandung.

Norman pun menggaruk-garuk rambutnya dan bingung.  Dia langsung mencapai kosan, kemudian menelepon kakeknya.

“Hai, Opa. Lagi apa?”

“Eh kamu! Gimana kerjaan hari ini? Sudah pulang?”

“Udah, Opa. Ini aku beli pisang goreng banyak, Opa mau?”

Opa Norman tergelak.  “Gimana caranya? Kirim lewat pesawat telepon?”

“Hahaha! Iya, Opa.  Mungkin bisa.”

Kakek Norman memang orang yang suka bercanda.  Mereka sering sekali berbalas guyonan sampai sakit perut akibat ngakak-ngakak.   Tapi beda dengan mala mini.  Mendadak saja Opa membicarakan hal serius:

“Norman, kamu mau nerusin kerja jadi penyiar dari radio yang sekarang? Kata kamu nggak ada harapannya.”

Lantas sang cucu menelan ludah.  Dia memang pernah curhat pada Opa tentang kesuraman radio Gelora, yang seakan nyaris punah. Sekarang tiba-tiba ia merasa sangat betah bisa bercokol bersama Gelora.

“Sekarang keadaannya jadi beda, Opa.”

“Beda gimana? Berubah saluran ke FM?”

“Nggak sih, Opa.  Tapi…”

Norman lantas menceritakan perihal rapat tadi siang.  Dia bicara sambil senyam-senyum bangga.  Dia tahu Opanya selalu mendukung cita-cita Norman menjadi penyiar radio.  Memang Opanya juga yang mengenalkan Norman kepada radio.  Waktu kecil, setiap siang, Opa mendengarkan radio nasional dan Norman sering duduk di pangkuannya, menelan apa saja yang berkumandang dari sana.  Seiring pertumbuhannya, Norman ketagihan dengan radio.  Dia baru bisa tidur kalau diiringi siaran radio, bahkan meskipun tajuknya cerita misteri.  Dia senang jika terjadi obrolan antara penyiar dengan pendengarnya.  Dia suka saat jingle radio dikumandangkan. Dia menyenangi semua hal yang bertautan dengan radio.

“Opa, jangan tidur kemaleman, ya,” setelah bertutur panjang, Norman hanya berkata begitu pada sang Opa.  Kemudian ia juga berbaring di atas kasurnya yang nyaman.  Menatap langit-langit dan lampu yang tak terlalu terang.

Diganyemnya pisang goreng hangat dengan santai, dan tiba-tiba ia teringat akan telepon selulernya.  Ia mengambilnya dan mengecek apakah ada gejala-gejala komunikasi di sana.

Beberapa pesan sudah masuk dan ia cepat-cepat membalas semua yang harus ditanggapi. Ada pesan dari temannya, saudaranya, sampai SMS promosi operator.  Lalu ia teringat akan Prinka.  Sesaat, ia sempat lupa soal kehidupan pribadinya lantaran hidung terbang mendapat compliment dari staf Gelora.  Dan begitu gelombang Prinka datang, ia terduduk tegak dan terngiang-ngiang tentang ucapan nekatnya sendiri.

Skrip  yang sudah penuh coretan itu bahkan masih ia simpan di atas meja, di depan matanya. Memang malunya setengah mati. Tapi sekarang timbul kebanggaan aneh di hatinya. Selangkah menuju sukses.  Tak ada kepastian apakah Prinka sepakat, tetapi keraguan tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah.

Maka Norman bersiap-siap membuat pesan teks baru.  Tetapi bukannya mengetik apapun, ia terdiam dan keberaniannya surut.  Idenya hilang.  Apa yang harus dia tulis? Pertanyaan garing soal kegiatan sehari-hari? Dia rasa Prinka bukan tipe yang seperti itu!

Ia membatalkan SMS. Daripada mengundang kecurigaan, lebih baik dia diam dulu sebentar.

***

“Kamu tahu ‘asertif’, Joan?”

“Hah?”

“Iya, jadi itu semacam versi ringannya agresif.”

Joan melongo memandangi sobatnya yang tampak risau.  Apakah Prinka sudah mau membuat pergerakan gerilya mengejar sang penyiar radio? Atau dia justru menyerah? Atau apa?

“Kenapa?” Joan bertanya.

“Hari ini Kak Norman ulang tahun,” Prinka berkata lirih.  “Aku mau bersikap asertif dengan  menulis pesan yang panjang dan istimewa. Yaelah, bahasaku kenapa jadi gini?”

Benar.  Baru saja kemarin malam ia menyimak siaran Halo-Halo Bandung spesial pakai pesan pribadi khusus untuk Prinka, tadi pagi salah satu penyiar senior radio Gelora berkata bahwa hari ini, satu hari di bulan Desember, Norman Halomon sang pemuda yang fasih berbahasa Sunda lemes, sedang merayakan ulang tahunnya yang kedua puluh tiga.

Belasan SMS langsung bertaburan mengucapkan selamat.  Prinka ingin ikutan, tapi dia pikir lebih baik mengirim pesannya langsung saat Norman siaran, siang nanti, dalam Bahasa Sunda.

“Huh, cuma ngirim SMS doang sih nggak berkesan, Nyoy!” komentar Joan pedas.

“Ya emang mesti gimana? Beli kue tart, pergi ke radio Gelora, pasang lilin, nyanyi? Terus seluruh umat di sana ngegosipin aku?”

“Kamu terlalu banyak takut, Nyoy.  Gini ya. Cowok itu kalau dikasih sinyal, harus agak mentereng, biar dia ngeh.  Yang penting jangan berlebihan dan berkesan mengekang aja.  Kalau kamu memang pingin bawa kue buat dia, menurutku itu ide yang bagus banget, Nyoy.  Belum pernah seorang Nyoy Nyoy punya ide spektakuler gitu.”

Melihat Prinka masih cengo, Joan terus meleter, “Nih ya, ngembaliin payung kamu aja dia rela.  Nganterin kamu pulang naik angkot aja dia mau. Dan dia udah ngasih tanda-tanda duluan lewat siaran kemarin, ‘kan? Udahlah, kamu harus bales secepatnya sebelum dia nyerah, Nyoy.  Apalagi kemarin kamu nggak ngerespon sama sekali.  Nanti dia galau, lho.”

Dan Prinka tetap bingung.  Dipikirkannya dua skenario.

Skenario pertama adalah mengirim pesan yang bagus dan superspesial, mendapat respon ramah khas penyiar radio, syukur-syukur diberi ucapan khusus lagi, mungkin kali ini dalam Bahasa Sunda, dan Norman akan membalasnya lewat SMS berikutnya, dan selanjutnya saling balas pesan sampai malam.

Skenario kedua, beli kue kecil dan sebatang lilin plus korek api, nongol di Jalan Kedondong, membuat Norman terkejut, sekaligus staf radio lainnya tersenyum gosip.  Sebetulnya perasaan Prinka kuat sekali soal rencana ini, karena dia pikir ini akan sangat membahagiakan seseorang yang sudah membuatnya gembira ria setiap kali.

“Bingung, Joaaan!”

“Halah, jangan dong. Udah, aku temenin beli kue, aku temenin ke radionya, tapi nanti pas dia nongol, aku ngumpet.”

Melihat sorot mata Joan yang penuh kepercayaan, Prinka ingin mengangguk, namun ia menunda-nunda keputusan sampai siaran Sunda siang terlewat karena dia harus ikut pelajaran tambahan Akuntansi.

Sekeluarnya dari kelas, Prinka pun akhirnya menguatkan iman serta mengumpulkan keberanian.  “Ya, baiklah, Joan, kita ke toko kue.”

Joan mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi.  Semangat.  “Yes! Prinka rules! Prinka jaya! Prinka bergelora!”

Mereka pun segera ke toko kue kecil yang terletak dekat pangkalan angkot menuju daerah tempat radio Gelora berpijak.  Prinka, karena lupa bawa uang lebih, terpaksa mengajak Joan patungan membeli sebuah cupcake rasa coklat dengan titik-titik krim di sekeliling permukaan atasnya, dan bagian tengahnya kosong tanpa hiasan, supaya mudah menancapkan lilinnya.

Dalam dus karton, kue itu tampak nyaman dipeluk Prinka dan diawasi Joan.  Mereka berdua, seperti biasa, naik angkot.  Langit mulai mendung, sehingga Prinka merasa gelisah.  Kalau sampai hujan, kue ini akan basah kuyup.  Rembeslah kartonnya.

Saat mereka berjalan masuk Jalan Kedondong yang sepi, disertai angin dingin jelang hujan, jantung Prinka berdegup-degup tak keruan.  Rasanya seperti akan masuk ruang praktek dokter gigi.  Ngeri.  Walaupun dia tahu akan indah pada akhirnya, tetapi tetap saja tegang.

“Sebetulnya kita ngapain, sih?” dia mulai bimbang.

“Dih!” Joan meninju lengan Prinka.  “Jangan mulai, deh.  Kamu udah sampe sini, masa iya balik lagi?”

“Bentar lagi ujan, Joan,” Prinka menemukan alasan bodoh.

“Nggak! Maju terus!”

Ingin rasanya Prinka kembali ke masa kecil, jongkok sambil menangis kalau tak mau mandi.  Atau kabur saja dari dokter gigi.  Ia ingat pernah lari dari dokter gigi sampai beberapa orang sekitar tempat praktek harus mengejar dan membujuknya habis-habisan.

Tapi toh, akhirnya, Prinka tetap menjalankan ritual periksa giginya.  Apa boleh buat.

Sekarang pun, ia mesti mengerjakan proyeknya.  Apa boleh buat pula.

Bulu kuduknya merinding begitu tampak plang bertulisan Radio Gelora, nomor 80A di dekat situ, dan gelombang hawa ke-Norman-Halomon-an yang terasa kuat sekali.  Lho, kenapa jadi mistis, ya?

Langkah Prinka kecil-kecil.  Membuat suara pun ia tak berani.  Pintu depan terbuka.  Ia jadi terkenang masa ketika ia mengambil tiket Pagelaran Bambu tiga bulan lalu.  Momen pertama saat dua mata mereka bertemu malu-malu…

“Cari siapa, Dek?” sebuah suara menyapa.  Terlihat bapak-bapak setengah baya, berkumis rapi, memakai polo shirt abu-abu dan celana panjang serta sepatu keds, tersenyum ramah.   Suasana manusia itu sangat retro.  Di mata Prinka demikian.  Dia sampai berpikir jangan-jangan bapak ini punyanya walkie talkie, bukan handphone.

“Kak Normannya ada, Pak?” tanpa tedeng aling-aling, Joan menjadi juru bicara bagi Prinka.

Si bapak di hadapan mereka tetap tersenyum, namun sebuah ucapan membuat Prinka serasa dijitak.  “Normannya lagi keluar sebentar.  Tapi nanti sore dia balik, karena ada siaran. Mau tunggu sebentar? Ini dengan siapanya? Adiknya?”

Prinka nyaris mengaku-aku sebagai adiknya sebelum Joan menimpali, “Bukan, Pak, ini temen saya pendengar setia radio Gelora.  Dia mau ngasih kado buat Norman.”

Ya ampun, pakai filter kenapa sih, Joan!?  Prinka menjerit tertahan dalam hati.  Mukanya sudah semburat merah sempurna akibat malu.

“Kalau gitu masuk dulu aja, radio ini sudah seperti rumah saya, jadi saya persilakan kalian.  Yuk, duduk di sini.” Bapak itu menunjuk sebuah sofa buluk yang aromanya aneh.  Joan dan Prinka duduk anteng di situ.  Prinka terus menunduk menatap kuenya.

“Minumnya ambil sendiri dari dispenser ya.  Itu ada gelasnya. Bebas pilih yang mana.  Om masuk ke dalam dulu, coba telepon Norman ya, biar cepat kembali?”

“Nggak usah repot-repot, Om, kita kan mau bikin kejutan,” Joan semakin asyik mengarang bebas.

“Nggak, lebih baik Norman diminta cepat ke sini, karena sebentar lagi hujan.”

Baru saja si bapak baik hati itu bicara, si hujan sudah turun, mungkin merasa dipanggil.  Dia turun berduyun-duyun sampai pemandangan dua meter jadi keruh karena terhalangi pasukannya.  Dan Prinka jadi lemas.  Dia teringat bahwa kemungkinan besar  bahwa Kakak Penyiar Ganteng Norman Halomon lagi-lagi tidak membawa payung.  Bagaimana caranya ia kembali? Sampai jam berapa Prinka harus menunggu?  Ah, seandainya payung Prinka masih ada di tangan Norman, tentu tidak akan sulit!

Joan menepuk-nepuk pundak Prinka.  “Tenang aja ya, Nyoy, ini ujan pasti bentar lagi udahan, kok.”

Di radio Gelora, seorang gadis menunggu.  Di sudut kota yang lain, sepertinya seorang pemuda kelimpungan membutuhkan payung, sedang hatinya sangat gelisah merasa ingin cepat-cepat berada di radio Gelora lagi.

 

Halo-Halo Bandung

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s