Gelombang Itu, Gelombang Gelora 7

Katarina Ningrum

(Kali ini versi tidak berwarna, karena dunia keduanya sudah mulai terhubung.  Dicoba saja, apa anda tetap bisa membedakan mana dunia Prinka, mana dunia Norman? :))

Rumah Prinka sedang berantakan.  Sekumpulan ibu-ibu teman-teman Bunda dari sekolah, berkumpul untuk rapat perayaan Natal dan tahun baru.  Smart Sprouts, seperti Bunda, sangat suka perayaan.  Hampir seluruh hari raya di Indonesia, ada peringatannya di sekolah, baik melalui perlombaan kecil, nyanyi bersama, makan-makan, atau apapun.

Dan sebelum hari-H, pasti rumah Prinka penuh ibu-ibu rekan sejawat si Bunda.  Kali ini mereka membawa banyak barang karena sekalian  mau mengerjakan dekorasi.

Huh! Kenapa tidak di sekolah saja?

“Supaya nggak jenuh, Prin,” jelas Bunda menanggapi protes anak sulungnya.

Karena sama-sama jengah saking berisiknya teman-teman Bunda, Prinka dan Gading kabur untuk jalan-jalan.  Mereka pun menyusuri daerah perumahan sampai bosan, kemudian akhirnya masuk ke salah satu angkot dan pergi begitu saja mencari penghiburan.

Kakak beradik itu pun mencapai salah satu mal Bandung yang asyik buat nongkrong dan cuci mata.  Walaupun cuci mata kadang bisa bersambung ke sesi cuci dompet…

Mereka berjalan-jalan di dalam gedung, sembari ngeceng sana-sini.  Kadang Prinka masuk ke toko aksesoris.  Atau nanti Gading menengok ke dalam distro favoritnya.  Sesudah lelah berputar-putar, mereka pun menuju pusat makanan alias food court dan mulai mengganyem.

Prinka memakan kentang goreng bumbu, sedangkan Gading malah kayak orang diet, cuma pesan jus melon nggak pakai gula dan es batu.  Lain kakak, lain adik!

Mereka lumayan anteng saat mengunyah, dan mulai berisik lagi sesudah makanan mulai habis.

“Kira-kira di rumah masih heboh nggak ya, Ding?”

“Emboh, Mbak, ngebayanginnya serem,” tukas Gading.

“Habis ini kita ke mana dong?”

Gading memutar matanya.  Cari akal.  Dia juga tak tahu.  Yang penting bisa menghindari populasi ibu-ibu ceriwis dulu.  Syukur-syukur kakaknya Prinka pun sejurusan dengannya!

“Perut kenyang, asyiknya cari lapangan olahraga ya,” akhirnya Gading berkata.

Prinka langsung melorot di kursinya.  Males banget, olahraga!

“Ding, barangkali temen-temen Bunda udah pulang,” Prinka cari alasan. “Kita balik yuk?”

“Mbak, biasanya juga mereka pulangnya malem! Kita mesti kelayapan setidaknya sampe jam tujuh.”

Si kakak melotot.  Ternyata alergi Gading lebih parah.  Tapi sudahlah, Prinka akan menemaninya.  Toh ini mendingan daripada diajak tanding catur.  Soalnya Prinka selalu kalah telak.

“Sekarang jam berapa Ding?”

“Jam tiga.”

Lantas Prinka jadi gelisah.  Dia sudah melewatkan siaran degung Sunda yang dibawakan Norman!  Dan empat jam lagi cowok itu nanti akan kembali, meramaikan tajuk tembang kenangan masa ayah-ibu Prinka dan Gading masih muda.  Kemudian, Halo-Halo Bandung.

Ah, dia terancam akan melewatkan sehari tanpa radio Gelora.  Tanpa suara Norman.

Tapi sepertinya ada harapan untuk Halo-Halo Bandung.

Prinka pun merindukan radio di kamarnya.   Hatinya menyendu.

Melihat kakaknya galau, Gading tiba-tiba nyeletuk, “Kakak pasti kangen sama radio, ya?”

Norman sakit perut.  Dia menghela nafas panjang dalam penderitaan kecil yang sebetulnya biasa saja, tapi begitu mengganggu.  Sambil berputar-putar di kursi ruang siaran, diiringi keriat-keriut engsel kuno, Norman terpaksa menahannya seraya mengoceh panjang untuk segelintir pendengar.

Sebetulnya, ia baru saja meluncurkan sebuah SMS untuk Prinka.  Isinya:

 

Saya mau balikin payung, gimana caranya ya?  J

Lantas ia malah merasa bersalah.  Setelah mengklik tanda ‘kirim’, perutnya langsung mulas.  Apakah Prinka akan membalas? Apa Prinka akan langsung merespon? Apakah dia malah akan takut karena Norman terkesan agresif? Aah, serba salah!

Maka dia siaran dalam keadaan risau tadi.  Untung semuanya berjalan lancar, dan ia bisa segera keluar membuat teh hangat untuk menenangkan diri.  Dilihatnya cuaca cerah, dan tampaknya ia punya kesempatan jalan-jalan sedikit sebelum siaran berikutnya.

Seraya menyesap teh hangat, Norman merenung sendiri menatap rendengan awan berkejaran di angkasa.  Dan lamunannya buyar seketika saat telepon genggamnya bergetar di kantung celana.

Ia lekas membukanya:

Siapa ini?

 

Pesan datang dari Prinka, dan isinya sungguh mengecewakan! Dia dilupakan! Tapi kenapa juga ia mesti kecewa karena dilupakan? Wajarlah.  Prinka hanya pendengar setia radio Gelora…

Norman Halomon.  Waktu itu kan payung kamu saya pinjem, Prinka. 😀

 

Masih sanggup ia meletakkan emotikon lucu, padahal hatinya kocar-kacir.

Oh, iya, maaf lupa, Kak! =)) Bawa aja payungnya, gapapa.

 

Norman menghembuskan nafas.  Ia langsung mengirim SMS pamungkasnya:

Nggak, saya mau balikin.  Lagian warnanya pink.  😛  Ada di mana?  Saya lagi senggang, bisa ngembaliin payung kamu nih! 😀

 

Ia menutup matanya.  Pasrah.  Apapun jawaban Prinka…pokoknya sekarang dia sudah mulas lagi! Penyiar macam apa ini, malah menjalin korespondensi malu-malu dengan pendengar setianya!?

Prinka membekap mulutnya tak percaya.  Bunga-bunga seperti bermekaran di lingkupnya, dan semua ini hanya karena urusan payung yang dipinjamkan kepada Norman Halomon!  Dia jadi mencurigai payungnya adalah benda keramat.

Apakah ia akan menjawab jujur, mengatakan bahwa ia sedang di BIP, menanti para nyonya rusuh pergi? Lalu akankah Norman menyusulnya dengan sebatang payung dalam genggaman? Cukup lama Prinka merenung sampai akhirnya Gading menyenggol tangannya tidak sabar melihat kakaknya bengong hingga tanpa sengaja tombol ‘kirim’ terpencet walau tadinya pesan balasan Prinka masih mau diedit.

Aku di BIP. Mau ke sini, kak? J

 

Meneriaki Gading pun ia tak sanggup.  Wajahnya berubah merah-putih saking paniknya.  Ini namanya dia mengundang Norman ke BIP, pakai smiley pula! AAARGH! Kenapa ia tidak menyensor bagian ‘mau ke sini’-nya?

SEMUA GARA-GARA GADING!

Bukan sih, itu salahnya sendiri menyerahkan payung itu.

Dan sejujurnya, semua rasa kalut ini hanya timbul untuk menutupi perasaan gembira-ria-riang-tak-terkiranya.  Supaya tidak terkesan tergila-gila saja.

Prinka langsung menutup mukanya sendiri, tak berani baca jawaban Norman yang datang secepat kilat.  Tetapi toh ia mesti membacanya…

Oke! Kamu di mananya? Saya deket banget kalo ke BIP, lima menit nyampe kayaknya. 😀

 

Buru-buru Prinka mengetik:

Food court.

 

GILA.  Ini gila. Harus bilang apa dia ke Gading? Terima kasih?

Lima kali enam puluh detik.  Dan Norman melangkah maju sembari berkali-kali mengecek tasnya.  Salah-salah dia malah lupa bawa payungnya, kan bodoh banget.  Ia masuk ke salah satu angkot yang lewat, dan dalam sekejap sudah berada di depan gedung Bandung Indah Plaza.  Puluhan makhluk belia berlalu lalang keluar masuk.

Norman berfokus ke food court.  Jalannya mulus.  Tak ada macet escalator.  Satu-satunya rintangan yang ia alami adalah debuman jantung yang seakan membuatnya sulit bergerak.  Caranya maju mirip robot.  Kaku.

Waktu terhidang pemandangan berhias meja kursi dan konter-konter beraneka aroma, perut Norman dingin.  Seperti baru makan keripik setan superpedas merek ‘Rama’ sebungkus sendiri.  Jualnya di depan BIP, sayap kiri.

“Nah,” Norman bergumam sendiri.  “Sekarang apa?”

Ia pun mengaduk tasnya mencari ponsel.  Dia rasa lebih keren kalau bertanya saja di mana Prinka berkecimpung, daripada menuruti niatnya langsung mengobrak-abrik food court demi menemukan gadis itu.

Norman kebingungan karena dia tidak menemukan apa yang dicari.  Apakah ia meninggalkan benda tersebut? Atau di saku? Tak ada.  Kantung celana? Nihil.

Astaga! HP-nya tak mungkin jatuh di jalan kan?

Tidak.  Karena ia ingat sekali tasnya selalu diretsleting.  Tas ransel yang jinak, warna biru, bahan parasut.  Payung merah jambu saja ada di situ, kenapa perangkat elektronik pentingnya tidak ada?

Walau agak cemas, ia pun menggeleng dan mengeluarkan payungnya.  Biar kata  tiada peranti penghubung, ia tetap harus menemukan Prinka di sini! Tak akan seberapa susah, kan? Dia ingat bentuknya seperti apa.

Maka Norman maju terus.  Kepalanya celingukan.  Dicarinya gadis berponi yang wajahnya agak galak.  Di bayangan Norman, Prinka pasti bersama seorang teman cewek, sedang ketawa-ketawa seperti waktu di angkot.  Di hari serah-terima payung dan sesudah nama Radio Gelora dipelencengkan jadi Radio Ceria.

Di tengah-tengah wilayah, Norman akhirnya menyaksikan sendiri Prinka sedang menjitak kepala anak laki-laki bermuka familiar.  Mengernyitlah Norman.  Kenapa familiar, ya?

Sekonyong-konyong, Prinka menengok ke kanan dan langsung membeku.  Meski kulit wajahnya kecoklatan, rona merah di pipi yang muncul perlahan tak bisa disembunyikan.

“Halo,” Norman berusaha mencairkan suasana walau dia sangat tegang.

“Ya,” jawab Prinka sedikit tak padu.

Gading di antara keduanya, cuma berpindah-pindah pandangan dari Norman ke Prinka.  Merasa jadi kambing congek.

“Halo,” entah kenapa Norman pun mengulang kata-kata yang sama.  “Apa kabar?”

“Baik.”

Sejujurnya, mereka sama-sama menjadi kelu dan tidak berdaya.  Lutut rasanya lemas.  Hati tak keruan.  Kepala kosong.  Pipi merah.

Gading semakin melongo.  Ada apa sih di antara kakaknya dan pria tak dikenal ini? Pacar? Gebetan? Kenapa nggak yang cowok, nggak yang cewek, sama-sama tampak dungu begitu? Huf.  Gading sih kalau ketemu kecengan nggak bakal mau tampil grogi.

Dan ia pun dengan enteng menyapa Norman, “Temennya Mbak Prinka, ya? Mau duduk?”

Prinka melotot.  Norman menarik satu kursi di segi yang memisahkan Prinka dengan sang adik, kemudian duduk.  Dia memang sangat butuh duduk.  Deg-degan menyerap banyak energi.

“Terima kasih ya,” ucapnya pada Gading.

“Ehm, ini adik aku,” Prinka akhirnya mampu bicara.

“Gading,” dengan percaya diri si adik mengulurkan sebuah jabat tangan antarlelaki.

“Norman,” balas si penyiar radio, yang semakin merasa wajah Gading sangat familiar.  Tetapi ia langsung mengalihkan fokus ke Prinka.  Ia mengulurkan payung yang menjadi penghubung mereka itu.  “Prinka, ini payung kamu.  Terima kasih banyak ya.”

“Oh, eh, iya, sama-sama.  Padahal nggak apa-apa kok…”

“Jangan dong.  Nanti kalau kamu keujanan gara-gara payungnya ada di saya, kan…Radio Gelora bisa dituntut.  Penyiarnya dianggap pencuri payung.  Haha!”

Gading asal sembur, “Oh, Bang Norman kerja di radio?”

“Iya, aku penyiar.”

Prinka menatap tajam ke Gading.

“Berarti…,” Gading menengok ke kakaknya.  Dia tahu ada hawa mementung yang muncul dari kakaknya.  Kalau Gading bicara lebih asal lagi…dia pasti habis.  Tapi maksud Gading kan baik! Dia hanya ingin mencairkan kegugupan dua orang ini.  Dia tambah gemas melihat Prinka mbaknya tersayang duduk dengan gelisah, goyang ke depan dan belakang sambil memandangi tangan Norman.

“…berarti Bang Norman pinter bicara, ya?” sambung Gading akhirnya. Walau dalam hati sesungguhnya ia ingin bertanya: ‘Bang Norman yang ditaksir Mbak itu ya?’.

“Hahahaha, biasa aja, kok.  Yang penting jangan malu-malu.  Kamu mau jadi penyiar? Eh, kamu kelas berapa?” balas Norman.

Prinka tertegun menonton Norman dan Gading malah ngobrol.  Seharusnya ini jadi momen di mana dia dan Norman berbicara dan barangkali membuat janji berikutnya…

“Adik kamu penuh semangat ya,” Norman mendadak menoleh padanya.

“Dia memang kayak petasan.  Meletup-letup,” komentar Prinka seraya menghunjamkan pandangan kesal pada adiknya.

“Kalian udah lama di sini?”

“Lama.  Dari siang,” jawab Prinka.

“Nggak betah di rumah.  Lagi banyak temen si Bunda, ibu-ibu ceriwis,” Gading menimpali.

Norman nyengir, membuat hati Prinka meleleh.  Dia mendesah keras sampai ketahuan.

“Mbak Prinka capek amat sih,” cetus Gading.

Dan akibatnya, Norman semakin tersenyum, Prinka bertambah melayang, oke, cukup.  Untuk membuat situasi lebih baik, Prinka menawarkan kentang gorengnya yang masih lumayan menumpuk kepada Norman.

Si penyiar berterima kasih dan mencomot satu batang.

Hening lagi.  Gading tak kuasa menahan kehebohannya. “Siaran Bang Norman udah beres?”

“Nanti masih ada lagi, jam tujuh.”

Prinka nyeletuk, “Siaran lagu retro sama Halo-Halo Bandung, ya?”

“Betul! Wah, kamu memang pendengar teladan, Prinka.”

Gading angkat bicara. “Mbak Prinka ini paling akrab sama radionya.  Sehari nggak denger radio, udah deh, uring-uringan!”

“Jangan khawatir, sekarang kan penyiar radionya udah di depan mata,” Norman mulai menggombal. “Jadi, mau pesen siaran apa sekarang?”

“Siaran konsultasi,” ujar Gading.

“Konsultasi apaan?” Prinka merengut. “Kamu aneh-aneh aja, Ding.”

Norman hanya tertawa renyah.  “Ngomong-ngomong kalian masih ada adik atau kakak lagi atau duaan doang?”

“Cukup berdua aja.  Ini pun udah rusuh.”

“Terus, ayah, ibu, kerjanya apa?”

“Si Ayah mah wiraswasta, bikin sepatu kulit sintesis. Boots cowok. Nebeng jual di distro gitu, biasanya.  Tiap hari kerjaannya paling ngawasin pegawai di tempat bikinnya,” terang Gading komplit.

“Kayaknya sintetis, deh, Ding, bukan sintesis,” Prinka mengoreksi.  “Memangnya taneman, fotosintesis?”

Dari kritik itu, Norman menebak bahwa Prinka adalah siswa yang baik di sekolah.  Setidaknya waktu SD, ketika konsep fotosintetis, eh, fotosintesis diajarkan.

“Memang tempat bikinnya di mana?”

“Sekitar Jalan Nanas situ, ya, Mbak? Lupa.”

“Bukan, Ding, Jalan Sabang!”

“Oh iya.  Pabrik rumahan gitu, Bang. Kongsian sama temennya.”

“Mahal nggak, jual sepatunya?”

“Mahal dong.  Jumlahnya terbatas!”

Prinka lalu memotong percakapan, “Kalau Bunda, kepala sekolah SD Internasional Smart Sprouts.  Makanya tadi di rumah riweuh ada ibu-ibu mau dekor buat Natalan.”

“Waktu itu Lebaran juga segala macem guru Smart Sprouts ke rumah, ya, Mbak.  Kesannya rumah kita markas utama.”

“Rumah penuh kertas krep, kain, dan berisik.”

“Sekarang pasti masih kayak gitu.”

“Fuuuh…Gimana nasib Ayah, ya?”

Entah kenapa Norman sangat menikmati obrolan ceria dengan dua anak ini.  Mereka punya sifat berlawanan, tapi sangat klik.  Keluarga mereka terdengar hangat dan cerdas.  Apalagi ibunya kepala sekolah pula.

“Bang Norman sendiri gimana?” tanya Gading penasaran.

“Apanya yang gimana?”

“Hidupnya gimana?”

Norman terkekeh.  “Ya hidupnya begini.”

“Maksudnya, tinggal di mana, Bang?”

“Ngekos di Tamansari.”

“Sendirian? Orang tuanya di mana, Kak?” sahut Prinka.

“Bogor.  Tapi di Bogor saya lebih sering ditemenin kakek.  Soalnya orang tua saya kerja di luar kota.”

“Wah, sepi dong. Terus sekarang kakeknya ditinggal, Bang?”

“Iya.  Tapi nggak apa-apa kok.  Kakek saya orangnya aktif.  Banyak temennya.”

“Kirain sendiri sepi gitu.  Kasian kan, orang udah tua.”

Tanpa disadari, percakapan pendekatan relasi itu memakan cukup banyak tempo. Tahu-tahu, arloji Norman sudah menunjukkan pukul setengah enam, dan dia rasa ada baiknya bergerak ke Jalan Kedondong lagi.  Walau dia tidak rela meninggalkan Prinka, sejujurnya.

“Saya mesti balik ke Gelora, nih, Prinka, Gading.  Kalian naik apa ke sini? Rumah di Cigadung, kan?”

“Kok Abang tau?”

“Pernah nganterin Mbak Prinka abis Pagelaran Bambu. Dua bulan lalu.  Atau lebih ya?” Norman melempar senyum kepada Prinka.

Otomatis Prinka melotot. Malu, tapi gembira Norman masih mengingat saat itu.  Malam ultragugup beraroma bambu bersuara angklung yang tak terlupakan.

“Nganterin? Naik mobil?”

“Iya. Mobil angkot.”

“Itu sih namanya nemenin, Bang.”

Norman tergelak.  Dia memang sengaja menemani Prinka karena, satu, dia khawatir melepas anak perempuan kelayapan jam sembilan malam seorang diri.  Dua, dia masih ingin mendekati Prinka.

“Sukses siarannya ya, Kak. Kayaknya yang kekejar hari ini cuma Halo-Halo Bandung. Yah, mungkin Tembang Kenangan masih kebagian sedikit,” ceroscos Prinka.

“Nggak apa-apa kok, Prinka,” kata Norman lembut.

Mendadak atmosfer menjadi romantis.  Kedua orang itu hanya hanyut, tidak menyadari betapa Gading langsung merasa gerah.  Tapi apa boleh buat.  Tadinya ia pikir ia akan cemburu kalau kakaknya punya gandengan.  Namun keadaan berubah, karena nampaknya, si cowok potensial ini orang baik dan bisa dijadikan abang.

Sore melaju.  Norman berangkat ke Jalan Kedondong, sedangkan Prinka dan Gading akhirnya memutuskan bergerak pulang.

Norman tidak memikirkan apa-apa.  Dia terdiam.  Melamun dan di kepalanya berngiang suara Prinka yang jarang-jarang dikeluarkan, juga matanya yang berbinar.  Norman bisa menangkap betapa groginya Prinka, tetapi upayanya untuk tetap tenang pun sangat manis. Ketika Prinka bersikap galak pada Gading juga, tampak lucu bagi Norman. Lagipula, Gading tampak familiar.  Oh iya, itu satu misteri yang masih harus dipecahkan!

Tapi setelah ini, apa ya? Masa dia menulis SMS gombal yang isinya hanya pertanyaan basa-basi ‘udah makan belum?’ atau ‘lagi apa?’. Tidak! Prinka terlalu cerdas untuk diperlakukan seperti itu.  Lagipula Norman juga malas membayangkan isi SMS garing tersebut.

Akibat lamunannya, Norman nyaris lupa turun dari angkot.

“Ding, makasih ya udah ngebantu Mbak ngobrol sama Kak Norman.”

“Tumben omongannya nggak sentimen!” saking terkejutnya, Gading malah memprotes ucapan Prinka yang tulus.

“Aku udah mau pingsan tadi,” Prinka semakin blak-blakan.

“Heh? Lebay amat sih, orang jatuh cinta!”

“Kamu nggak tau siiih.”

Gading tiba-tiba menyadari betapa anehnya sang kakak mengaku jatuh cinta tanpa ragu begini.  Ini peristiwa langka!

“Mbak Prinka beneran suka ya sama si Bang Norman?”

Prinka menoleh. Mendadak ia merasa malu.  Tapi di sisi lain, ia harus berbicara jujur pada seseorang, setidaknya, selain Joan.

“Memang kamu nggak pernah naksir cewek, apa, Ding?”

“Pernah, tapi nggak seheboh Mbak Prinka tuh naksirnya.  Meni langsung diem nggak bisa bicara.  Bang Norman tuh sama aja, pula!”

Prinka tersenyum menatap langit. Sepanjang sisa perjalanan, mereka tidak terlalu banyak bersuara.  Tahu-tahu mereka sudah di rumah, di mana tersisa beberapa ibu-ibu, tapi tidak seribut tadi pagi.

Segera Prinka masuk ke kamar setelah menyapa Bunda plus rekan-rekannya dan Ayah yang lagi serius baca koran di dapur.

Dia langsung menyetel radio.

Prinka tak tahu, bahwa di dalam ruang siaran, ketika Halo-Halo Bandung siap diperdengarkan, Norman sedang mencorat-coret kertas skripnya. Dia ingin mengucapkan sesuatu untuk Prinka.  Peduli amat pendengar-pendengar lain ngeledek.  Toh orangnya itu-itu lagi.  Hasil kotretannya sangat berantakan:

 

 

Dan Norman tak berani membayangkan reaksi Prinka nanti.  Meskipun begitu, ia benar-benar bertekad akan mengucapkannya sesudah memastikan Prinka mendengar siaran Halo-Halo Bandung hari ini, meski risikonya banyak. Suaranya pasti bergetar, dan susunan kalimatnya absurd!

Ah, asmara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s