Ketika Kupikir Aku Sakit

Katarina Ningrum
Kisah ini sebetulnya saya buat untuk lomba cerpen Penerbit SahabatKata. Tetapi tidak menang. Temanya adalah Cinta Pertama. Menurut Anda sekalian, apakah ini mengandung unsur cinta pertama? 🙂

Sore itu aku gelisah setengah mati. Diam tak bisa, bergerak pun gugup. Jantungku berdebar terus dan nafasku sesak. Ditambah pula wajahku seperti ditarik-tarik.

Rasanya tadi pagi aku masih begitu sehat dan normal. Aku lincah bergerak ke sekolah menggunakan sepeda listrik, tersenyum senang seperti kukang diberi pisang. Memang, aku minum kopi saat sarapan—kopi pekat yang harum—supaya tidak terkantuk-kantuk di kelas. Pasalnya, akan diadakan ulangan Matematika, yang dapat diterjemahkan sebagai ajang tidur siang bagiku.

Untuk mengurangi risiko iler berlumuran di atas kertas tes atau dapat nilai jeblok, aku mengonsumsi kafein agar lebih segar dan senantiasa terjaga. Tapi kudengar kafein dapat meningkatkan denyut jantung! Benarkah itu? Apakah itu salah satu penyebab debaran jantungku yang tidak hiperbola ini?

Kurunut lagi seluruh kegiatanku setelah tiba di sekolah. Tiga jam pertama sebelum istirahat kesatu, aku masih merasa mengantuk. Sepertinya si kopi belum berfungsi. Konon, kopi memang baru mengeluarkan efeknya dua jam setelah dikonsumsi. Untung saja ulangan Matematika tidak diadakan pagi hari. Kalau tidak, tentu kopinya tidak berguna sama sekali dan aku tetap ketiduran saking pusingnya membaca angka-angka serta simbol!

Aku menyukseskan proses belajar sampai jam istirahat. Dalam waktu tiga puluh menit bebas belajar, aku berkumpul bersama beberapa teman dan makan di kantin. Aku memilih jus buah segar tanpa es batu, menyeruputnya dan menikmati rasa manis asam yang ditimbulkan. Seingatku, sakit anehku belum kumat saat itu.

Sesudah perut terisi, kami melanjutkan hidup dalam kurungan ruang kelas. Nah, di tengah-tengah sesi tersebut, ulangan Matematika dilangsungkan. Kopiku telah menunjukkan khasiatnya. Mataku melek. Membaca angka pun masih kuat. Aku dapat berdiri tegak dan mengulik satu-dua soal yang mudah, membuat rumus sendiri untuk kasus-kasus yang tak kumengerti, dan kadang mengarang jawaban jika kepalaku sama sekali kosong!

Aku bukannya benci Matematika. Memang aku dan Matematika seperti tidak ditakdirkan menjadi kawan. Kami terlalu berlawanan. Matematika menuntutku untuk selalu patuh, sedangkan aku tak pernah menuruti apa pun perkataannya.

Ulangan Matematika selesai. Apapun hasilnya, aku pasrah saja. Yang jelas, dalam launching nilai nanti, aku mesti menyertakan nama kopi sebagai salah satu benda berjasa penolong penyelenggaraan ulanganku.

Pelajaran dilanjutkan dengan Bahasa Inggris. Masih oke. Tetapi perlahan, kopi tidak membangunkanku lagi. Aku sudah bertopang dagu untuk menahan kantuk yang perlahan menyusup. Meski bertahan sekuat tenaga, aku tetap ada di ambang dunia mimpi.

Lantas, teman-temanku menepuk-nepuk aku supaya terbangun. Mereka sudah tahu kebiasaanku tidur di kelas.

Kesuksesan mereka menyadarkanku biasanya bertahan untuk dua pelajaran berikutnya. Lewat dari itu, mereka harus memukul-mukul lenganku supaya tidak ketiduran.

Jeda kali kedua, aku memutuskan untuk mengisi perut dengan sesuatu yang lebih padat. Misalnya, nasi dan tumisan sayur mayur. Di kantin, aku masih bersama gerombolan yang sama seperti istirahat sebelumnya. Dan aku tetap merasa segar kembali.

Aku berhenti sejenak. Sampai siang itu pun, aku baik-baik saja. Denyut jantungku normal. Nafasku lega.
Apa yang terjadi di tengah-tengah hariku?

Seusai perjuangan menahan kantuk hasrat tidur babak terakhir, aku membereskan tasku. Lega rasanya, sekolah hari ini berhasil dijalani tanpa menumpahkan air liur ke atas buku catatan. Aku pun tertawa bersama teman-teman, sembari berjalan ke tempat nongkrong pulang sekolah kami, bebatuan bawah pohon angsana nan rimbun. Kami suka duduk-duduk di sana untuk mengobrol sepuasnya.

Tentu saja, acara satu ini tak menyebabkan aku ngantuk sama sekali! Kami dapat berbincang-bincang campur guyon selama dua jam lebih. Hingga lupa pulang ke rumah, kalau perlu. Kadang diselingi jajan-jajan kecil secara bergilir, nanti ada orang lain bergabung, guru yang lewat dan kami sapa, cowok ganteng penarik perhatian…macam-macam!

Oh, itu dia. Beberapa menit sesudah kami ngobrol tentang masa depan, seorang anak melintas di sana dan tersenyum kepada kami.

Matanya sangat jernih, senyumnya tulus, dan badannya tidak terlalu besar untuk ukuran anak laki-laki belasan tahun.

“Radit! Hei, Radit! Cari Tyas, ya?” teman-temanku menodongnya seraya mengguncang-guncang tubuhku. Aku cuma cengar-cengir tak jelas.

Radit adalah satu dari puluhan cowok lain di sekolah yang memutuskan untuk menjadi vegetarian. Ia satu-satunya pahlawan kebersihan paling konsisten di mataku. Tak pernah takut ia memarahi siapa pun yang membuang sampah sembarangan atau merusak tanaman. Ia tidak naik motor atau mobil mewah. Radit selalu membawa sepeda. Kebetulan, rumahnya pun dekat.

Jika Radit adalah kota, aku pasti memberiI ia penghargaan Kota Ramah Lingkungan Nomor Satu! Aku mendapat banyak inspirasi darinya. Sayang, ia belum berhasil menyembuhkan penyakit kantukku.

Dan Radit berdiri tegak di hadapan kami, cewek-cewek berisik pembela kebenaran berbaju seragam putih-abu. Ia memandang lurus ke hadapanku, namun berbicara untuk semuanya: “Siapa yang pakai motor listrik kuning? Parkirnya ngehalangin sepeda saya.”

Hei, itu kendaraanku yang ia sebut-sebut!

Aku mengacungkan jari. “Itu sepeda, bukan motor. Cuma bedanya, nggak mesti digowes-gowes amat karena sudah ada tenaga listriknya.”

“Ya samalah, sama motor listrik,” ujar Radit. “Bisa tolong sebentar ? Saya mau pulang, nih.”

“Oke,” aku meninggalkan teman-temanku sebentar untuk memindahkan sepedaku.

Kami berjalan bersama ke tempat parkir. Benar adanya, bahwa sepedaku miring hingga sepeda Radit terhalang. Tak ada ruang lowong yang kusisakan. Bahkan untuk mundur sedikit pun sudah sempit!

“Maaf ya, Radit,” kataku sambil menggeser sepedaku.

“Nggak masalah. Tapi kenapa kamu parkir miring begini?”

“Soalnya tadi kesiangan, tempat parkirnya keburu penuh.”

Radit terdiam. Ia naik ke atas sepedanya dan bersiap. Sesaat, ia memanggil namaku dan tersenyum, “Makasih ya, Tyas! Ngomong-ngomong, rumah kamu di mana? Kapan-kapan kita pulang bareng yuk! Mumpung sesama naik sepeda.”

Entah kenapa, jawabanku terbata-bata. “Eh, boleh. Tapi nanti kamu pasti kesusul. Sepeda listrik ‘kan jalannya cepat.”

“Kalau begitu jangan isi baterainya.”

“Yey! Itu sih terlalu aneh! Ngapain pakai sepeda listrik kalau nggak ada listriknya!”

Tertawalah Radit sepuasnya. Lantas mata kami bertumbukan.

Oh, Tuhan, betul, aku mulai tidak normal sejak itu. Saat kembali ke bawah pohon angsana, perasaanku sudah sangat kacau. Jantung melompat-lompat, kaki gemetar, nafas sulit…dan wajahku tidak mau stop tersenyum.
Benar juga. Radit penyebabnya.

Aku kembali ke sekolah, dan ketika melihat Radit, dan melempar senyum, penyakitku kumat sesudah hilang semalam. Malah ditambahi perut mulas segala! Aku tidak tahu apa ini. Tapi setelah kuceritakan pada teman-teman, mereka berkilah enteng, “Kamu jatuh cinta sama Radit, tuh!”

Hah! Jatuh cinta? Kudengar jatuh cinta itu indah rasanya. Berjuta-juta pula. Lalu kenapa aku malah merasa tak sehat begini? Dan mengapa aku menjadi insomnia? Aku tak mengantuk sama sekali, tanpa kopi!

Perlukah aku pergi ke dokter?

Jawab temanku, “Pergi saja ketemu Radit, pasti langsung sembuh.”

Dia benar-benar salah! Semakin jarakku dekat dengan Radit, bertambah parah pula keabnormalanku! Jika jatuh cinta segini tidak nyamannya, mestinya aku tidak perlu mengalaminya!

Dan Radit, yang tidak tahu apa-apa, datang menghampiriku untuk sekedar mengajakku pulang bersama naik sepeda masing-masing. Aku hanya bengong tetapi mengiyakan.

Rencana itu pun terealisir. Kami pulang bersama, menyusuri jalan-jalan nan tenang dirimbuni pepohonan dan banyak berdiskusi tentang lingkungan hidup. Lama kelamaan, kekacauan sistem tubuhku memudar. Mulai normal, bahkan berganti menjadi suatu kedamaian yang lebih intens.

Aku pun menyadari, bahwa penyakit baruku ini sebetulnya tidak sakit sama sekali. Cuma sekedar melelahkan, tetapi ada rasa bahagia aneh yang merekah dalam hati. Mungkin, karena inilah kali pertama aku jatuh cinta.
Seperti anak yang pertama kali disuntik, mungkin, rasanya sangat sakit, tapi di imunisasi-imunisasi berikutnya, ia tak akan merasa terlalu sakit!

Apa Radit bisa menggantikan kopi? Kalau ya, aku pasti semakin memujanya dan ingin lebih banyak pulang bersamanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s