Gelombang Itu, Gelombang Gelora 5

Katarina Ningrum

 

“Bun, Mbak Prinka aneh,” lapor Gading khawatir. 

Bagaimana tidak? Begitu pulang sekolah kesorean kemarin, Prinka tampak begitu bungah—bangga atau bahagia atau apapun yang tidak Gading pahami.  Senyum Prinka seperti menempel permanen di bawah hidungnya, dan matanya berbinar-binar bak permukaan empang terkena sinar mentari. 

Dan anehnya, setelah 2×24 jam, Prinka masih terlihat sesegar kemarin.  Karena itulah, di petang yang ajaib, Gading mengadu pada wanita yang melahirkan dirinya dan sang kakak. 

Lucunya, reaksi Bunda benar-benar sederhana, “Kakakmu lagi jatuh cinta.”

Gading melotot.  Dia geleng-geleng kepala, “Nggak mungkin, Bunda, memang kapan Mbak Prinka ketemu cowok?”

“Ya di sekolahnya kan pasti ada cowok!”

“Setahu Gading…”

Bunda menatap anak lelaki bungsunya.  Ditepuknya kepala sang putra dan sembari tersenyum geli, Bunda melengang meninggalkan ruang keluarga menuju dapur.  “Udah, daripada kamu mencemaskan kakakmu, mending kamu ngerjain PR atau apa kek.”

Gading pun berniat mengurung diri di dalam kamar, membaca buku Trik Menjadi Grandmaster yang dibelikan Ayah kemarin.  Sebelum membuka pintu kamarnya, Gading mengintip sedikit celah pintu ruang tidur kakaknya. 

Tampak kakaknya sedang asyik memandangi radio tuanya, dilengkapi senyum sejuta kilowatt dan telepon genggam di tangan.  Gading pun menyadari keberadaan tumpukan PR di samping siku kakaknya.

Walau rasa penasarannya tinggi, entah mengapa ia tidak ingin mengganggu ritual kakaknya kali itu.  Tidak dengan alasan apapun, karena Prinka tampak khusyuk sekali mendengarkan radio. Lantas di kepala Gading terlintas sesuatu. 

 

Kursi itu berputar, berkeriat-keriut bersamaan dengan ketukan musik yang mengalun pelan-pelan dari headphone yang tidak dipasang di kepala.  Itu lagu terakhir di siaran malam Halo-Halo Bandung.  Sang penyiar sedang bersiap-siap pulang, mengambil hape dan dompet yang ada di meja, menenggak segelas teh manis hangat, dan merapikan kemejanya. 

Segera sesudah lagu berakhir, ia keluar dari ‘akuarium’ siarannya. 

Norman menyapa seluruh tiga kru yang bertugas bersamanya barusan, lantas ia berjalan keluar Jalan Kedondong dan bermaksud menunggu angkot di tepi jalan raya.  Tetapi tiba-tiba keinginannya menemui angkutan kota terkikis saat melihat seorang pria berkemeja biru garis-garis sedang membungkuk di hadapan kap mobil sedan abu-abu yang terbuka, persis di ujung Jalan Kedondong. 

Instingnya langsung berkata bahwa bapak itu dalam masalah, dan saat itu tak ada pejalan kaki lain kecuali Norman.  Maka didekatinya bapak tersebut dan dengan santun ia bertanya, “Permisi, Pak, ada masalah?”

Bapak di hadapannya berhidung mancung, pipinya agak gemuk, dan dagunya bundar.  Terlihat klimis tanpa kumis atau janggut.   Mukanya tampak cukup tenang meski kentara sekali sedang agak panik.

“Ini tadi saya baru jalan berapa meter, tiba-tiba berhenti!”

“Wah, kenapa ya Pak? Masalah akinya, atau bensin?”

“Bensin masih penuh kok, baru saya isi.”

Norman mencubit-cubit dagunya, mencari solusi.  “Gimana kalau saya bantu dorong, Pak?”

Pria itu mengangguk, nampak optimis.  Segera ia masuk ke mobil dan menyalakan mesin yang tersengal-sengal.  Berkali-kali ia berupaya, tetapi mesinnya tetap kekurangan nafas.  Lalu si bapak mencondongkan kepala keluar jendela, “Coba dorong saja, Nak!”

“Oke, Pak,” Norman tersenyum lebar dan menggerakan mobil sebisanya.  Maju sedikit, tetapi mesinnya lemah. 

Sang pria kembali memulai aksi mesin, dan kali ini tidak terlalu terbata-bata.  Norman kembali mendorongnya, berulang kali, dan akhirnya seakan mogok yang tadi hanya basa-basi, mobilnya berjalan begitu saja! Lancar sulancar mantap suratap sehat walafiat!

Norman dan sang bapak tercengang-cengang bahagia.  Segera Norman mengusap keringat yang mulai bermunculan di keningnya.  Bapak tadi berkata, “Makasih ya Dik! Ayo, sekarang kamu mau ke mana? Saya antar!”

“Hah? Jangan, Pak, nanti merepotkan.  Saya naik angkot aja Pak.”

“Ah, nggak.  Cuma dengan cara ini saya bisa membalas bantuan kamu.”

Tawa Norman berderai, “Aduh, Pak, saya mah ikhlas, nggak minta apa-apa.”

“Saya nih yang nggak ikhlas,” sahut sang pria dari balik jendela mobilnya.  “Masa ditolong tapi nggak ngasih apa-apa?”

Norman terdiam dan dengan muka tetap tersenyum menatap mata si bapak, yang secara misterius membuat ia teringat akan hal-hal indah dan membahagiakan—mungkin karena keoptimisannya.  “Ayo, kamu mau ke mana?”

“Ya sudah Pak, terima kasih lho, Pak,” balas Norman tanpa menjawab pertanyaan si bapak.

Detik berikutnya, Norman sudah berada di dalam mobil sedan yang barusan ngadat itu.  Dia telah menyebutkan alamat tempat kosnya dan sekarang menuju ke sana.  Sepanjang perjalanan yang akan memakan tempo kira-kira sepuluh menit jika tak macet, bapak tersebut banyak bertanya:

“Nama kamu siapa?”

“Norman, Pak.”

“Panggil saya Om Raya.  Biar nggak terlalu formal,” ucap lawan bicaranya sambil tersenyum cerah.  “Kamu dari mana tadi, Norman?”

Norman pun menjelaskan keberadaan radio tua Gelora di penghujung Jalan Kedondong.  Tentu saja Om Raya terkejut, karena ia tak pernah sadar di sana ada sebuah stasiun radio.  Padahal ia sering ke sana untuk menemui salah satu rekan baiknya.

“Pantas ada parabolanya.  Tapi kok nggak ada petunjuknya?”

“Oh, tulisannya di papan kayu yang udah agak lumutan, Om.” Norman tersenyum getir. 

Om Raya memutar bola matanya.  “Maaf nih, tapi saya ingin tahu.  Radio yang salurannya cuma di MW dan sudah tua begitu, apa masih ada pendengarnya?”

“Ada juga sih, Pak, walaupun orangnya sama-sama lagi, dan yang jelas lebih banyak orang tua daripada anak muda.  Tapi ada satu anak SMA yang setiap hari bisa kirim SMS request lagu atau sekedar ngasih info buat acara berita Bandung,” tanpa dapat ditahan Norman menceritakan antusiasmenya terhadap Prinka.

“Lho, kok lucu, ada anak SMA masih dengar radio kuno gitu?”

Norman menelan ludah.  Benar juga.  Kalau dipikir-pikir, si Prinka itu nyentrik banget ya?

“Ya…barangkali dia memang agak unik,” tukas Norman naïf.  “Kalau Om Raya tinggal di mana?”

“Saya di Cigadung, lewat dari Pasar Simpang Dago, naik lagi, ada belokan, terus…nah, di situ.  Jauh sih, tapi tenang tempatnya.”

Norman yang hafal posisi Pasar Simpang Dago terbelalak.  Betapa jauhnya! Kini ia harus memutar untuk mengantarkan Norman ke kosan yang terletak di sekitar Taman Sari… Langsung saja rasa tak enak menggembungkan perut Norman.

“Om, kan jauh kalau ke tempat saya dulu, saya naik angkot aja ya?”

“Nggak  boleh!” desak Om Raya.  “Saya nggak enak dong kalau nurunin orang di tengah jalan.  Lagian, sedikit lagi sampai kok, kalau sudah malam kan nggak macet.”

Norman tak dapat melawan.  Tapi memang dalam waktu singkat dia sudah berada di depan tempat kosnya.  Ia mengucapkan terima kasih beberapa kali supaya afdol rasanya, kemudian ia tersenyum lebar dan melambaikan tangan kepada Om Raya. 

Sejurus kemudian mendadak Norman menyadari bahwa wajah Om Raya agak mirip dengan Prinka.

 

Pintu rumah itu menjeblak terbuka, dan terlihat wajah-wajah cemas yang seketika berubah menjadi senyum kelegaan. 

“Ayah! Telat amat sih pulangnya!”

“Ayah, ada apa?”

“Ayah baik-baik aja, kan?”

Tiga orang tercinta, istri dan dua anak, memeluknya bersamaan.

Lantas Ayah Prinka dan Gading menceritakan kisahnya di meja makan, sembari diasupi cemilan kacang tanah rebus karya Bunda—yang menempel ke lengan Ayah dengan bahagia.

“Ayah ke rumah teman di Jalan Kedondong, ngobrolnya kelamaan, jadi agak telat.  Ayah pulang buru-buru, tadinya mau telepon Bunda supaya nggak khawatir, tapi kelupaan gara-gara mendadak mobilnya mogok.  Nggak mau jalan.  Ayah periksa sampai buka kap segala, sayangnya gelap, nggak kelihatan apa-apa.  Nah, untungnya tiba-tiba ada anak laki di situ, ngebantuin Ayah sampai mobilnya bisa jalan lagi.  Ternyata cuma harus didorong beberapa kali.  Kasian dia kan capek dan harus naik angkot pulang ke Taman Sari, jadi Ayah antar dia dulu ke tempat kos.”

Bunda menepuk punggung tangan Ayah.  “Contoh tuh ayahmu, baik hati!”

“Ya habisnya kasian dia, Bunda, masa udah capek dorong-dorong sedan harus naik angkot lagi, jalan kaki, segala macem,” terang Ayah.

“Ayah beruntung banget,” komentar Prinka.  “Jalan Kedondong kan agak sepi.” Ia pun langsung teringat akan radio Gelora yang gundah gulana keadaannya.

“Itu dia yang lucu.  Ternyata di Kedondong ada stasiun radio!”

Bunda ngakak.  “Masa sih? Ayah bohong!”

“Lha, yang tadi bantuin Ayah tuh penyiar radio, masih muda tapi kerjanya di radio MW tua, nama radionya apa ya? Ayah lupa, kesannya sih agak norak…”

Jantung Prinka berjoged seru.  Ya ampun.  Penyiar muda radio tua di Jalan Kedondong benar-benar mendeskripsikan seorang Norman Halomon, yang baru saja ia kirimi SMS tentang penumpukan sampah di Jalan Sukajadi yang tidak tertangani sekaligus memesan lagu.  

 “Orangnya kayak apa, Yah?” Prinka mulai menginterogasi.

“Umm…agak tinggi, pakai kacamata, senyumnya lebaar!” Ayah sebisa mungkin menirukan kenampakan pemuda barusan.

“Kenalan nggak, Yah?” Gading menimpali.

“Iya, sedikitlah.  Dia namanya Norman.  Hm, anak yang baik.  Kelihatan dari mukanya dia bukan orang licik…”

Prinka merasa akan meletus.  Meletus dan terbang ke lapisan langit ketujuh, mungkin memakai kostum dewa-dewi ala Cina, dan bertransformasi menjadi Putri Kaguya…oh, entahlah, imajinasinya benar-benar surealis.

Mau tak mau ia tersenyum manis merekah, membuat orang-orang curiga.  Tapi ia bungkam, dan baru esoknya ia benar-benar melepaskan kegilaannya ke Joan, sahabat tercintanya.

Dari gerbang sekolah, Prinka sudah berlari kencang.  Begitu melihat Joan di kelas, ia langsung menyergapnya sambil ketawaketiwi mencurigakan.  Alis Joan menyon, ditekuk.

“Kenapa sih, Nyoy? Kayak kesurupan badut!”

“Badut aja nggak selincah ini,” balas Prinka santai.

“Jadi, ada apa? Pasti penting banget, sampai kamu berubah kepribadian gini,” Joan meletakkan Blackberrynya di atas meja.

Prinka mengatur nafasnya dulu supaya dapat menuturkan kisah spektakuler yang baru saja melibatkan Ayah dalam kegilaannya.  “Kemarin papaku ketemu Norman.”

“Hah? Lamaran?”

Pipi Prinka menghangat dan merona merah sekejap.  “Bukan, Dodol! Gini ceritanya…”

Serpihan kisah mobil ngadat Ayah dan munculnya Super-Norman pun menggugah batin Joan. Dia langsung berkesimpulan, “Kamu sama presenter radio itu jodoh, Nyoy.”

Tak tahan akan rasa gembiranya sendiri, Prinka menggigit bibir bawahnya sembari mengepalkan telapak tangan.  Dia tidak berkata apa-apa, tapi jelas dia bahagia karena disumpahi demikian oleh sobatnya.

“Jadi?”

“Jadi apa?”

“Sekarang gimana?”

Prinka pun melongo dungu.  Dia juga tidak tahu. Pada dasarnya pertemuan ajaib kemarin tidak mengubah apa-apa dalam kehidupannya, melainkan sekedar memberi rasa manis tambahan untuk jiwanya.  Joan memandanginya penuh tanda tanya, lantas menghela nafas. 

“Kamu udah bikin PR Mat belum?” ia mengganti topik, takut temannya keterusan bengong.

Tangan Prinka merogoh ransel dan membuka buku tulis Matematikanya.  Ia baru mengerjakan tiga soal dari sepuluh.  Konsentrasinya kemarin berkurang karena seisi rumah cemas akibat Ayah pulang telat.   Walau sudah lega sesudah Ayah pulang, konsentrasinya tetap buyar gara-gara malah muncul nama Norman. 

 

“Selamat malam, pendengar setia radio Gelora yang cantik-cantik, cakep-cakep, dan pastinya lagi happy, ya kan? Tentu dong, soalnya ini kan Malam Senin! Setelah satu hari libur, bolehlah, istirahat sejenak buat mempersiapkan hari esok.  Asal jangan terus-terusan ngeluh ‘I hate Monday’ aja ya.  Nggak baik! Mending bikin kata-kata motivasi sendiri, misalnya nih: ‘No more mourning Monday’ atau apa deh, pakai bahasa Jerman kek, bahasa Sansekerta, boleeh!”

Presenter radio memang harus pandai bicara, berceloteh, dan menghitung nafas.  Begitu pun Norman yang lama-lama bicara sebanyak itu pun tak terasa berat—mungkin karena sudah punya sifat cerewet sejak lahir.   Dia lebih cerewet dari kakeknya yang suka ia bilang bawel.  Dia lebih cerewet dari bebek…

Dan kali ini, sambil menggumamkan aneka kata informatif dan menghibur, ia memilih-miilh lagu untuk menyegarkan suasana,  walau di dalam studio kecilnya ini tak ada kaset lagu populer yang lebih baru, melainkan tembang-tembang lama anak muda tahun 1990-an hingga setidaknya tahun 2008.  Mungkin sejak tahun 2008 radio ini tidak lagi terurus…

Ia pun iseng mengoprek koleksi lagu tahun sembilan puluhan, zaman ketika ia masih kanak-kanak dan sering bertingkah bodoh. Dilihatnya beberapa nama band yang pernah beken di masanya, atau yang masih tenar sampai sekarang.  

“Oke, sekarang supaya Malam Seninnya lebih semarak, saya kasih lagu deh! Jangan lupa, kita menerima request juga, jangan malu-malu!”

Norman pun memutarkan satu lagu pilihannya yang bernuansa cerah ceria, sembari memandangi layar komputer, menunggu pesan-pesan masuk.  Seperti biasanya, muncul SMS dari Usep Jallaudin yang memberitahukan bahwa Bandung Selatan dilanda banjir akibat hujan besar tadi siang, sekaligus minta lagu apa saja yang dinyanyikan oleh Agnes Monica. 

Sambil menanti lagu pertama habis ditambahi jeda pariwara, Norman mencarikan trek yang dimohon oleh Usep.  Bip! Layar berkedip.  Dengan cepat Norman memutar kursi dan membaca serangkai pesan dari pendengar-baru-eksisnya: Rizki.  Dia ingin diputarkan Kla Project yang Yogyakarta, yang didedikasikan kepada kekasihnya yang berasal dari Kota Pelajar tersebut. 

Norman tersenyum geli.  DIa bertanya-tanya apakah kekasih si Rizki ini juga mendengarkan radio Gelora yang langka. 

Selepas tiga puluh menit pertama siaran Halo-Halo Bandung kali itu, Norman jadi gelisah karena tak ada SMS dari Prinka.  Mungkin terdengar berlebihan, tapi begitulah kenyataannya.  

 

“Ding, main catur yuk!”

Mata Gading membelalak.  Benar kan.  Kakaknya terbentur sesuatu.  Sejak kapan ia mengajaknya main catur duluan?  Ia mengeluarkan papan catur dan dengan ragu-ragu membukanya. 

“Mau main di luar?” tanya Prinka lagi.

“Oke, Mbak,” Gading mematuhinya.

Mereka mengambil tempat di teras depan, bersila di atas lantai dan Prinka membawa radionya.  Sejujurnya, ia hanya kabur dari tumpukan PR dan tugas sekolahnya tapi terlalu berenergi untuk hanya tiduran mendengar siaran Norman Halomon.

“Mbak Prinka mau yang putih.”

“Iya, Mbak,” Gading pasrah. 

Diam-diam dia juga menguping lagu yang berkumandang dan sesudah itu muncul suara Norman berkicau memberitakan kejadian-kejadian di Bandung hari ini dan memetik pelajaran dari situ. Gading tiba-tiba mendapat ilham. 

“Mbak selalu denger radio ini ya tiap malem?”

Prinka mengangguk sambil menggeser pionnya.

“Emang rame?”

“Ya rame aja, wong presenternya ngomong terus.”

“Presenternya siapa sih?”

“Namanya Norman.”

“Oh.”

Gading diam sebentar, berkonsentrasi menimbang apakah ia harus mengeluarkan benteng atau menteri, dan tiba-tiba melejit di ingatannya suatu memori, “Kok sama kayak yang nolongin Ayah ya?  Nama Norman pasaran!”

“Bukan gitu, Ding, memang dia yang nolongin Ayah kemarin.”

“HAH!” Gading bereaksi heboh.

Prinka mengangguk sambil memakan kuda Gading. 

“Tunggu, kok Mbak tahu?”

“Soalnya nih radio stasiunnya di Jalan Kedondong, Ding.”

“Ih bodor,” Gading tersenyum kecut melihat tumpukan pion hitam di dekat kaki kakaknya.  Kok tanpa latihan rutin, jago begitu?

Prinka menatap Gading sekilas.  “Mbak pernah ketemu lho sama orangnya.”

“Kok bisa? Jumpa fans? Atau dia ngemsi?”

Entah mengapa Prinka mulai nyeroscos mereka ulang kemenangannya atas sebuah tiket Festival Bambu dan pertemuan serba gugupnya dengan si penyiar lucu berhati baik tersebut. Dia tidak tahu kenapa ia mau membocorkannya ke Gading—mungkin jengah karena di rumah tak ada teman curhat.

Dan Gading pun jadi mengerti akar kejanggalan tingkah kakaknya belakangan.  Firasatnya tidak terlalu salah, rupanya, kakaknya punya hubungan khusus dengan radio kesayangannya! Dan tak lama, seakan mendapat panggilan alam, terdengar Norman berkata dalam siaran Halo-Halo Bandung:

“Ngomong-ngomong, mana nih teman kita Prinka yang selalu rajin ngasih berita dan peduli banget sama Bandung? Lagi sibuk sekolah ya? Ya, pokoknya, sukses buat sekolahnya besok ya, Prinka, ditunggu kemunculannya kembali! Lagu terakhir ini khusus buat Prinka deh, dari Naif, judulnya ‘Mobil Balap’!  Oke semuanya, jangan lupa stay tune terus di Halo-Halo Bandung bersama saya Norman, hanya di Radio Gelora, delapan puluh delapan MW Bandung!”

 

Halo-Halo Bandung gaya lama beriringan orkestra dilayangkan, dan merekahkan dua senyum di tempat yang berbeda, keduanya ditambahi semburat semarak yang tak dapat dijelaskan.  Malu sekaligus merasa luar biasa!  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s