Gelombang Itu, Gelombang Gelora 18

Kalau biasanya orang merayakan April Mop sehingga mereka antusias menyambut bulan April, bagi anak-anak kelas dua belas di tahun dua ribu sepuluh, April ini seperti mencekam. Kenapa? Karena sejak pekan terakhir Maret, Ujian Nasional dan Ujian Sekolah serta Ujian Praktek akan berderet-deret datang menyusup ke jadwal kehidupan.

Di hari-hari terakhir menjelang UN, anak-anak yang ikut bimbingan belajar makin heboh dengan buku-buku tebal mereka, sedangkan yang tidak bertambah pusing dengan kumpulan soal dari sekolah yang terasa tak cukup untuk memantapkan rasa percaya diri.

Berhubung otaknya sudah penuh urusan ujian, Prinka bahkan kadang lupa mendengarkan Radio Gelora di siang dan sore hari. Kalau Halo-Halo Bandung, dia rutin menyimaknya. Suara Kak Norman tidak boleh terlewatkan—walau kadang mereka teleponan sekalipun.

Minggu malam, beberapa jam sebelum UN berlangsung, Prinka agak sulit tidur. Dia sudah mandeg di kasur sejak jam delapan kurang sepuluh, tetapi lantaran gelisah, dia tak kunjung terlelap. Radio dinyalakan tidak terlalu lantang, namun tak membantunya mengantuk sekalipun.

Alhasil, ketika Halo-Halo Bandung mengudara, Prinka terduduk lagi.

“Selamat malam, pendengar setia Gelora yang dijamin good-looking semua, ihiw! Hari yang panjang ya. Sebelum saya masuk ke segmen berita-berita, gimana kalau saya kasih satu lagu istimewa buat menemani malam Senin kita semua? Kebetulan ini Kang Usep sudah request bahkan sebelum siarannya mulai. Canggih, euy.”

Tak lama kemudian, sebuah lagu pop tujuh-puluhan berdendang. Karena nuansa lagunya mellow, Prinka makin gundah. Dia tidak lagi menahannya dan mengangkat ponsel.

Hanya dengan jeda sedetik, orang yang ia hubungi sudah menyahut, “AKU NGGAK BISA TIDUR.”

“SAMA, JOAN.”

“GIMANA DONG?”

“NGGAK TAHU!” teriakan Prinka membahana. “Aku malah dengerin radio…”

“Oh, da kamu mah punya Akang Norman, ya, Nyoy,” goda Joan.

“Kamu udah belajar?”

“Sampe eneg. Kamu?”

“Sampe bukunya ketelen.”

“Kita harus ngapain sih sekarang? Tidur? Susah. Belajar lagi? Tak kuasa!”

“Mungkin berdoa…”

“Atau, ah, Nyoy, aku tahu. Masak Indomie kuah pake telor dan sawi!”

Air liur Prinka menitik. Benar juga. Itulah sumber masalahnya. Dia kelaparan—ah, sebetulnya tidak, cuma, untuk menggerus kecemasan, perlulah mengunyah-ngunyah sesuatu yang lezat. Dan Indomie adalah jawaban yang tepat!

“Kamu pinter, Joan. Yuk, Indomie dulu.”

“Yuk, yuk! Udah dulu ya. Selamat makan…”

Prinka bergegas menggelinding ke bawah. Ruangan-ruangan sudah gelap—tandanya, Bunda dan Ayah pun terlelap. Gading apalagi.   Dia sih kebo.

Melesat Prinka ke dapur. Dan dia membuka lemari dapur. Dia yakin di situ berbaris rapi kantung-kantung mi instan berbagai varian. Ketika terkuak…jreng, tidak ada satu bungkus pun Indomie. Hanya sekotak biskuit kalengan merek Monde. Biru tua dan bergambar prajurit Inggris khas.

Prinka melotot. Tanpa sengaja hatinya berpuisi, Wahai Indomie, mengapa saat ku butuh kamu, raiblah engkau?

Gelombang Itu, Gelombang Gelora 17

Langit menguning. Tandanya sudah agak sore tetapi belum sore-sore amat.

Mereka sudah kembali ke stasiun awal. Rumah Prinka. Ketika tiba di depan pagar, Gading nyaris menerjang dengan sepedanya. “Eh! Kakak-Kakak! Bawa oleh-oleh, kan? Mari, silakan masuk,” sapanya tidak wajar.

“Makasih, Gading,” Norman membalas kalem.   Padahal Prinka sudah pingin menjitak adiknya itu. “Oleh-olehnya, ini aja,” tangan Norman terulur. “Salaman yuk.”

Gading tertawa senang, “Si kakak bisa aja! Haha!”

“Haha,” Prinka memarodikan tawa Gading yang cablak. Lalu dia mengajak Kak Norman masuk. Norman duduk manis di ruang tamu sedangkan Prinka ke kamarnya. Lho? Ditinggal? Nggak, lah! Sesuai perjanjian, Prinka akan mengambil materi pelajaran untuk try out-nya besok dan belajar bersama Kak Norman. Siapa tahu membantu.

Mereka sudah mampir ke UNPAD. Tapi ternyata Tata Usahanya tutup berhubung ini Sabtu! Ugh, perjalanan yang cukup panjang menjadi sia-sia. Mereka lantas makan siang di sebuah kafe kecil di Jalan Progo, dan membuat kesepakatan tentang bimbingan belajar dadakan ini. Berkat senyum dan keluwesan Norman berkomunikasi, Prinka pun terhasut.

Sempat-sempatnya Prinka bercermin dulu sebelum turun lagi. Siapa tahu wajahnya berubah jadi Kamen Rider, kan mana tahu. Tapi rupanya tidak. Berbekal setumpuk kertas soal Matematika, dia berderap ke bawah.

Tahunya, di ruang tamu, Norman sudah ditemani oleh Bunda. Suara cekakakannya membahana di sekujur rumah. Prinka baru ngeh, sifat Bunda dan Kak Norman memang agak mirip—santai, suka ketawa, cengengesan.

“Eh, Prin, Bunda ajak ngobrol Kak Normannya nggak apa-apa, ya.”

“Iya, iya, nggak masalah, Bun,” Prinka menyeringai.

Hari ini terasa panjang. Tetapi mengasyikkan. Dan tentu saja romantis dalam artian tidak sebenarnya. Prinka sukses menyelesaikan dua bundel soal-soal latihan Matematika diiringi suara merdu Kak Norman yang terus saja berkelakar bikin ngakak walau kadang sungguh-sungguh mencerahkan.

“Kak, ini metode belajar baru, ya? Nggak dikasih contekan rumus, nggak diajarin satu persatu, tapi ngerjainnya lancar. Soalnya dibikin ketawa dan happy terus,” ungkap Prinka jujur karena terkesima melihat seluruh lembaran penuh isian. Biasanya pasti kosong-kosong putus asa.

“Hah? Nggak, kebetulan, saya agak lupa-lupa rumus Matematikanya juga, sih,” kata Norman tak kalah terus terang.

Alhasil mereka cuma tertawa bersama. Menerima kekonyolan masing-masing.

Ketika langit berubah jingga, barulah Norman pamit pulang.

“Makasih buat sepanjang hari ini, Kak.”

“Nanti saya telepon deh, biar tetep sesuai naskah.”

“Halah, naskah?” Prinka terkikik. “Oke, jam berapa, Kak?”

“Sebelum Halo-Halo Bandung,” kata Norman sok pede. Lalu mereka saling melambaikan tangan dengan lucunya. Hingga Bunda sama Gading kompak berbalas cekikik di balik jendela. Dih, kok mereka ngintip, sih?

Gelombang Itu, Gelombang Gelora 16

Aroma ruangan ini sangat kuno. Tapi tak sejentik pun debu tampak mengganggu pemandangan. Warna-warna furnitur coklat gelap. Namun tidak membuat suasana suram.

“Lain kali jangan hilang tanpa jejak gitu, dong! Bikin pusing satu stasiun. Ck, ck. Kamu harus sadar, pekerja di sini udah pada uzur. Rentan jantungan dan panik!” seorang wanita tengah baya mengomel dengan muka senang (aneh ih!). Sasarannya tentu Norman, yang sekedar cengengesan.

“Iya, maaf ya, Mbak Ria. Kemarin urgent.”

“Sekarang mending kamu siap-siap sana. Lima menit lagi on air! Bye!”

Norman melirik Prinka, menyunggingkan senyum ekstra lebar khasnya. Dia lalu beranjak ke kanan, mengarah pada ruang siaran. Mbak Ria tadi rupanya ibu produser berumur enam puluhan, dan dia tampak sibuk, gradak-gruduk, tetapi ramah. Logat Yogyakartanya sangat kental, tapi, kalau mau diadu Bahasa Sunda, juga fasih!

“Sabar nunggunya ya, Dek. Kalau kamu haus, itu ada air sama gelas, tinggal ambil saja.”

“Ya Bu, makasih.”

Tahu-tahu ruangan pun sepi sempurna. Prinka menjejaki satu persatu hal menarik di sana. Jam dinding berbandul emas dengan hiasan dua rusa di puncaknya. Meja bertaplak kusam. Tudung saji rotan di atasnya. Rak-rak berisi buku, kaset, dan aneka pajangan ada di berbagai sisi.

Dia beralih ke luar. Kebunnya penuh rumput liar sekaligus bunga-bunga cantik. Kupu-kupu asyik bermain menikmati siang.

Oh! Harusnya ia menelepon Joan!

“Halo?” sobatnya mengangkat—suaranya parau, dijamin baru bangun. “Kenapa, Nyoy?”

“Tebak aku lagi di mana.”

“Di mana? Rumah? Planet Mars?”

“Salah, salah.”

Joan terdiam, berdeham, bahkan terdengar menguap. “Nyawaku belum ngumpul, nih. Tolong kasih petunjuk.”

“Hmm, petunjuknya…kita pernah ke sini bareng.”

“BIP? Sekolah?”

“Bukan, bukan!”

Makin gemaslah Joan. “Duh. Nggak tau, Nyoy. Taman Hutan Raya Juanda, meureun?”

“Kok kamu bisa mikir sampe sana, Joan? Dasar ngantuk. Aku di Radio Gelora.”

Sekonyong-konyong Joan memekik histeris. “Nggak ngajak-ngajak!”

“Kalau ngajak kamu nggak romantis jadinya,” ujar Prinka jahil.

“WOW!” Joan menggila. “Kamu lagi kencan ya sama si Kak Norman?”

Perasaan kocak mendera di hati Prinka. Kencan. Di satu sisi nggak nyata, tapi toh dia benar-benar sedang di situ, untuk sebuah acara berdua dengan Kak Norman.   Bukannya menanggapi komentar Joan, dia malah cengengesan sendiri. Ada perasaan membuncah yang sulit dikendalikan.

“Nyoy. Kok diem?”

“Eh, sori, sori. Terlalu bahagia nih.”

“Cieee, so sweet bener nih anak satu! Turut berbahagia ya! Selamat menempuh hidup baru, Nyoy! Semoga langgeng selalu.”

“Ini baru kencan, Joan. Jangan ke mana-mana dulu mikirnya.”

“Ah, bentar lagi juga jadian. Barangkali terus dilamar. Hihihi! Udah. Konsentrasi sama Kak Norman sana. Nanti orangnya ngerasa dicuekkin, lho.”

“Kak Normannya lagi siaran, Joan. Aku menanti di sini, sendiri, sepi.”

“Oh, gitu. Nggak diajak ke dalem ruang siaran? Ya udah. Kronologinya gimana, Nyoy? Kamu diajak pergi tiba-tiba, gitu?”

Setelah berdeham kece, Prinka menutur panjang soal janji telepon Kak Norman hingga munculnya sesosok vespa misterius di depan pintu rumah. Iya, lengkap bergaya reporter dia bercerita. Cuma minus lagu latar doang.

“Idiiiih!” Joan kesenengan. “Keren abis! Udahlah! Kamu bakal ditembak. Dor. Nggak berkutik. Selesai. Masa depan cerah.”

“Terima kasih doanya, Joan, tapi kok feeling aku nggak sampe segitunya ya?”

“Kamu mah terlalu datar, ah. Pikirin yang heboh-heboh dong sesekali.”

Pas asyik cuap-cuap, muncul pula seorang bapak berkumis yang seingat Prinka, adalah direktur radio—yang bantu bikin pesta kejutan buat Kak Norman dulu. Beliau menyeringai ramah, mengingatkan Prinka pada Kolonel Sanders yang doyan ngebumbu-tepungi daging ayam itu…

“Siang, Pak,” dia menyapa, setelah menghentikan perteleponan dengan Joan. Padahal, Joan terdengar ingin mengumumkan sesuatu ketika disela.

“Siang, Nak. Sedang apa? Menunggu Norman?”

Prinka tersipu, “Iya, Pak.”

Bapak Pimpinan mengambil tempat di sofa seberang lokasi duduk Prinka. “Kamu suka dengerin radio Gelora ya, Nak? Kok unik sih? Sebelum Norman tiba-tiba ngedaftarin diri, saya udah rencana nutup radio ini. Tapi, iseng-iseng berhadiah, saya bikin iklan lowongan kerja di koran. Eh, rupanya bersambut.”

“Berarti, Kak Norman seperti pembawa keberuntungan buat radio ini ya, Pak?”

“Betul, betul. Saya sampai terharu. Saya jadi ingin mengembangkan radio Gelora lagi. Tapi, untuk sekarang, mungkin harus pindah saluran ke FM, ya? Menurut Nak Prinka, bagaimana?”

“Pindah saluran? Entar saya nggak bisa dengerin, Pak. Radio rumah saya cuma bisa nangkep channel AM. Lagipula, memangnya radio bisa pindah-pindah jalur gitu, Pak?”

Bapak Pimpinan mengetuk-ngetuk pegangan kursi. “Seharusnya bisa, walau prosedurnya rumit. Perlu pasang tiang pemancar baru, bangunan juga perlu renovasi nampaknya.” Beliau memandang berkeliling. “Dan siarannya harus diperbarui…”

“Tapi, radio Gelora justru unik karena vintage, Pak,” ungkap Prinka jujur. “Kalau diubah konsepnya…”

Mendadak ia terdiam karena mendapat ide. “…kenapa nggak sekalian dibuat radio yang mengusung masa lalu? Semacem band Naif atau White Shoes and The Couples Company, kan justru berkibar karena bergaya jadul, Pak?”

Mata Bapak Pimpinan berkelap-kelip tanda antusias, walau kurang paham siapa itu Naif dan satu lagi. “Kenapa kamu cerdas ya, Nak? Saya yakin kamu akan jadi orang sukses. Lucu juga kalau bisa melestarikan budaya retro.”

“Bapak bisa sampaikan ide ini ke Kak Norman.”

“Lebih baik kita diskusi bersama, sebentar. Ada pemilik, penyiar, dan pendengar! Komplit semuanya, Nak. Nah, sembari menunggu Norman, saya buat teh dulu untuk kita semua ya. Suka teh manis?”

Prinka bengong. Dia tidak menyangka urusannya dengan Gelora kian serius. Soal hati, soal nasib radio sendiri. Lucu!

Kencan mereka agak tertunda. Tetapi, rapat singkat dua puluh menit bersama Bapak Pimpinan setelah Norman beres siaran, rupanya mencerahkan. Keluar dari kantor Gelora, Norman senyam-senyum banyak ide.

Waktu keluar dari Jalan Kedondong, mereka terus saja diskusi tentang masa depan Gelora. Sampai-sampai, sesaat mereka lupa rencana jalan, dan setibanya di penghujung Kedondong, baik Norman maupun Prinka sama-sama bengong.

“Oh, iya, kita mau ke mana, Kak?”

“Ehm,” Norman berdeham, mengerjap supaya otaknya balik ke realita. “UNPAD, kan? Kamu laper, nggak? Mau makan es krim?”

Kebetulan melintas penjaja es krim lengkap dengan alunan jingle khasnya. Karena itulah Norman berusul. Prinka setuju. Alhasil, mereka mandeg di akhir Jalan Kedondong, menikmati makanan manis itu.

Sehabisnya sang kudapan, mereka berdua sama-sama terbengong-bengong pula. Di tengah kekikukan, telepon genggam Prinka berdering. Dia mengernyit melihat nama di layar. Joan lagi? Belum puas, apa?

“Apa?” tanya Prinka cuek.

Dengan suara lantang bak rangkaian rantang berjatuhan ke ubin, Joan berteriak, “Jangan lupa besok try out UN, Nyoy! Gimana sih? Malah lupa? Minta ajarin Kak Norman sana!”

“Ha?” pipi Prinka terasa merah. Satu, karena dia memang melupakan hari esok secara total, dua, lantaran dia sadar bahwa suara ponselnya ini bocor. Jadi omongan Joan pasti kedengaran oleh, ugh, Kak Norman!

Dan di situlah Prinka melirik takut-takut ke sebelahnya, dan mendapati Kak Norman sedang pura-pura batuk tapi tersipu-sipu. Grr! Dasar Joan mulut ember! Cepat-cepat Prinka berdesis, “Ssst, ah. Kamu udah belajar belum? Aku mah jelas tidak berminat.”

“Tapi besok Matematika lho, Nyoy.”

“Biarin, yang penting bisa ngitung uang kembalian tukang bakmi.”

Joan ngakak besar-besaran. “Terserah kamu deh! Belajar bareng aja sama Kakak Tersayang-mu itu, Nyoy.”

Muka Prinka tambah panas saja. Diamatinya Kak Norman mondar-mandir menunduk sembari bersenandung. Duh, moga-moga dia tak menyimak celetukan-celetukan Joan yang membombardir!

Diiringi tawa salah tingkah, Prinka mengucapkan salam penutup untuk Joan. Dan akhirnya mereka berhenti bercakap. Saat Norman mendongak, Prinka langsung berucap, “Kak, maaf, itu temen aku…”

“Besok kamu ada try out?”

“Eh?”

“Iya, besok ada try out?” ulang Norman lembut. “Kamu harus belajar?”

Prinka mengangguk tabah. “Tapi, nggak mesti buru-buru, kok. Belajarnya entar malem juga bisa.”

Norman terkekeh, “Katanya belajar sebelum tidur itu paling efektif, karena pas bobo, otak kita menyerap memori dengan baik.”

“Nah, kan,” Prinka menjentikkan jari.

“Nah,” Norman membeo. “Sayangnya, kita berhadapan dengan materi kelas sepuluh sampai dua belas sekaligus. Jadi, kamu harus agak berusaha lebih.”

“Jangan, Kak, kita ke UNPAD dulu, nanti sorean baru waktunya belajar.”

Norman menghela nafas, “Saya merasa bertanggung jawab sama pelajar generasi penerus bangsa, ah, Prinka. Apalagi asuhan kurikulum sekarang. Oke, kita bisa ke Dipatiukur, setelat-telatnya sampe jam dua, habis gitu, saya anter pulang. Kalau perlu saya jagain kamu biar belajar, nggak mangkir!”

Mendengar itu, hati Prinka melambung sekaligus menciut. Oke, kencan mereka memang selalu aneh—dari nonton musik tradisional, cari-carian di BIP, sampai yang melibatkan pelajaran sekolah! Terserahlah.

“Sepakat, Kak.”

Gelombang Itu, Gelombang Gelora 15

Trek, trek, trek.

“Ada orang?” Gading merengut, bicara pada ayahnya. Mereka sedang membaca katalog distro tempat Ayah menitipkan produk sepatunya. Sontak keduanya menoleh ke arah luar tanpa menggerakkan kaki.

“Temennya Bunda apa? Gawat. Bunda belum bangun,” gerutu Ayah.

Euleuh, gimana ya, Yah?”

“Mending kamu intip dulu, gih. Siapa yang bertamu pagi-pagi gini!”

Saat itu pukul sepuluh lebih dua. Gading berjalan malas-malasan ke pintu depan. Eh, tahu-tahu, sudah ada sesosok makhluk halus yang melesat ngebut merebut pegangan pintu. Setelah Gading mengucek-ngucek matanya, dia baru ngeh bahwa itu bukan makhluk halus tapi remaja SMA bersuara sayup-sayup alias kakaknya sendiri.

“Mbak Prinka ngagetin aja.”

“Aku juga kaget, Ding,” jawab sang kakak tergesa-gesa. Gading makin serius nyureng. Kenapa kok tumben, kakaknya bersukarela menyambut tamu? Matanya pun mengikuti ketika pintu berayun dan memperlihatkan keberadaan sebuah motor klasik yang kalau tidak salah namanya vespa.   Lalu ada pemuda tegap bersweter kuning dan helm.

“Ya ampun itu…!” Gading tiba-tiba mendapat pencerahan.

“Ssst!” Prinka ngomel. “Nggak usah norak!”

Keduanya bercekcok kecil di ambang pintu hingga si tamu spesial malah terbengkalai. Prinka, sambil cengengesan, maju ke depan meninggalkan Gading.

Norman Bervespa

Di situlah Norman, berdiri dengan muka rada-rada kusut tapi senyum tetap seratus persen. Seratus persen bikin Prinka mau pingsan. “Kalian lucu amat,” dia malah komentar soal kakak adik akur-tak-akur di depannya.

“Kak Norman kenapa ada di sini?” belum juga Prinka bersuara saking kaget, Gading telah menyambar. “Mau ngapel ya?”

Prinka memejamkan mata. Malunya ampun-ampunan.

“Ehm, Prinka, saya ganggu nggak, jam segini seenaknya bertandang?”

“Ng…”

Sehampar suara ngebas lagi-lagi menimpa niat baik Prinka memberi ucapan wilujeng sumping yang elegan. “Sama sekali nggak, Nak! Ayo masuk dulu!”

Tanpa tertahan lagi, Norman benar-benar terbahak-bahak. Sumpah. Prinka ini kayak salah spesies. Keluarganya kok cablak semua gini ya?

Karena bingung, Prinka pun turut tergelak. Sembari membukakan pagar dan membiarkan Norman menaruh vespanya di dekat pot bunga, dia terus berupaya menghentikan tawa, tapi gagal melulu. Apalagi, Norman juga masih cekikikan.

“Kamu lagi ngapain?” tanya Norman agak gemetaran. “Bahagia gini ya, pagi-pagi udah dibikin ngakak.”

“Apa yang diketawain sih, Kak?”

“Ayah kamu sama Gading lucu.”

“Hah? Lucu? Berisik yang ada…”

Ayah dan Gading menclok di undakan. “Maafin Prinka, ya, dia agak sinis,” kata Ayah. “Nak Norman mau minum apa? Teh atau kopi?”

“Jangan repot, Om…”

“Ya udah, kalau nggak mau saya repot, buat sendiri ya di dapur. Jangan sungkan.”

Norman menggaruk-garuk kepalanya. Bukannya mengintervensi dapur orang asing malah lebih ribet ya? Sungguh kocak keluarga ini. Norman menebak-nebak, sosok ibu Prinka seperti apa pula.

Mereka semua merangsek masuk kemudian, atas ajakan Ayah. Norman dibiarkan duduk di ruang tamu, dan Gading menahan Prinka supaya nggak nurut mereka ke dalam. “Sana ngobrol berdua aja!”

“Hush, kamu nggak sopan!” omel Ayah.

“Oh, iya Yah. Kalau gitu, koreksi: silakan kakak-kakak berdiskusi secara privat di sini. Kita buatin minuman dulu.”

“Jangan pake cabe ya minumannya,” gurau Norman.

“Paling cengek doang, Nak,” balas Ayah.

Prinka menunduk malu. Luar biasa sekali sambutan kedua laki-laki di rumahnya ini. Dia tidak tahu harus bilang apa pada Kak Norman. Untungnya, Norman justru menikmati kehangatan lucu itu. Dan tanpa banyak basa-basi, dia langsung melantunkan permohonan maaf.

“Maafin, kemarin sebetulnya betul-betul mau telepon. Tapi, mendadak harus ke Bogor…”

“Bogor?”

“Iya, tiba-tiba.”

“Terus ini Kakak dari Bogor?”

“Oh, iya, dari Bogor nih. Sekalian bawa vespa…”

“Dan langsung ke sini?”

Norman mengangguk serius. Menyebabkan Prinka melongo. Dari Bogor ke Cigadung? Berapa jam? Naik vespa? Sendirian? Demi menemui dirinya?

“Prinka? Kenapa kamu cengo? Terlalu aneh ya cerita saya?”

“B…bukan gitu, Kak, eh, entahlah,” Prinka salah tingkah. “Nggak capek naik motor sejauh itu?”

“Ah, nggak sama sekali. Yang capek mesin motornya, bukan saya.”

Prinka berdeham untuk menetralkan suasana. “Memang ada apa, Kak? Kok ujug-ujug mesti ke Bogor?”

Dengan sabar bercampur keki Norman menuturkan dongeng Opa yang pingsan cuma gara-gara artikel yang memuat wajah si cucu. Muka Prinka berubah-ubah dari terbelalak, datar, hingga akhirnya tak kuat menutupi tawa.

Di tengah sesi, Gading nongol lagi membawakan dua gelas teh manis dingin serta dua toples kue kering. Dia sempat menghunjamkan pandangan ngeledek pada kakaknya sebelum ngacir.

“Jadi, maaf, ya, saya batal nelepon,” sesudah berdua kembali, Norman lanjut. “Karena merasa bersalah, saya samperin kamu deh.”

“Nggak apa-apalah, Kak,” Prinka menelan bulat-bulat kekesalan yang sempat menghampirinya semalam—karena berpikir bahwa Norman ingkar janji. Atau barangkali ketiduran, lupa, dan sebagainya. Dia sampai kehilangan dua jam waktu tidur lantaran menerka-nerka seribu satu skenario soal tak datangnya telepon itu.

Kemudian masih jelas syoknya waktu melihat Kak Norman dari jendela kamarnya.

“Gimana? Beneran mau masuk Sastra Sunda?”

“Iya, pingin, Kak. Pasti dikit peminatnya, ya?”

“Mending datengin kampusnya langsung,” kata Norman bijak. “Supaya bisa tanya-tanya rinciannya.”

“Gitu ya, Kak?”

“Dapet jawaban langsung kan lebih enak.”

Melihat Prinka sedikit manyun—mungkin grogi membayangkan dirinya ke UNPAD sendirian dan celingukan bego—Norman spontan menawarkan, “Saya anterin deh ke sana. Mau?”

Prinka mendongak tak percaya. “Sekarang?”

“Sekarang?” Norman malah balik nanya.

“Oh, Kakak mesti siaran ya?” Prinka melihat jam. Dua jam lagi siaran degung Sunda siang.

Norman mengerjap. Bagaimana pun, ini Sabtu. Lucu pasti kalau bisa jalan-jalan bersama Prinka dengan vespa kesayangan. Macam malam Mingguan bernuansa delapan puluhan.

“Apa kamu mau…mampir Jalan Kedondong dulu?”

“Lalu nunggu Kakak siaran, habis gitu ke UNPAD?” Prinka spontan menyahut.

“Tapi satu jam setengah kira-kira siarannya. Kamu bakal bosen nggak?”

Prinka menggeleng. Dia tidak keberatan selama Kak Norman yang membiarkannya menanti. “Aku bawa novel. Selama nunggu aku bisa baca.”

Mereka saling tatap cukup lama dan akhirnya sepakat. Prinka beranjak ke dalam untuk bersiap-siap, tapi dia malah tertarik oleh keramaian yang terdengar dari dapur. Dia melongok curiga.

“Nah ini orangnya!”

“Bunda udah bangun?”

Dengan mata berbinar-binar Bunda menarik Prinka masuk dapur. “Mana cowok kamu, Ka?”

“Cowok aku?” Prinka mencicit. “Belum jadi cowok aku, Bun. Jalan bareng aja baru berapa kali…”

“Siapa namanya? Penyiar radio ya kata Ayah? Sini, Bunda mau kenalan!”

“Bunda yakin mau kenalan sekarang?”

Bunda berjengit. “Iya. Memang kenapa Bunda harus ragu-ragu?”

“Bunda masih pake piyama…”

Seluruh isi dapur, alias satu keluarga itu doang, terbahak-bahak sampai bergaung. Bunda mesem-mesem. Di depan sana, Norman menyimak sayup-sayup keributan tersebut. Dan dia cuma bisa tersipu-sipu.

Gelombang Itu, Gelombang Gelora 14

Cikampek begitu gelap gulita. Norman pasrah mendapati hapenya kehabisan baterai, dan hanya berbekal minum serta dompet. Dia menuju Bogor dengan gelisah.

Tepat jelang selesai siaran Halo-Halo Bandung barusan, ayahnya menelepon, mengatakan bahwa kakeknya pingsan mendadak, di rumah. Dia langsung datang ke pangkalan travel terdekat dan berangkat.

Beberapa jam perjalanan sudah ditempuh dan dia membuka mata pelan-pelan, menyadari aroma kampung halamannya telah mengusik indera. Dalam gelap gulita, ia keluar dari mobil yang tepat mengantarnya ke depan rumah keluarga.

Tampak lampu masih menyala. Dia memperkirakan pasti seisi rumah masih bangun.

Norman merangsek masuk tanpa permisi. “Papa, Mama! Mana Opa?”

Tiada jawaban. “Pa? Opa?”

Sepi. Jantung Norman berdegup-degup cemas. Dia mulai membuka semua pintu kamar, dapur, dan segalanya. Ke mana semua orang? Apa mereka melarikan Opa ke klinik?

Ah, klinik! Norman memastikan rumah kosong melompong, dan mencari cara untuk ngacir ke tempat praktek dokter langganan Opa, yang lebih akrab dipanggil Klinik Dokter Leo. Nama dokter sahabat Opa, ya, Leo.

Lokasinya sekitar lima belas menit jalan kaki dari rumah Norman. Tetapi beruntung, Norman melihat vespa kesayangannya masih tersimpan rapi di garasi. Kendaraan retro warna kuning itu pun diambil dan dinyalakan.

Wus! Vespa melesat.

Angin malam menerpa hidungnya hingga terasa beku. Dia tiba di depan klinik Dokter Leo—tampak jip tua keluarganya. Ah. Sekarang sudah jelas Opa bertandang kemari. Norman cepat melesat masuk.

Tembok-tembok putih yang digantungi sejumlah poster sugesti kesehatan menyambutnya. Kalau kata orang Sunda, suasana klinik itu keueung (baca: ke-eng), kosong dan hampa. Tak lupa dilengkapi rasa takut yang menjalar, dan bayang-bayang soal jarum suntik dan perawatan rumit. Norman merinding sendiri seraya memasuki ruang praktek.

“Hei, Norman!”

Ia berjengit tak keruan dan mengumpat dalam bahasa Sunda. Dilihatnya sosok ayah, mukanya memberengut—tiada jejak kesedihan di sana sewajar kalau orang-orang mendapati lansia semaput. Malah, wajahnya lebih menampakkan kekesalan.

“Papa? Opa kenapa?”

“Opamu itu kelakuannya…duh, bikin keuheul[1]!” beliau mengetuk-ngetuk meja lobi.

“Hah? Kunaon si Opa téh, Pa?”

Papa Norman memberi isyarat untuk masuk ke ruang rawat. Orang pertama yang dilihat Norman adalah Dokter Leo, berjanggut putih, panjang, seperti guru-guru silat. Parasnya berseri-seri—seakan baru beres ketawa.

Lah, ini kenapa orang-orang ekspresinya nggak keruan, sih? gerutu Norman dalam hati.

“Eh, Norman, apa kabar? Nih, Opa kamu baru sadar.”

Barulah Norman menyaksikan Opa duduk di atas ranjang putih, cengar-cengir sendiri. Di dekatnya ada Mama Norman, mimiknya menyerupai sang suami—jengkel. “Norman! Tanggung jawab sama Opa kamu!”

“Ap…apa…kenapa memangnya, Ma?”

“Normaaan!” Opa memekik parau. “Kamu masuk majalah Manglé ya!”

Lutut Norman lemas. Benar, sebulan lalu sempat ada tim redaksi majalah Sunda tersebut datang ke Radio Gelora—sebagai salah satu stasiun yang masih rutin menyiarkan benih kebudayaan Sunda dan selalu mendukung acara-acara lokal. Dan, kebetulan, Norman sedang siaran siang dan dia diwawancara. Sebagai apa? Sebagai penyiar termuda di radio terkuno, plus dia memimpin acara paling klasik pula!

Oh, dan dia difoto—memamerkan cengirannya yang lebar memukau.

“Dan Opa pingsan karena kamu nggak ngasihtau dulu, eh, tiba-tiba ngirim majalah dari Bandung! Jangan lupa dong, Opa sudah tua, rentan dengan kejutan!” semprot Mama. “Mama sih bangga. Papa juga. Tapi Opa bangganya keblinger.”

Walau kasihan, Norman tak kuasa menahan tawanya. Dia pun duduk di sebelah Opa dan merangkul tetua tersayangnya yang spontan dan kacau itu. Opa menepuk-nepuk lutut cucunya. “Padahal kamu pas awal-awal di radio, suka curhat sedih sama Opa, ngadu kalau radionya lawas banget, kamu nggak kuat sama bau mic-nya, teu boga babaturan deui. Duh, di jero haté Opa téh karunya, tapi da kudu kitu lamun rek sukses. Tah, ayeuna pan aya buktinya.” [2]

“Nanti Opa kliping bagian majalah yang ada Norman-nya ya,” sahut si cucu, sumringah sendiri. Mereka berpelukan. Dokter Leo juga ikutan—kurang kasih sayang soalnya.

Malam makin larut. Sebentar lagi pagi. Norman terjaga, dan dia menyeruput teh hangat sambil berkeliling di rumahnya sendiri. Sebaran pigura-pigura foto mengajaknya bernostalgia. Dia melihat dirinya di masa kecil, Opa yang awet muda, Papa, Mama, handai taulan, hingga beberapa teman masa bocahnya.

Dia ingat betapa cerewetnya dia sejak kecil. Dia juga ingat masa-masa pertama belajar menyetir vespa (nggak nyambung sama topik sebelumnya, hihi)—di mana dia malah kecebur selokan dan Opa malah ngakak sambil memotretnya.

“Anakku Sayang,” selaksa suara mengusik. “Nggak tidur?”

“Mama, kok bangun?” Norman terkejut.

“Udah nggak bisa pules,” jawab Mama Norman sembari tersenyum lembut. “Eh, kamu nggak mau bawa vespa kamu ke Bandung? Biar lebih gampang pergi-pergi…”

“Ah, aku ke mana-mana juga sendiri,” sejenak dia tersentak. Sendirian? Sekarang sih iya. Kalau kemalaman, angkot masih bisa dicari. Tapi kok rasanya ada yang mengganjal ya?

“Di sini malah harus setrum aki melulu, tuh. Kasihan si vespa.”

Mungkin, vespa bisa digunakan untuk antar jemput seseorang yang istimewa. Karena menemani naik angkot sungguh tak ada poinnya. Ah, namun Bandung sudah penuh oleh kendaraan bermotor!

“Ma, menurut Mama, apa satu buah vespa akan menambah kemacetan kota?”

Mama Norman mendengus. “Pertanyaan macam apa itu? Ya jelas menambah! Tapi, kalau kamu nyetirnya tertib, nggak sih. Masalahnya kan motor jalannya sembarangan.”

Sang anak mengangguk-angguk sepakat. “Nanti, aku pikirin dulu, Ma.”

“Kalau soal ongkos bensin, yaaa…kamu tanggung sendiri deh. Atur-atur.”

“Seenggaknya, vespa bisa ditebengin…”

Mata Mama Norman menyipit jahil. “Ah, ada yang mulai buka jasa antar-jemput bonus peluk dari belakang nih.”

Pipi Norman terasa panas. Omongan ibunya terlalu gamblang sampai-sampai dia malu sendiri. “Mama mah ngelantur ah! Udah, tidur lagi, Ma.”

“Kamu sana yang tidur! Besok kerja, nggak?”

Norman menepuk keningnya. Gila! Dia belum mengabari Radio Gelora dan…ya ampun, dia kan berjanji mau telepon Prinka…

Kepalanya terasa pening. Sepertinya di Bandung banyak yang menanti.

Dia harus cepat-cepat memesan jatah travel!

Begitu mentari mekar secara resmi, Norman menelepon agen-agen travel terdekat. Dan seakan membencinya, semuanya ter-booking penuh. Tak ada tempat untuk Norman.

“Kamu pulang besok aja,” saran Papa.

“Nggak keburu, Pa, aku harus siaran jam…buset, jam dua belas.”

“Enam jam lagi?”

“Batere handphone habis, nggak bisa kasih kabar lewat telepon.”

“Lho, handphone kamu apa? Charger mah pinjem Papa aja!”

Norman mengerjap. Benar. Dia tidak memikirkan hal itu. “Tapi, tunggu, Pa. Emangnya mereknya cocok?”

“Ini hape Papa. Hape kamu apa?” Papa menunjukkan telepon selulernya.

Kupret. Nggak cocok, beda zaman, dan sudah jelas beda charger.

“Percuma, Pa. Gimana pun, aku harus balik Bandung.”

Tiba-tiba Opa keluar dari kamarnya dan seakan sudah mengerti isi pembicaraan sebelum menyimak apapun, beliau berteriak, “Incu! Ke Bandung naik vespa masa nggak kuat, sih?”

Meski semua orang melongo bersama, tapi seluruh umat sepakat—ide Opa cemerlang.

1 kesal

[2] Di lubuk hati, Opa kasihan, tapi harus gitu kalau mau sukses. Nah, sekarang kan ada buktinya!

Dari Kusen Jendela

Iya,

bahkan saya tak tahu namanya.

Tapi tiap melihat siluetnya bergerak di depan situ,

saya malah membuang muka. Padahal mengamati dari sudut mata.

Berpapasan,

tersipu-sipu saja, bicara seadanya.

Sekalipun bintang sudah menjatuhkan kejutannya dan menuliskan momen,

saya salah tingkah sendiri.

Jatuh hati itu sulit.

Benar-benar sulit.

Gelombang Itu, Gelombang Gelora 13

Seperti remaja pada umumnya, Prinka memang doyan main hape. Tapi hari ini, dia benar-benar keranjingan pada benda itu. Matanya selalu fokus ke sana. Tidak tahan ditinggal bengong, Joan mengguncang-guncang pundak Prinka di hari yang terik.

“Nyoy! Asyik amat sih! Pasti SMS-an sama Kak Norman, ya?”

Prinka gelagapan. Pipinya langsung merah jambu. Untung rambutnya nggak ikutan bermimikri. Dia senyam-senyum lucu.   Joan segera tahu isi pikiran sobatnya.

“Jadi udah maju selangkah nih? Udah deket? Bentar lagi jadian?”

“Hihihi,” Prinka malah cekikikan aneh dan kembali ke layar ponsel.

Sudah dua minggu terakhir, akhirnya Norman dan Prinka nggak cuma ngobrol dengan alibi acara radio Gelora. Norman yang memulai, karena dia pikir, seperti radio tua tersebut, hubungan juga perlu perkembangan.   Jadi, sembari memikirkan hal-hal apa yang bisa dia lakukan untuk memajukan radio Gelora, dia pun melangsungkan kehidupan cintanya. CInta? Ya, kalau nggak geli untuk disebut begitu, memang ini namanya jatuh cinta, kan?

“SMS-an apa, sih?” Joan makin kepo.

“Ini, ngomongin lagu keroncong.”

Joan termangu. “Bukan kamu-makan-apa gitu?”

“Oh, ya kadang-kadang doang, Joan.”

“Kadang-kadang?” ulang Joan histeris. “Kalian kok santai bener?”

“Lho, harusnya gimana?”

“Nyoy, yang namanya pedekate, SMS perhatian tuh harus setiap hari! Ya, latihan kalau jadian nanti, gitu. Tapi, aku tau kamu memang unik. Kak Norman calonmu juga nyentrik. Jadi kalian memang nggak akan nyambung sama kaidah-kaidah yang berlaku.”

“Gitu ya?” Prinka masih cengar-cengir. Joan tersenyum senang. Akhirnya, Prinka yang lempeung bakal punya kekasih! Kira-kira, apa traktirannya kalau dia jadian, ya? Eh, Joan berpikir kejauhan!

Mereka sedang leyeh-leyeh di kamar Prinka. Barusan mereka pulang pagi, karena hanya menjalani try out ujian nasional. Daripada buang waktu, mereka memutuskan belajar bareng…yang tentu saja ujung-ujungnya cuma ngerumpi.

Tepat pukul dua belas, Prinka menyalakan radionya. Tak salah lagi, langsung terdengar celetukan-celetukan Bahasa Sunda yang diiringi dentuman gamelan.

Kabogoh si Prinkaaa…,” Joan bersenandung norak. “…keur siaran make basa Sunda, yeuh! Pasti duanana geus bilang tadi di SMS: ‘aku siaran dulu ya’!”

“Lagu kamu ancur banget,” komentar Prinka sembari ngakak.

“Biarin, yang penting tulus, Nyoy.”

Prinka diam-diam terharu oleh kebesaran hati seorang Joan.   Mereka pun menyimak Kang Norman bercuap-cuap. Kesannya memang nggak nyambung dengan usia mereka. Tapi, peduli amat! Lestarikan budaya Sunda!

“Joan,” tiba-tiba Prinka berkata lantang. “Aku punya ide untuk masa depanku.”

“Hah? Apa?” Joan yang setengah tidur di atas bantal dengan buku pelajaran menjeblak terbuka di sebelah kepalanya, menyahut malas-malasan.

“Aku pingin kuliah…Sastra Sunda,” kata Prinka penuh keyakinan. Matanya berbinar-binar.

Joan menegakkan tubuhnya. Terlalu terkejut. “Sastra Sunda? Emangnya ada?”

 

“Selamat malam, para pendengar setia Radio Gelora! Kita berjumpa lagi dalam acara Halo-Halo Bandung, masih bersama saya, Norman Halomon yang makin ganteng aja—kata monyet di kebun binatang sana. Hihihi. Maaf, saya malah ngegaring. Yuk, sebelum kita dengar berita-berita paling hip sepanjang hari, saya putar dulu satu lagu dari Elton John, yaitu Can You Feel The Love Tonight! Biar nuansa tetap ceria meski mungkin sudah pada ngantuk, betul?”

Lagu berkumandang. Prinka menggerak-gerakkan kepalanya mengikuti irama. Di hadapannya lagi-lagi kumpulan soal percobaan Ujian Nasional. Sekolah mulai menggempur para murid dengan bahan ujian—di samping kepastian masa depan.

Diperdengarkan suara Norman, rasanya bagai ditemani membereskan PR.

“Nah, berita pertama yang datang hari ini, yaitu…”

Kuping Prinka otomatis dipertajam. Berbagai info masuk. Mulai dari macet di Dago, pencopet tertangkap di Pasar Baru, sampai peristiwa konyol seperti seorang anak tersandung kelereng dan jatuh hingga benjol. Kak Norman sungguh kacau kadang—memasukkan berita kecil tak berbobot! Tapi, Prinka tetap tertawa. Secara subyektif, tentu.

 

“Nah, sekarang, siapa yang punya berita, mangga atuh disampaikan ke saya, siapa tahu ada pendengar lain butuh cerita lain, jangan saya melulu. Ditunggu telepon dan SMS-nya, ya! Ke nol dua dua, tujuh satu tujuh satu…”

Prinka meraih HP. Cepat ia ketik pesan:

 

Hai Kak!😄 Hahaha. Mau tanya-tanya ke orang seBandung, di mana ya ada kuliah Sastra Sunda?😀

 

Tak lama berselang, Norman bercuap, “Nah, ini ada pertanyaan dari Neng Prinka yang emang bawel, dikit-dikit SMS ke Radio Gelora. Atau ke saya ya sebenernya? Hehehe. Apa ada di antara pendengar sekalian yang tahu kuliah Sastra Sunda di mana? UNPAD meureun, nya? Atau di tempat lain? Tolong bantuannya ya, pendengar sekalian nu kasep, nu bagja.”

Sambil bilang begitu, Norman membalas pesan Prinka secara pribadi:

 

Akhirnya kamu nemu tujuan hidup, ya? :p Beres siaran saya telepon kamu ya. Boleh?

 

Prinka mau meledak rasanya. Tentu saja boleh!

Dia langsung menghabiskan soal-soal yang harus diisi dan tepat pukul sepuluh, setelah beberapa orang bilang UNPAD ada jurusan Sastra Sunda-nya tapi harus dicek lagi, Prinka sudah khusyuk menanti teleponnya berdering.

Dadanya berdebar-debar tak keruan. Telepon! Naik setingkat dari SMS doang. Ah, hidup terasa menyenangkan sekali.

Sepuluh lebih dua.

Sepuluh lebih tiga.

Sepuluh dua pula. Apa Kak Norman pulang dulu, baru menelepon?

Sebelas. Dan Prinka terlalu mengantuk untuk menunggu. Dia bahkan sudah mendaratkan lagi pesan pertanyaan jadi atau tidaknya.

Ke mana gerangan Kak Norman?

Dear Overthinker

Katarina Ningrum

 

Dear overthinker

Why should you be so picky in life

Why the world seems unfair to you

Is it a reality?

Or just how things work in your mind?

 

Dear overthinker

What are you doing here anyway?

With memories and scenes come along

You better forgive instead of overanalyzing

Is it neccessary?

Blame your state of mind, blame your kind of personality

Never see a person as he or she is actually

You see deeply too much, making yourself confused all the time

 

 

Kepada Ditya #2

Katarina Ningrum

(kalau Anda belum pernah menyimak prolog kisah ini, silakan menuju kemari 🙂 )

Ditya,

terlalu lama kau mendiamkanku.

Bagai kaktus yang kebanyakan air,

aku justru merana oleh ketenangan ini.

Kalau mataku akhirnya tertuju ke arah lain,

dan berhenti menggapaimu,

memang kau akan baik-baik saja?

Ditya, Ditya,

kita pun bertemu atas nama kebetulan.

Untuk semua kebingungan yang kau timbulkan,

kau menggantikannya dengan seulas senyum saja.

Dan aku diam seribu bahasa,

ingin kubalas lenyapmu kemarin,

walau sesungguhnya aku cuma ingin mendekapmu.

Aku hendak mengerti,

ketika aku membiarkanmu terbengong-bengong di tepi jalanan itu,

apa yang kau rasakan?

Ditya,

kemudian kau meninggalkan kendaraanmu,

dan kusimak kau berlari mengejar.

Mungkinkah, kau berniat mencapai hatiku sekali lagi?

Outer Space in Love

Katarina Ningrum

 

terbangterbang

We’ve been good friends for a while.  He’s a weird boy, I’m an eccentric lady.   He’s introverted, I’m melancholic.  Nothing beats the happiness of us being together and say nothing important but rambling about outer space and aliens.  We live in our private planet, where we can laugh a lot and dream so much.  The planet is happy, fun, colourful, and fantastic.

Name him Weird, and call me Eccentric.

One day, there’s another man coming and disturb our planet.  His title is Mellow.  He’s not a forceful person, but he has ambitions.  In my opinion, he’s such a weak person. Not being mean.  Just being strict with the fact.

Weird and Mellow are buddies.  They always chat happily like they also have another planet for them.   Weird is stronger than Mellow in personality, sadly, Mellow is older, so Weird has to respect him.

Once Mellow wanted me, and Weird supported him. I didn’t like Mellow, so I got away from both Mellow and Weird.

Mellow tried to invade my beautiful planet,  I rejected.  I didn’t tell him that I only let Weird as a planet visitor.   Mellow wasn’t understand it yet.

Unfortunately, Weird never get the concept.  He always there to support me staying with Mellow.

Another time, I met Calm.  She’s a pretty normal girl with cuteness all around.  She can talk with Weird like humanbeings.  They talk of daily life, actual news, and things in town.  Never, I never be as straight as that with Weird.

I got a feeling Weird started to step out from our private planet.  Since I like Calm and I love Weird, I let them be together as another good pals.

Mellow, as a faithful and weak man, he teased Weird and Calm to be a couple.  Sure, he would be happy to see his best friend having a normal date.

Then melancholy hit me like a comet.  I was left alone in my galaxy.  Weird went away.  Mellow would never get a chance.  I have to find another partner.  But there’s no other like Weird.

Weird asked me what happened.  He could see it on my expression.

“Yo, Eccentric, you’re crying.  And I don’t know why.  You don’t even let your tears tumble down.”

“Nothing,” I answered painfully.  “Just feeling a little bad today.”

“No, you’re not feeling bad today.  You’ve been mad with me for weeks!”

As the last weapon of my strength-show, I shouted, “You’re not supposed to be here with me.  I’m an alien for you.  We both were aliens.  But now you’re a human.  Go there and be with Calm.”

He nodded.  “That’s what you want? Okay. But I don’t want you to be alone.  Find Mellow and asked him to come.”

“I have nothing in common with Mellow.  He will never be my planet’s citizen.  Ah, yeah, it should have been our planet.  But you left.”

Since Weird is an introvert and a shy boy,  he stayed still in front of me, waiting for I-don’t-know-what.  I was feeling desperate and lost.  He couldn’t express his feeling.  I didn’t want to say anything.

But, with tears finally bursted, I tried to speak.  I told Weird, “My planet is special.  The place only accepts two person for some period of time.  And, yes, my planet already accepted you perfectly.  If you go, I’ll surely be alone again.  Thanks!”

I thought I was harsh with those words.  Weird bowed his head.  I departed from his new planet.  Bye, I said in my mind. 

I walked.  One, two, hundred steps.  Entering my galaxy, stay still and play along all by myself.   I thought about everyone I met lately.  Weird and Calm who may be so free and normal these days.  Mellow who will find another love now.

My planet changed.  It’s dry, gloomy, and creepy now.  Don’t forget how extremely quite it is nowadays.

Suddenly the door was opened.  A creature came in without a smile on the face.

“What are you doing here, Weird? You’re not a citizen again.”

“I brought you something.  In case you would let me be a citizen again.”

“You must not leave Calm alone!”

“And I won’t leave you alone.  I want to be here, in our space, with our laughter and our weirdness.”

“What is your purpose, anyway? You left something here and you want to take it home?”

Nah, why you are mad before I finish my sentences?”

I stood up, defensively.  I stared at his eyes.  He started to spread his words again, “I love this planet.  I can’t be with normal humanbeings.  Mellow has too many real-life-problems.  Calm is too ordinary and she doesn’t make me have a great gag.”

“You compare Calm and me?”

“No! Here, Eccentric,” he held my shoulders.  “I have no purpose for being with you.  I don’t want you.  I don’t feel like I own you.  But we inherit one planet together and when we’re together, we are strong and normal! Because, negative times negative is positive!”

“Deep down I’m a girl. I know you’re shy, but you still have to say the word, that…human word for that kind of feeling, Weird!” I was able to smile at that time.  Cause I’ve seen Weird was so nervous, and his cheeks were blushing. There’s something happened with his emotion.

Weird took deep, very deep breath.  And he hugged me.  He whispered to me, “I love you, Eccentric.  Let’s live in this planet together again.  Let me be with you ever after.”

“Welcome back, Weird,” I said while crying along.  I was too happy that I cried.  “I love you too.”

I hold his hands and asked him to join me with the game I’ve been playing while waiting.  It’s a puzzle.  I couldn’t find the last three pieces.   Weird noticed and he put outside something from his pocket.

Those are the lost pieces.

“For me, you, and the planet,” he completed the puzzle easily.  “Hey, imagine if I didn’t decide to go back here! You would be very confused.”

“Please tell me you are here for me, not this puzzle,” I said.

“Ah, Eccentric, you’re too melancholic sometimes.  Trust me.”

“We talk properly, you know, Weird,” I giggled.

The planet bloomed again.  It’s back to normal with additional elements.  It’s love and courage to be a little normal.